Ajeng, teman sebangku Sonya, menelepon gadis itu agar ditemani ke toko buku. Sonya tidak keberatan, kebetulan tidak ada kegiatan apa-apa juga hari ini. Daripada hanya rebahan di kamar mending jalan-jalan.
Setelah siap-siap Sonya keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah. Ada Sila yang tengah menikmati teh hijau hangat bersama puding rasa matcha. Ibunya memang maniak matcha.
"Mau ke mana, Sonya? Buru-buru sekali. Itu lho ada puding, mama barusan beli. Ada di kulkas."
"Aku mau ke toko buku. Pamit ya."
Dia tidak menyalim tangan ibunya. Meski kemarin mereka tampak baik-baik saja pasca pernikahan Amam, tetapi Sonya masih merasa canggung. Dia masih sering merasa tidak nyaman.
Sila pun tampak acuh tak acuh dengan Sonya. Terserah anak itu mau apa yang penting bisa jaga diri.
Sonya mengambil helm yang tersangkut di spion motor dan mengenakannya. Dia bercermin terlebih dahulu, membetulkan jilbabnya agar menutupi d**a. Gadis itu mengenakan baju kaos hijau muda, dengan kerudung hijau agak tua, dan rok berbahan jins. Dia terlihat anggun dan sederhana. Cantik dalam kesederhanaanya.
Ia pun melakukan sepeda motornya menuju rumah Ajeng yang tak terlalu jauh. Komplek perumahan mereka berdekatan. Sebenarnya, Sonya dan Ajeng adalah teman dekat. Dari SMP mereka selalu bersama-sama. Tetapi semenjak SMA, ia jarang bisa bermain atau jalan-jalan bersama Ajeng karena orang tuanya selalu menyuruh Ajeng pergi les. Bahkan lihat saja sekarang, Ajeng mengajaknya pergi ke toko buku, alih-alih cafe atau tempat jalan-jalan lainnya.
Orang tua Ajeng agak ketat dalam mengawasi Ajeng karena kakak lelaki Ajeng yang kuliah kedokteran justru di-DO. Padahal orang tuanya mengharapkan agar satu dari dua anaknya bisa menjadi dokter. Maka dari itu, mereka menuntut Ajeng agar bisa jadi dokter dengan giat belajar dan tidak malas belajar.
Sonya pernah bertanya apakah Ajeng sering dimarah oleh orang tuanya. Ajeng bilang tidak. Orang tuanya berpendidikan. Sikap strict yang mereka tunjukan bukan dengan kekerasan tetapi dengan sentuhan psikologi. Misal, saat Ajeng mau main ke luar rumah, ibunya akan bilang, "Ajeng mau ke mana? Ibu tinggal sendirian lho di rumah. Sini aja lah sama Ibu, sambil belajar."
Atau saat Ajeng asyik menonton TV, ayahnya akan bilang, "Nonton apaan, sih, Kak? Acara kayak gitu buang-buang waktu tahu, mending istirahat atau nggak ya belajar."
Orang tuanya sangat baik. Saking baiknya Ajeng tidak bisa melawan. Apalagi anak itu memang tipikal gadis penurut, mentalnya sudah terbentuk dari SD. Termasuk perkara les. Orang tuanya tak segan menawarkan Ajeng ikut les kalau anaknya tampak kesulitan.
"Matematika itu susah ya, Kak? Masuk les aja kali, ya, biar kamu nggak pusing sendiri. Papa daftarin ya?"
Sifat penurut, ditambah tidak enakan, hasilnya ya seperti Ajeng. Dari hari Senin sampai Sabtu ada jadwal les. Padahal menurut Sonya, tanpa ikut les pun Ajeng sudah pintar. Tapi ya bagaimana, orang tuanya yang menyuruh?
Semester kemarin Ajeng mendapat rangking paralel, makanya sekarang sedikit diberi kelonggaran di hari Minggu. Sebenarnya, sih, orang tuanya sendiri yang menyuruh Ajeng untuk refreshing. Mereka belakangan sering mendapat nasihat bahwa menyuruh anak terus-terusan belajar tidak terlalu baik. Berhubung mereka punya pemikiran yang terbuka, mereka menerima nasihat itu meski hanya dengan mengizinkan Ajeng untuk istirahat dan main di hari Minggu.
Saat tiba di pekarangan rumah Ajeng, ia melihat teman sebangkunya itu sudah menunggu di teras. "Nunggu apaan lagi, Jeng?"
"Nungguin lo, lah. Siapa lagi?" Ajeng tersenyum. Dia memasang tas selempangnya. "Pakai motor gue aja apa motor lo?"
"Motor tetangga lo aja gimana, Jeng?"
"Heh!" Ajeng menyergah, tetapi sejurus kemudian dia tersenyum lebar. "Nyolong dong kita. Tapi ayo kalau mau!"
Sonya ikut tertawa. Humornya dan Ajeng itu setingkat. Mereka satu frekuensi. Apa aja bisa jadi bahan obrolan. "Banyak omong lo. Ya udah pakai motor gue aja. Tapi isiin bensin."
"Iye gue isiin. Satu pertamina kalau perlu."
"Iya deh yang sultan," sahut Sonya bercanda.
Ajeng lalu meninggalkan beranda rumahnya dan naik ke atas motor milik Sonya. Beberapa detik setelah itu motor dilajukan untuk memotong jalanan kota Jakarta.
***
"Lo mau beli buku apa sih, Jeng?" tanya Sonya sesaat setelah mereka tiba di parkiran mall. Mereka berangkat siang dan sekarang sudah mulai sore. Perjalanan di Jakarta terkadang memang macet parah. Rentetan kendaraan dari ruang lampu merah yang satu hingga lampu merah yang lain. Untungnya Sonya cukup lihai menyalib kendaraan. Saking lihainya Ajeng tidak berhenti mengucap takbir.
Ajeng bingung buku apa yang ingin ia beli karena sebenarnya ia hanya ingin jalan-jalan. "Liat aja nanti."
Gramedia ada di lantai tiga mall. Mereka mesti menaiki eskalator agar bisa ke lokasi tersebut. Tetapi, di lantai dua, Ajeng justru mengajak Sonya membeli chattime.
"Astaghfirullah Ajang. Jangan mubazir. Mending langsung ke toko buku aja. Yuk!"
"Gue traktir."
"Oh maksa. Ya udah gapapa." Sonya nyengir. Tadinya dia tidak mau beli minuman itu karena bagi Sonya terlalu mahal, buang-buang uang. Beruntunglah Ajeng peka.
"Gue udah khatam sama gaya lo."
Usai menghabiskan minuman, mereka melanjutkan langkah kaki menuju lantai tiga mall, spot yang akan mereka kunjungi.
Sonya sangat suka aroma Gramedia meski beberapa orang justru beranggapan bahwa aroma toko buku itu bikin sakit perut.
"Saran novel bagus dong." Ajeng mondar-mandir dari rak satu ke rak lain, dia kebingungan. Dia tidak punya ide sama sekali terkait buku yang akan ia beli.
"Lo suka fantasi nggak? Kalau suka, cobain aja serial Bumi, karangan Tere Liye. Bagus. Cuma ya siap-siap bangkrut."
"Jangan yang serial dong. Yang satu kali baca selesai gitu lho. Bebas genre apa."
"Filsafat mau? Novelnya Jostein Garder, Dunia Shopie."
Ajeng menggeleng. "Ga tahan gue baca buku filsafat. Ortu gue kan nyuruh gue jadi dokter bukan filsuf."
Sonya buntu. Jadi dia yang bingung. "Novel remaja deh. Lagian gue bingung lo niat cari buku belajar apa buku buat hiburan."
Ajeng mengetukkan jarinya ke dagu seolah-olah sedang memikirkan masalah yang sangat berat. "Kalau bisa buat belajar dan hiburan, kenapa nggak?"
"Ngelunjak. Buku mewarnai aja noh, belajar sekalian hiburan."
"Sensi amat, Mbak."
"Ya lagian ...." Kalimat Sonya terhenti, saat matanya melihat seseorang yang ia kenal berjalan bersama seorang wanita.
Adrian berjalan dengan perempuan sambil berpegangan tangan. Seketika itu d**a Sonya seperti dipukul dengan telak. "Jeng. Itu Adrian?" bisik Sonya.
Ajeng langsung ikut melihat arah sorotan mata Sonya, dan ya, dia juga melihat Adrian. "Nggak salah lagi. Tapi cewek itu siapa? Saudaranya kali ya?"
"Dia nggak punya saudara."
"Emmm sepupu?"
"Lo jalan sama sepupu cowok lo pakai pegangan tangan?"
Ajeng terdiam lagi.
Sonya mungkin akan merasa biasa-biasa saja melihat Adrian berjalan dengan seorang perempuan asal tidak pegangan tangan seperti itu. Di kota besar pegangan tangan mungkin hal yang biasa, tapi bagi Sonya itu tetap tidak pantas. Islam melarang hal itu, tidak peduli umatnya ada belahan bumi yang mana. Dia tidak bilang bahwa Adrian pria yang sempurna, tetapi melihat ketulusan Adrian belakangan ini, Sonya tidak menyangka pria itu bisa berduaan dengan perempuan lain sebagaimana yang ia lihat barusan.
***
Adrian benar-benar bingung. Teman masa kecilnya sewaktu SD mengunjungi rumahnya. Benar-benar di luar dugaan.
Namanya Sita. Gadis cantik berambut panjang dan bertubuh ramping itu membuat Adrian pangling. Mereka sudah lama lost contact dan baru bertemu hari ini.
Saat melihat Sita datang bertamu, Adrian sempat tidak kenal. Tetapi Sita menunjukkan foto kecil mereka di kalung liontinnya. Buah liontin itu dapat dibuka, satu sisi menunjukkan fotonya sendiri dan sisi lainnya menunjukkan foto Adrian.
Adrian segera tersenyum senang melihat itu dan refleks mereka berpelukan. Adrian benar-benar lupa bahwa mereka bukan anak kecil lagi, mereka adalah dua orang yang sudah matang dan tak pantas lagi berpelukan. Sita bilang, dia ada urusan di Jakarta sebentar mengikuti ayahnya, besok akan kembali ke Australia. Sita sengaja datang ke rumah Adrian karena benar-benar merindukan sahabat kecilnya.
Sita pun mengajak Adrian untuk pergi ke mall di Jakarta Pusat. Mereka menghabiskan waktu untuk bermain di play zone, makan es krim berdua, lalu mampir ke toko buku. Hal ini lah yang disaksikan oleh Sonya.
Adrian benar-benar tidak sadar atas tindakan keliru yang ia lakukan. Itu hanya kebiasaan masa kecilnya untuk bergandengan tangan dengan Sita. Dia merasa dekat secara emosional.
"Besok berangkat jam berapa, Ta?"
"Jam empat pagi. Kayaknya aku nggak bisa tidur deh entar malem. Eh iya lupa!! Minta kontak kamu dong, Yan. Akun ig atau apa pun lah biar tetap bisa komunikasi."
Mereka lalu saling bertukar kontak line dan akun i********:.
"Kamu udah punya pacar, Yan?" tanya Sita sambil mencari buku-buku bertema sejarah. Dia memang menyukai topik itu sejak dulu.
"Menurut lo?"
"Pasti cewekmu banyak. Kan kamu buaya darat sejak kecil."
Adrian terkekeh. Dia tidak pernah pacaran, tetapi dulu dia suka dijadikan calon menantu oleh ibu-ibu di sekolah. Dia sering dikasih bekal bahkan uang jajan.
"Yang mau sih banyak. Tapi nggak minat. Eh sekalinya gue minat, malah ditolak."
"Lo kurang ganteng kali."
Adrian menggeleng. "Bukan itu. Gue cuma belom cukup ilmu."