Angin malam ini tidak terlalu dingin pun tidak terlalu panas, tetapi cukup kencang. Kerudung Seira seperti diterjang dari arah depan, berkelempai, helmnya seperti hendak terbang. Maka ia eratkan pelukannya ke pinggang Amam, hingga kehangatan ia rasakan mengalir dalam darahnya. Ia cium dalam-dalam aroma parfum Amam yang harum, seperti campuran apel dan kayu aras. Tubuhnya merasa tenang, relaks, dan teradiksi.
Amam yang duduk di depan juga tak kalah merasa nyaman mendapat dekapan seerat itu dari istrinya. "Ayo yang erat lagi sampai aku nggak bisa napas!" Amam bergurau.
"Katanya separuh napasmu ada di aku, ya berarti aman dong masih ada separuh!"
Mereka saling berteriak di atas motor untuk melawan desing kendaraan dan kesiur angin.
"Ya bener sih. Hahahaha!"
"Mas Amam, kamu mungkin selingkuh nggak?" Tiba-tiba ia memikirkan pertanyaan itu, entah dari mana asalnya.
"Nggak lah. Buat apa? Dosa!"
Seira diam sejenak. "Kalau ada yang lebih cantik daripada aku gimana?"
"Tetap kamu yang lebih cantik, Sei."
"Kalau ada yang lebih solehah daripada aku?" Seira terus bertanya.
"Artinya aku gagal."
"Gagal kenapa?"
"Gagal bimbing istri aku untuk jadi lebih solehah daripada perempuan di luar sana. Tugasku melindungimu dan anak-anak kita dari api neraka. Nyari perempuan yang lebih solehah daripada kamu artinya aku gagal jadi suami."
Seira diam sejenak, kemudian ia bertanya lagi, "Kalau misalnya aku meninggal duluan, kamu mau nikah lagi?"
Mendengar pertanyaan itu dari istrinya, Amam langsung mengerem motornya dan menepi ke pinggir jalan.
"Kok berhenti?"
Aman melepas helmnya dan memutar kepalanya ke belakang untuk menatap Seira. Raut wajahnya dingin. "Aku nggak suka kamu nanya gitu. Jangan bahas meninggal-meninggal dulu. Kalau kamu nanya aneh-aneh lagi kita pulang aja."
Respons Amam agak tidak terduga. Seira tidak sadar kalau pertanyaannya menyinggung hati Amam. Meski nada bicara Amam tetap datar, ia tahu Amam marah, dan itu membuat air matanya perlahan menetes. "Maaf, aku nggak punya maksud apa-apa."
Melihat istrinya menangis, kini Amam yang merasa bersalah. Dia menghembuskan napas melihat situasi ini. Ia kemudian turun dari motor agar bisa menatap Seira lebih dekat. "Aku nggak marah sama Seira. Aku ... cuma takut pas Seira nanya gitu. Aku nggak bisa bayangin hal itu. Amam sayang banget sama Seira, Amam nggak mau kehilangan Seira. Amam minta tolong banget kita nikmatin malam ini tanpa mikir yang aneh-aneh dulu. Mending kita bahas masa depan. Udah ya, nangisnya?" Amam mengesat air mata di pelupuk mata Seira.
Seira mengangguk. Setelah sedikit tenang, Amam melanjutkan perjalanan menuju cafe yang sudah ia rencanakan sejak tadi siang.
***
Mereka tiba di Cafe Rinjani beberapa menit setelah kejadian Amam memberhentikan motornya di pinggir jalan.
Cahaya lampu kekuningan menyambut kedatangan mereka. Ornamen kayu berpelitur pada anak tangga menjadi pijakan mereka untuk naik ke lantai atas. Cafe ini terlihat klasik, bahkan lagu yang saat ini terlantun adalah lagu 'Masih Seperti yang Dulu' yang dinyanyikan oleh Dian Pishesa. Mereka seperti dilempar ke dimensi waktu yang berbeda.
Beberapa anak muda duduk di kursi kayu, mengitari meja yang juga terbuat dari kayu. Lampu tumbler menghias dinding. Amam membawa Seira menuju kursi yang sudah ia pesan, berada di balkon atas cafe.
Angin berkesiur kencang di sini, cahaya bulan dan bintang seperti memandikan malam. Namun, bagi Amam, cahayanya ada di hadapannya sekarang.
"Kamu tunggu di sini, ya. Aku pesan makanan dulu."
"Aku ikut."
"Nggak usah, sebentar kok."
"Mas aku ikut."
"Seira, jangan mulai lagi."
Salah satu tabiat buruk yang dimiliki Seira adalah agak keras kepala. Kalau Amam tidak menunjukkan wibawanya sebagai suami, Seira akan terus bertindak di luar koridor.
"Maaf, Mas."
"Dah, duduk yang tenang." Amam mengusap kepala Seira seolah gadis itu adalah anak kecil. Ia lalu turun ke lantai bawah untuk memesan makanan. Ponselnya ketinggalan di atas meja.
Seira tidak sadar bahwa sebenarnya ada seorang perempuan yang mengawasinya. Perempuan itu mulai mengirimkan pesan aneh ke ponsel Amam.
Amam sangat terbuka pada Seira. Dia tidak pernah melarang istrinya membuka ponsel. Saat ada pesan masuk, Seira refleks membukanya.
Makasih ya, Mas pelayanannya siang tadi. Aku puas.
Darah Seira seperti dipompa lebih cepat oleh jantungnya. Tetapi, ia tidak mau berburuk sangka. Mungkin itu pelanggan ojek Amam?
Tapi ... Mengapa sampai kirim pesan lewat WA seperti itu? Mana foto profilnya seperti perempuan malam.
Perempuan itu tak berhenti sampai di situ saja. Dia mulai mengirim foto saat Amam memasangkannya helm, juga foto-foto yang seolah ingin menunjukkan kedekatan hubungan mereka.
Seira masih terdiam. Dia tidak bodoh dan naif. Dari foto yang diambil, Seira dapat menyimpulkan bahwa ada yang menjebak Amam.
Lo*nte jangan sok keras. Kabur aja yuk, malu.
Kalau gatel tu digaruk Mbak, nggak usah rusuhin laki orang. Di rumah saya ada tu cangkul buat garuk-garuk.
Perempuan tadi sebenarnya tidak tahu Amam sudah menikah. Dia pikir Seira adalah pacarnya.
Muka Mbak kayak termos es, deh. Gak cocok gitu sama suami saya. Saya sih nggak minder ya sama cewek murahan. Hehehe. Coba ke Tokopedia, Mbak. Siapa tahu laku. Kasih promo diskon 70% sama gratis ongkir. Insyaa Allah laris manis.
Rasanya memuaskan. Seira tersenyum miring setelah mengirimkan pesan balasan itu.
***
Sekembalinya Amam, Seira segera melaporkan kejadian tadi. "Mas, ada l*onte yang chat kamu."
"A, ha, apa?" Amam takut salah dengar. Tiba-tiba istrinya bilang seperti itu tanpa babibu, mana di tempat umum. "Kamu ngomong apa?"
Dengan enteng Seira berdecak sebal. "Ada lont*e chat kamu pakai WA. Murahan." Seira menyerahkan ponsel itu dengan santai, dia tidak terlihat terintimidasi sedikit pun. Suaranya yang nyaring membuat beberapa orang menoleh, membuat Amam deg-degan.
"Jangan kencang-kencang, Sayang, ih. Malu."
"Ya maaf," sahut Seira malas.
Amam lalu mengecek ponselnya dan membaca pesan itu. Ia langsung menyurut tulang hidungnya, tidak habis pikir. Sudahlah ia dikasih bintang satu, difitnah yang tidak-tidak lagi.
Adapun perempuan itu buru-buru meninggalkan lokasi agar tidak ketahuan oleh Amam.
"Udah ya, nggak usah dipikirin. Orang gila itu tuh." Amam duduk di depan Seira dan menelungkupkan ponselnya.
"Aku sih nggak mikirin itu ya. Coba kamu tebal kenapa?"
Amam mengerutkan alisnya. "Kenapa?"
"Karena aku percaya sama suami aku."
Satu kalimat itu membuat hati Amam terenyuh seketika.
"Bagaimana pun orang di dunia ini bilang yang enggak-enggak tentang kamu, aku nggak akan percaya sampai aku yang lihat sendiri. Aku nggak akan jatuh karena omongan orang, Mas. Aku udah dikuatkan sama kamu ketika orang-orang satu pun nggak peduli sama aku, nggak ada alasan aku buat semudah itu ragu sama kamu."
Tanpa sadar mata Amam berkaca-kaca. Hatinya benar-benar tersentuh. Ucapan itu bukan gombalan, itu ketulusan dari Seira. Ia bisa melihat itu, ia bisa merasakannya.
Amam meraih tangan Seira, mendekatkannya ke hidung dan menciumnya lembut. "Aku juga akan kuat, Sayang, sehebat apa pun orang menjatuhkan aku. Aku akan berdiri buat kamu, buat anak kita. Seujung kuku pun nggak ada tersirat di hati aku buat bikin hati kamu terluka. Makasih udah percaya sama Mas, makasih udah mau jadi istri Mas, makasih udah bersedia jadi rumah buat Mas pulang sewaktu Mas nggak tahu harus pulang ke mana. Makasih ... udah membantu anak kecil ini terdewasakan sebelum waktunya, dan memaklumi kekurangan Mas."
"Malam ini katanya mau senang-senang, kan? Kenapa jadi sedih begini?" Seira mengelap air matanya dengan kerudung, dia tersenyum sumbang.
"Iya. Kita lupain masalah apa pun itu, malam ini jadi milik kita berdua," bisik Amam. "Yang lain mah cuma ngontrak."
***
Ajeng mentraktir Sonya untuk makan ayam geprek di warung makan pinggir jalan sebelum pulang. Dia bingung kenapa temannya itu tampak tak bersemangat secara tiba-tiba sejak dari toko buku.
"Lo nggak kesambet, kan? Kok lemes amat sih. Gara-gara Adrian? Bukannya lo yang nolak dia."
Sonya menggeleng. "Bukan masalah nolak nggaknya. Gue cuma kecewa, ternyata cowok semudah itu ya pindah ke lain hati. Hari ini bilang cinta ke si A, besok ke si B. Bisaaa gitu hatinya tuh elastis, ke mana-mana ayo."
"Ya belom tentu mereka pacaran juga sih, Nya."
"Kalau enggak pacaran pun dia udah melanggar batas hubungan antara laki-laki dan perempuan. Nggak baik tahu."
Ajeng menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir. "Lo pasti overthinking lagi. Kenapa Adrian bisa begitu, kenapa Adrian mau pegangan tangan, apa jangan-jangan Adrian emang nggak sebaik yang lo kira, jangan-jangan Adrian mau pacaran buat jadi teman bucin doang. Pasti lo mikir gitu, kan?"
"Exactly! Ga meleset. Kalau dikumpulin pertanyaan gue cuma satu sih. Apa semua laki-laki itu sama, pengen naklukin cewek untuk validasi bahwa dia keren?"
"Lo suudzon," cecar Ajeng. "Sama aja lo ngatain bokap lo sendiri."
"Lah emang. Bokap gue kan masuk golongan pria k*****t juga, Jeng."
Ajeng memijat dahinya yang terasa pening. Dia tahu orang tuanya Seira tidak harmonis, tetapi maksud dia, jangan menyama-ratakan semua laki-laki. Apalagi berpikiran yang buruk tentang Adrian.
"Terserah lo aja deh, Sonya. Mending makanan lo abisin dulu, keburu dingin entar."
"Nggak pa-pa, hati gue udah dingin."
"Dramatis, anjir."
Sonya terkekeh sendiri mengingat perkataannya barusan. Mood-nya semudah itu berbalik. Sonya jadi paham, punya teman satu frekuensi itu perlu.
***
Adrian agak terkejut melihat pesan masuk dari Sonya. Awalnya dia tersenyum, apa gerangan gadis itu mengiriminya pesan. Maka dari itu, ia membuka aplikasi chating dengan penuh semangat. Bibirnya merekah, hatinya dag-dig-dug, dia merasa saling. Begitu aplikasi terbuka dan pesan Seira muncul, senyumnya memudar.
'Cie yang punya cewek baru. Seru yang show of pacarnya ke publik pakai acara pegangan tangan. Romantis deh.'
"Aduh, Sonya tahu dari mana?" tanya Adrian pada dirinya sendiri. "Emangnya kelihatan kayak orang pacaran ya tadi tuh? Astaga mampus."
'Siapa yang pacaran? Nggak ada, kok. Kamu kata siapa?'
'Kata aku lah. Alhamdulillah mataku nggak minus.'
'Astaghfirullahaladzim Sonya, kamu salah paham nih. Aku bisa jelasin deh.'
'Waduh jelasin apaan lagi? Rumus trigonometri? Apa hukum Pascal ni? Mau jelasin apa sih, gapapa lagi. kan kita bukan siapa-siapa.'
'Jangan gitu. Jadi Sonya, dia tu teman masa kecil aku. Kita baru ketemu hari ini setelah beberapa tahun.'
'Wah dramatis sekali. Pemain sinetron ya? Aku nggak marah kok. Maaf ya, aku udah buang-buang waktu kamu padahal aku yang nolak perasaan kamu saat itu. Keep enjoy. '
Sonya kemudian mem-block nomor ponselnya.
Adrian kena mental. Dia tidak menyangka bakal separah ini kejadiannya. Sonya terkadang terlalu gegabah dan berlebihan. Meski begitu, Adrian mengaku salah dan dia harus menyelesaikan masalahnya.