Jika bisa, Septi juga ingin memarahi Seira dan Amam bahkan mengusir mereka dari rumah ini. Tetapi Septi tidak bisa melakukannya. Karena sebagaimana yang Acel bilang, mereka butuh waktu lima tahun untuk mendapatkan Seira. Ia berkali-kali keguguran. Bahkan pasca Seira lahir, dia harus disterilisasi karena rahimnya bermasalah untuk mengandung anak lagi.
"Saya memang tidak akan banyak omong, Amam. Tapi jujur saya muak melihat wajah kamu."
Perkataan itu sangat menyakitkan bagi Amam, terlebih saat Septi meninggalkan mereka di teras rumah.
Amam dan Seira merasa sedikit canggung. Tetapi, Amam berusaha membunuh kecanggungan itu.
Lelaki itu menunduk, tidak berani melihat wajah wanita di depannya. "Seira. Maaf udah menempatkan kamu di posisi sulit seperti ini. Aku, aku nggak tahu kamu melewati ini sendirian. Kalau kamu bilang, aku bakal pastiin ada di samping kamu."
"Bohong, Mam. Apa yang kamu katain sekarang cuma bullshit!" Seira menatap Amam dengan serius. "Aku telepon kamu malam itu tapi nggak kamu angkat! Kamu tahu rasanya jadi aku? Di sekolah aku ngeliat kamu sama perempuan lain, boncengan berdua, saling ngobrol, seolah dunia kamu udah nggak ada aku! Orang-orang ngomongin aku, bilang aku perempuan murahan, bilang kalau wajar kamu ninggalin aku, sedangkan kamu? Cuma datang nanya kayak orang nanya kabar."
Amam ingat hari itu. Ponsel yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba rusak. Hari itu ia menginap di rumah Pak Wawan dan besok paginya mengantar Nayla untuk mendaftar sekolah. Tetapi Amam berani bersumpah dia tidak bermaksud seperti itu. Dia tidak ada hubungan dengan Nayla meski sempat tertarik. Andaikan ia tahu apa yang dihadapi Seira dia tidak akan meninggalkan gadis itu.
Amam meraih tangan Seira. "Iya, Sei. Itu kesalahan aku. Aku bakal nebus itu semua. Aku bakal nikahin kamu, Sei."
Seira menggeleng. "Aku mau, tapi Papa sama Mama aku? Kita baru 16 tahun. Kita nggak tahu apa-apa tentang dunia pernikahan. Yang tua aja bisa cerai."
"Aku nggak akan ninggalin kamu," potong Amam. "Anak ini makin lama makin besar. Kamu mau bohong ke seluruh dunia tentang anak kita? Kamu maunya ngakuin anak kamu sebagai adik kamu? Mau sampai kapan? Aku bapaknya dan kamu ibunya, itu mutlak. Walaupun aku nggak bisa jadi wali nikahnya nanti tapi seenggaknya aku mau nebus kesalahan aku dengan menyayangi dia."
Seira bertemu dengan suatu keadaan di mana dia takjub dengan rasa tanggung jawab yang Aman punya. Tetapi itu tak membuat Seira tenang. Dia tahu keluarga Amam seperti apa. Mama dan papanya tidak harmonis meski sudah menikah bertahun-tahun. Amam kekurangan kasih sayang. Apa yang bisa diharapkan dari seorang laki-laki 16 tahun dari keluarga yang tidak harmonis, memiliki catatan kepribadian tidak baik, bahkan sudah menghamili seorang gadis? Andai Seira adalah orang lain, Seira mungkin akan sangat was-was didekati laki-laki seperti Amam. Terlepas dari paras, seorang suami butuh yang lebih dari itu. Pernikahan tidak memakan fisik, tetapi butuh komitmen tinggi.
"Tolong, Seira. Kasih aku kesempatan. Bantu aku yakinkan orang tua kamu."
"T-tapi, kita sama-sama masih sekolah. Kalau orang lain tahu aku hamil, aku nggak bisa lanjut sekolah lagi. Aku beda dengan kamu Amam. Kamu laki-laki, bisa tetap sekolah meski punya anak. Bahkan setelah menikah, asalkan nggak ada orang tahu, kamu bisa sekolah."
