3. Panti asuhan

1536 Kata
Jill memberhentikan motornya di depan sebuah rumah bergaya arsitektur kuno yang terlihat cukup besar dan luas, walaupun terlihat besar tapi bangunan itu tidak bertingkat. Dari depan, halamannya tampak begitu luas dan asri. Tapi sedikit di sayangkan cat tembok rumahnya tampak banyak yang mengelupas karena saking tuanya usia rumah tersebut, meskipun begitu bangunan rumah itu masih tetap berdiri kokoh sampai sekarang. Jill pulang di sambut oleh segerombolan anak-anak yang sedang berlari ke arahnya. “KAKAK... KAKAK....” Seru mereka dengan senang sambil mengerubungi Jill yang masih duduk di atas motornya. “Lihat, Kakak beli apa buat kalian?” Jill menunjukkan Dua kantong kresek besar pada mereka setelah turun dari motornya. “WAH.... Asyik, kita makan besar.” Seru salah satu dari mereka dengan antusias. “Bagi satu sama ya, jangan berebut!” Titah Jill dengan senyum haru, saat melihat tawa dan kegembiraan mereka yang selalu jadi sumber kebahagiaannya. Bagi Jill kebahagiaan mereka adalah hal yang paling utama, mereka adalah adik-adiknya. Meskipun tidak sedarah tapi mereka memiliki nasib yang sama seperti dirinya, sendiri tanpa sosok orang tua dan saudara. Hanya di besarkan oleh seseorang yang berhati malaikat dan mau menampung mereka di tempatnya, PANTI ASUHAN KASIH BUNDA. Penghuni Panti asuhan tersebut jumlahnya tidak terlalu banyak, hanya Sebelas orang termasuk dirinya dan juga Bunda Sri yang merupakan pemilik dari panti asuhan ini. Tiga di antara mereka sudah mulai beranjak remaja dan duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, sedangkan lainnya rata-rata merupakan anak yang berusia sekitar 4 sampai 8 tahun. “Eh, tunggu! Mana Alvin dan Surya?” Tanya Jill, dia merasa ada yang kurang ketika sedang mengabsen mereka satu-persatu saat duduk di lantai teras rumah. “Mereka tadi keluar ngejar Abang tukang pentol, Kak.” Lapor Dinda yang usianya jauh lebih tua di bandingkan dengan anak lainnya. Tepat saat itu, terlihat Dua bocah laki-laki sedang berlari masuk dari arah gerbang depan rumah. “KAKAK CILLL....” Pekik salah satu dari mereka yang berlari paling kencang menghampiri Jill, tapi karena tidak memperhatikan langkah kakinya dia jatuh terjerembap dengan posisi tengkurap yang membuat Jill dengan cepat menghampiri dan membantunya berdiri. “Dedek nggak apa kan?” Tanya Jill dengan cemas seraya membolak-balik tubuh Alvin, anak yang jatuh tadi. Tapi bukannya menjawab ataupun menangis karena terjatuh tadi, Alvin malah terkikik geli. “Apin tayak dadal gulung di balik-balik, jadi pucing pala Apin,” Celetuknya yang langsung mendapat toyoran di kepalanya dari Surya, anak laki-laki yang ikut berlari bersama Alvin. “Ck, dasal... Otaknya ndak jauh-jauh dali makanan.” “Surya, nggak baik Dek!” Peringat Jill dengan nada lembut. “Apin duluan yang nakal, Kak!” Seru Surya yang tak terima, wajahnya terlihat kesal dengan tangan yang dia lipat di d**a. “Nama Apin bukan Apin, tapi A-PIN... Apin Cul. Calah mulu Culya panggilnya!” Sahut Alvin dengan nada cadelnya, Alvin berkacak pinggang dengan mata melotot lucu. Dia menatap Surya tak terima, hal itu tentu saja membuat Jill tidak bisa untuk tidak menahan tawanya. “Emang situ udah benal, Apin aja panggil Sulya Cul Cul. Memang Sulya PACUL!” Seru Surya yang juga tak mau kalah, membuat Jill menepuk dahinya. “Sebenarnya ada apa hemm? Sini, bilang sama Kakak!” Lerai Jill pada Dua bocah yang saling melototkan mata, tapi terlihat sangat lucu di mata Jill. “Apin tuh! Masak ambil es gabusnya Sulya Kak, kan tadi sama-sama di kasih Bunda empat libu buat beli sama lata.” Adu Surya. “Apin ndak ambil, Apin cuma minta Cul. Jadi olang jangan pelit-pelit napa Cul! cama dedek cendili halus belbagi.” Nasehatnya Si Cadel dengan sok bijak, tapi sebenarnya mengandung maksud yang terselubung. “Salah sendili, beli pentol Dua libu kenapa malah ambil Empat? Jadinya habis kan semua uangnya.” “Emang Apin ambil dua, Cul. Yang dua lagi kilap.” Sanggah Alvin tanpa dosa yang membuat Jill lagi-lagi terkekeh. “Sudah jangan ribut lagi, nanti Kak Jill kasih lagi...” Lerai Jill. “Ayo, kita masuk! Kakak tadi bawa makanan. Ambil jatah kalian sama Kak Dinda!” Lanjutnya menggiring mereka menuju teras rumah di mana anak-anak yang lain sudah makan dengan lahap. “Sudah pulang, Nak?” Tanya Wanita paruh baya yang baru keluar dari dalam rumah, lalu duduk di sebelah anak asuhnya. “Iya Bun...” Jill segera mencium telapak punggung Bunda Sri, lalu duduk di Sampingnya. Sedangkan Surya dan Alvin sudah antusias mengambil jatah makanan mereka, lalu memakannya. “Tadi Jill sudah belanja sebagian bahan pokok, dan ini... Ada sedikit uang buat Bunda untuk membeli kebutuhan adik-adik.” Lanjutnya menyerahkan sebuah amplop berisi uang kepada Bunda Sri. “Bunda nggak bisa terima, Nak. Gunakanlah untuk dirimu sendiri! Bunda masih ada pegangan untuk keperluan adik-adikmu.” Tolak Bunda Sri dengan halus. Bunda Sri memang masih mendapat uang jatah bulanan dari hasil perkebunan teh warisan dari keluarganya, meskipun tidak banyak karena harus di bagi dengan saudaranya yang lain. Tapi setidaknya uang tersebut masih cukup di gunakan untuk jatah makan anak-anak asuhnya. “Jill sudah ada pegangan sendiri, ini... Bunda simpan aja ya!” Kekeh Jill yang membuat Bunda Sri menghela nafas berat. “Terima kasih Nak, Bunda nggak tahu harus bilang apa? Kamu sudah banyak membantu Bunda dan adik-adikmu.” Ucap Bunda Sri dengan rasa haru, rasanya... Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa besar rasa syukur yang dia rasakan karena memiliki Jill dalam Hidupnya. “Harusnya Jill yang berterima kasih pada Bunda, kami beruntung memiliki Bunda yang sangat menyayangi kami meskipun kami bukan lahir dari rahim Bunda. Bertemu dengan Bunda merupakan hal yang sangat Jill syukuri.” Jill merasa sangat bangga memiliki Bunda Sri, wanita hebat yang di buang oleh suami dan keluarga suaminya hanya karena Bunda Sri tidak bisa memberikan keturunan. Tapi Bunda Sri tetap berbesar hati menerima takdirnya, dia tetap kuat menjalani kehidupannya dengan tegar. *** Menjelang malam, Dino masih terlihat duduk menyandarkan punggung di ruang kerjanya. Raut wajahnya terlihat lelah, dia memijit pelipisnya sendiri yang mulai terasa pening akibat melihat tumpukan berkas di atas meja kerjanya. “Lembur lagi?” Tanya Leo, pria tampan berwajah indo itu masuk begitu saja ke dalam ruangan Dino tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Di ikuti seorang perempuan yang tak lain adalah Keisha, dia membawa setumpuk berkas di tangannya. “Udah mau pulang lo?” Bukannya menjawab, Dino malah balik bertanya. “Ini berkas terakhir, karena besok Big Bos mau cuti berkas ini jadi tanggung jawab lo.” Keisha meletakkan berkas yang di bawanya ke atas meja Dino. “Yaelah, ini juga belum kelar Sa. Masak lo mau kasih gue lagi...” Keluh Dino seraya menunjuk berkas di atas meja dengan dagunya. “Kasih cowok lo aja sana! Enak banget dia nganggur makan gaji buta doang.” Lanjutnya menatap kesal Leo. “Ck, gue besok mesti survei lokasi Floris Park. Ada sedikit kendala di sana, jadi untuk besok lo hendel semua urusan kantor.” “Bukannya udah beres?” Tanya Dino mengernyit heran. “Terjadi masalah sengketa lahan zona barat, datanya tidak sesuai dengan data yang kita terima. Makanya sedikit bentrok dengan warga sana karena mereka mengklaim zona tersebut...” Jelasnya pada Dino dengan malas. “Oh ya... Sekalian tolong gantikan meeting gue dengan Mr. Lee.” Pinta Leo. “Kenapa Bos lo harus cuti segala sih? Pakai ninggal kerjaan banyak banget.” Keluh Dino yang terlihat frustasi dengan kerjaannya yang tidak pernah ada habisnya. “Ck, gini nih... Kalo kelamaan pacaran sama kertas. Otak lo isinya hanya garis horizontal dan diagonal doang!” Cibirnya pada Dino dengan santai, memang sesantai ini ketika mereka berkumpul. Terkadang mereka sampai lupa bahwa mereka masih berada di ruang lingkup Perusahaan. “Apa hubungannya coba? Nggak nyambung!” Ketus Dino tak terima. “Makanya Leo bilang, pikiran lo cuma sebatas garis horizontal dan diagonal karena memang terlalu lurus pada satu titik. Hanya memikirkan pekerjaan, nggak ada lain...” Sahut Keisha yang menyela obrolan mereka. “Jadi Pak Dino Raden Pratama... Gue ingatin, kali aja lo lupa. Bahwa besok itu ada acara aqiqahnya Baby Nio, putra Bos lo.” Dino tampak tertegun sejenak, dia terlihat sedang berpikir dan mengingat. Sedangkan Leo langsung terkekeh geli saat melihat raut wajah lucu Dino, dalam hatinya dia mulai berhitung. Satu... Dua... Tiga... Dan benar saja, tak butuh waktu lama hingga terdengar suara pekikan dari Dino. “ASTAGA... GUE LUPA!” Serunya dengan mata membeliak. “Kenapa kalian baru ingatin sekarang sih?” Lanjutnya berkata dengan nada panik. “Derita lo...” Ejek Leo yang mulai beranjak dari tempat duduknya. “Ayo Hon, kita pulang!” Lanjutnya mengajak Sang kekasih pulang. Saat berada di ambang pintu, langkah mereka terhenti sejenak. Leo menolehkan kepalanya ke belakang menatap Dino, “Oh iya, jangan lupa bawa buku Yasin lo kalo meeting bersama Mr. Lee.” Saran Leo dengan nada setengah mengejek. “Maksudnya?” Tanya Dino mengernyit heran. Memang Dino punya kebiasaan aneh lain, dia akan selalu membawa buku Yasin ketika Bos atau teman-temannya mengajak dia pergi ke sebuah Bar atau Club malam. Tujuannya? Tentu saja bisa membuat orang geleng-geleng kepala, saat mendengar jawaban Dino. Penangkal godaan Syaiton yang terkutuk. Bukankah sangat membagongkan? Memang di antara mereka, Dino lah yang mendapat julukan Anak sholeh. Pikiran dan tingkah laku Dino benar-benar menggambarkan kepribadiannya yang lurus dan baik. “Mr. Lee meminta memindahkan meeting nya di sebuah Club.” Mendengar jawaban Leo, sontak mata Dino langsung membulat sempurna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN