Rasanya Sonya berada di surga dengan asap-asap beraroma mantap masuk ke hidungnya. Kipas rotan yang digunakan untuk mengibas daging-daging tusuk yang dibakar terasa candu. Belum lagi yang berjualan bakso, seblak, sosis bakar, telur gulung. Ah, semua gerobak-gerobak itu rasanya ingin Sonya telan saja.
Pusat jajanan malam ini ramai sekali. Gemerlap lampu dari gerobak-gerobak seperti menghidupkan jalan mati di sini. Sonya memutuskan untuk healing sejenak dari masalah keluarganya yang tidak kunjung berhenti. Anehnya satu nama yang muncul di kepala Sonya saat ia ingin menenangkan diri adalah Adrian.
"Ayo beli! Jangan dilihatin aja!" Adrian menyadarkan lamunan Sonya.
"Ih bingung. Pengen semua dong."
Adrian tertawa tipis, senyumnya manis sekali, membuat orang yang melihatnya salah tingkah. "Pilih satu dulu, kalau langsung semua nanti kekenyangan."
"Ih tapi bingung. Makan apa ya yang enak?"
Adrian mengusap-usap dagunya dengan telunjuk, terlihat berpikir. "Gue sih pengen ketoprak."
Sonya menatap Adrian dengan bingung. "Makan ketoprak kok malam, ketoprak tu ya pagi buat sarapan."
"Lah peraturan dari mana? Nggak ada pasalnya deh itu ketoprak harus dimakan kapan."
"Yee lo mah. Ya udah deh ngikut. Ketoprak yang mana nih, yang itu apa yang seberang jalan?"
"Seberang jalan aja deh."
Mereka berdua lalu menyeberang jalan dan pergi bersama-sama ke kedai ketoprak yang cukup ramai. "Nggak ada tempat duduk," bisik Adrian. "Gimana dong?"
Sonya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari tempat duduk. "Di emperan jalan aja, ngeleseh di trotoar."
"Nggak pa-pa? Entar bajumu kotor."
Sonya menggeleng. "Nggak usah ribet deh."
Lagi-lagi Adrian tersenyum melihat apa adanya Sonya. Jarang-jarang ada perempuan yang praktis seperti dia.
Adrian lalu memesan dua piring ketoprak dan teh hangat tawar sesuai permintaan Sonya dan langsung membayarnya.
Sonya lalu membantu membawa minum sedangkan Adrian membawa makanannya.
"Duitnya nanti ya abis makan."
"Eh nggak usah. Gue traktir."
"Jangan dong, gue yang ngajak masa lo yang traktir. Pokoknya nanti ini semua gue ganti," keukeuh Sonya.
Adrian akhirnya hanya mengangguk, mengiyakan.
Mereka lalu menyantap makanan mereka bersama-sama.
Saat makan, diam-diam Sonya memperhatikan gelagat Adrian. Laki-laki itu sangat sopan, lembut, baik, tidak banyak bicara. Awalnya Sonya tidak merasakan apa-apa terhadap Adrian. Tapi saat menyimak laki-laki itu dari dekat jantungnya seperti berdebar-debar. Rasanya ada bedug masjid yang dimasukkan paksa ke dalam dadanya
"Adrian, ada yang mau gue tanyain sedikit. Boleh nggak?"
Adrian yang sedang mengangkat piring langsung menurunkan piringnya dengan secara sempurna dia menatap wajah Sonya dengan serius. "Boleh, boleh. Tanya-tanya aja. Nanya banyak lebih baik. Hehehe."
"Adrian, kalau gue boleh tahu. Kok lo tetap baik sama gue padahal gue tolak perasaan lo?"
Sonya mengatakan hal itu takut-takut, tetapi Adrian justru tersenyum santai. Lelaki itu menatap Adrian dengan enteng.
"Sejak awal aku udah bilang ke Sonya, aku cuma mau ungkapin perasaan. Pacaran atau enggak itu buka prioritas aku, kok. Bisa lihat Sonya seneng aja aku udah cukup."
Senyuman Adrian membuat Sonya merasa sedikit merasa bersalah. Ada banyak hal mengapa dia belum mau pacaran salah satunya larangan Amam. Sekarang Sonya juga sudah tahu alasan Amam melarangnya.
"I'm okay, Sonya. Aku justru senang bertemu dengan perempuan yang berprinsip untuk nggak pacaran. Jarang lo nemu cewek kayak kamu. Lagipula buat apa pacaran kalau akhirnya ga jodoh? Buang waktu, kan? Aku baru sadar akan hal itu sekarang. Begini aja udah benar-benar cukup bagi aku." Tutur bahasa yang digunakan oleh Adrian malam ini sesejuk angin malam yang berbaur dengan lezatnya aroma makanan. Di sekitar mereka ada pasangan kekasih yang berpegangan tangan. Sedangkan di sini, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang justru sedang membicarakan prinsip.
"Orang tua kamu pasti membesarkan kamu dengan sangat baik." Sonya mulai terpengaruh gaya bahasa Adrian malam ini. "Hidup kamu sempurna ya, Adrian?"
Saat itu ekspresi Adrian berubah. Orang-orang berpikir hidupnya sempurna. Punya ayah dokter, rumah bagus, wajah rupawan, perilaku yang baik, tutur kata sopan. Tidak ada kurangnya.
"Kelihatannya gitu, ya?" tanya Adrian dengan ekspresi sedih.
Sonya mengangguk.
"Mau tahu realitanya? Aku bakalan cerita."
***
"Ayahku dokter mata. Ibuku mantan pramugari. Sempurna, kan? Iya aku juga kalau mikir hal ini, rasanya beruntung banget. Tapi kamu pernah dengar, kan, Sonya mengenai paradoks tentang keadilan hidup? Hidup itu adil karena hidup itu nggak adil buat semua orang. Aneh, tapi kenyataannya memang begitu."
Adrian meminum teh esnya sedangkan Sonya saksama mendengarkan tanpa banyak berkedip.
"Saat aku kelas 4 SD, aku punya adek perempuan. Dia lucu banget. Suka ngoceh, kalau malam susah tidur. Aku sampai ikutan begadang buat jagain adek. Aktif banget pokoknya.
"Saat umurnya tujuh bulan, pas aku lagi sekolah dan Ayah lagi kerja, Bunda kayak biasa nyuapin adek di teras. Adek di masukin ke Baby Walker. Pas makan, minumnya abis. Bunda masuk sebentar ke dalam untuk ngambil air minum. Pas Bunda udah balik ke teras, ternyata adek udah jatuh ke halaman paving. Kepalanya berdarah. Teras rumahku kan lumayan tinggi gitu, Sonya. Saat itu Bunda langsung panik. Dia langsung nelepon Ayah supaya langsung pulang dan aku diantar sama guru ke rumah. Adek udah berhenti napas saat di dalam mobil, di perjalanan me rumah sakit. Di rumah sakit adekku dikabarkan meninggal."
Adrian menceritakannya dengan penuh kekuatan. Dia seperti tidak sedih sama sekali.
"Terus, gimana, Adrian?"
"Terus sejak itu Bunda depresi. Dia nyalahin dirinya sendiri. Emosi Bunda benar-benar nggak stabil. Di waktu tertentu dia kelihatan baik-baik aja, tapi di waktu yang lain Bunda bisa tiba-tiba nangis, tiba-tiba ngamuk, tiba-tiba diam, pokoknya labil banget. Ternyata ada trauma yang besar terjadi sama Bunda. Kalau Bunda lagi kambuh, aku suka nangis sendiri karena Bunda nggak bisa sembarangan didekatin. Aku memilih untuk nyerahin itu ke Ayah atau ke perawat aja. Untungnya Ayah setia banget sama Bunda. Itu enaknya, sih."
Hidup nggak adil buat semua orang.
"Makanya aku tuh sering males kalau ada yang bilang hidupku sempurna. Mereka nggak tahu aja rasanya jadi aku. Kalau mereka tahu, pasti gajadi deh bilang itu."
Dan, Sonya menarik semua perkataannya.
"Alasan lo jadi pendiem? Ini juga?"
Adrian mengedikkan bahu. "Nggak tahu. Mungkin iya."
Mereka lalu saling terdiam. Jiwa mereka seperti dibenamkan dalam ruang sunyi yang membungkam semua suara di jalan itu.
Seolah-olah ...
Hanya ada mereka berdua di sana.
Bersekutu dalam sebuah paradigma yang memecah realitas bahwa mereka berdua tidak lebih dari dua orang yang kurang beruntung.
***
Artar mengendarai mobil abu-abunya seusai pulang kerja. Dia bergegas menemui Amam untuk meminta kejelasan.
Karena bagaimana pun Amam adalah anaknya.
Tiba di depan kosan Amam, Artar memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia menapakkan sepatu pantofelnya ke tanah dan mendorong gerbang besi yang reot. Kakinya kembali melesat setelah bunyi gerbang tertutup yang berderit.
"Bapak nyari siapa?"
Tegar, penjaga kosan yang duduk pos jaga berdiri dan menghampiri Artar. Kakinya yang kurus kering tampak goyah saat berdiri.
Artar agak planga-plongo seperti orang bingung.
"Kamar Amam yang mana?" tanya Artar cepat, tanpa basa-basi.
"Bapak, ayahnya Amam?"
"Jawab saja," titah Artar. "Saya perlu ketemu."
Tegar dengan agak risih lantas menjawab, "Dia sedang pergi."
Artar menautkan alisnya. "Pergi ke mana?"
Tentu saja Tegar tidak tahu. Dia penjaga kos bukan penjaga Aman. Dia tidak bisa mengurusi semua hal yang dilakukan penghuni kos. "Tidak tahu, Pak."
"Bodoh." Artar berkata datar. Dia lalu memutar kakinya untuk berbalik badan dan kembali melangkah menuju mobil. Artar tidak tahu Amam di mana. Tetapi yang terlintas di kepalanya, Amam ada di rumah Seira dan dia tidak tahu alamatnya di mana.
***
Demi kebaikan bersama, pernikahan Amam dan Seira akan dilaksanakan dua hari lagi. Pernikahan itu akan dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi, hanya melibatkan seorang penghulu, wali nikah, dan beberapa saksi. Mereka melaksanakan pernikahan di Bogor, di kampung nenek dan kakek Seira. Acel dan Septi takut jika pernikahan dilaksanakan di sini tetangga mereka yang usil akan menjadikan mereka objek ghibah.
Mendengar rencana Amam, Sonya berpendapat, "Sejelek-jeleknya Papa dan Mama, lo harus tetap bilang, Bang. Restu Allah ada di restu orang tua."
Sonya benar. Amam tidak dapat menampik hal tersebut. Tetapi dia memiliki pemikiran lain yang substansinya lebih kokoh. "Tergantung orang tuanya juga, dong. Lo mau diajak Mama sama Papa ke neraka? Gue sih ogah."
"Bang!" seru Sonya tertahan. "Percuma lo punya ilmu agama setinggi langit tapi ga punya hormat sama orang tua."
"Emangnya lo punya rasa hormat itu? Kita sama aja, Sonya. Nggak terdidik, nggak tersentuh. Lagian, kalau gue izin sama Mama dan Papa apa yang bakal gue dapat? Ucapan selamat? Doa biar langgeng? Ga ngarep gua. Mereka baca syahadat aja udah lupa kali."
"Astaghfirullah, Bang."
"Dek. Gue cerita ini ke lo bukan buat konsultasi. Gue cuma pengen lo hadir di pernikahan gue. Jadi satu-satunya keluarga gue yang hadir. Cuma itu. Jadi plis, untuk hal di luar itu biar jadi urusan gue."
Sonya seketika bungkam. Taman kota juga terasa ikut lengang, seolah-olah waktu berhenti.
Jadi satu-satunya keluarga gue yang hadir.
Sonya merasa tersentil dengan ucapan Amam. Selama ini hanya mereka yang saling memiliki, hingga mereka tidak memiliki hal lain yang sama berharganya. Lalu suatu ketika Amam menemukan Seira yang jadi warna tersendiri bagi Amam.
Maka, Sonya tidak bisa memaksa Amam untuk melibatkan mama dan papa lagi.