Amam menggeleng. "Jangan pikirin anggapan orang lain. Jangan takut sama takdir Allah. Kita berdua gagal jadi anak, tapi jangan sampai kita gagal jadi orang tua. Masalah sekolah, ada paket C, Sei. Kamu pinter, kamu bisa lulus dengan mudah dan bisa lanjut kuliah. Untuk selebihnya kita bicarain nanti. Sekarang kamu yakinkan hati kamu dulu. Kalau kamu udah yakin, kita ngomong lagi ke orang tua kamu. Kamu mau, kan?"
Seira terdiam. Perkataan Amam dengan membawa nama Allah terasa aneh. Namun, demi melihat keseriusan Amam, hatinya goyah. Seira akhirnya mengangguk. "Aku pikirin dulu, ya."
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, Seira kembali masuk ke sekolah dikarenakan harus mengikuti ujian akhir semester genap. Seira sengaja datang pagi-pagi demi menghindari keramaian di koridor.
Setelah menunggu beberapa lama di kelas, Amam adalah orang selanjutnya yang datang. Dia berjalan mendekati Seira dan duduk di sebelah gadis itu. "Sei? Are you okay?"
"Maybe."
"Maybe?" Amam mengerutkan dahinya, bingung. "Eh, Sei, gimana? Kamu udah yakinin orang tua kamu?"
Seira langsung memelototi Amam saat lelaki itu loncat ke topik tersebut. "Nggak usah bahas itu di sekolah, Mam. Aku nggak suka."
Alhasil Amam sekarang bingung harus bahas apa. Suasana hati Seira benar-benar labil. Ditanya kabar, jawabnya begitu. Ditanya hal yang serius, malah disewotin.
"Seira mau makan?" Dengan bodohnya Amam menanyakan hal itu.
"Males, Mam." Seira melipat tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya di sana. "Ngantuk."
"Kamu tidur jam berapa, sih? Ya udah kamu mau aku beliin apa? Sebut aja sebut."
Seira sebenarnya gengsi, tetapi membayangkan rujak di kantin yang dimakan dengan micin dan sambalnya, membuat air ludah Seira diproduksi dengan sakit cepat. Dia ngiler.
"Rujak deh. Itu pun kalau kamu nggak keberatan."
"Ya enggak, dong. Demi calon istri tercinta nggak mungkin aku keberatan."
Seira hanya memutar bola matanya malas dan berkata, "Dih."
Amam hanya menyengir. Ia tidak sadar bahwa apa yang ia lakukan sudah mulai melewati batasan yang ia buat. Kalau Rian sampai melihat, Amam pasti langsung diperingatkan.
Setelah lelaki tadi menghilang dari hadapannya, Seira mengembuskan napasnya. Satu per satu murid mulai datang dan duduk di bangkunya. Seira yang selalu duduk sendiri memilih untuk mengabaikan lingkungan sekitarnya. Ia hanya ingin cepat-cepat pulang.
Saat suasana lengang, tiba-tiba ada suara gemirisik dari pengeras suara yang ada di langit-langit kelas. Berselang sebentar, suara seorang laki-laki terdengar. "Halo teman-teman yang tersayang. ada informasi baru nih." Teman-temannya segera menengadah seolah ingin menyantap pengeras suara itu. Namun, tidak untuk Seira. Dia hanya membuka buku dan membaca ulang sebelum ujian dilaksanakan.
"Kabar-kabarnya murid sekolah kita ada yang nekat mau bunuh diri setelah kabar kehamilannya tersebar."
Sontak Seira yang awalnya berusaha mengabaikan suara itu merasa kaget. Tatapan teman-temannya mulai terpusat kepadanya.
Sejauh yang mereka tahu, sosok yang sempat dikabarkan hamil beberapa waktu lalu yang kemudian menghilang dari kegiatan belajar di kelas adalah Seira.
"Ayo support temen kita ini. Bantu dia biar lahirannya lancar. Bagaimana pun kita bakalan jadi aunty dan uncle." Ada suara kekehan di ujung kalimat tadi.
Seira tahu ini suara siapa. Jack. Jack dan teman-temannya mulai berulah lagi pagi ini. Dia berhasil membuat wajah Seira pucat dan napasnya terburu-buru.
"Seira beneran hamil, Boy? Ternyata cewek alim bisa gatel juga, ya?" Elin di belakang kembali bertanya bodoh.
"Sssst," jawab Boy.
Dari bangku lain juga bisik-bisikan terus melambung dan memantul ke dingin, terasa bergema di telinga Seira.
"Di luar kayak ukhti, di kamar jadi naughty." Bahkan nyinyiran laki-laki lebih menyakitkan rasanya.
"Bapaknya siapa coba? Si Amam? Dia nggak pakai k****m apa sampai bocor gitu? Cewek gue nggak mau anjir kalau gue nggak makai kondom."
Telinga Seira panas. Dia sontak menggebrak meja dan menatap serius teman-teman sekelasnya. "Gue nggak pernah bikin masalah sama kalian, ya! Kalau emang kalian nggak suka, bilang sama gue sekarang! Kalian percaya sama omongan orang kayak Jack tanpa bukti?"
"Dih! Siapa yang ngomongin lo? Lo ngerasa?" sahut salah seorang cewek.
"LO PIKIR GUE ANAK KECIL YANG NGGAK TAHU APA-APA, BISA LO GINIIN?"
Satu kelas terdiam. "Semoga yang kalian kalian dapat yang lebih buruk dari yang gue rasain sekarang." Seira menenteng tas ransel dan buku lalu keluar dari kelas.
Dia berlimpasan dengan Amam. "Eh, Sei mau ke mana? Ini rujak lo!"
"Buat lo aja." Seira menjawab ketus, mempercepat langkah agar air mata yang sudah membendung tidak tumpah. Dia menuju ke toilet, menangis di sana seperti biasa.
Amam yang tahu Seira belum ingin bertemu dulu dengannya saat ini memutuskan untuk ke kelas dan menatap nyalang ke arah teman-temannya. "Kalian bangs*at," ujar Amam tenang dan dingin, terlalu tiba-tiba, lalu ia langsung membuang rujak yang ia beli tiga porsi itu ke tempat sampah.
***
Sonya terlambat bangun hari ini tetapi ia tidak merasa ingin mempercepat geraknya sama sekali.
"Sonya, Mama ke kantor dulu."
Sonya bungkam, dan hanya memutar bola matanya malas. Mamanya mau ke Mars juga dia tidak peduli. Dia fokus merapikan meja, membuang debu dengan kemoceng.
"Harus bersih, ya?!" teriak mamanya dari luar. "Jangan lupa siapin makan siang, order aja nggak pa-pa."
Sonya hanya membuat gerakan bibir, mengikuti perkataan mamanya dengan maksud mengejek. Saat wanita itu pergi, Sonya melempar kemoceng ke lantai dan dia duduk jongkok sambil menutup wajahnya, sedikit menangis. "Gue capek tiap hari begini! Gue mau fokus sekolah! Rumah sebesar ini nggak ada pembantu sama sekali. Semua kerjaan gue yang selesain. Gue bukan robot!"
"Papa juga sibuk dengan urusannya sendiri, nggak ada niatan buat pulang. Abang lagi ada masalah. Keluarga gue dikutuk apa gimana sih? Kapan selesainya?"
Tak lama suara klakson motor terdengar dari halaman rumah Sonya. Seorang laki-laki dengan ninja hitam membuka kaca helm full face-nya. "Sonya! Ini Adrian!"
Sonya buru-buru mengelap air matanya, berusaha agar tampak tidak ada apa-apa. Mau ngapain sih tu cowok? Udah ditolak juga.
Sonya lalu buru-buru mengambil jilbab di atas meja dan memakainya asal. Ia lalu keluar dari rumah besarnya.
"Lo mau ngapain, Adrian?"
Adrian menatap kaget melihat tampilan Sonya yang masih kumal. "Lo belom siap-siap? Kan mau ulangan? Ini tinggal 15 menit lagi lho, Sonya."
"G-gue lagi beres-beres rumah. Nggak bisa ditinggal."
"Sonya, mending lo buruan cuci muka dan ganti baju deh. Ini ulangan matematika wajib gurunya nggak mau ngasih susulan lho. Bahaya banget."
Sonya mengepalkan tangan. Kalau mamanya pulang dan melihat rumah berantakan, pasti ia akan ditampar lagi. Sonya mengaku dia salah, seharusnya dia bangun pagi-pagi, bukan bangun sesiang ini.
"Lo duluan aja, nanti lo telat, Adrian. Orang tua lo pasti bakalan marah kalau lo nggak bisa ikut ulangan."
"Nggak bakal. Orang tua gue nggak pernah nuntut aneh-aneh. Ya udah lo buruan kalau nggak mau telat. Nanti abis ulangan kita pulang duluan, pura-pura izin. Nanti gue bantuin beres-beres rumah."
Bahkan setelah beberapa hari lalu Sonya menolak Adrian, laki-laki itu tidak marah.