Pagi itu serly sedang sibuk sekali menangani beberapa pasien, dia berkeliling rumah sakit memasuki setiap ruang pasien yang ia tangani. Tak lupa dia memasuki ruangan cici , anak yatim piyatu berusia 12 tahun yang tinggal hanya Bersama seorang nenek. cici ini seorang pasien yang terkena penyakit asma bawaan, maka tak jarang cici keluar masuk rumah sakit. Hal inilah yang membuat serly sangat dekat sekali dengan anak ini. Dia menyadari menjadi anak yatim piyatu itu sangat menyedihkan, karena dulu serly juga sempat merasakannya sebelum dia berhasil menjadi seorang dokter seperti sekarang ini.
“hai cici cantik, bagaimana keadaannya sayang, apa sudah membaik?”
“ya buk dokter cantik, cici udah sehat , makasi ya buk dokter”
“ia sayang…. Nanti jangan lupa makan obatnya, jangan capek-capek ya, nanti penyakit asmanya kambuh lagi”
“ia buk dokter”
“makannya di jaga ya”
“ia buk, buk dokter cantik deh, pasti pacarnya tampan ni” cici mengungkit masalah pacar, yang membuat serly sedikit sedih karena teringat masalah percintaanya dengan Alex yang kandas di tengah jalan.
Serly hanya tersenyum , di usapnya kepala cici “sayang kamu jangan dulu banyak gerak y, focus sama kesehatan, biar cepat sembuh dan bisa sekolah lagi”
“ia buk dokter, nenek berterima kasih pada buk dokter ya, karena selalu ini selalu membantu merawat bahkan membiayai perobatan cici” nenek merasa malu pada serly
“nenek, gak papa, serly udah anggap cici seperti adek serly, tolong jaga dia ya nek”
“ia buk dokter, sekali lagi terima kasih” nenek sangat merasa beruntung di pertemukan dengan serly, karena semenjak bertemu dengan nya semua pengobatan cici kalau masuk rumah sakit , serly selalu senang membantu, karena serly tahu bahwa nenek cici bukan tergolong orang yang mampu.
Selesai memeriksa beberapa pasien, serly kembali ke ruangan, tiba-tiba dara datang ke ruangan serly dengan terburu-buru
“ser, ayo ikut aku “ dara menarik tangan serly keluar ruangan
“ada apa? Serly kaget , karena tidak pernah melihat sahabatnya itu sepanik ini “kamu kenapa sih”
“ayo ikut aja dulu” sambil menarik-narik serly masuk ke dalam ruangan seorang pasien.
Betapa terkejutnya serly ketika di lihatnya ibu maysa terbaring di tempat tidur “tu lihat ibu maysa, tumornya semakin ganas, dokter bedah menyarankan untuk segera di lakukan operasi pengangkatan Rahim, tapi dia selalu menolak, karena sampai saat ini dia belum bertemu dengan anaknya, dan tidak bisa di telpon. Saat supir ibu maysa berusaha membantu memberitahu kepada anaknya reyhan itu, malah si reyhan itu tidak percaya, dan menuduh si supir membohonginya, dasar anak durhaka, terlalu sibuk dengan pekerjaan sama ibu sendiri lupa” dara menjelaskan Panjang lebar dengan penuh kekesalan.
Serly yang melihat hal ini merasa sangat marah, ia pun pergi keluar kamar pasien dan terus mengambil tas nya di ruangannya kemudian pergi ke suatu tempat.
“serly mau kemana ya, apa jangan-jangan dia menjumpai si reyhan itu?” guman hati dara yang bertanya-tanya
Di tengah perjalanan, serly sangat kesal karena jalan yang harus dia lewati terjebak macet yang begitu Panjang. Tiba-tiba dara menelpon
Kring,…kring…kring
“halo dar, ada apa?”
“kamu di mana ser, kok pergi gitu aja” dara penasaran sekali “apa kamu mau menjumpai anak ibu maysa itu ?”
“hmmm…. Tadinya begitu, tapi aku terjebak macet, aku kasian liat ibu itu, aku harus berjumpa dengan anaknya itu dar, bagaimana pun caranya harus, kamu tolong foto buk maysa , kirim ke aku ya”
“ok, ya udah kamu hati-hati ya, aku gak bisa temani kamu, aku harus menemani buk maysa di sini, takut dia kenapa-kenapa”
“ok , “ serly menutup telpon dari dara
“waduh macet nya ampun deh, “ rara begitu kesal. Hampir setengah jam dia terjebak macet, akhirnya serly sampai juga ke tempat dimana reyhan anak buk maysa bekerja.
Serly menatap Gedung pencakar langit itu, di lihatnya di sana terpampang jelas nama perusahaan PT.KUSUMA “apa benar ini perusahaan nya anak ibu maysa ya? “ rara sedikit ragu untuk masuk, namun tekadnya untuk membantu ibu maysa membara-bara, karena dia merasa sangat kasihan kepada ibu itu, akhirnya, serly pun memutuskan memberanikan diri untuk masuk ke dalam perusahaan itu.