Libur

1545 Kata
Ada kesedihan yang tidak bisa Seira sampaikan kepada orang lain saat ia sendirian di rumah. Dia iseng membuka galeri ponsel, melihat foto ia dan teman-temannya mengenakan seragam sekolah. Terkadang ia tersenyum melihat fotonya bersama Amam di parkiran sekolahnya. Namun, sekarang itu semua hanya kenangan. Kenyataan tidak selalu baik kepada semua orang, dan Seira adalah satu di antara mereka yang sedikit kurang beruntung. Di umurnya yang masih muda, Seira harus menanggung beban menjadi seorang istri dan calon ibu. Itu tidak mudah. Betapa banyak di luaran sana ibu yang menganiaya anaknya, membuang, bahkan membunuhnya. Belum lagi ketidakstabilan mental seorang remaja membuat KDRT rentan terjadi. Seira beruntung didampingi Amam yang berpikiran dewasa meski usianya baru 16 tahun. Lelaki tersebut selalu meyakinkan Seira, mengatakan bahwa Seira tidak akan pernah merasa sendiri. Tapi... Seira adalah perempuan. Dan, dia sangat sensitif. Kemarin Seira memergoki Amam bersama Nayla di minimarket. Betapa banyak pemikiran buruk yang bergulat di kepalanya. Dia cemburu? Iya, sangat. Perasaan ibu hamil sangat sensitif. Beruntunglah Seira berhasil menampung semua itu sendirian. Fokus ke kesehatan anak dulu. Hari ini hari Minggu, sekolah libur. Amam mulai turun dari rumah pukul enam pagi, bersiap-siap narik pelanggan. Sebulan menjadi suami, Amam sebenarnya mulai merasa lelah. Dia harus membagi waktu antara sekolah dan bekerja, badannya terasa capek. Sesekali Amam ingin mencoba liburan, tetapi bagaimana ia memenuhi kebutuhan keluarganya kalau ia tidak bekerja. Di sisi lain Seira juga merasa kesepian dan khawatir. Dia tidak bisa mengontrol gerak-gerik Amam, bahaya apa yang sedang mengintai suaminya, atau hal lain. Dia hanya bisa menyiapkan makanan yang enak untuk menyambut Amam pulang. Pagi ini Seira mencoba untuk membuat dua loyang brownies. Brownies yang dibuat Seira adalah fudge brownies dengan topik keju dan cokelat almomd. Dia iseng memposting kue buatannya melalui grup f*******: dengan nama samaran Reisa Cake. Menyedihkannya, tidak ada satu pun yang berniat membeli. Jangankan membeli, justru Seira mendapat komentar jelek. Brownies emang kue bantet sih, tapi itu kalau kayak gitu mah udah kayak batu bata wkwkwkw. Keras banget. Mana gosong. Seira langsung minder. Mentalnya terasa diremukkan. Dia harus mengumpulkan banyak niat ketika memposting foto itu dan sekarang mendapat komentar jelek. Seketika itu dia ingin menghapus postingannya daripada jadi bulan-bulanan. Baru saja ingin menghapus, tiba-tiba ada komentar lain yang masuk. Saya japri ya. Mau beli. Dada Seira bergemuruh. Masalahnya yang komentar adalah owner Sweatery Cake. Dia kikuk dan bingung menjawab apa selain, silakan. Sweatery Cake adalah toko kue yang sudah memiliki cabang di mana-mana berupa kerja sama wiralaba atau franchise. Setidaknya hingga tahun ini, toko kue tersebut memiliki 15 cabang. Empat di antara ada di Kota Jakarta. Lalu dari mana Seira tahu kalau yang mengomentari kuenya adalah owner Sweatery Cake? Owner Sweatery Cake adalah Nadila, dia sering membuat konten di akun i********: yang sudah memiliki 70 ribu followers, bahkan di t****k lebih banyak lagi, ada sekitar 111 ribu followers-nya. Seira lalu meneguhkan niat untuk membalas komentar tersebut. Baik Mbak, Nadila. Saya kirimkan lewat ojek online ya. *** Amam sudah dapat empat pelanggan setelah tiga jam turun dari rumah. Awal yang bagus. Kali ini ia berhenti di depan cafe, biasanya ada saja pelanggan di sana. Sembari menunggu, Amam memfoto dirinya. Bukan niat narsis, sih, dia hanya ingin mengirim fotonya ke Seira. 'Ganteng gak?' Belum apa-apa Amam sudah membayangkan bahwa istrinya itu tersenyum melihat kenarsisan dirinya. 'Ih ganteng banget. Di mana?' Nah, kan. Respons dari Seira membuat pipi Amam menghangat. Sangat to the point. Ya mau bagaimana lagi, Amam sendiri sadar dirinya ganteng masa istrinya tidak sadar. 'Cafe Rinjani. Kapan-kapan nyante di sini, ya?' 'Ngikut aja, bro, gue mah.' 'Bra, bro, bra, bro. Panggil mas, dong.' 'Dih ngatur.' Dia tahu Seira bercanda, makanya dia tersenyum seperti orang tidak waras yang mengenakan jaket ojol di pinggir jalan. 'Eh Mas. Ada yang beli browniesku.' Mata Amam langsung melebar. 'Eh iya? Berapa lusin?' 'Lusin apanya, orang aku bikin dua loyang.' 'Ya udah, berapa loyang?' 'Dua. Kamu tahu siapa yang beli?' Saat Amam hendak membalas, notifikasi di aplikasi ojek online muncul. Ada pelanggan. Amam langsung mengonfirmasi pesanan itu dan buru-buru mendatangi titik jemputan yang hanya terpaut 10 meter dari posisinya tanpa sempat membalas pesan dari Seira. Amam agak kaget saat melihat bahwa pelanggannya adalah seorang perempuan dengan pakaian seksi. Perempuan itu mengenakan baju kaos tanpa lengan, belahannya terlihat jelas. Ia mengenakan celana jins sempit. Amam meneguk ludah. Dia mendadak takut. Bagaimana pun Amam adalah laki-laki, bohong kalau ia tidak suka. Tetapi dalam hal ini dia berusaha menundukkan pandangan, menjauhi fitnah dari perempuan di luaran sana. "Mbak Indah?" tanya Amam ragu-ragu. "Iya, saya." "Helmnya, Mbak?" "Boleh dibantu pasang, Mas? Saya bawa barang." Perempuan itu membawa dua totebag di tangannya. Tidak terlihat berat, totebag itu mungkin saja digantung di sepeda motor. Tapi emang dasarnya saja perempuan itu mah modus. "B-boleh." Amam pun membantu perempuan itu memasang helm. Dadanya bergemuruh, dia menelan ludah berkali-kali. Mendadak, perempuan itu menggerakkan pundaknya hingga da*danya mengenai tangan Amam. Darah Amam seketika mendesir. Astaghfirullah, lindungi hamba ya Allah. "Udah, Mbak." "Makasih ya." Amam lantas buru-buru mengendarai motornya setelah perempuan bernama Indah itu duduk di jok belakang. Sial. Perempuan itu benar-benar mendempet ke punggung Amam. Amam sampai melengkungkan tubuhnya untuk menghindar. "Mbak, maaf, bisa geser ke belakang sedikit?" Perempuan tidak menjawab sama sekali. Selama perjalanan hati Amam tidak tenang. Terlebih saat perempuan itu meraba perutnya. "Mbak bisa dilepas? Mbak?" "Eh maaf!" jawabnya refleks. Setelah sampai di tempat tujuan, Indah tersenyum genit ke arah Amam. "Masuk yuk, minum-minum dulu." Refleks Amam menggeleng. "Maaf, Mbak, saya buru-buru." "Ooohhh." Indah memandang Amam dengan centil. Matanya menjelajah hingga ke celana Amam. "Yakin nggak mau? Gratis lho?" Amam terkesiap. "Apanya yang gratis?" "Ya ampun nggak usah sok polos, deh. Kamu udah gede, masa nggak ngerti." Amam mengerti tetapi dia berusaha berpikir positif bahwa wanita itu tidak punya niat buruk. "Mbak, jangan aneh-aneh. Saya di sini kerja." "Halah, berapa sih gaji jadi driver ojek online? Saya bisa bayar kamu mahal lho. Suami saya lagi di luar kota." "Maaf Mbak saya bukan laki-laki seperti itu." "Oh ya?" Indah meletakkan dua totebagnya ke tanah. Di luar dugaan dia meremas da*danya di hadapan Amam. Saat itu Amam sadar bahwa perempuan itu tidak waras. Tanpa babibu, ia menarik gas motornya dan membiarkan wanita itu sendirian. *** Bintang satu. Perempuan itu memberi Amam bintang satu. Itu fatal bagi seorang driver ojek online. Bisa-bisa kemitraannya dicabut dan dia tidak bisa narik lagi. Begitu sampai di depan masjid, Amam mencuci mukanya. Dia ingin melupakan kejadian tadi lebih dahulu. Dia ingin menenangkan hatinya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ia nyaris tergoda oleh perempuan itu. Darahnya mendesir hebat. Andaikan tidak ada Tuhan di hatinya mungkin ia akan melampaui batas. Semua itu juga tak lepas dari doa istrinya. Ia ingin Allah menjaga suaminya dan Allah mengabulkan doa itu. Namun, bagaimana pun Amam tetap merasa berdosa. Ia nyaris tertarik kepada godaan perempuan itu. Maka, Amam tak melepas istighfar dari bibirnya. Ia menunaikan salat Zuhur berjamaah lalu pulang ke rumahnya. Di rumah, Seira sudah menyiapkan makanan untuk suaminya. Akan tetapi, dia kecewa karena pesan terakhir yang ia kirim ke Amam hanya dibaca saja, tidak dibalas. Untuk mengubah mood-nya. Bicara tentang kejadian tadi pagi, saat kue Seira dibeli oleh owner Sweatery Cake, Seira benar-benar gugup. Ia mengirimkan kuenya melalui jasa ojek online. Setelah diriview, ternyata owner itu suka dengan kuenya Seira. Kue itu tidak keras, justru lembut. Kesalahan Seira adalah dia tidak paham sudut pengambilan gambar yang baik, sehingga agak berdampak pada hasil tangkapan kamera. Owner Sweatery Cake akhirnya menawarkan kontrak kerja sama dengan Seira untuk bekerja di gerai utama di Jakarta. Ini adalah kesempatan emas. Daripada buka cabang di Bogor mending jadi karyawan saja di tokonya. Lumayan Tak lama, Amam pun datang sambil menenteng dua gelas boba. Dia tahu Seira bakal marah karena chat terakhirnya terabaikan. "Assalamualaikum, Sayang." "Kumsalam." Amam melihat Seira cemberut di meja makan. Ia lalu melangkahkan kakinya sambil menyembunyikan minuman di belakang tubuh. "Kok gitu jawab salamnya? Yang bener dong nanti doa dari salamnya nggak kesampaian. Assalamualaikum?!" Seira memutar bola matanya malas. "Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Abrisham Zein Kuala," sahut Seira lengkap biar lelaki itu puas. Amam terkekeh, ia lalu meletakkan boba yang ia sembunyikan ke atas meja makan. Seira sempat terperangah sebentar, tetapi ia buru-buru memasang ekspresi sebalnya. "Jangan marah dong. Tadi gimana kuenya? Siapa yang beli?" "Nggak ada," jawab Seira ketus. "Maafin, Mas. Tadi ada pesanan, jadi Mas buru-buru." "Ya kan tinggal bilang kalau ada pesanan. Aku nungguin balasan kamu jadinya tapi nggak dibalas-balas." "Iya, maaf. Ya, ya?" Amam mulai mengeluarkan jurus puppy eyes. Imut banget, ya, Allah. Ini beneran suami saya? "Ya udah." "Ya udah apa?" "Dimaafin." Amam langsung tersenyum lebar seolah-olah habis menang undian lotre. "Beneran? Berarti malam ini kita jadi main?" Seira seketika mengerutkan alisnya. "Main apa? Nggak usah aneh-aneh, deh." "Kok aneh sih, sama istri sendiri." "Kan kemarin udaaa." "Udaaa apa? Hayolo kamu mikirin apa? Aku kan ngajakin kamu ke cafe entar malam, deep talk. Bukan main 'itu'." Amam membuat ilustrasi tanda petik saat mengatakan 'itu'. "Inget, kan? Tapi kalau kamu mau main 'itu', nggak pa-pa sih malam masih panjang." Pipi Seira memerah karena malu. "Nggak usah bahas itu dulu. Aku haus." Ia pun mengambil bobanya dan menusuknya menggunakan sedotan. Boba rasa alpukat emang benar-benar enak. "Aku ganti baju dulu, ya?" "Iya. Itu bajunya udah aku siapin di atas ranjang." Amam tersenyum lagi sambil mengacak rambut istrinya. "Istri solehah." Seira memperhatikan punggung kokoh Amam dari belakang. Pria itu, sudah bekerja terlalu keras. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN