Sonya langsung bangkit dari duduknya, menahan papa dan mamanya agar tidak merusak acara. Ini hari yang penting bagi abangnya, bagi Amam. Dia tidak ingin hari ini menjadi rusak karena kehadiran orang tuanya. "Pa, Ma, tolong jangan masuk."
Tetapi Artar tidak peduli, ia menyingkirkan tangan Sonya. Tatapannya penuh misteri, datar, menusuk, mengintimidasi, tetapi juga ada kehangatan. Artar terlihat gagah dengan setelan jas dan sepatu pantofel yang ia lepas di bawah teras rumah, menyisakan kaos kaki hitam polos. "Kenapa nggak boleh masuk?"
Mendengar kekacauan di luar, d**a Seira bergemuruh. Dia mengintip dari kamarnya untuk melihat apa yang terjadi.
Wajah Amam berubah pias, memerah, slemosinya naik. Di pikirannya Artar hanya akan merusak acaranya hari ini. Amam baru saja akan berdiri untuk melerai Artar sampai akhirnya Artar berkata, "Saya tidak ada maksud menghancurkan acara ini. Kenapa kalian gelagapan? Saya hanya ingin menghadiri pernikahan anak laki-laki saya, apakah itu salah?"
Dahi Amam berkerut. "Maksud Papa?"
"Papa dan Mama ke sini untuk menyaksikan pernikahan kalian. Kami tidak ada niat merusak. Kalian nggak perlu panik."
"Mama menyuruh Papa kalian mengawasi ke mana pun kalian pergi termasuk mengikuti perkembangan rencana pernikahan kalian." Sila menambahkan.
Kejutan tidak berhenti sampai di situ saja. Ternyata Artar dan Sila membawa rombongan kecil dengan hantaran-hantaran pernikahan.
Amam tidak menyangka akan seperti ini. Ia tidak dapat berkata-kata.
Septi membantu tamu yang datang untuk masuk ke dalam rumah dan meletakkan hantaran di samping deretan pelaminan.
Artar dan Sila menghampiri anaknya yang kini tertunduk sambil mengelap air mata. Keadaan berbalik. Amam yang semula dihujani emosi seketika tersentuh dan luluh.
"Amam, maafin Papa."
Tangis Amam semakin pecah. Hidungnya memerah, dia tersedan begitu saja. Begitu Artar mengembangkan lengannya untuk memeluk anak lelaki itu, Amam hanya diam dan menangis di pundak papanya. Anak lelakinya itu seolah baru kemarin bermain bola bersamanya di halaman rumah kemarin, marah karena tidak dibelikan mainan, berontak saat disuruh les, gonta-ganti pacar sejak SD. Sekarang anaknya sudah akan menjadi ayah sekaligus suami.
"Sejahat apa pun Papa, nggak mungkin Papa nggak hadir di pernikahan anak Papa sendiri. Seberengsek apa pun Papa di mata kamu, Papa tetap sayang sama kamu. Sangat sayang. Kehidupan orang dewasa nggak semudah yang kamu pikirkan Amam. Suatu hari nanti kamu bakalan tahu kenapa Mama dan Papa bisa begini meskipun kami sebenarnya nggak mau kayak gini."
"Maafin Amam, Pa. Amam nggak ngasih tahu Papa tentang hal ini. Maaf karena Amam jadi anak kurang ajar."
Artar menggeleng. "Nggak, kamu nggak salah. Sudah jangan menangis ya, hari ini hari bahagia kamu. Jangan terlalu banyak air mata."
Sila lebih banyak diam. Sepertinya dia cukup merasa bersalah terhadap anaknya terlebih hari itu ia marah besar. Ada gebrakan besar yang terjadi sehingga mereka berubah drastis.
Dua hari lalu, salah satu teman Artar mengalami kejadian buruk. Anak perempuannya bunuh diri karena hamil dan tidak mendapat persetujuan darinya untuk menikah. Teman Artar tersebut sangat depresi dan merasa kehilangan. Artar sadar bahwa mengekang anak di bawah idealisme orang tua bukankah cara yang tepat. Hanya akan ada hati yang terluka jika terus dipaksakan. Demi kebaikan anak-anak mereka Artar berdiskusi dengan Sila dan mereka memutuskan untuk membiarkan Amam melalui hidupnya sendiri dengan penuh tanggung jawab.
Pernikahan berhasil digelar dengan lancar. Ijab diikrarkan dengan lancar, satu kali dan satu napas. Begitu kata sah diucapkan oleh saksi, Seira pun keluar dengan gaun dan kerudung panjang. Amam terpesona melihat kecantikan wanita itu. Pandangannya terasa teduh, sejuk, dia seperti menemukan rumah persinggahan setelah lelah berkelana menempuh medan-medan terjal.
Mereka duduk berdua di pelaminan, di atas tilam rendah itu. Dengan rasa cinta yang bersemi di hati mereka, Seira mencium tangan Amam untuk pertama kalinya.
Hari itu Allah sudah merestui mereka dan ridho dengan apa yang sudah mereka lalui. Berkat taubat dan ketulusan hati mereka, malaikat pun turut memintakan kebaikan terhadap mereka kepada Rabb-nya.
Amam dan Seira sudah resmi menjadi suami dan istri.
***
Sonya pulang bersama papa dan mamanya dan dia hanya diam sepanjang perjalanan. Sonya masih merasa sedikit canggung apalagi melihat kedua orang tuanya 'akur', itu terasa menggelikan.
"Sonya mau mampir makan dulu nggak?" Artar bertanya.
Dari balik kaca mobil, langit sudah gelap, pukul delapan malam. Sebelum pulang mereka sudah makan bersama keluarga besar Seira tetapi tidak banyak. Mereka lebih banyak bercerita tentang anak-anak mereka.
Sebenarnya menyenangkan melihat orang Seira dan orang tuanya akur. Terasa aneh dan kontradiksi dengan apa yang tempo hari ditunjukkan mamanya. Namun, biarlah, mungkin ini jalan yang baik untuk keluarga mereka, terutama untuk Amam.
"Papa sama Mama kalau mau makan, ya makan aja. Aku ngikut."
"Ya udah, mekdi Raden Saleh aja ya?"
Sonya mengangguk.
Mobil Papanya lalu terparkir rapi di tempat yang disediakan. Sonya turun dengan pakaiannya yang lebih santai dan dandanan yang sudah bersih.
Sebenarnya Sonya agak curiga dengan gelagat mamanya. Wanita itu lebih banyak diam seolah menyimpan sesuatu. Namun, Sonya tidak mau berpikir aneh-aneh, yang terpenting dia bisa makan bersama orang tuanya sesekali. Sudah lama ia tidak merasakan momen seperti ini.
Saat akan memesan melalui layar sentuh 'self ordering kiosk', Sonya tak sengaja melihat Adrian sedang memasan. Lelaki itu tampak sendirian dengan hanya memakai baju kaos putih, dan celana hitam selutut, juga sandal jepit. "Adrian!" tegur Sonya.
Sontak Adrian mengangkat kepala dan menoleh ke sumber suara. Ia langsung tersenyum karena tidak menyangka bisa bertemu dengan Sonya di tempat ini. "Sonya? Makan di sini?"
Sonya mengangguk.
Awalnya Adrian ingin take away saja tetapi melihat Sonya makan di sini ia akhirnya memutuskan untuk makan di sini juga.
"Duduk bareng boleh?" tanya Adrian.
"Boleh, boleh. Tapi gue sama Mama dan Papa, nggak pa-pa?"
Seketika nyali Adrian ciut. Namun, karena sudah terlanjur memutuskan untuk makan di tempat, ya sudah lah masa bodoh.
Usai sama-sama memesan, Sonya menghampiri Adrian dan mengajak lelaki itu bertemu dengan mama dan papanya yang sudah dapat tempat duduk.
"Ma, Pa. Ini Adrian, temen sekolah aku. Nggak sengaja ketemu tadi."
"Oh halo Adrian."
"Halo Om." Adrian mencium tangan Artar, lalu Sila juga. "Halo Tante."
"Duduk sini ayo, Adrian!" ajak Sila.
"Emm, kayaknya aku sama Adrian duduk di kursi lain aja deh, Ma. Nggak pa-pa, kan?" tanya Sonya agak ragu.
"Nggak pa-pa. Enjoy your time!" Artar yang menjawab.
"Kalau gitu permisi ya, Om, Tante."
Mereka lalu duduk di kursi yang terpisah tak begitu jauh dari tempat Artar dan Sila, saling berhadapan.
"Lo ngapain sendirian di sini, Adrian? Lo biasa makan lonely gini?"
Adrian menggaruk tengkuknya. Dia kan, tidak berencana makan di sini.
"Ya ... lagi me time aja, sih," jawab Adrian ngasal. "Soalnya suntuk."
Sonya manggut-manggut. "Jadi ceritanya gue ganggu waktu me time lo, dong?"
"Eh enggak, enggak." Adrian gelagapan. "Sebenarnya bukan mau me time, tapi karena emang bingung mau ajak siapa ya udah sendirian. Eh ternyata ketemu lo di sini."
"Jodoh, ya."
Sontak mata Adrian melebar. "A-apa Lo bilang? Jodoh?"
"He'em," sahut Sonya santai. "Gak direncanakan ketemu tapi ketemu, itu gue namain jodoh. Ya mungkin itu istilah gue doang sih. Nggak usah dipikirin." Sonya mengibaskan tangannya, kemudian menyedot float mangga di depannya.
Adrian lalu hanya mengangguk kikuk. Dia sedikit berharap terlalu lebih. Lengang beberapa saat, Adrian kemudian melontarkan sebuah pertanyaan. "Tumben kalian 'akur'?" Adrian agak menekankan kata 'akur'. "Ada acara apa?"
Sonya mengendikkan bahu. "Amam nikah."
Mata Adrian kembali melebar, gerakan tangannya kembali terhenti. "Eh hari ini banget nikahnya? Kok gue nggak diundang."
"Jangankan lo, nyokap sama bokap aja nggak diundang. Mereka datang sendiri."
"Oooh gitu. Gue juga nggak bisa datang sih kalau diundang juga, nyokap sempat demam dari kemarin tapi siang tadi udah mendingan. Eh gimana acaranya? Lancar?"
"Alhamdulillah. Nggak ada masalah apa-apa. Lo sendiri kenapa keluyuran sih udah tahu nyokap lo sakit?"
"Gue kan udah bilang kalau gue suntuk. Lagian deket kok sama rumah. Eh iya, Sonya. Jadi sekarang abang lo sama Seira tinggal di mana?"
Sonya menyocol ayamnya ke saus dan memasukkannya ke mulut. "Gue laper, entaran aja ya, ceritanya."
Sebagai tanggapan, Adrian hanya menganggukkan kepala. Dia lanjut menyantap makanannya sembari mengamati setiap gestur perempuan di hadapannya. Tanpa sadar, Adrian terus tersenyum setiap melihat wajah Sonya.
***
Malam ini Seira dan Aman masih menginap di rumah neneknya. Kamar mereka sudah disiapkan dengan rapi. Ranjang berkurang king dengan kelambu. Di lantai berjejer barang hantaran pernikahan.
Seira saat sudah mandi dan rambutnya tergerai begitu indah. Sedangkan Amam masih di kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sembari berkaca, Seira mengusap-usap perutnya. "Setelah ini akan banyak sekali cobaan yang akan menimpa kita, Nak. Semoga Allah beri kita kemudahan."
"Aamiin, Bunda." Amam yang baru keluar dari kamar mandi menirukan suara cempreng khas anak kecil. Dia hanya mengenakan handuk dan membuat Seira berdebar saat menolehnya.
"Mas Amam ih," manja Seira.
Telinga Amam seketika berdiri. "Bilang apa tadi?" Ia sengaja menggoda istrinya. "Ulang dong ulang?!"
"Mas Amam, ih!"
"Ih gemes banget dipanggil Mas Amam. Iya istriku sayang, gimana kabarnya hari ini?" Amam memeluk pinggang istrinya dan turut membelai perut yang kini berisi buah hati mereka.
Seira tersipu malu. Meski pernikahan mereka didahului oleh sebuah dosa besar, tetapi mereka yakin Allah senantiasa memberikan ampunan kepada hambanya.
"Bunda, besok Ayah cari kerja ya. Doain Ayah biar diberi kemudahan, biar bisa nafkahin Bunda dan anak kita, ya?"
Seira mengangguk. Tanpa disuruh pun ia pasti akan melakukannya. "Insyaa Allah akan ada kemudahan di balik kesusahan."
Amam mengangguk, lalu mencium rambut istrinya. "Sayang banget sama kamu."