Realita

1530 Kata
Banyak hal yang tidak Sila ceritakan kepada anak-anaknya, termasuk perceraiannya dengan Artar. Jika Artar jarang sekali pulang ke rumah, itu semua karena memang mereka bukan suami istri lagi sejak setahun yang lalu. Lalu mengapa Artar masih menyempatkan diri untuk pulang? Karena ibunya yang sakit-sakitan, belum siap menerima kabar anaknya berpisah. Artar sesekali berkunjung untuk memeriksa keberadaan anak mereka juga, termasuk menunggu Amam pulang. Sila bukannya tidak tahu betapa buruk ia menjadi seorang ibu. Tetapi itu tak lepas dari masa-masa sulit yang harus ia lalui. Artar sejak kelahiran Amam dan Sonya menjadi lelaki yang hobi jajan di luar. Pernah juga Sila terinfeksi sifilis gara-gara kelakuan buruk Artar. Namun, Sila berhasil melaluinya seorang diri, menyimpan semua tanpa diketahui orang-orang. Sayangnya tidak ada iktikad baik Artar untuk berubah, bahkan hingga anak-anak mereka beranjak dewasa. Tahun lalu, dengan mudahnya Artar mengatakan talak kepada Sila dan pergi begitu saja. Lagi-lagi Sila memendamnya sendirian. Emosi Sila menjadi semakin terombang-ambing, dia gampang marah dan meledak-ledak. Setiap Artar pulang, Sila mengusirnya karena mereka sudah berpisah. Namun, Artar tidak mau. Perkelahian itu juga berembet ke masalah-masalah yang diperbuat oleh Amam, hingga membuat Amam pergi dari rumah karena dia merasa tidak diinginkan. Mereka berdua jelas menyayangi Amam dan Sonya, tetapi tidak semua hal bisa berjalan mulus-mulus saja. Tiga bulan kemudian ia semakin dekat dengan Arkan hingga akhirnya menikah siri. Sila tidak pernah berselingkuh sekalipun dari Artar. Hari ini, seolah disambar petir, Sila mendengar bahwa Amam menghamili pacarnya. Ini kegagalan terbesarnya sebagai orang tua. Dengan tangan gemetar, Sila menghubungi Artar. "Ada apa, Sil? Jangan ganggu deh!" "Mas. Ada hal penting yang perlu aku bicarain." "Bisa lain kali, kan? Aku tutup ya?" "Harus sekarang, Mas. Ini tentang Amam." Di seberang telepon Artar menautkan alisnya. "Kenapa lagi Amam? Bikin gara-gara di sekolah?" Sila menggeleng meski itu tidak bisa dilihat oleh Artar. "Bukan itu, Mas." "Terus apa? Jangan bertele-tele deh. Aku buru-buru." "Mas. Amam ngehamilin pacarnya." Lantas, Artar terdiam dengan wajah yang bertekuk-tekuk. Dia ingin bertanya apakah ini semua benar, tetapi Sila tidak mungkin berbohong untuk perkara seserius ini. Dia hanya berkata, "Kurang ajar." "Mas, gimana? Bagaimana pun Amam anak kita? Ini bukan hal kecil." "Siapa nama gadis yang dihamilinya?" "Aku juga nggak tahu. Amam nggak pernah cerita nama pacarnya. Dulu sih pas SMP, pacarnya Seira. Nggak tahu yang sekarang masih orang yang sama atau udah beda orang." "Aku akan cari Amam nanti. Makasih udah ngasih tahu." Kemudian panggilan dihentikan sepihak oleh Artar. *** Tanpa peduli dengan kondisi orang tuanya, Amam akan tetap menemui orang tua Seira. Dua juga sudah mendapatkan apa yang ia cari. Sejak tadi Sonya terus meneleponnya tetapi tidak diangkat oleh Amam. Malam, setelah salat isya, Amam sudah berpakaian rapi. Dia mengenakan kemeja biru polos yang dimasukkan ke dalam celana kain. Dia juga memakai tali pinggang dan sepatu pantofel hitam. Tadi sore Amam juga menyempatkan diri untuk memangkas rapi rambutnya. Tujuan Amam melakukan hal ini agar Acel dan Septi tahu bahwa dia serius dengan anaknya. Amam akan menikahi Seira bukan hanya karena Seira hamil melainkan karena dia memang mencintai Seira. Lagipula