“aku harus cepat -cepat menjenguk mama, dia di mana di rawat, aku harus telpon supir mama”
Setelah menelpon supir ibu maysa, reyhan pun bergegas menemui mamanya. Sesampainya di sana, dia menanyakan ibu maysa di rawat di mana, tanpa sengaja DARA mendengar pembicaraan reyhan dan suster.
“sus, pria tadi nanyain apa ya?”
“oh, itu dok, nanya ruangan ibu maysa”
“oohh,… apa kamu tahu dia siapa?”
“katanya sih anaknya dok”
“ooh gitu, makasi ya sus….”
“kenapa tiba-tiba anaknya datang ya? “ dara berpikir sejenak “apa jangan-jangan serly udah jumpa sama dia ya, wah kalau itu bener berarti serly berhasil dong” dara tersenyum dan langsung berlalu pergi .
POV REYHAN
Reyhan pun masuk ke dalam ruangan dimana bu maysa di rawat
“ma,…. Mama , ini reyhan….”, reyhan menangis “maafkan reyhan ma” dipeluknya ibu maysa erat, tiba-tiba ibu maysa terbangun
“rey, apa ini beneran kamu?” ucap bu maysa terbata-bata
“ma, maafin rey selama ini terlalu sibuk dengan urusan dan masalah rey, hingga rey gak ada waktu buat mama, maafkan rey ma” reyhan menangis sejadi-jadinya dipeluknya mamanya dengan begitu erat
“sayang,… jangan nangis”
“tidak ma, semua ini salah rey, maafkan rey ma”
Tiba-tiba dara masuk ke dalam ruangan ibu maysa
“maaf, apa anda anak ibu maysa?”
Reyhan melepaskan pelukan dari mamanya dan segera menghapus air matanya dan berusaha menutupi kesedihannya di depan dokter dara, tapi walau bagaimana pun reyhan menutupinya, dara bisa melihat betapa merah dan bengkak matanya saat ini, di tambah hidungnya yang terus berair.
“ia dok, saya anaknya”
“bisa kita bicara ke ruangan saya”
“ia dok” reyhan menggenggam tangan mamanya “ma, sebentar ya, rey ke ruangan dokter dulu” bu maysa Cuma mengangguk
Reyhan dan dara pun sudah ada di ruangan kerja dara
“perkenalkan saya dokter dara, selama ini saya yang menangani ibu anda, ibu anda di vonis mengidap tumor di rahimnya kurang lebih satu bulan lalu, dan setelah di lakukan pemeriksaan secara berulang-ulang, ternyata tumor itu merupakan tumor yang sangat ganas, dia membesar dan menyebar dengan begitu cepat tidak sesuai perkiraan kami, jadi kami menyarankan agar buk maysa harus segera melakukan operasi pengangkatan Rahim, sebelum semua nya terlambat”
“jadi kenapa dokter tidak langsung melakukannya” reyhan tampak marah
“maafkan kami, semua yang kami sarankan ini, di tolak langsung oleh buk maysa, dengan alasan karena beliau belum sempat memberitahu anda sebagai anak kandungnya sendiri, dia ingin anaknya ada di sampingnya saat dia melakukan operasi, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa”
“ya TUHAN , apa yang telah aku lakukan “ reyhan tampak sangat bersalah “ ya udah dokter, kalau begitu tolong segera lakukan operasi nya, berikan yang terbaik untuk mama saya, berapa pun biayanya akan saya bayar, tolong selamatkan dia” reyhan memohon pada dara
Dara hanya bisa menatap reyhan, ada rasa sedih, marah, dan juga benci yang terlintas di pikiran dara .
“baik, …kami akan segera melakukan operasi, kami Cuma hanya bisa membantu, namun anda sebagai anaknya haruslah berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan ibu anda” ucap dara ketus karena sedikit tersinggung saat reyhan membicarakan masalah biaya.
“baik dokter”
“baik lah kalau begitu, saya kira cukup jelas, silahkan anda tunggu di luar”
“ia dokter, sekali lagi terima kasih” . reyhan pun keluar dari ruangan dara
********
POV DARA
“Huh,…dasar, memang dia itu sombong banget ya, dia pikir kami ini bekerja hanya semata-mata karena uang,…” dara sangat kesal sekali “kalau gak karena kasihan liat bu maysa di gitukan anaknya, pasti gak sudi mau bicara sama orang kayak dia” ingin rasanya dara memukul wajah reyhan
“tapi seperti yang aku lihat, dia sayang banget kok sama mamanya, tapi dia kok begitu ya,… aneh deh” dara sangat penasaran sekali. “aku harus telpon serly ni”
Dara pun menelpon serly
Tut…tut…tut….
“hallo ser, kamu lagi dimana?”
“oh, aku lagi di rumah ni, ada apa dar?” tanya serly dari seberang sana
“kamu tau gak reyhan, anak bu maysa, tadi dia datang ke sini”
“bener dar? “ serly seperti tidak percaya setelah apa yang dia hadapi tadi pagi
“bener, apa ini karena kamu?” tanya dara pada serly
“udah deh, besok kita bicara ya, gak enak ceritainnya di telpon”
“ok ser, ya udah, maksi ya “
“sama-sama” serly menutup telpon dara
“alhamdulillah, ternyata usaha serly gak sia-sia, dan aku sedikit bahagia karena serly udah bisa kembali kayak dulu lagi, hah,… lega rasanya “ dara sangat senang sekali melihat perubahan serly yang sedikit membaik akibat patah hati.
***************
Setelah beberapa jam menunggu di depan ruang operasi, reyhan yang terus mondar-mandir tampak merasa sangat cemas, sesekali dia duduk di kursi tunggu kemudian berdiri, dirinya sedang dilanda kecemasan begitu besar, jam sudah menunjukkan pukul 22.30 wib. “ya Tuhan selamatkan mama , aku sayang dia, “ reyhan menahan air mata penyesalannya “ ma, jangan tinggalkan rey, maafkan rey ma, ya Tuhan beri aku kesempatan untuk menjaga mama ku , aku janji , aku akan menjaga dia, dan menuruti segala keinginannya, aku akan bersumpah, tidak akan pernah mengabaikannya, menelantarkannya, dan meninggalkannya, aku akan menuruti segala kemauan dan keinginannya, ya Tuhan tolong selamatkan mama” reyhan memohon dengan penuh penyesalan, air matanya jatuh menetes. Kegengsian dan egonya kini kalah bersaing dengan ketakutan dan penyesalannya sendiri.
Tiba-tiba dokter keluar dari ruang operasi, reyhan bergegas menghampiri “dokter bagaimana dengan mama saya, apa dia baik-baik saja, apa dia selamat dokter?” reyhan terus menghajar dokter itu dengan beberapa pertanyaan
“pak reyhan,… alhamdulillah operasinya berjalan lancar, mama anda selamat, tumor yang ada di rahimnya sudah berhasil kami angkat”
“alhamdulillah “ reyhan bersyujud syukur “ terima kasih dokter, terima kasih”
“sama-sama”
Reyhan sangat bahagia mendengar kabar tersebut , hatinya terasa lega “ terima kasih Tuhan kamu telah memberikan kesempatan buat mama bisa Bersama dengan ku lagi, terima kasih”
Reyhan pun menghampiri dara , “ buk dokter, terima kasih ya sudah membantu mama saya selama ini, mungkin selama ini mama saya sudah berputus asa karena kelakuan saya”
Dara terkejut mendengar ucapan reyhan yang tiba-tiba saja merendah “ oh,.. saya gak buat apa-apa kok, ini semata-mata karena bu maysa adalah pasien saya, jadi saya sedikit merasa khawatir dengan dirinya”
“ia dokter sekali lagi terima kasih, saya permisi” reyhan pun berlalu pergi
“itu cowok kenapa ya, bentar -bentar galak, bentar-bentar sombong bicaranya, eh bentar-bentar udah merendah, ada yang gak beres ni sama dia, heran deh aku” dara berbicara sendiri , sangkin herannya dengan sikap rey yang sangat susah di tebaknya.