“Dasar Teman nggak ada akhlak! Beraninya dia umpanin gue ke kandang serigala.” Gerutu Dino saat melihat kedua pengganggu itu keluar dari ruangannya.
“Kenapa juga gue mesti lupa? Mana gue juga belum beli kado lagi, makin pening dah kepala gue.” Lanjutnya menggerutu dengan kesal lalu melanjutkan pekerjaannya yang mulai menumpuk lagi.
Setelah Tiga jam berkutat dengan tumpukan berkas, akhirnya Dino menyelesaikan semua pekerjaannya dan bergegas pulang. Setelah sampai rumahnya, Dino bergegas menuju ke kamarnya untuk mandi sebelum melihat putrinya yang mungkin sudah tidur terlelap. Tapi ketika masuk ke dalam kamarnya, Dino langsung terperanjat saat melihat sosok wanita yang duduk bersandar di atas ranjangnya sembari memainkan ponsel.
“Kapan pulangnya, Ra?” Tanya Dino setelah sadar dari rasa keterkejutannya.
“Sore tadi.” Jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
“Audi udah tidur?” Tapi Dino hanya mendapat jawaban gelengan kepala dari wanita tersebut yang sialnya adalah istrinya sendiri Aura Sevia Mahesa.
Dino terdengar menghela nafas saat melihat sikap dingin dan acuh Aura yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.
“Setidaknya luangkan sedikit waktumu untuk Audi, bagaimanapun keadaannya... Audi tetaplah putri yang kamu lahirkan dari rahimmu sendiri. Audi butuh perhatian dan kasih sayangmu...” Pinta Dino.
“Bagiku dia adalah aib, aku malu mempunyai putri yang cacat seperti dia!” Sentak Aura menyela ucapan Dino dengan mata tajam.
Memang kondisi fisik putrinya sedikit berbeda dengan kebanyakan anak lainnya, Audi terlahir dengan kondisi kaki yang cacat. Kaki kanannya tidak mempunyai jari kaki dan bisa di pastikan ketika Audi tumbuh besar, dia tidak akan bisa berjalan normal seperti kebanyakan anak lainnya.
Sedangkan Dino hanya menatap nanar istrinya yang begitu tak punya hati terhadap Putrinya sendiri, Audi memang bukan putri kandungnya. Tapi sejak dalam kandungan, Dino ikut menjaga dan menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri. Tentu saja hatinya sangat sakit ketika ada yang menghina putrinya cacat, mana ada seorang anak yang ingin lahir dalam keadaan cacat... Tidak seorang pun.
“Apa kamu benar-benar tak punya hati Ra? Dari dulu tak pernah berubah.” Ucap Dino menatap Aura dengan penuh kekecewaan, bagaimana bisa seorang ibu begitu tega dengan anak kandungnya sendiri.
Dino memilih bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Aura yang termangu menatapnya.
***
Keesokan harinya, Dino terbangun lebih awal dari biasanya. Entahlah... Moodnya hari ini sangat berantakan bahkan bisa di katakan buruk sejak kejadian tadi malam, memang tidak ada pertengkaran ataupun perdebatan alot yang terjadi di antara dia dan istrinya. Tapi jika mengingatnya... Hatinya sangat kecewa.
Dino juga pamit pada Bi Iteng berangkat kerja lebih awal tanpa menunggu istrinya bangun, dia berpesan pada Bi Iteng untuk mengajak Audi berkunjung ke rumah orang tuanya. Hari ini dia akan pulang larut malam karena harus menggantikan Leo meeting dengan klien dari Jepang.
Perasaan gue nggak enak dah, kenapa ya? Semoga nanti meeting nya lancar. Kalo enggak sia-sia dong gue berkorban masuk tempat laknatt itu, bikin nambah dosa gue aja.
Kesal Dino, memang Leo sudah memberi tahu bahwa pertemuan tersebut di adakan di sebuah Club atas permintaan Mr. Lee sendiri. Tentu saja mau tidak mau Leo harus menurutinya kalau tidak ingin kesempatan kerja sama mereka gagal, pasalnya... Mr. Lee adalah Pengusaha yang mempunyai pengaruh besar di kanca internasional sehingga banyak perusahaan besar ingin bekerja sama dengan perusahaan Mr. Lee.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di Kantor, Dino bergegas menuju ke sebuah Club tempat mereka membuat janji meeting. Dino segera menuju ke ruang VVIP yang telah di pesan oleh rekan bisnisnya.
Allahuakbar... Eh, salah dah. Harusnya kan istighfar.
Monolognya ketika masuk ke dalam ruangan dan melihat banyaknya wanita yang berpakaian seksii, mereka duduk mengelilingi Mr.Lee dan juga rekan satunya. Sedangkan Asisten Mr. Lee terlihat standby berdiri di dekat Bosnya.
Yaelah... Itu kenapa ikan hiasnya banyak banget dah? Beraneka ragam lagi... Bentuk dan rupanya, bikin mata suci gue ternodai aja.
Monolog Dino dalam hati yang menyebut wanita penghibur tersebut dengan istilah Ikan hias.
“Selamat datang Tuan Dino, Leo sudah memberi tahu saya bahwa Anda yang akan menggantikannya.” Sambut Mr. Lee pada Dino, membuat Dino tersentak dari lamunannya dan langsung menetralkan ekspresinya.
“Terima kasih Mr.Lee, senang bisa bekerja sama dengan Anda.”
Melihat situasinya yang tidak kondusif, Dino bergegas menyelesaikan meeting nya secepat mungkin. Tapi tetap saja dia harus rela menemani Mr.Lee minum agar kliennya tersebut tidak menyodorkan wanita penghibur padanya, akhirnya Dino pulang dalam keadaan setengah mabuk. Tapi untungnya dia bisa membatasi dirinya agar tidak minum terlalu banyak.
Siall! Lain kali gue ogah datang sendirian ke tempat begini.
Umpat Dino dalam hati.
Pusing banget dah kepala gue, muter-muter macam baling-baling bambu.
Keluhnya dalam hati, lalu segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin berlama-lama di sini, meskipun saat ini dalam kondisi hujan deras tapi Dino tetap memaksa dirinya untuk mengendarai mobilnya.
***
Di Tempat lain, Jill mengendarai motornya menerjang hujan yang mengguyur kota Jakarta. Kebetulan jalanan malam ini agak sepi karena malam sudah terlalu larut, di tambah lagi hujan deras membasahi jalanan tersebut.
Jill semakin menambah kecepatan motornya, saat melihat ada pengendara motor ninja sedang mengikutinya sejak dia keluar dari Restoran. Rupanya... Motor yang mengejar Jill juga ikut menambah kecepatannya hingga terjadilah aksi kejar-kejaran, entah apa motif pengendara motor ninja itu hingga dia mengejarnya? Yang pasti sepertinya pengendara itu memang sengaja melakukannya.
Jill yang sedang fokus menghindar dari kejaran, tidak menyadari bahwa dia sudah keluar dari jalur. Dia tidak melihat bahwa di depannya ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi hingga motor Jill tidak sempat menghindar, lalu menghantamnya dengan keras.
BRAKKKKK...
Jill terpental ke bagian depan mobil dengan keras hingga kaca mobil tersebut pecah.
Sedangkan Dino yang terkejut mobilnya menabrak sebuah motor hingga pengemudinya terpental kebagian depan mobilnya, membuat Dino langsung membanting setir ke samping hingga pengemudi itu terlempar ke tepi aspal. Pengemudi motor itu terbentur cukup keras hingga dia banyak mengeluarkan darah, sedangkan mobil Dino langsung menabrak pohon besar hingga membuat Dino pingsan.
Sedangkan motor ninja yang mengikuti Jill tadi segera pergi tanpa berniat menolong mereka, tapi untung saja ada beberapa orang yang berada di lokasi tersebut langsung datang menolong mereka dan menghubungi polisi. Suasana di lokasi tersebut tampak mencekam karena parahnya kecelakaan, setelah mobil ambulans datang mereka segera membawa Dino dan Pengendara motor tersebut yang tak lain adalah Jill pergi menuju Rumah sakit.
“Lapor Komandan.” Ucap salah satu Polisi yang bertanggung jawab mengantarkan Dino ke Rumah sakit, dia memberi hormat pada Ayah Dino yang baru saja datang. Ayah Dino merupakan atasannya yang menjabat sebagai Komisaris Jenderal Polisi.
“Bagaimana keadaan Putraku?” Tanya pemilik nama Edwin Pratama tersebut kepada anak buahnya.
“Putra Anda sekarang masih dalam perawatan Dokter, tapi keadaannya baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius, laporan selesai!” Jawab Polisi tersebut dengan nada tegas.
“Lalu bagaimana dengan keadaan korban yang di tabrak?”
“Lapor Komandan! Keadaan perempuan itu sangat parah, Dokter akan melakukan operasi tinggal menunggu persetujuan dari walinya.” Lapornya.
Jadi korbannya seorang perempuan.
Batin Edwin yang sedikit terkejut.
“Kembalilah ke Lapangan untuk membantu membereskan semuanya, di sini biar saya yang tangani!” Titah Edwin dengan nada tegas.
“Siap Komandan!” Polisi tersebut langsung memberi hormat, lalu bergegas pergi.
Setelah Edwin mengurus administrasi dan perwalian dari perempuan tersebut, dia menunggu operasi perempuan itu selama hampir berjam-jam lamanya. Ketika pintu ruang operasi terbuka, Edwin akhirnya bisa bernafas lega.
“Bagaimana keadaannya Dok?” Tanyanya dengan cemas.
Kecemasannya bukan tanpa sebab, jika perempuan itu sampai meninggal. Putranya akan berada dalam masalah besar, Dino bisa saja masuk penjara jika pihak keluarganya menuntut.
“Syukurlah... Operasinya berhasil, meskipun sekarang keadaan pasien masih kritis. Kami Tim Dokter masih tidak bisa memperkirakan kapan pasien akan sadar, bisa di bilang sekarang pasien mengalami koma...”
“Tapi ada satu hal yang mesti saya beritahu, Tuan. Kemungkinan setelah pasien bangun, Pasien akan mengalami kebutaan. Pada waktu kecelakaan, ada beberapa serpihan kaca yang masuk ke dalam kornea matanya.” Lanjutnya memberitahu kabar buruk tersebut pada Wali Pasien.
“Apakah selamanya dia tidak akan bisa melihat, Dokter?”
“Tidak, Tuan. Pasien akan bisa melihat lagi jika Pasien bisa mendapatkan donor kornea mata.”
Sontak membuat Edwin kembali bernafas lega, “Syukurlah...”
“Terima kasih Dokter.”
“Sama-sama Tuan, sekarang pasien akan saya pindahkan ke Ruang ICU agar pihak keluarga bisa melihatnya.” Dokter tersebut pamit meninggalkan Edwin sendiri.
Setelah memastikan gadis itu aman, Edwin segera melihat keadaan putranya.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Edwin dengan nada kaku saat melihat putranya sudah sadar.
Dino terkekeh pelan melihat wajah Ayahnya yang selalu kaku bak kanebo kering, sangat berbanding berbalik dengannya yang sangat ceriwis macam Ibu-ibu kompleks.
“Papi sendiri ke sininya?” Bukannya menjawab, Dino malah balik bertanya.
“Apa kamu ingin Mamimu membuat heboh satu Rumah sakit karena tangisannya?” Sarkas Papi Dino, lagi-lagi membuat Dino terkekeh.
“Bagaimana keadaan orang yang aku tabrak, Pi?” Tanya Dino.
“Dia baru saja keluar dari ruang operasi, keadaannya cukup kritis tapi dia masih selamat.”
“Syukurlah... Dia tidak meninggal.” Dino tampak begitu lega mendengar ucapan Papinya.
“Jangan senang dulu!”
“Maksud Papi? Jangan berbelit-belit macam kaset rusak deh Pi, Dino lagi pusing ini!” Ocehnya, tapi dalam sorot matanya ada rasa ketakutan tentang keadaan korban yang dia tabrak.
Terdengar decakan dari bibir Edwin, dia benar-benar heran dengan putranya yang masih bisa berbicara panjang lebar meskipun dalam keadaan sakit.
“Dia sekarang koma, bahkan seandainya Gadis itu bangun. Dia akan menjadi buta karena kornea matanya rusak.” Sontak saja membuat Dino langsung tertegun.
“Dia Perempuan?” Edwin mengangguk mengiyakan.
“Dan kamu tahu, dari laporan anak buah Papi. Gadis itu anak yatim piatu dan tinggal di sebuah Panti asuhan...”
“Meskipun kamu bisa bebas dari jeratan hukum karena tidak akan ada keluarganya yang menuntut, tapi kamu tidak akan bisa bebas begitu saja dari tanggung jawab ini Son. Gadis itu mempunyai peran yang cukup besar, bisa di bilang... Dia merupakan tulang punggung Panti asuhan itu. Kamu tidak bisa memulangkan dia begitu saja ke Panti asuhan setelah dia sadar, bahkan dalam keadaannya yang buta.” Tambah Edwin yang menjelaskan situasinya pada Dino, sontak membuat Dino kebingungan mencari jalan keluar dari masalah ini.