Awal

1658 Kata
Tanpa menunggu persetujuan Seira, Amam sudah membuka ponselnya dan memesankan taksi online karena ia tahu ponselnya Seira mati. Mereka lalu menunggu di depan sekolah hingga taksi mereka tiba. Amam menggenggam tangan Seira. "Kenapa kamu bisa kekunci, Sei?" Seira menjawabnya dengan gelengan kepala. "Nggak tahu. Ada orang iseng kayaknya." Sejak SD Seira memang sering dibuli. Kebanyakan orang iri dengan kesempurnaan yang ia miliki. Cantik, kaya, pintar. Seira dengan mudah menjadi tokoh utama kisah-kisahnya dan itu membuat orang-orang merasa cemburu. Di perjalanan, hujan tiba-tiba turun cukup deras. Amam melepas blazernya dan menutupi kepala Seira agar tidak kehujanan saat turun. Tangan satunya ia lingkarkan ke pinggang Seira lalu mereka berlari bersama-sama menuju bangunan rumah milih Seira. "Amam. Blazermu jadi basah. Gimana kita mau balik ke sekolah?" "Sekarang hujan, Sei. Jangan pikir hal itu duluan. Mending kamu ganti baju aja." Dengan pakaian yang basah, kain itu terlihat agak transparan. Amam tidak bisa untuk tidak tergoda. Seira menurut. Begitu gadis itu melangkah masuk, Amam menahan tangannya. "Aku boleh ikut ke kamar kamu? Mau ngeringin pakaian doang kok. Kamu punya kipas, kan?" Seira merasa tidak enak membiarkan seorang laki-laki ke kamarnya. Namun, ia juga tidak enak menolak permintaan dari orang yang sudah menolongnya. Gadis itu lalu mengangguk. "Ya udah, yuk!" Amam tersenyum mendengarnya. Belum apa-apa tetapi Amam merasa adrenalinnya terus memompa. Darah mengisi ruang-ruang di tubuhnya hingga bagian sensitifnya ikut menegang. Pikiran buruk menguasai Amam. Imajinasinya mulai berkeliaran ke mana-mana. Begitu tiba di kamar, Seira pamit untuk mengganti pakaian di kamar mandi. Amam duduk di kasur milik Seira sambil menyalakan kipas angin yang menggantung di plafon. Ia bisa mencium aroma tubuh Seira di kasur dan ia semakin liar. Amam menggigit bibir bawahnya sambil sedikit mengerang. Ia lalu melepas pakaiannya yang basah termasuk celananya, menyisakan boxer saja. Begitu Seira keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat Amam. Ia tidak berani menegurnya langsung. Dia bersembunyi di balik tembok dengan dadaa bergemuruh. Amam yang menyadari itu bukannya malu malah beranjak mendekati Seira. Dia menempelkan punggungnya ke sisi tembok yang lain sehingga saat ini mereka seolah membentuk sudut 90° saling membelakangi. "Sei. Boleh nggak?" Deg. Jantung Seira berdetak agak aneh. "B-boleh apa?" "Seira, boleh nggak malam ini kita coba itu?" Seira menelan ludahnya. Amam memanjangkan tangannya untuk menyentuh rambut Seira yang sedang tidak ditutupi jilbab. "Aku nggak akan nyakitin kamu, kok. Aku cuma penasaran." Seira terdiam. "Mam. Kita baru lulus SMP. Itu dosa." "Seira ... Yang ngelakuin ini bukan cuma kita. Nggak ada yang tahu kok. Nggak ada yang lihat. Kamu katanya sayang sama aku? Seira, tolong. Aku nggak bisa pulang dengan tenang kalau belum dapat itu." Malam itu, di tengah hujan deras yang mengguyur Jakarta, Seira memberikan apa yang diinginkan oleh Amam. Itu malam yang sepenuhnya mengubah Seira. Semua komitmennya kepada mama dan papa, semua pengajaran yang ia terima, ilmu agama, kejelasan antara yang benar dan yang salah, mendadak gelap dan samar-samar. Ketika teman-teman sekolahnya berkumpul di auditorium dengan AC yang dingin, mereka justru bermandikan keringat di atas ranjang milik Seira. Semenjak hari itu, mereka semakin rutin melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan layaknya pasangan suami istri. Mereka dibutakan oleh cinta dan disesatkan oleh nafsu. *** Amam tidak pulang ke kosnya. Dia tidur di rumah Rian tanpa mengatakan hal apa pun terkait masalahnya. Namun, Rian tidak bodoh. Dia tahu sahabatnya ada masalah. Dia juga tahu Amam tidak bisa tidur. "Amam. Lo ada masalah?" tanya Rian lembut. Amam tidur di lantai dengan tilam tebal. "Gue oke." "Mam. Kalau ada masalah cerita. Jangan diem-diem begini. Gue tahu, Mam, kalau lo ada masalah. Ga perlu sembunyi-sembunyi gini." Rian mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Terdengar suara isakan halus dari balik selimut Amam. Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas. "Yan. Gue bakal ditempatkan di neraka, ya?" "Astaghfirullah, Amam. Lo ngomong apa? Surga dan neraka itu urusan Allah. Bukan urusan manusia." Rian memutuskan turun dan menarik selimut Amam. Dia menemukan wajah sahabatnya itu memerah dan matanya basah. Belum lagi lebam-lebam dan luka di bibir yang seperti bekas tonjokan itu. Saat pertama kali datang Rian tidak sadar karena Amam mengenakan masker. "Lo kenapa, sih, Mam?" tanya Rian panik. Dia membangunkan Amam agar lelaki itu duduk. "Yan. G-gue, udah ngerusak masa depan orang yang gue sayang, Yan. Gue nggak bisa ngejaga kepercayaan orang tuanya, Seira. Gue ... ngehamilin Seira." "Ya Allah." Seperti ada geledek yang menyambar kamar Rian. Dia tahu dulu Amam tipe cowok yang agak begajulan. Tetapi dia tidak pernah menyangka bahwa pergaulan Amam sudah sejauh ini. "Lo serius?" "Iya, Yan. Seira bahkan nyaris bunuh diri tadi gara-gara hal ini dan gue dengan bodohnya nggak tahu Seira ngalamin semua ini sendirian! Gue layak masuk neraka, kan, Yan?!" Rian menahan tangan Amam, menenangkan agar lelaki itu tidak menjerit seperti itu lagi. Dia lalu memeluk Amam dan menepuk punggungnya. "Lo tenang dulu, Mam. Jangan putus asa sama rahmat Allah. Allah nggak ninggalin lo." "GUE b******k, YAN. GUE KURANG AJAR! GUE UDAH NGEHANCURIN SEIRA DAN KELUARGANYA!" "Nggak, Mam. Hei, hei! Liat wajah gue. Amam liat gue!" Dengan dadanya yang berguncang, Amam menatap mata Rian. Dia berusaha tenang dan berpikir jernih. "Masa lalu yang buruk itu akan tetap buruk kalau lo terus berkubang di dalamnya. Lo sendiri yang kemarin nulis, Laa Yukallifullahu Nafsan Illa ...?" "W-wus'aha," sambung Amam. Dia tak ubahnya seperti anak kecil yang mengamuk dan ditenangkan oleh abangnya. "Allah nggak bakal, nggak mungkin, ngasih cobaan di atas kemampuan lo. Lo memang salah. Ini teguran keras buat lo sebagai laki-laki. Tentang bagaimana seorang laki-laki harusnya menjaga wanita, bukan memanfaatkannya. Ini nggak akan mudah, Amam. Belakangan lo udah jadi Amam yang keren banget. Lo lihat kajian di YouTube. Lo nanya banyak hal ke Bang Rahman, lo ngejaga pandangan, lo jaga wudu, salat dan dzikir selalu lo sempetin. Itu namanya hidayah. Allah sayang sama lo, Allah pengen lo jadi laki-laki yang bertanggung jawab." Amam merasakan energi positif yang ditularkan oleh Rian. Dia merasa tenang. "Sekarang kita wudu. Abis tu salat sunnah. Minta bantuan sama Allah. Allah yang ngasih masalah Allah juga yang bakal ngasih solusinya. Ya, Mam?" *** Satu hal yang harus selalu Seira syukuri di dunia ini adalah ia dikaruniai orang tua yang sangat baik. Seira bukannya tidak tahu kekecewaan yang orang tuanya hadapi. Tetapi mereka memilih menurunkan ego karena mereka tahu Seira juga tidak dalam keadaan yang menguntungkan. Seira dapat tidur malam ini meski tidak begitu nyenyak. Beberapa kali ia terkejut dengan mimpi yang sangat acak. Dia seperti tersesat dan berkali-kali hampir dijatuhkan, tetapi selalu ada seseorang yang menahan tangannya dan memeluk tubuhnya. Seira tidak tahu nasibnya nanti di sekolah bakal seperti apa, juga dengan perlakuan yang akan ia dapatkan. Untuk sementara ini Seira mungkin lebih baik izin. Lagipula, minggu depan sudah mulai penilaian akhir semester genap. Ia akan kembali ke sekolah saat ujian saja. Seira bangkit dari tempat tidurnya, lalu membuka gorden jendela hingga sinar matahari masuk dengan bebas ke dalam kamar. Seira memutuskan untuk berjemur sebentar di balkon sambil merenung mengenai nasib ia dan anaknya. Saat makan malam, Acel memberikan beberapa kalimat kepada Seira. "Papa akan membantu kamu sebisa Papa. Selesai ujian, kita pindah sementara waktu ke luar kota atau bahkan keluar negeri sambil menunggu kelahiran anak kamu." Saat sedang bergulat dengan pikirannya, sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumah. Itu seperti mobil dinas kantor papanya. Kantor konsultan lingkungan. Papanya yang mantan sutradara itu memang punya latar belakang pendidikan di bidang penyehatan lingkungan dan saat ini memiliki kantor konsultan lingkungan bagi perusahaan. "Nggak biasanya orang kantor ke sini pagi-pagi." Karena penasaran, Seira memutuskan untuk keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Di sana ternyata sudah ada Acel yang membukakan pintu. "Ada apa, Nto? Kenapa pagi-pagi ke sini?" Anto, anak buah Acel, tampak panik. "Kantor kebakaran, Pak? Pagi-pagi pas saya datang api udah membumbung di kantor." "Hah kamu seriusan?" "Pak saya nggak mungkin bercanda sampai datang ke sini. Pemadam kebakaran sudah datang. Tetapi kalau bapak ingin cek langsung, kita bisa ke sana sama-sama." Ekspresi Acel berubah sendu. Dia memang sepintas terlihat tenang tetapi Seira tahu di dalam dirinya tidak demikian. Seira saja merasa kakinya lemas saat mendengar kabar tersebut. Kantor itu baru berdiri setahun, Acel membangunnya sendiri, menabung bertahun-tahun dan mengumpulkan uang selama menjadi sutradara. Meski kantor tersebut sudah diansuransikan, tetapi segala macam berkas, file, dokumen perusahaan yang menggunakan jasa mereka, tersimpan di sana. Beberapa sedang dalam tahapan penyusunan dokumen lingkungan untuk penilaian kementerian lingkungan hidup dan kehutanan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah, pencurian atau sabotase berkas rahasia yang mungkin dilakukan pihak tidak bertanggung jawab. "Ya udah ayo kita ke sana!" Acel mengangguk dan berdiri, memasuki mobil yang dibawa oleh Anto. Seira terdiam di belakang, merasa kelu. *** Bukan uang yang menjadi masalah, juga bukan bangunan yang terbakar. Melainkan dokumen rahasia perusahaan raib terbakar bahkan menghilang. Perusahaan menuntut pertanggungjawaban dari Acel. Mereka ingin hasil penyusunan dokumen dikembalikan dalam keadaan utuh mengingat tenggatnya sudah dekat. "Sebagian pemberkasan sudah ada back-up-nya, tetapi sebagian lagi belum. Kita sudah meyakinkan klien bahwa kita akan menyusun dokumen mereka tepat waktu tetapi mereka tetap ingin membatalkan kerja sama dan meminta uang ganti rugi karena sudah membuang waktu mereka." Api yang membakar kantornya berhasil dipadamkan. Lebih dari separuh bangunannya runtuh dan hangus. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini tetapi kerugian yang tidak bisa ditanggung ansuransi berkisar dua miliar rupiah. Belum lagi kerugian dari hilangnya kepercayaan klien. Acel seperti harus mengganti semua modal yang pernah ia kumpulkan saat pertama kali membangun kantor konsultan ini. "Ada akun yang diretas atau dicuri?" Obrolan di ruang tamu rumah Seira kembali berlanjut. "Sejauh ini kami belum menemukan kejanggalan. Tapi tim sedang mengorek informasi lebih lanjut. Yang aneh, Pak, tadi malam salah satu klien kita menarik berkas yang baru ia ajukan tanpa alasan yang jelas. Lalu setelah itu kebakaran terjadi. Ini semacam ...." "Jangan berspekulasi dulu, Nto. Kita selesaikan satu-satu." "Tapi, Pak. Kalau terbukti ada yang menyabotase, atau bahkan menyalahgunakan berkas, kantor kita bisa dibekukan, lho. Kita perlu cari tahu lebih dalam mengenai masalah ini." Anto benar. Mereka perlu menelisik lebih jauh mengenai hal ini. "Memangnya siapa orang yang narik berkas itu?" Anto terdiam sejenak, mengingat namanya. "Dia bilang, dia datang sebagai utusan Arkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN