Tubuh Seira direngkuh lekat oleh lengan Amam yang entah mengapa terasa hangat. Embusan napas lelaki itu menerpa tengkuknya, membuat rasa nyaman yang teramat nyaman. Di luar hujan, kaca jendela tampak berbintik kabur karena tempias. Halaman rumah sedikit becek. Ini adalah momen yang sentimental. Meski mata sudah terbuka, Seira tetap enggan bangun apalagi melepas pelukan Amam. Kali ini, tangan Amam mulai sedikit nakal dengan meraba tubuh Seira. "Mas, geli." Seira sedikit menggeliat sebagai bentuk respons dari tindakan yang dilakukan oleh Amam. Amam mengangkat alisnya. "Geli apa? Sama suami sendiri." Bukannya berhenti, Ia justru mengeratkan pelukannya lagi. Tubuh Amam yang tidak dibalut kain terasa menempel di punggung Seira. Wanita itu memejamkan matanya untuk meredam jantungnya yang ber

