EPISODE 3

691 Kata
Keesokan harinya seperti biasa serly sudah ada di ruangannya, di priksanya beberapa pasien dengan berbagai macam penyakit. “ini resep obatnya ya pak, silahkan ambil di apotik depan, semoga lekas sembuh” “ia buk dokter, terima kasih” seorang pasien keluar dari ruangan serly. “suster apa ada lagi pasien untuk hari ini?” tanya serly pada suster yang membantunya “ooh, untuk hari ini, pasien sudah tidak ada lagi buk” “oh, ia terima kasih, kalau begitu saya keluar dulu ya, saya mau ke ruangan  dokter dara sebentar” “oh ia dok,” Serly pun masuk ke ruangan dara, dilihatnya dara sedang kewalahan menenangkan seorang ibu-ibu yang kira-kira usianya sudah mencapai 50 tahunan “dar, dia kenapa?” tanya serly penasaran “itu dia ibu yang aku bilang semalam, kamu lihatkan betapa histeris nya dia sama penyakitnya itu, aku sampai kewalahan menenangkan, “ dara mencoba menjelaskan, tiba-tiba serly sudah datang menghampiri ibu itu. “hallo buk,… perkenalkan nama saya dokter serly,…  nama ibu siapa? Tiba-tiba ibu itu berhenti menangis dan menatap serly  . “oh, dokter serly ya, saya maysa, panggil ibu maysa…” “usia ibu maysa berapa?” “55 tahun ibu dokter” “maaf buk panggil saja saya anak, saya masih muda, ibu lebih tua dari saya, tidak enak di dengan ibuk maysa , memanggil saya ibu” “oh,… boleh kah?”   serly mengangguk. “ibu kenapa , kok nagis-nagis gini, apakah tidak bisa kita bicarakan baik-baik?” “saya sudah putus asa nak serly, tumor yang saya idap saat ini ada di Rahim saya, saya sangat sedih sebab Rahim saya akan di angkat. Dan kemungkinan untuk selamat itu 75 persen, saya takut nak” “ibu jangan takut, ALLAH selalu ada Bersama orang-orang yang selalu meminta bantuannya, serahkan semua sama ALLAH . ibu jangan lupa berdoa, minta ampunan dan kesembuhan padanya” “ia nak kamu benar, tapi ibuk itu sangat sedih nak, kamu aja bukan anak ibuk tapi kamu bersedia menenangkan hati ibuk, anak ibu sendiri tidak pernah memperlakukan ibuk seperti ini, ini lah yang membuat hati ibuk semakin hancur nak” “loh, ibu punya anak?” serly dan dara terkejut, ibu maysa mengangguk “kenapa gak pernah antar ibu ke rumah sakit?” dara menambah beberapa pertanyaan “anak saya ada satu , Namanya reyhan. Dia terlalu sibuk bekerja sampai kami tak pernah bertemu di rumah” “apa jangan-jangan anak ibuk tidak tau bahwa ibuk sedang sakit?” serly menaruh curiga Ibu maysa mengangguk, “ea nak, semenjak ibuk di vonis ada tumor di Rahim, ibuk tak pernah bertemu anak ibuk di rumah, dia selalu sibuk bekerja, saat ibuk mw bicara lewat telpon, dia selalu gak bisa di ganggu, ibuk sedih nak, tidak ada yang mengkhawatirkan ibuk, hanya kamu nak serly yang mau bertanya tentang hal ini pada ibuk” Serly dan dara bertatapan “ibuk, jangan sedih ya, saya dan teman saya ini akan membantu ibuk, boleh kah saya tau no hp, atau alamat kantor anak ibuk itu?” serly bertanya pada buk maysa “oh boleh nak” buk maysa menuliskan alamat dan no hp reyhan anaknya di secarik kertas, selesai mendapat beberapa nasehat yang bisa menenangkan hati buk maysa, buk maysa pun pulang diantar supir nya. “ser, lo yakin mau menjumpai anak ibu maysa itu?” “ia, aku yakin, anak macam apa yang tega tidak memperdulikan ibunya , dia masih beruntung di beri ALLAH kesempatan untuk bisa menjaga orangtuanya, tidak seperti aku” “ia ser, kamu benar, sesibuk-sibuknya kita sama pekerjaan, kita seharusnya lebih mengutamakan orangtua” dara menambahkan Serly mengangguk “ ya udah kita pulang yuk udah sore ni” “ia ser, makasi ya udah membantu” “sama -sama” “kamu jangan sedih ya,…” “enggak kok, aku Cuma sedih ibu itu” “alhamdulillah..” dara tampak lega sekali “Aku sangat senang ser, liat kamu bisa kayak dulu lagi, kuat, semangat dan berapi-api kayak gini, hati kamu kayaknya udah beragsur-angsur membaik. Aku janji, aku akan membantu mu melupakan si alex b******k itu, aku janji” gumam dara dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN