Ojol

1554 Kata
Saat ini libur semester, masih banyak waktu bagi Amam untuk berkerja mengumpulkan uang, salah satunya dengan menjadi ojol (ojek online). Dua hari lalu Amam sudah mendapat panggilan dan memenuhi semua persyaratan di pos cabang. Mulai pagi ini untuk pertama kalinya ia melakukan pekerjaan perdananya. "Amam, ini makan dulu mie gorengnya!" Saat ini Amam dan Seira sudah tinggal di rumah kontrakan. Amam menyewanya seminggu yang lalu, keesokan setelah ia menikah. Rumah itu tidak besar. Berbentuk persegi dengan ukuran 7 × 7 m². Satu kamar, satu WC sekaligus kamar mandi, satu dapur, dan satu ruang tamu. Walau begitu, Seira tidak protes. Sudah menjadi kewajibannya mengikuti suami. "Bekal aja deh, Seira. Aku buru-buru. Ada yang order. Nggak pa-pa, kan?" Amam mengenakan jaket hijaunya dengan terburu-buru dan meraih kunci motor. "Nggak pa-pa." Dengan gerakan cepat Seira memindahkan mie goreng ke dalam kota bekal dan menyiapkan botol minuman Amam. Ia memasukkannya ke dalam tas selempang yang biasa Amam gunakan. "Ini tasnya." "Tengkyu, Sayang. Aku berangkat dulu, ya? Jangan capek-capek di rumah. Biarin aja berantakan juga." Seira mencium tangan Amam lalu terkekeh. "Iya aku nggak bakal capek-capek. Hati-hati di jalan." Amam membuat tanda OK dengan jarinya dan bergegas naik ke motor untuk berangkat. "Assalamualaikum. Love you!" "Waalaikumussalam, love you too." Begitu bayangan Amam bersama motornya menghilang, Seira pun kembali ke dalam rumah, membereskan sisa ia masak tadi. Usai semuanya beres, Seira duduk di teras, termenung. Otaknya berpikir kira-kira apa yang bisa ia lakukan selain mengurus rumah tangga. Amam masih SMA, menggantungkan perekonomian kepada lelaki itu rasanya terlalu membebani. Dia mau tidak mau harus bekerja. Setidaknya, untuk makan sehari-hari. Ia lalu iseng scroll aplikasi i********:, siapa tahu ada ide usaha, hingga akhirnya ia melihat salah satu gerai toko kue open member reseller. Sweatery Cake. Ia juga membaca syarat dan testimoni dari reseller lain yang sudah berpengalaman. Sebenarnya sangat menarik. Gerai toko dan tanah akan disiapkan, tetapi lokasinya tidak bisa di Jakarta. Dia harus pindah ke luar kota satu di antaranya Bogor. Itu artinya ia harus mengajak Amam untuk pindah juga. Untuk masalah ini ia agak pesimis. Kalau ia dan Amam pindah artinya sekolah Amam juga harus pindah. Itu juga artinya Amam dan adiknya Sonya akan semakin jauh. Sejak awal Seira tidak ingin memisahkan Amam dan Sonya, mereka adik dan kakak yang saling memiliki. Akhirnya Seira menutup ponsel dan mencoba melupakan niatnya untuk bekerja sementara waktu. *** Tampan dan wangi. Itu yang dirasakan penumpangnya saat ini saat dibonceng oleh Amam. Diam-diam gadis itu mereka Amam dan mempostingnya di aplikasi t****k tanpa persetujuan Amam. Amam hanya fokus melayani penumpangnya, membelikan titipan makanan, bahkan barang. Ia bekerja mulai pukul delapan pagi dan ia beristirahat setelah salat Ashar di warkop terdekat. Di sana ia bertemu dengan ojol-ojol lain yang lebih senior. "Dari kapan Dek narik ojol?" Salah seorang bapak bertanya kepada Amam. "Baru tadi pagi, Pak. Masih baru banget. Hehehe." Pak ojol itu mengangguk. "Masih sekolah, ya? Kelihatannya masih muda, seumuran anak saya." Amam bingung harus menjawab apa. Tetapi justru yang muncul di kepalanya adalah jawaban, "Saya sudah menikah, Pak." Entah nyambung atau tidak tetapi ia rasa itu jawabannya yang paling tepat. "Eh yang benar? Kelihatannya masih muda sekali." "Iya, Pak. Pengantin baru." Amam tersenyum malu-malu, berusaha santai meskipun dia agak deg-degan ditanya seperti itu. Amam kemudian membuka ponselnya, keningnya segera berkerut saat melihat grup kelas. Amam viral di t****k!!! Sontak ia menelan ludahnya, ia tidak bersemangat minum kopi lagi. Sejak kapan Amam jadi ojol? Sejak libur semester kali. Namanya cowok harus mandiri ya, nggak, Mam? Amam udah ngeread tuh. Woi Amam jawab elah, jangan diem doang. Si Amam dikagumi cewek-cewek se-tiktok Bukan cuma cewek anjir, cowok juga naksir. Apa sih? Gue nggak suka diviralin begini. Alah gaya lo. Justru bagus ojol lo makin laris. Siapa tahu nemu jodoh juga ya, Nggak. Itu Elin yang mengetik. Nggak usah bahas itu ya. Gue nggak suka. Ia berusaha tidak peduli tetapi nyatanya ia penasaran dengan konten t****k yang viral itu. Dia akhirnya membuka link yang dikirim salah satu dari teman-temannya. Dalam waktu dua jam, video itu disukai 12 ribu orang dan komentar sebanyak 8 ribu. Ia tentu senang dipuji tetapi sekarang justru ia merasa tidak nyaman. Semakin banyak yang tahu tentang dia, semakin tidak bisa bebas hidupnya bersama Seira. Bagaimana saat orang-orang itu tahu Amam sudah menikah, beritanya jadi gampang tersebar? Itu bukan kabar baik. Amam merasa pusing memikirkannya. *** Pukul delapan malam, Amam pulang. Ia sudah menghubungi Seira dan dia akan membelikan makanan. Sebenarnya Amam mau pulang lebih cepat tetapi mendadak ada banyak pesanan makanan di jam-jam segitu. Pendapatan hari ini lumayan. Amam tersenyum melihat hasil kerja kerasnya. Seratus tujuh puluh ribu. Saat akan membeli makan tiba-tiba Sonya nge-chat. Bang, gue mau ke rumah lo. Gue sama Adrian tapi, kita beli makanan. Nggak pa-pa, kan? Makan apa yang lo beli? Gue juga mau beli makan. Entar sama makanannya. Siomay doang, kok. Lo beli nasi aja. Buat lo sama Kak Seira aja, gue sama Adrian udah makan nasi. Ya udah. Mau jus nggak? Eh, eh. Banyak nih duit Abang gue? Terserah lo aja deh, Bang. Asal nggak ngerepotin. Jangan lupa uangnya ditabung buat anak lo, jangan langsung dihabisin. Iya, iya. Ketimbang jus doang nggak bikin gue miskin. Ya udah lo sama Adrian duluan aja ke rumah. Seira sendirian tuh. Gue nyusul bentar lagi. Ok. Di tempat lain .... "Yuk ke tempat Abang gue!" Ceritanya Sonya dan Adrian habis jalan-jalan sore karena merasa bosan liburan. Mereka cuma keliling-keliling dan mampir beli makanan. "Tapi gue malu, Sonya. Abang lo entar marah tahu lo jalan sama gue." Sonya menepuk pelan punggung Adrian. "Heh, dia ngelarang gue pacaran sama lo tapi nggak ngelarang temenan. Lagian gue udah bilang. Ayo buruan kasian Kak Seira sendirian. Deket kok dari sini. Ayo, ayo, ayo!" "Ya udah." Adrian kemudian melajukan sepeda motor merahnya menuju kediaman Seira dan Amam. *** Rasanya bosan juga seharian di rumah. Seira benar-benar suntuk. Yang dia lakukan adalah beres-beres rumah, nonton YouTube, tidur. Sudah itu saja. Saat tengah menonton serial detektif di Netflix, bunyi motor terdengar. Awalnya ia mengira itu Amam tetapi suaranya agak berbeda. Saat ia membuka pintu, ternyata Sonya dan Adrian yang datang. "Eh, Sonya??? Kenapa nggak bilang-bilang mau datang? Kakak nggak masak." Saat itu Seira belum sadar sama sosok yang membonceng Sonya. Sonya nyengir, mengangkat kantong merah berisi siomay. "Aku bawa makan." Ia lalu turun dari