Pindah Rumah

1510 Kata
Jarak rumah orang tua Seira dan rumahnya tidak terlalu jauh. Butuh sekitar 15 menit itu bisa sampai. Tanpa sempat mandi Amam langsung mengambil lagi tasnya di atas tempat tidur dan memasangnya. Ia kemudian bergegas meninggalkan rumahnya dan berangkat ke rumah orang tua Seira. Setelah tiba, Amam turun dari motornya dan melepas sepatu di depan pintu. Ia dengan jelas melihat Acel, Septi, dan Seira duduk di ruang tamu. "Assalamualaikum, Mama, Papa, Sei." "Waalaikumussalam," jawab mereka serentak. Acel yang sedang bersandar menegakkan posisi duduknya melihat menantunya datang ke rumah. "Masuk, Mam," ujar Acel. Meski sempat bersitegang dengan Amam, bahkan pernah memukulinya saat tahu Amam menghamili buah hatinya dengan Septi, tetapi saat ini ia tidak menolak bahwa Amam adalah anaknya juga. Kelak, Amam juga akan menjadi ayah dari cucunya. Kini Acel sudah berdamai dan menerima Amam dengan tulus. Amam lalu masuk ke dalam rumah, melangkahkan kakinya menapak karpet bulu. Begitu tiba di dekat meja, Amam mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan tiga orang itu. Ia mencium tangan Septi dan Acel, lalu terakhir tangannya lah yang dicium oleh Seira. Amam mengambil posisi duduk tepat di samping istrinya. "Ada apa, Ma, Pa? Kata Seira ada yang mau dibicarakan?" Septi terdiam sebentar. "Mama sebenarnya nggak enak membicarakan hal ini ke kalian. Tetapi bagaimana pun kalian adalah anak kami. Segala macam tindakan yang akan kami ambil akan berdampak ke kalian dan oleh karena itu Mama sama Papa ingin minta saran." Amam belum paham arah pembicaraan dari Septi. "Ini, Mam. Mama sama Papa ada rencana buat ngejual rumah ini dan pindah ke Bogor, dekat rumah neneknya Seira. Soalnya kita harus ganti rugi masalah kebakaran kemarin. Kami ingin minta pendapat kalian agar apa langkah yang akan diambil tidak terkesan gegabah. Eh sebentar, Mama ambilin air minum dulu." "Gak pa-pa mah, nggak usah, aku udah minum." Amam menahan tangan Septi dengan lembut. Septi menggeleng. "Hus nggak boleh gitu. Nanti Papa yang bakal cerita lebih lanjut." Septi lalu meninggalkan mereka bertiga menuju dapur, sekalian menyalakan lampu ruang tengah. "Papa sebenarnya sayang sama rumah ini, Mam. Ini jadi saksi tumbuh kembang Seira, dari Seira baru lahir sampai sebesar ini. Tentu aja ini bukan keputusan yang gampang." Acel mengambil alih percakapan. Amam paham itu. Meninggalkan rumah dari kecil tidak semudah itu. Ia terkadang juga merindukan rumahnya, rindu keluarganya yang dulu harmonis, rindu bercanda bersama Sonya di ruang keluarga sambil menonton kartun. Sebagus apa pun rumah milik orang lain, rumah sendiri tetap yang paling bagus. "Papa udah survei harga rumah di Bogor?" "Udah. Kita survei yang di perumahan, kurang dari setengah harga rumah ini. Nggak besar sih, tetapi lumayan. Apalagi bayarnya bisa cicilan, sekalian Papa mau merintis usaha juga." "Kalau kamu sendiri gimana, Seira?" Amam menepuk paha istrinya. Posisinya di sini hanya menantu. Meski ia sudah dianggap sebagai anak, tetap saja darah daging Acel dan Septi adalah Seira. Segala pendapat yang kemudian diutarakan oleh Amam sudah selayaknya menyesuaikan dengan pendapat Seira juga. "Aku sempat nyaranin Papa supaya rumah ini dikontrakin aja. Kan, haknya tetap punya kita. Tapi kata Papa perputaran uangnya lama. Kita nggak lagi buka usaha kontrakan rumah, kita mau bayar utang. Aku nggak ada ide lagi, Amam. Tapi jujur aku agak keberatan kalau rumah ini di jual." Amam memutar otak dan ia menemukan sebuah ide yang agak ... aneh. "Jangan dijual ke orang lain dulu, Pa. Aku mau tanya Mama sama Papaku dulu, barangkali mereka mau bantu beli rumah ini, jadi setidaknya Seira masih bisa berkunjung atau sekadar lihat-lihat, bahkan kalau perlu bisa dibeli lagi." "Wah kedengarannya menarik, Amam." Septi datang dan membawa sirup rasa jeruk yang dingin. Dinding teko kacanya berembun, menandakan air itu dingin. "Ini diminum dulu, kalian pasti haus. Masalah rumah nanti kita bicarain lagi, ya?" *** Mobil diparkirkan di halaman rumah Adrian. Rumahnya besar, bercat putih, klasik. Sonya sedikit menekuk wajahnya, membayangkan reka adegan saat adik Adrian jatuh dari Baby Walker. Tangga teras rumah Adrian memang cukup tinggi, jangankan bayi, orang dewasa pun bisa cedera kalau jatuh dari sana. "Iya, adek jatuh dari situ." Tanpa dipinta Adrian sudah menjelaskan. "Makanya sekarang jadi full rumput, dulu nggak gini." Sonya mengangguk. Otaknya cepat paham, bagaimana tidak periode penerimaan rapor kemarin dia rangking satu. "Ayo masuk!" ajak Alfred. Sonya tersentak."Eh iya, Om." Ia lalu masuk ke dalam rumah Adrian. Adrian memperhatikan setiap inci pergerakan Sonya. Dia tersenyum sendiri. Bagi Adrian, Sonya lebih dari spesial. Sonya itu anggun dan independen dan ia menyukainya. Di dapur, Sonya bertemu dengan seorang wanita berkerudung. Cantik sekali. Kulitnya putih, wajahnya teduh, badannya proporsional. Wanita itu sedang memasak sesuatu di atas kompor. "Ma, Adrian pulang." Adrian meletakkan tasnya di meja makan dan segera menghampiri mamanya. Astrid menoleh ke arah Adrian yang memeluknya dari belakang. "Adrian ih, udah gede." Saat itu Astrid tidak sengaja melihat Sonya berdiri di ambang depan dapur. Dapur yang terbuka, langsung menghadap meja makan itu, mengizinkan Astrid melihat Sonya dengan jelas. Ia lalu melepaskan pelukan Adrian. "Ini pacarnya Adrian, ya? Cantik sekali!" Sonya melangkah mendekati Astrid untuk bersalaman, meski jantungnya agak berdetak tak normal saat dibilang begitu. "Bukan pacar, Ma. Temen." Astrid memicingkan mata. "Sejak kapan kamu punya temen cewek?" "Mama?!" Sonya hanya tersenyum sementara Astrid menautkan alisnya. "Maklum, Adrian anaknya cuek sama hal begituan. Eh tapi seriusan, kamu pacarnya Adrian?" Sonya pun menggeleng. "Bukan, Tante. Kita cuma temen." "Kok kayaknya akrab?" "Lumayan, Tante," sahut Sonya, tersenyum. Astrid lalu hanya mengangguk dan senyum ke arah anaknya, terkesan menggoda. Adrian buru-buru mengalihkan topik pembicaraan. "Sonya duduk aja, aku mau ganti baju. Mama, jangan tanya yang aneh-aneh." "Iya, iya. Ya udah Sonya, duduk aja. Bentar lagi masakan Tante jadi." Astrid lagi-lagi tersenyum. Sebenarnya Sonya sangat ingin membantu, tetapi ia merasa canggung, belum terbiasa. Sementara itu Alfred yang tadi berganti pakaian sudah lebih dulu siap dan menemani Sonya di meja makan. Pria itu menuang air putih ke dalam gelas, satu untuknya dan satu untuk Sonya. "Adrian udah cerita tentang mamanya, ya?" tanya Alfred sambil mendorong gelas air putih. Sonya mengangguk. "Udah, Om. Tapi kayaknya sekarang lagi baik-baik aja, ya?" "Iya, 80% mamanya Adrian bisa hidup normal, cuma kalau sewaktu-waktu kambuh ya kita ga bisa berbuat apa-apa, Sonya. Kita di sini harus memperlakukannya dengan senormal mungkin, jaga perasaannya, jaga mood-nya, tapi jangan sampai berlebihan. Om juga minta Sonya jaga omongan yang mengarah ke hubungan saudara, adik, atau anak kecil, ya. Takut istri Om keinget terus kepikiran, Om khawatir. Fokus ke cerita tentang kamu sama Adrian, teman-teman di sekolah, atau apa aja deh. Terus untuk kejadian tadi pagi waktu Adrian berantem, juga jangan cerita, ya. Adrian udah baik-baik aja kok, tadi kita udah ke dokter." Dari cara Alfred berkata-kata, Sonya bisa menilai bahwa pria di sampingnya ini sangat tulus. Dia tampak cemas dengan kondisi istrinya. Tak heran ia juga memiliki anak sebaik Adrian. "Lagi bahas apa, sih?" Adrian turun dengan pakaian santainya. Adrian tidak pernah memakai celana pendek, satu hal yang membuat Sonya cukup menghormatinya. "Bukan apa-apa," sahut Alfred. "Ayo duduk!" "Ok, Pa." Baru saja Adrian duduk, Astrid sudah memanggilnya untuk bantu membawa makanan. Sonya buru-buru mencegat. "Aku aja." Dia sudah dari tadi ingin membantu, kebetulan sekarang ia menemukan momen yang pas. Sonya lantas berdiri dan menghampiri Astrid. "Bawa apa aja, Tante?" Astrid menoleh. "Lah, kok kamu, Sonya? Sonya duduk aja." "Nggak pa-pa, Tante. Aku bantu ya?" "Ya ampun, manis banget anak ini. Bawain piring sama mangkok itu, ya, Sonya? Bisa?" "Ok Tante. Siap. Bisa kok." Beberapa menit kemudian makanan sudah siap di atas meja. Ada sup iga sapi di hadapan mereka, juga tempe goreng, sambal korek, bakso balado. Astrid memasak itu semua sendirian dari pagi. Itu benar-benar pencapaian yang membanggakan bagi seorang perempuan. Adrian makan dengan lahap, begitu juga Alfred. Sedangkan Sonya termangu di kursi, menatap betapa anggunnya perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Wanita itu dulunya pramugari, terbang lintas negara, menanggung risiko besar, mengenakan rok belah, memiliki tubuh yang indah. Di tengah karirnya yang cemerlang, wanita itu memutuskan hijrah, melepas semua pakaian 'karirnya' yang diidamkan banyak perempuan. Ia lalu dipinang oleh seorang dokter tampan, menikah, dan hidup bahagia. Kebahagiaan itu semakin sempurna saat Adrian lahir. Dunia Astrid sangat indah, mulus, lalu dalam hitungan menit seperti disungsangkan begitu saja. Ia menyaksikan anak bungsunya meregang nyawa di depan rumah. Mentalnya seperti terkoyak, dia sangat syok, hidupnya yang sempurna berubah. "Sonya kenapa merhatiin Tante?" Sonya terkesiap, dia menegakkan posisi badannya. "Nggak pa-pa, kok, Tante. Aku cuma tersihir sama kecantikan Tante." "Ih anak ini, kamu lebih cantik, tahu. Makanya Adrian naksir." Adrian langsung batuk dan bakso di mulutnya terpental ke piring. "Eh ini, minum!!!" Adrian menerima gelas dari Sonya dan meminum air itu. "Kamu kenapa, sih, Adrian? Kayak orang kaget gitu?" "Mama ngomongnya sembarangan, sih." Kali ini Sonya yang jawab, "Mama kamu nggak ngomong aneh-aneh deh, lagian aku kan udah tahu kalau kamu naksir aku. Orang kemarin kamu nembak aku, kan?" Nah, kali ini Sonya kelepasan. Wajah Adrian memerah seperti kepiting rebus. "Adrian pernah nembak kamu, Sonya?" Alfred bertanya. Melihat wajah memerah Adrian, Sonya jadi merasa bersalah. Dia seharusnya tidak mengatakan hal itu. Namun, Adrian tidak marah. Lebih tepatnya tidak bisa marah. Dia hanya berkata, "Sonya terlalu mahal untuk dijadikan pacar, Pa. Dia pantas dimuliakan sebagaimana Papa memuliakan Mama." Seketika itu pipi Sonya menghangat, wajahnya yang kini memerah. Adrian membalikkan poin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN