"Sepertinya gue butuh healing deh, Den," ucapku berjalan dari ruang tengah apartemen Brian menuju dapur tempat Alden berada. "Idih, lo tuh butuhnya ke psikiater. Udah gue daftarin lo-nya malah nggak dateng." "Nggak mau, nggak biasa cerita sama orang asing gue." Alden melotot padaku. "Nggak sembarang orang juga, Zell. Mereka itu punya kode etik. Tapi ya terserah lo sih. Kalau lo-nya aja nggak ada keyakinan buat ke sana. Kayaknya percuma juga lo datang. Buang-buang duit." Aku mengedikkan bahu. Bukannya aku tidak percaya, aku hanya tidak ingin. Aku merasa aku masih bisa mengatasinya. Aku juga sudah mulai terbiasa dan tidak terlalu memikirkan kejadian tempo hari. "Brian mana?" tanya Alden. "Mandi. Gue ditinggal daritadi, cuma diem di depan TV nggak ngapa-ngapain. Bosen." "Salah sendiri

