Angin malam ini tidak terlalu dingin pun tidak terlalu panas, tetapi cukup kencang. Kerudung Seira seperti diterjang dari arah depan, berkelempai, helmnya seperti hendak terbang. Maka ia eratkan pelukannya ke pinggang Amam, hingga kehangatan ia rasakan mengalir dalam darahnya. Ia cium dalam-dalam aroma parfum Amam yang harum, seperti campuran apel dan kayu aras. Tubuhnya merasa tenang, relaks, dan teradiksi. Amam yang duduk di depan juga tak kalah merasa nyaman mendapat dekapan seerat itu dari istrinya. "Ayo yang erat lagi sampai aku nggak bisa napas!" Amam bergurau. "Katanya separuh napasmu ada di aku, ya berarti aman dong masih ada separuh!" Mereka saling berteriak di atas motor untuk melawan desing kendaraan dan kesiur angin. "Ya bener sih. Hahahaha!" "Mas Amam, kamu mungkin selin