setahu Amam, menyegerakan pernikahan adalah suatu hal yang baik. Daripada dia dan Seira terus menerus tercebur dalam dosa zina alangkah baiknya mereka mencari ridho Allah melalui pernikahan. Masalah rezeki, Amam yakin sekali Allah tidak akan pernah tidur selagi hambanya berusaha dan berdoa. Di tempat yang berbeda, di kediaman Seira, sebuah masalah kembali terpantik. Kali ini terkait dengan kebakaran kantor milik Acel. Setelah diperiksa ada dokumen milik klien yang menghilang—bukan terbakar. Itu jelas menandakan bahwa pembakaran itu disengaja dan memiliki niat yang tidak baik. Acel dipinta ganti rugi yang besar atas keteledorannya, belum lagi kerugian finansial pasca kebakaran, dan nasib pegawainya yang harus cuti karena kantor belum bisa dipakai. Usaha yang dirintisnya selama setahun ini seperti dijilat api, hancur begitu saja. Untuk membayar semua kerugian Acel terpaksa menggadaikan rumah. Dan, untuk rencana kepindahan mereka demi menutupi kehamilan Seira terpaksa dibatalkan. "Pa, Mama akan kembali kerja di hotel sebagai juru masak. Papa nggak keberatan, kan?" Acel sebenarnya tidak menginginkan hal itu, tetapi melihat kondisi sekarang dia hanya bisa mengangguk. "Boleh, Ma. Tapi jangan penuh waktu, coba paruh waktu dulu ya beberapa bulan, Papa nggak mau Mama sakit." Acel menautkan jemari-jemarinya satu sama lain. Septi merangkul pundak suaminya, lalu menjatuhkan kepala ke bahu suaminya itu. Seira dari tadi sudah deg-degan mengutarakan apa yang Amam sampaikan pagi tadi. Seira takut momennya tidak pas. Tetapi, akan lebih buruk lagi kalau Amam duluan datang tanpa Seira bilang dahulu tujuannya apa. "Ma, Pa, maaf menyela." Septi menegakkan tubuhnya. "Ada apa, Rara?" "Kenapa lagi, Ra? Ada masalah?" "Emmm, itu, Pa, Ma. Amam ...." "Kenapa lagi lelaki itu?!" "Pa, jangan emosi dulu. Amam bilang dia akan ke rumah dan melamar Seira. Dia mau tanggung jawab." "Melamar kamu? Apa dia sudah gila. Kalian baru 16 tahun belum usianya menikah, Seira. Papa tahu dia mau tanggung jawab tapi nggak gini. Kalian belom siap." Seira agak kepayahan untuk menjelaskan. "Gini, Pa. Sekarang keluarga kita lagi ada masalah. Seira nggak mau nambah beban Mama sama Papa. Kalau Seira menikah dengan Amam, hidup Seira akan jadi tanggung jawab Seira dan kalian nggak perlu mikirin Seira lagi. Kalian bisa fokus ke masalah ini." Septi masih menggeleng. "Kamu mau makan apa nanti? Anak kamu butuh s**u, kalau ujung-ujungnya minta ke Mama sama Papa juga ya buat apa nikah?" Tepat saat itu Amam sudah berada di depan pintu. Dia yang menjawab rasa takut Seira dengan kehadirannya. Dengan sedikit gentar, Amam mengucapkan salam dan masuk menghampiri Acel dan Septi. "Malam, Ma?" Dia meraih tangan Septi dengan mudah karena Septi tengah cengo. "Malam, Pa?" Tetapi tidak untuk Acel, dia menarik tangannya ke atas. Pria itu menatap Amam dengan dingin. Keinginannya untuk menghajar Amam kembali memuncak, tetapi melihat ketulusannya, Acel menjadi sedikit respek dengan lelaki 16 tahun itu. "Mau ngapain?" Amam meneguk air liurnya. Bingung. "Duduk dulu, Mam," ucap Septi setelah rasa kagetnya hilang. "Makasih, Ma." Amam duduk di sebelah Seira, terpisah beberapa senti. "Seira sudah bilang niatan kamu ke sini. Tetapi saya mau dengar langsung dari kamu," titah Acel. Amam lalu mengangguk sambil meremas jarinya. "Saya di sini mau minta maaf karena udah membawa Seira ke dalam posisi sulit. Tetapi saya akan bertanggung jawab, Ma, Pa. Amam bersedia menikahi Seira, menghidupi Seira, meski mungkin tidak sebaik Mama sama Papa. Amam juga akan bertanggung jawab dengan bayi yang dikandung Seira. Mohon izinkan Amam dan Seira untuk menikah. Kami akan tinggal jauh dari sini biar Mama sama Papa nggak malu. Amam akan segera mencari pekerjaan halal Ma, Pa." Acel tidak buta. Dia melihat keseriusan di mata Amam. Pria ini sangat menyayangi anaknya dan sangat ingin bertanggung jawab. "Saya tidak pernah ragu dengan rezeki Amam. Saya melihat kamu pekerja keras, itu bukan masalah besar bagi saya. Yang justru saya pikirkan adalah mental kalian. Apa kalian sudah siap menjadi suami istri di usia muda ini? Saya juga memikirkan nasib sekolah kalian bagaimana." "Pa, Amam sudah memikirkan masalah ini. Di sini Amam hanya menyarankan agar pernikahan kami dirahasiakan untuk orang luar. Amam akan melanjutkan sekolah yang tersisa dua tahun ini. Sedangkan Seira dapat memilih cuti atau mungkin berhenti dulu, Amam akan bertanggung jawab agar Seira tidak ketinggalan pelajaran. Dengan begitu Seira bisa lanjut sekolah jika cuti atau bisa juga mengikuti program paket C." Acel memahami maksud Amam. Kehamilan Seira tidak bisa ditutupi. Seira tidak bisa memaksa untuk tetap bersekolah, hal ini juga sesuai dengan pemikirannya beberapa waktu lalu untuk meminta cuti sekolah terhadap Seira. Berbeda dengan Amam, dia masih bisa bersekolah normal untuk masa depannya. Dengan begitu Amam bisa lulus dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. "Orang tua kamu sudah tahu?" tanya Septi. Amam mengangguk. "Sudah Ma. Mama saya syok sekali, dia marah. Tetapi saya harap dia bisa menerima posisi saya." Acel memperhatikan Seira. "Seira, kamu sendiri sudah siap dengan konsekuensinya menjadi seorang istri dan ibu? Nggak mudah lho." Pertanyaan itu akhirnya tiba ke Seira, membuat Amam menoleh ke arahnya juga. "Seira sebenarnya belum terlalu yakin, tapi nantinya Seira hanya akan menuruti suami Seira, Pa. Semoga Amam bisa membimbing Seira." Jika anaknya sudah siap seperti itu, maka Acel tidak ada alasan untuk menolak lagi. Semua sudah terlanjur dan mereka tidak bisa mundur ke masa lalu. *** Adrian tidak pernah pacaran karena dia sangat pemalu. Setidaknya sebelum dia bertemu dengan Sonya. Sikap bablas Sonya tanpa gadis itu sadari membuat Adrian yang kaku merasa nyaman. Awalnya, Adrian iseng main kartu Uno bersama teman-temannya di kelas. Sonya pada saat itu duduk di sebelah Adrian. Berhubung di babak pertama Adrian masih sangat bodoh bermain karena dia memang tidak pernah main itu sebelumnya, akhirnya Sonya yang mengajari Adrian. "Eh Adrian, lo diskip, nggak usah jalan. Jadi kalau dapat kartu ini artinya lo nggak ngeluarin kartu." "Adrian lo ambil empat kartu tuh." "Adrian keluarin kartu yang hitam itu tuh." "Yey Adrian udah bisa!" Sampai akhirnya mereka berdua masuk final dan dengan ajaibnya Adrian yang menang. Namun, Sonya hanya tertawa ngakak melihat kalau dia yang mengajari Adrian justru kalah. Momen itu adalah momen pertama Adrian merasa diperhatikan. Dia merasa nyaman dengan pembawaan Sonya yang apa adanya sampai akhirnya, di hari itu, ia nekat menyatakan perasaannya kepada Sonya. Sesaat kemudian masuk notifikasi di ponsel Adrian, ia lalu membukanya dan membaca pesan itu dari Sonya. Culik gue dong, Om. Gue mumet nih, Om. Dan dalam sesaat itu juga Adrian menyunggingkan senyumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN