“Pagi yang standar.” Kata Ansell saat aku sampai di ruangan. Empat gelas kopi tersedia di atas mejaku. Ansell, Rara dan Lanna mengelilingi meja kerjaku. “Setiap pagi itu anugerah, Sell. Bersyukurlah.” Kata Rara yang selalu bersyukur. Hidupnya hanya sebatas makan, minum dan film. “I like it, Ra.” Kata Lanna menyesap kopinya. “Kalian lagi ngomongin aku ya.” Aku meletakkan tas di atas meja. Duduk dan mengambil satu gelas kopi. Menyesap kopi yang mulai mendingin itu. “Betul sekali!” kata Ansell yang mirip seperti ketua klub gosip. “Alena nelpon, chat dan terus menerus menanyakan kamu dan Adit. Aku terpaksa memblokirnya lagi.” Kata Lanna penuh emosi. “Meskipun kamu mengkhianati kami, tapi kami akan di belakang kamu saat kamu berhadapan dengan Alena.” Rara berkata sambil menggigi

