Adrian

1722 Kata
Sonya sudah siap 5 menit setelahnya. Dia buru-buru lari dan setelah memastikan pintu rumahnya dikunci. "Ih gimana naiknya?" "Kamu letakkin kaki kiri kamu ke pijakannya terus dorong buat loncat." "Eh ngangkang dong?" "Lah terus mau gimana? Tengkurep? Udah buruan!" "Is." Sonya tidak pernah naik motor seperti ini karena Amam pun selalu mengendarai motor skuter atau motor bebek. Setelah berhasil naik, Adrian menyerahkan helm ke Sonya lalu ia segera melajukan motornya agar tiba di sekolah tepat waktu. "Pegangan yang kenceng!" teriak Adrian. "Gue ngebut!" Sonya mencengkeram pegangan motor dengan kencang. Jantungnya seperti diajak balap lari. Dia bertekad dalam hati kalau sampai ia mengalami masalah ia akan menghantui Adrian. Motor Adrian tidak kebagian tempat parkir, terpaksa ia memarkirkannya asal di bawah pohon dekat musola. "Kalau motor lo disita gimana? Parkirnya ngasal." "Bukan salah gue. Salah ni sekolah yang nerima siswa banyak-banyak tapi ga ngitung kebutuhan lahan. Dah yok!" Adrian mengamit tangan Sonya dan membawa gadis itu untuk tiba di kelas. Satu ruangan terpusat pada mereka. Sonya, cewek ketus yang anti dekat-dekat sama cowok datang bersama Adrian, cowok ganteng yang anti sama cewek-cewek. "Gue kira Adrian gay, anjir. Ternyata seleranya emang di atas rata-rata," celetuk seorang cowok. Sonya langsung melepas pegangan tangan Adrian. "Bukan mahram." "O-oh maaf." Adrian melepas tangannya, agak kikuk. "Cie," seru Ajeng, teman sebangku Sonya. "Pegangan tangan." "Nggak ada ya, Jeng. Nggak usah aneh-aneh." "Cie ... mmmphh." Sonya menutup mulut Ajeng dengan tangannya. "Stop ya, jangan bilang yang aneh-aneh. Huh!" Sonya meletakkan tasnya di meja sebelah Ajeng. Namun, Ajeng tetap men-cie-cie-kan Sonya, membiarkan cewek itu merona pipinya. Sonya berusaha mengabaikan suara Ajeng dan fokus dengan urusannya yaitu membaca buku catatan. *** Amam mengejar Seira. Dia menahan tangan gadis itu hingga tubuh Seira membentur tubuhnya. Dengan sigap Amam memeluk tubuh Seira, membiarkan gadis itu menangis di dadanya. "Seira kenapa? Siapa yang bikin Seira nangis?" Seira melepas rengkuhan Amam. "Lepas, Mam. Jangan kayak gini!" Amam mengangkat tangannya, menurut. "Ok aku lepas. Tapi kamu jawab dulu ada apa?" "Mam, kamu tahu apa yang aku lalui sekarang! Berhenti nanya sesuatu yang kamu udah tahu! Kamu nggak bisa lihat perlakuan orang-orang ke aku?" Saat ini Seira berharap semua orang bisa peka, paham situasi yang dihadapinya. Tetapi, Amam bahkan tampak bodoh dengan terus menanyakan sesuatu yang tak perlu lagi dipertanyakan. "Enak yang jadi cowok, nggak perlu hamil, nggak perlu disudutkan, bisanya enak doang. Harusnya sejak awal aku nggak kenal sama kamu, Mam!" Mengapa Seira tiba-tiba marah begini? Mengapa berubahnya secepat ini? "Apa pun kata orang, kamu punya aku Seira!" teriak Amam saat Seira meninggalkannya. "Aku akan lakukan apa pun biar kamu nggak ngelewatin ini sendirian!" Seira menghentikan langkahnya, membeku sejenak. Seruan Amam terasa menggetarkan hingga air mata Seira semakin deras. "Aku bre*ngsek! Aku udah naruh kamu ke posisi ini. Tapi aku nggak akan ngebiarkan kamu jatuh. Aku akan buat kamu lepas dari omongan bodoh orang lain. Kita memang udah melakukan kesalahan, tapi bukan berarti kita nggak pantas menjadi orang yang benar." Amam berseru di dekat gerbang sekolah yang sepi. "Jadilah ibu yang baik dari anakku, Seira." *** Amam membulatkan tekadnya. Meski orang tua Seira akan marah terhadapnya, Amam akan tetap kembali ke rumah Seira. Dia akan menemui orang tua gadis itu, bertanggung jawab atas tindakannya. Pagi ini Amam tidak mengikuti ulangan. Dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya, rumah lamanya, mengambil beberapa pakaian rapi sebelum menampakkan diri di hadapan Acel dan Septi. Tempo hari dia tidak datang dengan layak, maka hari ini ia akan berterus terang mengungkapkan semuanya. Amam memang memiliki kunci rumah. Dia pernah ke tukang kunci untuk membuat duplikat. Begitu sampai di rumah, ia langsung naik ke lantai atas, menuju kamarnya. Ia menghirup aroma kamar yang segar. Jauh berbeda dengan kondisi kos tempatnya tinggal. Ia juga duduk di atas kasur empuknya, mencium bantalnya. Sudah lebih dari 6 bulan dia meninggalkan kamar ini. Sekarang ia merasa rindu. "Gue pernah punya kamar senyaman ini," kata Amam sambil merebahkan kepalanya. Dia menatap dinding dan plafon kamar yang didominasi warna putih. Di halaman rumah, Sonya kembali ke rumah bersama Adrian. Mereka memang pulang cepat karena hanya ulangan satu pelajaran yaitu matematika. Sonya mengisi soal sekadarnya, bukan karena ia bodoh melainkan karena ia tidak punya waktu. Ia harus membereskan rumah. Sonya melihat motor Amam terparkir di halaman. "Itu motor siapa?" tanya Adrian. "Kurir?" Sonya menggeleng. "Abang gue." "Ooh, Amam? Ngapain dia ke sini?" Sonya memicingkan matanya ke arah Adrian, memasang wajah ketus. "Nggak usah kepo deh. Lo bukan bokap gue." Adrian hanya bisa menelan air liurnya melihat respons Sonya. "Ya udah maaf." Sonya lalu melenggang masuk ke rumah, berteriak, "Bang! Lo pulang? Bang!?" Sonya menaiki anak tangga, diikuti oleh Adrian. "Adrian, maaf nih, tapi mending lo pulang deh. Nggak enak kalau Abang gue lihat gue bawa cowok. Maaf banget nih." Adrian mendadak kikuk. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Oh, ok. Gue pulang duluan. Hehe." Ia lantas berbalik kanan dan berjalan menuruni anak tangga. "Makasih Adrian, lo baik banget. Hati-hati di jalan, jangan lupa sarapan." Mendengar dua kalimat itu saja Adrian sudah menyunggingkan senyumnya. Debar jantungnya meningkat dan dia salting. "See you next day, Sonya?" Sonya membalasnya dengan senyuman. Setelah Adrian pergi, dia melanjutkan langkah kakinya menuju kamar Amam. Begitu kamar Amam terbuka, dia melihat Amam tertidur telentang di atas kasur. Sonya refleks lari dan meletakkan kepalanya di perut Amam, memeluk laki-laki itu. Rasanya ia sangat kangen meski baru beberapa waktu lalu mereka bertemu. "Eh eh mau diapain gue?" tanya Amam kacau. Begitu dia tahu bahwa yang memeluknya ada Sonya, dia hanya bernapas lega dan membiarkan saudara kembarnya itu tidur di atas perutnya. Sonya tampak anteng, merasa hangat dan tenang. Sonya mengakui walaupun perut Amam keras seperti tembok, tetapi berbaring di sama sangat nyaman. Namun, di sisi lain Sonya sadar bahwa Amam tidak sesempurna yang ia sangka. Mungkin Amam adalah sosok kakak yang baik, tetapi bukan sosok laki-laki yang baik. Mengingat semua yang terjadi, Sonya merasa kesal kepada Amam. "Lo cowok kurang ajar!" Sonya memelintir cubitan di perut Amam secara tiba-tiba, membuat Amam berseru, "Aw sakit k*****t! Lo kenapa? Tadi jinak sekarang balik ganas." Sonya melepas pelukannya, dia bangkit dan berkata, "Lo tuh ya nggak ingat pulang. Nggak kasihan apa sama adek perempuannya? Kalau gue kenapa-napa di rumah ini gimana?" Amam menatap Sonya kebingungan. "Lo kenapa dah? Biasa aja kali. Kalau kangen bilang kangen, lagian kan di sini ada Mama sama Papa." "Lo kayak baru kenal sama Mama dan Papa aja. Gue cuma dijadiin pembantu. Gue butuh lo tahu nggak?!" Melihat perubahan emosi yang mendadak, Amam langsung berdiri dan menarik leher Sonya agar kepala gadis itu ada di pundaknya. "Gue selalu ada buat lo Sonya. Sonya kenapa? Sonya bisa cerita ke Abang. Nggak ada yang berubah, semuanya masih sama. Ya, Sonya?" Sonya menggeleng. "Tapi momennya udah beda." Mulut gadis itu lalu terkatup. Dia teringat dengan posisi Amam sekarang. Mereka bukan anak kecil yang bisa selalu bermain bersama lagi. Mereka tidak bisa jalan-jalan ke mall berduaan seperti dulu lagi. Mereka bukan dua bayi kecil yang terlahir nyaris bersamaan, bahkan pernah menempati satu rumah sempit yang sama bernama rahim lagi. "Sekarang ... Lo udah punya calon bayi." Dada Amam bergetar mendengar itu. "Sekarang, hidup seorang perempuan sedang bergantung sama lo, Bang. Lo punya tanggung jawab yang lain sekarang. Gue tahu hal ini pasti terjadi. Lo akan menikah, punya keluarga, punya anak. Tapi sumpah gue nggak berekspektasi akan secepat ini. Jujur ... Gue belom siap kehilangan lo." Amam lalu menyadari kebodohannya. Terlalu banyak hal berharga yang harus ia korbankan hanya karena terbuai dengan nafsu. Teman-teman, saudara, keluarga, dan kesempatan-kesempatan. "Maafin Abang ya, Sonya." Amam mengusap pipi Sonya dengan jempolnya. "Jangan sampai lo ketemu laki-laki kayak gue." *** Sila datang beberapa menit setelahnya. Dia tidak melihat motor Amam karena Adrian dengan inisiatifnya memindahkan motor Amam ke samping rumah, terlindung pohon palm. Sila melihat rumah masih berantakan. Dia mulai menggeleng, tampak marah. Dia lalu naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan Sonya di kamarnya tetapi tidak ada. "Ke mana anak itu? Kalau masih sekolah kenapa pintu nggak dikunci? Bener-bener ya." Sila lalu memutuskan untuk kembali turun, tetapi dia melihat kamar Amam terbuka. Sila lalu memanjangkan langkah kakinya untuk mengecek siapa yang ada di kamar Amam. Saat ia berdiri di depan kamar Amam, Sila menyaksikan percakapan dua anaknya itu. "Sekarang ... Lo udah punya calon bayi. Sekarang, hidup seorang perempuan sedang bergantung sama lo, Bang. Lo punya tanggung jawab yang lain sekarang. Gue tahu hal ini pasti terjadi. Lo akan menikah, punya keluarga, punya anak. Tapi sumpah gue nggak berekspektasi akan secepat ini. Jujur ... Gue belom siap kehilangan lo." "Maafin Abang ya, Sonya." Amam mengusap pipi Sonya dengan jempolnya. "Jangan sampai lo ketemu laki-laki kayak gue." Melihat itu jantung Sila seperti berdentum. "Siapa yang punya calon bayi?" Baik Amam maupun Sonya seketika mematung sesaat. Tatapan mereka lalu terarah ke arah pintu, melihat mamanya di sana. "Siapa yang punya calon bayi?!" "M-mama, Sonya bisa jelasin. Tapi—" "Amam yang punya calon bayi," sahut Aman datar. "Amam ngehamilin cewek Amam." Mendengar itu darah Sila berdesir. Dia lalu dengan gegabah bergerak maju dan menampar Amam dengan telak. "Kurang ajar! Bikin malu keluarga ya kamu!" Amam hanya diam, menarik tangan Sonya agar mundur. "Mama capek kerja buat sekolahin kalian berdua. Mama berjuang demi kalian, Amam! Nggak bisa kamu berhenti nyusahin orang tua?" Sila mengusap wajahnya tidak habis pikir. "Kamu baru 16 tahun Amam! Masih kecil. Bukan waktunya kamu punya anak. Kamu pikiran nggak nasib perempuan yang kamu hamili? Gimana nasibnya, keadaan orang tuanya? Kamu punya otak nggak sih?" Amam menatap Sila dengan nyalang. "Udah protesnya? Udah nyalahin Amam? Mama ke mana waktu Amam butuh Mama, Amam tanya! Sama cowok hidung belang kegatelan itu?" Plak! "JANGAN KURANG AJAR KAMU!" "Amam nggak akan kurang ajar kalau Mama becus jadi orang tua, ya! Mama sama Papa nuntut aku sama Sonya untuk sempurna terus tapi kalian gagal jadi orang tua, sadar nggak? Engga ya? Yang satu sibuk sama selingkuhan, yang satu sibuk nidurin pelacu*r dan kalian berharap anak kalian jadi anak soleh, iya?! Nggak usah ngimpi!" Amam berseru keras, membuat Sila menelan semua perkataannya saat ini. "Kalian kenapa, sih? Udah capek jadi orang tua? Ok Amam di sini salah. Amam ngerusak masa depan perempuan yang Amam sayang. Tapi sayang berjanji nggak akan ngebiarin anak Amam ngerasain apa yang Amam rasakan. Kalau Amam dan Sonya lahir sebagai kesalahan, berhenti jadi orang tua kita mulai hari ini." Amam lalu pergi meninggalkan Sila yang membeku di tempat. Sedangkan Sonya, ia memutuskan untuk mengejar Amam yang sudah pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN