"Stop, Zelline! Berhenti ngikutin Mami!" Aku pura-pura tuli dan terus mengekor ke manapun Mami pergi. Dari dia masih di kantor, perjalanan pulang, sampai tiba di mansion, aku masih setia mengikutinya. Semenjak kejadian di depan rumah Mama tempo hari. Mami benar-benar marah padaku. Sebenarnya tidak masalah jika kita terlibat cek-cok seperti biasa. Masalahnya, Mami justru diam dan mengacuhkanku akhir-akhir ini. Dia sungguhan tidak sudi untuk berbicara denganku. Semua yang keluar dari mulutku hanya dianggap angin lalu oleh Mami. Aku benci seperti ini. Benci karena Mami mengacuhkanku. Aku lebih suka dia mengomel saja padaku. "Mau aku buatkan waffle? Atau Mami mau minum yang segar-segar?" Aku terus saja membujuknya bahkan mengatakan hal lebih absurd hanya agar Mami kembali berbicara padak

