Semalam adalah hal yang langka. Pesta sampanye dadakan yang ditawarkan Devan berhasil membuat kita terjaga sampai pagi. Pahitnya, lagi-lagi aku merasa terasingkan di tengah mereka. Bagaimana tidak mereka berdua—Alden dan Devan— banyak bercakap-cakap semalam. Devan tidak seketus itu dengan Alden. Tidak sekaku itu juga. Bahkan mereka menggunakan panggilan lo-gue dengan nyaman. Aku berpikir Devan juga akan menjadi lebih ramah denganku setelah kejadian itu tapi kenyataannya dia masih pelit suara—hanya padaku. Sepertinya imageku sudah terlanjur buruk di matanya. Hingga bicara saja dia enggan. "Bangun, Den! Udah pagi," Aku mengguncangkan tubuh Alden yang meringkuk di sofa ruang tamu. "Temen banget lo ya. Gue baru merem belum ada sejam ini, Zell," keluhnya. Hanya suaranya saja yang terdengar, t