motor, disusul Adrian. "Ini Adrian, Kak. Temenku." "Oh halo, Adrian." "Halo, Kak," jawab Adrian. Ia membuka helmnya dan menyangkutkannya ke spion. "Adrian, bantu buka helm gue." Dengan sigap Adrian membantu Sonya yang ribet dengan kantong plastiknya untuk membuka helm. "Tengkyu." "Ya udah yuk, masuk, Sonya, Adrian." Mereka lalu masuk ke dalam rumah kontrakan itu, baru saja tiba di pintu, Amam pun datang dan membunyikan klakson. "Tungguin gue!!!!" *** Mereka berempat duduk di ruang tengah. Sonya dan Adrian sibuk menyiapkan piring dan semua peralatan yang bisa digunakan untuk makan bersama. "Kak Seira tu seumuran kita kan?" Adrian berbisik, bertanya pada Sonya yang sedang menyusun piring. "Lebih tua lo malah sama dia. Kan gue sama Amam kembar. Tuaan dia beberapa menit doang. Emang kenapa?" "Nggak pa-pa, gue canggung aja manggil kakak padahal seumuran. Mana seangkatan." Lepas itu Sonya hanya manggut-manggut dan tidak memberi jawaban apa-apa. Adrian dan Sonya kembali ke ruang tengah lantas menyusun makanan mereka. Sangat banyak. Seira bahkan kenyang duluan sebelum makan. "Kenapa jadi banyak begini makanannya?" Seira takjub. "Sesekali Kak. Eh iya Kak Seira, ini ada yang bingung katanya mau manggil Kak Seira pakai apa. Mau panggil kakak tapi tuaan dia, mau manggil Seira takut nggak sopan." Celetukan Sonya membuat Adrian melotot dan mencolek lutut Sonya. "Nggak gitu mainnya?" cibir Adrian. Seira hanya terkekeh. "Manggilnya pakai nama aja kali, Adrian. Biar akrab. Aneh juga aku dipanggil kakak sama yang lebih tua." "Lo bebas manggil istri gue pakai apa pun asal bukan panggilan sayang. Karena yang berhak untuk itu cuma gue. Cangkam baik-baik," respons Amam menimpali. Adrian hanya diam dan mengangguk. "Lo sama adek gue ada acara apa bisa barengan gitu?" Deg. Nah, ini yang Adrian takutkan. Sekarang dia jadi kikuk dan bingung sendiri. "Emm, gue sama Sonya cuma jalan-jalan doang, kok, Bang. Kita nggak aneh-aneh." "Nggak nanya masalah ada aneh-aneh atau enggak, sih. Emang lo ada rencana buat aneh-aneh?" "Eh enggak. Seriusan nggak ada, sumpah." Adrian benar-benar panik. Namun, justru itu membuat Amam makin iseng. "Lo itu yang sempat ditolak sama Sonya, kan? Lo masih ada niatan ke sana?" Adrian menggaruk tengkuknya. Dia mulai berkeringat karena malu. Melihat Adrian seperti itu, Seira mencubit lengan suaminya. Dia berbisik, "Jangan gitu, kasihan." "Tau, nih, Si Amam. Gue sama Adrian temenan. Gue udah jelasin panjang lebar kalau gue nggak mau pacaran, dia paham kok. Tapi ternyata setelah gue coba temenan sama dia, kita berdua satu frekuensi. Makanya sering bareng." Amam mengangguk. "Gue nggak keberatan kalau cuma temenan. Tapi temenan juga ada batasnya. Seribu kali pun lo jelasin kalau lo dan Adrian nggak pacaran, tapi perbuatan kalian sama kayak orang pacaran, ya sama aja. Ingat, jangan pegangan tangan, jangan tatap-tatapan kalau nggak penting, jangan berduaan. Lo tahu, kan, arah omongan gue? Gue mau kalian bisa jaga diri baik-baik, jangan sampai berbuat aneh-aneh dan nyesel sendiri." Sebenarnya saat ini Amam tengah menasihati dirinya sendiri. Cukup dia yang gagal jadi anak berbakti, adiknya jangan. Sonya hanya diam dan menurut untuk sesaat. Sejurus kemudian dia berkata, "Jangan bahas itu deh, bahas yang lain aja. Kita harus seneng-seneng. Gimana kalau abis makan kita main Uno??? Gue bawa kartunya!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN