Perkelahian

1525 Kata
Tubuh Seira direngkuh lekat oleh lengan Amam yang entah mengapa terasa hangat. Embusan napas lelaki itu menerpa tengkuknya, membuat rasa nyaman yang teramat nyaman. Di luar hujan, kaca jendela tampak berbintik kabur karena tempias. Halaman rumah sedikit becek. Ini adalah momen yang sentimental. Meski mata sudah terbuka, Seira tetap enggan bangun apalagi melepas pelukan Amam. Kali ini, tangan Amam mulai sedikit nakal dengan meraba tubuh Seira. "Mas, geli." Seira sedikit menggeliat sebagai bentuk respons dari tindakan yang dilakukan oleh Amam. Amam mengangkat alisnya. "Geli apa? Sama suami sendiri." Bukannya berhenti, Ia justru mengeratkan pelukannya lagi. Tubuh Amam yang tidak dibalut kain terasa menempel di punggung Seira. Wanita itu memejamkan matanya untuk meredam jantungnya yang berdebar lebih kencing daripada lari dua putaran halaman rumah. Meski sudah menjadi suami istri, Seira tetap belum terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Dulu saat pacaran, rasanya hal semacam ini biasa saja. Tetapi, ketika sudah menikah, ia merasa malu-malu. "Tadi malam ada yang kurang." Suara berat Amam membuat bulu kuduk Seira berdiri. "Jangan aneh-aneh dulu. Aku masih capek," keluh Seira. Dia merinding saat Amam bilang demikian. "Nggak ada yang aneh-aneh, hih." Amam mencium rambut istrinya dengan gemas lalu mengusap dan memilinnya. "Kenapa kamu sempurna banget, sih, Seira? Rasanya aku nggak mau kerja kalau udah dekat sama kamu." Amam lalu mengusap perut istrinya. "Tapi setiap sadar kalau aku bakal jadi bapak, aku nggak jadi malas. Hehehe." Seira tersenyum, ia ikut memegang perutnya. "Makasih ya udah mau temenin aku. Makasih nggak ngebiarin aku sendiri." Ungkapan sentimental itu terbesit di otak Seira lagi. Amam refleks mengangkat kepalanya, mengintip ke arah Seira yang suaranya agak bergetar. Ternyata Seira meneteskan air mata. Wanita itu buru-buru membenamkan wajahnya ke bantal. "Hei kenapa nangis? Sini tatap aku, cerita ke aku, nangis di depan aku, atau di punggung aku kalau kamu malu. Kamu nggak sendirian, Seira. Ada aku. Aku nggak bakal marah kalau kamu nangis, nggak usah ditutupin." Seira menggeleng. "Seira, apa yang kamu lewatin emang nggak gampang. Maaf kalau udah bikin kamu sehancur ini. Tapi aku janji bakal dengerin semua masalah kamu, perasaan kamu, keresahan kamu." "Bukan itu," jawab Seira lirih. "Aku cuma terharu karena sampai detik ini aku masih nggak nyangka udah jadi istri kamu." Amam mengembuskan napasnya, dan membelai rambut istrinya. "Aku lebih nggak nyangka lagi wanita sebaik kamu jadi istri aku. Udah, ya, nggak usah dipikirin. Kita hadapi semuanya bareng-bareng. Ya, sayang?" Seira hanya mengangguk. Dia membiarkan Amam memeluknya erat-erat. *** Seminggu kemudian, sekolah kembali aktif seperti biasa. Jalanan mulai dipenuhi oleh remaja berseragam, begitu juga dengan angkutan umum. Matahari bersinar terang, tidak terlalu panas. Kepul asal kendaraan juga belum mendominasi jalanan. Beberapa bahkan ada yang berlari di trotoar sambil menenteng botol minuman. Amam mengantar Sonya ke sekolahnya sebelum ia yang pergi ke sekolah. Pukul 6.10 menit. Amam meneriaki Sonya di telepon sejak pukul 5.00 karena ia tahu adiknya itu terkadang suka lelet. "Lo masih mau narik?" Sonya bertanya, menyerahkan helm hijau ke Amam yang menggunakan jaket khas ojek online. Amam mengangguk. "Iya, pagi begini lumayan banyak yang order, Sonya." "Bang, nanti lo telat. Jakarta macet gitu." Sonya menolak pinggangnya. "Gue udah sering telat, lagian hari pertama masuk belum belajar-belajar amat. Nanti gue titip tas dulu ke sekolah gue biar kalau ada yang nanya, bilangnya gue udah datang tapi lagi keluar sebentar. Pintar kan, gue? Makanya tadi tuh gue nyuruh lo cepet-cepet." Sonya memutar bola matanya malas. "Terserah lo. Yang penting jangan ngecewain kita apalagi Kak Seira. Gue bantai lo." "Iya, iya. Udah gue mau berangkat. Assalamualaikum!" "Waalaikumussalam." Sonya menatap abangnya bersama motor bebek itu. Sonya lalu merapikan jilbabnya yang sedikit miring kemudian melangkahkan kaki memasuki gerbang. Matanya melebar saat melihat ada kerumunan di koridor samping sekolah, beberapa puluh meter dari posisinya berdiri. Gadis itu cukup kaget saat menyadari bahwa orang itu Adrian. Adrian berkelahi dengan seorang laki-laki. "Lo boleh hina gue tapi lo hina nyokap gue, gak bakal gue ampuni!" Bug! "Adrian stop!" Sonya berteriak dari pinggir koridor. "Nyokap lo kan emang gila, nggak terima banget sih!" Dito, lelaki itu, masih sempat melontarkan kalimat tak mengenakkan meski posisinya sudah terjepit. Adrian baru saja akan melayangkan tinju sebelum akhirnya Sonya memeluk tubuh Adrian dari belakang dan menariknya mundur. Mereka sama-sama terjatuh ke lantai dengan posisi tubuh Adrian menimpa Sonya. Muka Adrian yang semula memerah seperti kepiting rebus langsung redup saat menyadari bahwa sosok yang menariknya adalah Sonya. Ia buru-buru bangun dan berbalik badan, menatap wajah gadis itu, dan menepuk rok Sonya yang kotor. "Kamu nggak pa-pa?" Sonya menggeleng. "Nggak pa-pa." "Kita ke UKS, ya?" "Iya, tapi kamu yang harus diobatin, luka kamu parah." Adrian menggeleng. "Gak pa-pa." "Kalau nggak mau nggak usah ke UKS." Di sisi lain beberapa siswa menawarkan minum ke Dito, Adrian, dan Sonya. Pukul enam pagi, sekolah tidak terlalu ramai. Guru juga baru beberapa yang datang dan ruangannya di belakang. Pos satpam juga kosong, kebiasaan buruk karena penjaganya juga sudah dapat SP 2 karena suka meninggal tugas. Tak lama, Bu Erna, guru BK, datang dari arah pos satpam, membawa pentungan. "Adrian, Dito! Kalian nanti ke ruangan saya. Sekarang kalian ke UKS dulu, bersihin lukanya. Anak-anak PMR tolong dibantu temannya." *** Adrian dan Dito mendapat skorsing selama satu hari dan orang tua mereka saat itu dipanggil. Ayahnya Adrian tidak marah sama sekali, justru ia menganggap tindakan anaknya wajar. Satu hal yang membuat hati Sonya mencelus dan menghangat adalah ketika ayahnya Adrian berkata, "Saya juga akan melakukan hal yang sama jika ada yang berkata seperti itu tentang istri saya. Wanita itu adalah harga diri saya, ketika ada yang merendahkan istri saya maka dia sudah merendahkan harga diri saya. Sebagai suami, demi Allah, saya nggak terima." Hari itu Adrian pulang lebih awal, dan mendadak mood Sonya memburuk. Semangat sekolahnya luntur hari itu. Entah mengapa dia merasa kehilangan. Membayangkan besok tidak bisa bertemu Adrian saja dia merasa ada yang aneh. Sonya sebenarnya mulai menyadari bahwa dia mulai menaruh perasaan ke Adrian, dia tidak menolak. Tetapi bukan berarti dia akan melanggar larangan untuk berpacaran. Hal yang tak diduga adalah, saat pulang sekolah dan Amam tidak bisa menjemput Sonya, Adrian justru datang bersama ayahnya. Lelaki itu masih mengenakan seragam SMA. Saat kaca mobil turun, Sonya memicingkan matanya. "Adrian tadi ngajak ke rumah neneknya. Terus pas mau pulang nyuruh jemput kamu." Itu ayahnya Adrian yang bicara. "Kenapa jemput saya, Om?" Alfred, ayahnya Adrian, hanya mengangkat bahu. "Gak tahu deh tu." Alfred menunjuk anaknya yang duduk di kursi belakang dengan bibirnya. Adrian membuka kaca jendela jok tengah. "Ayo naik, ke rumah gue, makan sama Mama." "Ada acara?" "Iya ada, acaranya makan bareng. Ayo buruan panas nih." Karena bingung, Sonya hanya menuruti apa yang Adrian perintahkan untuknya. Dia masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Adrian dan kini mereka duduk bersebelahan. *** Tadi di sekolah, berita tentang kepindahan Seira menjadi topik yang hangat. Apalagi bagi Elin yang menggembar-gemborkan berita itu. Amam memilih diam, tentu saja atas usul Rian. "Tugas lo adalah jangan ikut memperkeruh keadaan. Diam aja, nanti mereka capek sendiri dan ujung-ujungnya lupa sama Seira." Amam mengangguk. Dia paham maksud Rian. Ia tidak boleh gegabah dan tidak boleh terlihat mencolok. Usai pembelajaran di sekolah selesai, Amam melihat Nayla duduk di pos satpam sendirian. Ia lalu menghampiri gadis itu. "Pak Wawan ke mana, Nay? Nggak barengan?" Nayla menggeleng. "Abi ada rapat di ruang guru. Aku mau mesen ojol tapi barusan dibatalin sama ojolnya karena bannya bocor." Amam terdiam sejenak, bingung. Apakah salah jika ia ingin menolong Nayla? Kan tidak ada bedanya dengan dia narik pelanggan yang lain. "Ya udah sama aku aja mau nggak? Sekalian aku mau nge-ojol." Nayla tampak berpikir sebentar. Rasa-rasanya bukan masalah. "Eh boleh deh. Tapi bentar ini nanti kamu asese pesananku?" "Nggak usah mesen. Gratis. Kemarin Abi sama Umimu udah bantuin aku. Ya udah naik buruan, panas nih." Nayla sempat bingung lagi harus naik atau tidak. Namun, melihat Amam tampak buru-buru akhirnya Nayla memutuskan untuk pulang bersama Amam. Di perjalanan, di dekat tempat tinggal Amam, tiba-tiba Sonya meminta berhenti. "Mam, aku mau mampir ke Indomaret dulu." Amam hanya menurut dan memberhentikan motornya di parkiran, sembari menunggu Nayla. Ia tidak sadar bahwa di dalam Indomaret ada orang yang mengawasinya. Setelah selesai berbelanja, Nayla pun keluar dan memberikan Amam minuman isotonik dingin. "Biar nggak haus." "Wah, tahu aja. Gratis nih?" "Iya." Nayla mengangguk. Amam tersenyum sumringah menerima minuman itu dan langsung meminumnya hingga habis setengah. "Wes seger banget. Tengkyu, Nayla. Ya udah ayo naik." Nayla pun naik ke atas motor setelah Amam memberinya helm dan mereka pun meninggalkan Indomaret itu ... beserta sesosok yang hatinya agak patah. *** Amam pulang ke rumah sejam setelahnya, sekitar pukul tiga untuk makan siang dan beristirahat. "Bunda???" Amam memanggil istrinya, menaruh tas di atas tempat tidur. Ia melongokan wajahnya di ambang pintu untuk mencari keberadaan Seira. "Ke mana sih?" Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Amam lalu mengecek ponselnya, ternyata ada pesan dari Seira. 'Amam pulangnya ke rumah Papa sama Mama aja, makan di sini, ya. Sekalian ada yang mau diomongin ke kamu juga.' Entah mengapa rasanya aneh, terlalu tiba-tiba. Namun, Amam tidak sempat berburuk sangka. Ia hanya mengetikkan pesan balasan. 'Ok. Maaf aku baru baca pesannya, aku otw ya. Tungguin.' Lalu Seira membalas, 'Iya ditungguin. Hati-hati, jangan ngebut. Kamu kalau ngebut udah kayak mau terbang aja.' 'Hehehehe. Ok Bunda. See you....?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN