Pernikahan

1617 Kata
Pernikahan antara Amam dan Seira digelar setelah ujian semester mereka selesai. Hal ini cukup membuat berdebar mengingat mereka harus berhati-hati, jangan sampai kabar tersebut menyebar dan menjadi buah bibir bagi orang-orang yang usil. Hari-hari berlalu normal bagi mereka tak terkecuali dengan Sonya. Hanya saja belakangan ini intesitas bertemunya dengan Adrian jadi semakin sering. Ia menyadari bahwa kedekatan mereka bukan sebatas teman biasa, dia sudah mulai merasa nyaman berada di dekat Adrian tetapi itu tak mulunturkan komitmennya untuk tidak pacaran. Sonya juga memberi tahu Adrian mengenai rencana pernikahan Amam dan pria itu memberikan respons yang penuh keterbukaan. "Abang lo bertanggung jawab kayak gitu, jujur keren banget sih. Dia tahu dia salah tapi dia mau benerin semuanya dan mau ambil risiko." Awalnya Sonya tidak memiliki keinginan untuk memberi tahu Adrian atas apa yang terjadi pada keluarganya. Sonya merasa malu dan minder, apalagi kasus Amam ini cukup luar biasa. Seorang laki-laki yang sangat menjaga pergaulan adiknya justru menyebabkan seorang perempuan hamil di luar nikah. Kontradiksi yang sangat penuh ironi. Tetapi di suatu malam, Sonya membuat perjanjian tak tertulis kepada Adrian. Sonya ingin menceritakan sebagian tentang hidupnya tetapi Adrian tidak boleh membocorkannya kepada siapa pun. Saat ini Sonya mengangguk ragu pasca mendengar jawaban Adrian, lalu ia bertanya, "Apa yang bisa diharapkan dari seorang bapak yang belum tamat SMA, Adrian?" Adrian yang tengah menyedot teh esnya hanya mengangkat bahu. "Nggak tahu. Yang jelas dia berani." Adrian sedikit pun tidak membenarkan tindakan Amam. Namun, dia hanya ingin melihat masalah ini dari sudut pandang yang netral. Dia berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian buruk yang dialami oleh keluarga Sonya. "Berani aja ga cukup ga sih? Tapi ya itu satu-satunya solusi saat ini. Cuma sometimes aku mikir kalau waktu berjalan terlalu cepat." "Sonya." Adrian menatap Sonya dengan lembut. "Biarin Abang lo ngejalanin hidupnya sendiri. Oke? Doain yang baik-baik aja nggak usah parno." Sonya terdiam. Dia bukan parno semata, dia khawatir. Pernikahan adalah langkah besar bagi remaja seusia mereka. Apalagi di sini Amam tak sedikit pun meminta restu orang tua mereka. Yang tua saja bisa gagal apalagi yang muda? "Usia nggak selalu menjadi alat ukur kedewasaan. Orang tua juga ada ya nggak dewasa. Sebaliknya, Sonya. Anak muda ada lho yang punya pemikiran dewasa, terbuka sama sekitar, paham tentang hubungan rumah tangga." "Gini deh, Adrian. Amam itu jadi anak aja gagal, jadi pacar aja udah ngerusak, apalagi kalau jadi suami dan ayah?" Adrian malah tersenyum tipis. "Justru itu, Sonya. Guru paling baik adalah kesalahan. Dan pelajaran paling baik adalah belajar dari kesalahan. Tugas lo adalah ingetin Amam, jangan sampai dia keluar dari track. Jangan sampai ngelakuin kesalahan lain yang fatal. Tapi ingat juga, jangan pernah ambil jalan punya orang cuma karena lo takut orang itu kecelakaan. Itu nggak adil. Biarkan abang lo jadi dewasa secara alami, menebus kesalahannya, dan belajar memperbaiki kehidupan yang dia punya." Sonya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Apa yang dikatakan Adrian memang benar. *** Usai pulang sekolah, Rian menemani Amam untuk membeli seserahan dalam pernikahannya nanti. Mereka juga membeli jas baru, kemeja, dan celana bahan di pasar tanah abang. "Atau kakaknya mau coba yang ini? Ini 200.000 harga pas, Kak. Kualitas impor punya, puringnya tebal, bahan menyerap keringat. Pilihlah, Kak." Amam menggaruk tengkuknya. Dia bingung. Berkali-kali dia menoleh ke kanan, bertanya kepada Rian yang sama bodohnya dengan dia. "Menurutku warna merah agak norak." "Ini warna lain juga ready, Kakak. Biru dongker, hitam." Mbak-mbak itu berbalik badan dan mengambil jas yang tergantung di bagian atas. "Ini Kak, warna lain, silakan pilih. Postur tubuh Kakaknya bagus pakai yang mana aja cocok nih." Rian mendekatkan bibirnya ke telinga Amam. Amam pun mendekatkan telinganya ke mulut Rian untuk mendengar apa yang ingin Rian katakan. Tetapi justru ... "Wush!" "Astaghfirullah." Rian hanya menyengir menanggapi pelototan dari Amam setelah ditiup telinganya. "Bercanda." "Bener-bener ni orang. Ya udah jadi yang mana yang bagus? Gue bingung." "Hitam aja, netral. Cocok buat lho yang jorok." Amam antara merasa sebal dan merasa lucu mendengar apa yang disampaikan oleh sahabat baiknya ini. Dia akhirnya hanya menggeleng dan memilih jas hitam sebagaimana saran dari Rian. Bahkan hingga hari ini Rian tidak menyangka teman baiknya sejak masih kecil sebentar lagi akan menikah, melepas masa lajang, menjadi seorang suami sekaligus ayah. Amam yang dulu berantakan sebentar lagi akan menjadi kepala keluarga. Dia yakin sahabatnya ini akan menjadi pemimpin yang baik. Melihat tekad Amam untuk berubah dan memperbaiki diri, dia tidak khawatir mengenai hal itu. Usai berbelanja Amam dan Rian mampir di warung kopi pinggir jalan dekat sekolahan mereka sambil memakan ketoprak. Satu cangkir kopi hitam panas yang mengepulkan asap merekam percakapan dua sahabat baik ini di sore hari yang mendung Kota Jakarta. "Orang tua Seira bangkrut." Percakapan itu yang terlempar setelah beberapa menit Rian memasukkan makanan ke mulutnya. Rahangnya berhenti bergerak, kaget. "Yang bener? Kata siapa?" "Ya kata Seira." Rian memicingkan mata, menurunkan sendok yang sesaat lagi tiba di mulutnya. "Kok bisa?" Sebelum menjawab pertanyaan Rian, Amam menghela napas. "Lo cek deh di internet, kebakaran gedung. Itu gedung konsultan milik Pak Acel, bokapnya Seira. Asuransinya belum cair sedangkan karyawan dan klien nuntut ganti rugi." Rian dengan sigap membaca berita itu. Kantor konsultan lingkungan yang hangus terbakar dan dituntut oleh karyawan dan klien. Rian tanpa sadar membuka mulutnya dan mengembuskan karbon dioksida dari situ. "Ya Allah cobaan kalian berat banget." "Iya, berat banget. Entahlah, gue bingung. Ini cobaan atau hukuman. Asalkan Allah ridho aja sama gue dan Seira, nggak ada masalah sih. Ini jadi tantangan juga buat gue sebagai suami Seira nanti." Amam memejamkan mata dan menarik napas perlahan, membiarkan rongga dadanya melonggar terisi angin. Kemudian, ia mengembuskan napasnya pelan-pelan. "Makin ke sini gue makin takut. Takut nggak bisa bahagiain Seira dan anak gue nanti. Gue takut jadi suami dan ayah yang nggak becus. Apa yang harus dilakuin laki-laki 16 tahun dalam memimpin keluarga." Saat itu Rian merasa blank, dia tidak tahu harus merespons bagaimana. Dia pun tidak akan siap berada di posisi Amam. Enam belas tahun bukan usia layak menikah. Secara hukum ini bukan nikah muda lagi, ini nikah dini, atau bahkan nikah anak. Secara mental dan fisik mereka sama sekali belum siap, hanya bermodalkan nekat. "Gue cuma bisa pesan satu. Apa pun yang terjadi jangan ada orang ketiga dalam hubungan kalian. Masalah lain mungkin masih bisa diatasi, tapi perselingkuhan itu fatal, Mam. Kalau sewaktu-waktu lo ngerasa bosan atau marah sama Seira, ingat perjuangan kalian hari ini. Nggak mudah ngelewatin semua ini, kan, Mam?" Amam mengangguk. Meski jawaban Rian tidak sepenuhnya menjawab kegelisahan yang ia miliki, tetapi Amam maklum. Rian suruh cukup banyak direpotkan. Rian sudah terlalu baik mau menemaninya. Jika harus diperbandingkan antara dirinya dengan Rian, Rian jelas lebih siap menjadi seorang suami. Rian cakap dalam memimpin, agamanya bagus, ilmunya cukup, kepribadiannya baik. Namun, jangan menikah, pacaran saja Rian tidak mau. Dekat dengan perempuan pun Rian engga. Lelaki itu bilang, ia belum siap menikah, dia belum pantas. Lalu, bagaimana dengan Amam? Amam kemudian hanya menjawab, "Terimakasih pesannya." *** Acel harus menjual rumah mereka dikarenakan harus mengganti rugi atas kerusakan dan kehilangan berkas klien. Ujian ini seolah bertubi-tubi menyerang keluarga mereka dan itu membuat Seira merasa bersalah. Dia merasa menjadi perempuan amoral karena hamil di luar nikah. Dan sekarang kondisi keluarganya bertambah buruk. Acel memutuskan untuk membeli rumah baru di pinggiran Jakarta yang lebih murah tetapi tetap nyaman dihuni. Hanya saja untuk ke pusat kota mereka harus naik kendaraan umum lebih jauh dibanding biasanya. Hari ini acara pernikahan Seira digelar di Bogor, di rumah neneknya Seira. Pernikahan itu dibuat sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga besar. Om dan Tante Seira pada dasarnya baik-baik dan tidak usil. Mereka tidak bertanya banyak mengapa Seira menikah di usia semuda ini karena jelas saja mereka bisa menebak apa yang tengah terjadi. Di beda tempat, Amam bersama Sonya dan Rian menaiki mobil milik keluarga Rian. Rian yang menyetir. Sepanjang perjalanan diam-diam Rian menahan air matanya untuk tidak jatuh. Begitu juga Sonya yang terus menerus menunduk dan dirangkul hangat oleh Amam di jok belakang. Rian benar-benar merasa seperti supir tetapi ia tidak keberatan sama sekali. "Kenapa Adrian nggak diajak? Padahal nggak pa-pa lho." Sonya menggeleng. "Nggak mau kelihatan cengeng," kilah Sonya. Mereka melintasi tol Jagorawi dan menempuh perjalanan sekitar satu jam tiga puluh menit untuk benar-benar sampai di kediaman neneknya Seira. Lantunan salawat terdengar saat Amam turun dengan setelan jasnya hanya dengan didampingi oleh sahabatnya Rian dan adiknya Sonya. Kakinya melangkah dengan sedikit bergetar saat melihat keluarga besar Seira sudah berkumpul. Amam sangat tampan, itu tak terbantahkan. Wajahnya kian hari kian teduh. Ia memancarkan senyumnya di hari penuh suka cita ini. Di ruang tengah, sudah ada tilam rendah untuk tempat duduk pengantin dengan pelaminan dari kain. Di depan tempat duduk sudah ada Acel bersama penghulu nikah dan tiga orang saksi. Tangan Amam dingin dan Rian dapat merasakan itu. "Bismillah, Amam. Dengan izin Allah semuanya akan berjalan lancar." Amam mengangguk dan duduk di atas tilam. Seira masih berada di kamar menunggu janji pernikahannya sah. Sonya duduk di dekat pintu dengan gaun putih panjang. Dia terlihat sangat cantik meski matanya bengkak karena menangis semalaman. "Masuk aja, Dek, temenin abangnya." Salah seorang ibu-ibu mempersilakan Sonya untuk duduk di sebelah Amam. Namun, Sonya menggeleng. "Nggak pa-pa, Bu. Di sini aja cukup." Berselang beberapa menit acara pernikahan pun dilanjutkan. Penghulu meraih tangan Amam untuk berjabat. "Tangannya dingin sekali." Pak penghulu menggodanya. "Saya takut sekali Pak," bisik Amam. "Kalau salah malu." Amam tersenyum demi menutupi kekhawatirannya. Dia tidak memungkiri sama sekali bahwa sekarang satu termos es seperti merendam tubuhnya. Dia ingin mematikan kipas angin yang berputar di sisi kanan dan kirinya, membuka atap, agar bisa merasakan sedikit panas. Penghulu pun mulai membacakan ikrar pernikahan, ijab qabul. Tepat saat Amam akan menjawab ijab, bunyi klakson mobil di depan rumah terdengar nyaring. Seorang pria berjas turun bersama seorang perempuan berusia 38 tahun. "Hentikan!" Artar dan Sila datang ke pernikahan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN