“Kita pulang setelah ini ya?” tanya Alden terdengar gusar. Dia sedang berbicara padaku tapi fokusnya tetap pada benda persegi yang sedari tadi dia pegang. “Santai aja, kenapa sih?” tanyaku. Kita sedang berada di studio musik milik Alden. Dia mengajakku mampir sebentar ketika perjalanan pulang dari agensi ke rumah Mama, dia perlu mengambil flashdisk katanya. Aku sungguhan tidak masalah jika dia akan ada urusan setelah ini. Karena aku cukup tahu diri sudah banyak merepotkannya. Alden, dia benar-benar mengantar jemputku ke manapun aku pergi akhir-akhir ini. “Alden!” Aku setengah berteriak karena dia bahkan tidak menjawab panggilanku sedari tadi. “Adik gue. Ralat, sepupu gue maksudnya. Daritadi dia nyampah abis. Gue bingung, kalau gue cabut sekarang yang ada dia tambah ngamuk-ngamuk. K

