2. Jill Darlene

1544 Kata
Setelah sampai di Perusahaan tempat dia bekerja PT. TWINS PUTRA, Dino bergegas menuju ruangan Big Bosnya. “Napa lagi Bos? Lecek amat komuknya.” Tanya Dino ketika masuk ke dalam, Dino berbicara dengan bahasa informal pada Bosnya karena mereka hanya berdua di dalam ruangan tersebut. Sedangkan Bosnya, Sang miliarder pewaris NAGENDRA GROUP Arion Putra Nagendra hanya melirik malas asistennya. Dia sama sekali tidak marah karena memang Dino adalah sahabatnya sendiri sejak duduk di Bangku sekolah. Dino satu-satunya teman yang tahu segala seluk beluk tentang dirinya, bahkan hal yang memalukan sekalipun. “Gue lagi dalam masalah besar.” Ucap Arion dengan raut wajah lesu, membuat Dino sedikit menegang karena takut terjadi sesuatu dengan Sahabatnya itu. “Ada apa, Ar? Emergency banget yak?” Tanyanya dengan cemas, lagi-lagi tanpa mengindahkan formalitas. Sedangkan Arion hanya mengangguk mengiyakan yang membuat Dino semakin was-was. “Baby Nio, Din...” Mendengar nama anak Arion di sebut membuat Dino semakin cemas, dia takut terjadi sesuatu dengan bayi mungil yang sudah dia anggap seperti keponakannya sendiri. “Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Baby Nio?” Tanya Dino memotong ucapan Arion, lagi-lagi Arion menganggukkan kepalanya membuat Dino semakin cemas. “Baby Nio, Din...” Jawab Arion lagi dengan ambigu. “Iya... Kenapa?” Tanya Dino dengan gregetan. “Baby Nio sudah merebut sumber energi gue, plankton kecil itu berani merebut Aileen dari gue.” Jawabnya dengan wajah frustasi, Dino yang tadinya tegang dan cemas langsung mendelik mendengarnya. “Waras Kamprett!” Sentak Dino dengan kesal. “Astaga... Gue kirain Baby Nio berada dalam bahaya, nggak taunya bapaknya yang berada dalam bahaya. Kayaknya perlu di larikan ke Rumah sakit jiwa dah.” Lanjutnya seraya mengelus d**a bidangnya, mengingatkan dirinya sendiri untuk bersabar dengan kegilaan Bos sekaligus sahabatnya itu. “Lo ngatain gue gila? Lo lupa gue siapa? Lo mau gaji lo gue potong lagi, HAH!!” Bentak Arion. “Yaelah, ancemnya gitu mulu... Serah deh Bos. Suka-suka Bos dah.” Balas Dino yang bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, dia malas meladeni keposesifan Arion terhadap Istrinya yang berada pada tingkat akut dan gila. “Dasar Anak buah nggak ada akhlak, nggak ada sopan-sopannya sama Bos sendiri!” Gerutu Arion yang masih bisa di dengar oleh Dino sebelum keluar dari ruangan. “Baru datang lo?” Tanya Dino pada seorang perempuan ketika sampai di depan meja sekretaris. “Enak aja, udah datang dari tadi tau... Gue kan karyawan rajin dan teladan!” Semprot perempuan yang biasa di sapa Keisha. “Gue tadi dari toilet, lo sendiri kenapa?” Lanjutnya bertanya, meskipun Keisha terlihat ketus tapi dia tetap perhatian dan bertanya ketika melihat Dino tampak badmood setelah keluar dari ruangan Bosnya. “Bos lo tuh, makin lama makin sinting aja.” Sungut Dino. “Kenapa?” “Masak anaknya di anggap saingan.” “Itu bukan sinting namanya, tapi bucin. Menurutku hal yang wajar sih, secara visual kan Aileen memang cantik dan sempurna. Bukan hanya itu, hatinya juga sangat baik. Pantas kalau di bucinin sama Big Bos, memangnya elo... Bu Toyib aja di bucinin.” Cibir Keisha. Dino mencebikkan bibir dengan perasaan kesal saat mendengar ejekan Keisha, mulut rekan kerjanya itu memang sangatlah pedas. Bahkan pedasnya setingkat dengan Boncabe level 50. Keisha sering kali memanggil istrinya dengan sebutan Bu Toyib karena Aura memang jarang pulang ke rumah, pekerjaannya sebagai seorang model mengharuskan istrinya itu sering pergi ke luar kota atau pun luar negeri. “Mulut lo Sa, gitu-gitu juga bini gue!” “Sa Sa... Lo kira gue micin, nama gue Kei-sha. SHA!” Sungut Keisha. “Pantasnya nama belakang lo Sia buka SHA! Sia... Nida, pantes tuh langsung mematikan.” Cibir Dino. “Sialan lo, mending lo urusin tuh Bu Toyib. Gue tau... Dari kemarin dia gak pulang kan?” Keisha tersenyum miring membalas cibiran Dino. “Kok lo tau? Lo stalker gue ya? Astaga Sa... Kalo lo suka sama gue, bilang dah. Nggak usah sampai buntutin gue sampai segitunya, gue tau gue cakep jadi wajar kalo lo suka sama gue.” Celetuknya dengan percaya diri, membuat Keisha memutar bola matanya dengan malas. “Gue? Suka sama lo?” Balas Keisha dengan nada mencibir. “Dih... Amit-amit deh, masih mending Leo meskipun dia buaya darat. Nih, mending lo baca!” Lanjut Keisha yang memberikan ponselnya pada Dino. Dino menekuk kedua alisnya dengan ekspresi sedikit aneh saat Keisha malah memberikan ponselnya, tapi setelah membuka dan membaca apa yang ada di ponsel Keisha matanya langsung membeliak kaget. Dia membaca sebuah artikel berita tentang istrinya yang keluar dari sebuah Hotel, tapi bukan itu yang membuat dia terkejut. Foto dalam artikel tersebut adalah foto Istrinya yang tengah di gandeng oleh seorang Pria, meskipun di belakang istrinya ada Asistennya tapi tetap saja hatinya merasa tercubit melihat foto tersebut. *** Di tempat lain seorang perempuan muda berparas cantik dan manis sedang membersihkan sebuah meja, dia bekerja sebagai seorang Pelayan di sebuah Restoran yang cukup terkenal di daerah tersebut. Banyak pasang mata pengunjung restoran tertuju padanya terutama para kaum adam, memang tak bisa di pungkiri... Perempuan tersebut memanglah sangat mempesona. Selain cantik dia juga memiliki tubuh yang sangat ideal dan proporsional untuk ukuran seorang wanita Asia, begitu juga dengan kulit putih mulusnya membuat penampilan perempuan itu begitu bersinar dan sempurna. “Jill, lo nggak ambil gaji?” Tanya seorang perempuan yang datang menghampirinya. “Udah keluar?” Balas Perempuan yang bernama Jill itu. Jill terlihat acuh meneruskan pekerjaannya mengelap meja, tanpa menoleh sedikitpun pada temannya. “Udah dong... Nih barusan gue ambil, lumayan lah bulan ini ada tambahan sedikit bonus karena Restoran rame. Cepetan gih ambil ke Pak Heri!” Suruhnya dengan antusias. “Giliran ambil gaji aja cepat.” Cibir Jill pada temannya yang bernama Tami. “Eh, sudah pasti itu. Hidup dan mati gue ini...” “Oh ya... Nanti gue nebeng ya Jill sampai kos, tapi nanti anterin gue belanja bulanan dulu. Stok bahan makanan gue udah habis, please ya... Please!” Pintanya pada Jill dengan tatapan memohon. “Hemm.” Angguk Jill dengan acuh, lalu pergi menuju dapur restoran untuk menaruh nampan yang berisi piring kotor. “Astaga... Nih anak, ngomong aja pakai di hemat segala padahal nggak bayar juga. Kapan dapat pacarnya coba kalau cuek gitu? Untung cantik jadi banyak cowok yang ngejar.” Gerutunya sedikit kesal karena sifat temannya yang terlampau dingin dan cuek, tapi Tami tahu meskipun dari luar dia terlihat acuh dan tidak peduli tapi hatinya begitu baik dan lembut. Perempuan 21 Tahun yang bernama lengkap Jill Darlene itu akan selalu mengantarkannya pulang kalau pacarnya tidak bisa menjemput karena harus lembur bekerja, Jill tidak pernah membiarkan Tami pulang sendiri bahkan meskipun pekerjaannya belum selesai karena Tami bekerja di Bagian dapur dan pulangnya selalu belakangan tapi Jill tetap menunggu Tami sampai selesai. “Jill, Tam... Mau pulang ya?” Tanya seorang Pria yang sedikit berlari menghampiri Jill dan Tami di Parkiran khusus karyawan ketika hendak pulang. “Iya Ham, kenapa?” Jawab Tami karena melihat Jill hanya diam dan menaikkan sebelah alisnya, padahal Tami tahu Pria yang biasa di sapa Ilham tersebut menyukai Jill. Ilham juga sering melakukan pendekatan alias pedekate pada Jill, tapi Jill selalu cuek dan tidak peka terhadap perhatiannya. “Emm... I-itu, aku ingin mentraktir kalian makan...” Balasnya sedikit terbata seraya mengusap tengkuknya yang tidak gatal. “Bagaimana Jill?” Lanjutnya bertanya pada Jill dengan tatapan penuh harap, sedangkan Tami sudah gregetan dengan sahabatnya yang terlihat semakin menekuk dahinya tanpa menjawab tawaran Ilham. Astaga... Gemes banget sih, sampai pengen gue ruqyah tuh anak! Emaknya dulu ngidam papan penggilingan apa gimana sih? Mukanya dari bangun tidur sampai ngorok lagi, tetap sama... Datar macam tembok. Batin Tami, lalu menyenggol lengan Jill dengan tidak sabaran. “Lain kali, gue ada urusan.” Ucap Jill dengan singkat dan datar. Tuh kan, tuh kan... Nggak ada peka-pekanya. Ucap Tami lagi dalam hatinya. “Maksudnya Jill... Dia nggak bisa karena sekarang waktunya belanja untuk keperluan adik-adiknya, Ham. Maklumlah hari ini kan gajian, gue juga kebetulan mau nebeng sama Jill.” Sahut Tami menjelaskan pada Ilham karena merasa kasihan saat melihat raut wajah Ilham yang terlihat kecewa. Yang di tanya Jill, kenapa gue yang kagak enak hati? Gerutunya. “Oh... Gitu, maaf gue nggak tau kalau kalian ada urusan. Kalau gitu lain kali aja, gue permisi dulu.” Pamit Ilham pada mereka dengan raut wajah lesunya. “Eh, Jill Jill. Astaga... benar-benar ya!” “Bisa nggak sih jadi cewek peka dikit? Terus kalo ngomong bisa lembut dikit nggak, Cinta. Ilham tuh idola cewek-cewek, paling cakep dan paling keren di antara cowok-cowok yang ada di tempat kerja kita. Meskipun bagi gue gak secakep Ayang beb gue sih, tapi bisa-bisanya elo malah cuekin dia padahal dia tergila-gila sama lo.” Omel Tami dengan menggebu-gebu. “Berisik!” Tami mendelik mendengar respon dari sahabatnya yang sungguh membagongkan itu. “Cepat naik atau gue tinggal!” Lanjut Jill yang sudah memakai helmnya dan mulai menghidupkan motornya. “Eh... Tunggu dong!” Seru Tami dengan panik lalu cepat-cepat memakai helm dan naik ke atas motor. “Dasar sahabat nggak ada akhlak.” Gerutunya dengan pelan yang masih bisa di dengar oleh Jill, tapi dia sama sekali tidak tersinggung karena memang dia tahu temannya itu sangat cerewet. Setidaknya dia bisa jadi sahabat yang baik dan tulus, tidak pernah meninggalkanku apapun keadaanku. Tidak sepertinya... Ucap Jill dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN