"Lo beneran nggak sekolah?" Pagi-pagi, Rian sudah siap dengan seragam batik sekolahnya. Dia selalu rapi dan wangi. Rambutnya tertata seperti seorang taruna, gagah, tetapi lembut dalam berbicara. "Gue mau ke rumah, Seira. Mau datengin mama sama papanya." "Lo nggak takut?" Rian sebenarnya agak cemas apalagi melihat bekas luka di wajah Amam. "Gue takut, tapi ini harus gue jalanin sebagai laki-laki. Berani berbuat, berani bertanggung jawab." Rian melemparkan senyumnya kepada Amam. Kemudian, ia menepuk pundak sahabatnya. "Gue yakin semuanya akan berjalan baik. Allah selalu bersama kita." Atas ucapan Rian barusan, Amam mengangguk. "Ya udah, gue sekolah dulu. Ibu udah nyiapin sarapan buat lo, jangan lupa makan, ya?" Lagi-lagi Amam mengangguk. "Ya udah sana, lama amat briefing-nya." Rian

