Amam merengkuh tubuh Sonya dengan erat, membuat wajah perempuan itu menempel di d**a bidangnya yang tidak terbalut baju apa-apa. Di luar hujan lebat, guntur menggelegar, suara atap seng kontrakannya seperti dihajar pasukan perang. Halaman rumah mereka mulai tergenang, hawa-hawa akan banjir.
Namun, itu tak mengganggu kedekatan Amam dan Seira pagi ini. Mereka justru saling menempel, saling menghangatkan. Amam seolah tidak mau melepas dekapannya pada Seira. Sialnya, Seira juga merasa nyaman dan betah saat aroma alami tubuh Amam memasuki indra penciumannya. Darahnya seperti ditanak, panas, meski kulitnya kedinginan.
"Sayang banget sama perempuan ini," ujar Amam dengan suaranya yang agak-agak serak saat ini karena efek baru bangun tidur.
"Sayang banget sama pria ini."
Amam tersenyum hangat. Ada sesuatu di dirinya yang menegang dan itu disadari Seira.
"Mas, kamu nggak ...." Seira bertanya curiga, tetapi ia canggung melanjutkan pertanyaannya.
Beruntungnya Amam peka, dengan cepat dia segera menjawab,"Enggak, kok. Kamu aman. Aku cuma lagi di fase respons alami laki-laki. Nanti juga hilang sendiri."
Seira hanya mengangguk, meskipun tidak terlalu paham. "Mas. Udahan ya, cuddle-nya. Aku mau masak sarapan buat kamu."
"Kamu kan sarapan aku," jawab Amam enteng. "Sini aja."
"Kamu sekolah, Mas." Seira meyakinkan. Meski sebenarnya dia juga malas untuk beranjak.
"Telat dikit nggak pa-pa."
"Kan udah sering telat?"
Bukannya mengendurkan pelukan, Amam justru semakin erat memeluk Seira. Dia menciumi wajah istrinya dengan penuh hasrat hingga wajah Seira memerah.
"Seira, ternyata aku nggak kuat nahannya," bisik Amam lirih. "Kalau main dulu sebentar, kamu nggak pa-pa, kan?"
Kali ini wajah Seira semakin memerah dan menghangat. Ia dengan cepat luluh dan tidak berani membantah.
***
Hujan belum kunjung berhenti sejak tadi malam. Sonya menggerutu di teras, bingung mau berangkat sekolah atau tidak. Mama dan papanya entah ke mana. Dia ingin mengendarai mobil tetapi tidak tahu menyetir, mau motoran tetapi malas pakai mantel, padahal dia sudah siap berangkat. Jiwa ambisnya menanjak sangat tinggi tetapi rasa ngantuknya bikin dia nyaris tertidur di teras.
Entah harus bilang beruntung atau tidak, saat matanya akan terlelap, suara klakson mobil memekik. Sonya terperanjat. Dia melihat mobil abu-abu di depan rumahnya. Gadis itu memicingkan mata, ingin memeriksa mobil siapa di sana. Namun, tanpa perlu menunggu lama, Sonya segera tahu siapa yang ada di dalam mobil begitu kacanya terbuka.
"Sonya! Ayo bareng!"
Adrian. Pria itu lagi. Sonya masih kesal dan dia tetap nekat datang ke rumahnya. Sebenarnya Sonya ingin sekali bilang, "Sorry, nggak tertarik." Kemudian masuk ke rumah dan menutup pintu. Namun, mana dia berani. Adrian datang bersama Alfred. Ayahnya yang menyetir mobil dengan pakaian kemeja abu-abu dan blazer putih khas dokter.
Alfred mesti ada urusan ke kantor, tetapi dia tetap memenuhi keinginan anaknya untuk menjemput Sonya. Mana mungkin Sonya menolak.
"Ayo Sonya naik, nanti telat," suruh Alfred.
Sonya menarik napas pelan dan mengembuskannya dalam satu kali embusan. Demi Om Alfred, bukan demi Adrian.
"Iya Om! Sebentar." Sonya lalu menutup pintu dan menguncinya. Saat akan berlari menuju mobil, Adrian berteriak.
"Bentar. Jangan turun dulu, nanti basah." Adrian yang justru turun dari mobil, membiarkan bajunya basah, lalu membuka pintu tengah mobil. Di bawah kursi itu ada payung hijau yang kemudian Adrian kembangkan untuk menyusul Sonya. Dia berlari menghampiri Sonya. "Ayo bareng aku!"
Sonya membuang wajahnya. "Sok dramatis." Namun, tak urung ia mengikuti langkah kaki Adrian hingga tiba di depan mobil.
"Masuk, Sonya."
"Iya makasih, ya." Sonya pura-pura tersenyum meski hatinya jengkel.
Di luar dugaan lagi, Adrian justru memilih duduk di jok belakang bersama Sonya.
"Loh Adrian, di depan aja, kenapa di belakang? Kasian Om Alfred sendirian." Mata Sonya tidak bisa berbohong. Dia seperti elang yang ingin menerkam anak ular di sawah, dan anak ular itu adalah Adrian.
"Nggak pa-pa, pengennya di belakang. Papa juga nggak marah, kok. Ya kan, Pa?"
Alfred mengangguk. Hal itu membuat Adrian merasa menang.
Sonya menatap Adrian di sebelahnya dengan sinis, keningnya terlipat, dan bibirnya mengerucut. "Lo sok manis," cecar Sonya agak berbisik.
"Makasih." Adrian justru membalasnya dengan cengiran, tidak merasa bersalah sama sekali.
Sonya membuang wajahnya, menggeser pantatnya ke samping untuk menjauh, sembari menunggu Alfred memundurkan ban mobil.
***
Amam telat satu jam dengan alasan hujan. Itu membuat Pak Anwar memanas dan menghukumnya membersihkan kamar mandi cowok .
"Pak. Saya nggak mau deh bersihin toilet cowok, mending beresin gudang aja. Toilet cowok tuh bau."
Pak Anwar berkacak pinggang. "Kok jadi kamu yang ngatur saya?"
"Bukan ngatur, Bapak. Cuma ngasih saran."
"Nggak ada saran, bersihin sekarang!"
Amam mencebik sebal. Toilet cowok itu bau. Bau rokok iya, bau pesing iya, bau bangkai juga iya. Amam bahkan pernah melihat kotoran yang tidak disiram di kloset dan itu membuat Amam sedikit trauma. Setelah berjalan dua langkah, Amam berhenti. Ia berniat negosiasi lagi dengan Pak Anwar agar tidak perlu disuruh membereskan toilet.
Baru saja menoleh, Pak Anwar langsung berkata, "Saya bilang enggak ya enggak, ya, Amam."
Amam melanjutkan langkah gontainya. Sedewasa apa pun sikapnya ketika di rumah, dia tetaplah seorang laki-laki 16 tahun yang masih sangat belia. Dia masih punya sisi kekanak-kanakan. Sebelum ke toilet, dia memutuskan untuk mampir dulu ke kelas, menitipkan PR yang sudah ia kerjakan minggu lalu kepada Rian.
"Nitip. Kalau mau nyontek, nyontek aja."
Rian menatap wajah sebal Amam. "Lo kenapa sih? Cemberut aja?"
"Gue dihukum bersihin toilet. Nggak banget sih toilet cowok tuh."
"Lagian lo pakai acara telat, abis ngapain sih?"
Amam menggigit bibir bawahnya, tersenyum simpul, sambil menggerak-gerakkan matanya. "Biasalah pengantin baru."
Rian langsung memutar bola matanya, tidak mau iri. "Ya udah sono bersihin toilet! Abis istirahat ada presentasi kelas, jangan sampai lo skip lagi."
Amam menganggukkan kepalanya. "Iya. Ini gue mau cabut. Oh iya, Yan. Sore nanti mentoring lagi?"
"Iya mentoring. Bisa dateng nggak? Lo kan sibuk narik ojek."
"Insyaa Allah. Dah ah mau cabut. Bye."
"Bye."
***
Hal pertama yang dilakukan oleh Amam begitu tiba di toilet adalah mematut dirinya di cermin. Dia terdiam beberapa jenak, memikirkan banyak hal.
Siapa yang menyangka bahwa laki-laki dengan seragam putih abu-abu yang tak ubahnya adalah seorang bocah, ternyata sudah memiliki istri. Dia memiliki hidung yang kecil, bibir agak tebal, kulit putih, dan alis yang tebal. Wajahnya khas anak sekolah, remaja 16 tahun. Namun, ternyata dia adalah seorang suami sekaligus calon ayah. Dia masih sering tidak menyangka dengan statusnya sekarang.
Apakah Amam bahagia menikah dengan Seira? Iya dia bahagia. Tetapi, apakah Amam merasa benar dengan status ini? Tidak sama sekali. Seharusnya sekarang dia masih bisa menikmati masa muda. Seharusnya sekarang Seira masih bisa bersekolah dengan normal, meraih cita-citanya. Nyatanya, semua itu hancur. Dia harus menanggung beban dengan bahunya yang tak seberapa kuat.
Usai mematut dirinya di cermin, Amam masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Masih aman, tidak terlalu kotor, meski bau pesing. Amam menyemprotkan cairan pembersih toilet ke sudut-sudut dinding, lantai, dan kloset. Dia menunggu sejenak baru kemudian berjongkok dan mulai menyikat dinding, lantai, dan kloset itu.
Di luar ternyata ada Jack. Teman satu kosnya dulu yang sempat menggoda Seira. Pria kurang ajar. Dia kali ini sendirian, menyiram lantai di depan pintu toilet yang Amam bersihkan dengan menggunakan cairan pel.
Begitu Amam selesai membersihkan bilik toilet pertama dan hendak keluar, tubuhnya langsung terbanting ke belakang, dia terpeleset. Baju dan celananya seketika basah dan kotor sedangkan Jack hanya tersenyum miring dan melangkah mendekatinya.
"Jatoh ya?"
Amam memasang wajah masam melihat Jack. "Lo ada masalah apa, sih? Iseng banget. Gue nggak salah apa-apa juga, ya, bangsat." Amam berusaha berdiri dengan kakinya, beruntung tubuhnya tidak sakit. Begitu berdiri dia langsung menarik kerah baju Jack. "Lo mau apa sama gue? Ha?!"
Jack terlihat santai. Dia justru tersenyum senang seolah dia menang. "Santai dong, gue aja santai. Gue cuma mau nanya aja sih, Seira sekarang ke mana? Belom juga tidur sama gue masa udah ngilang aja, mati ya?"
Bug!
Amam langsung meninju rahang Jack hingga pria itu jatuh tersungkur ke belakang.
Jack tidak terima. Dia menendang kaki Amam begitu Amam hendak menghajarnya lagi.
Amam terduduk. Itu digunakan Jack untuk menjepit leher Amam dengan kakinya dan membuat tubuh Amam tengkurap. "Gue nggak ada main kasar, ya, b******n! Segitunya lo sama Seira? Udah dikasih apa aja, sih?"
Amam menggeram. Wajahnya memerah, pias. Jack sudah berada di atasnya, mencengkeram lehernya. Dengan kekuatan yang Amam punya, dia menyiku wajah Jack. Ada selang beberapa detik sebelum Jack sempat memberikan balasan. Waktu itu digunakan oleh Amam untuk berbalik badan dan giliran menjepit kepala Jack dengan lengannya. "Kalau ini bukan sekolah, lo mati hari ini, Jack!"
"Pecundang!" Jack menggertak. Tetapi tubuh Amam lebih kuat. Jack hanya modal nekat, sebenarnya dia lemah.
Untuk menutup perseteruannya, Amam melayangkan tinju tepat di pipi Jack. Satu gigi Jack tanggal dan berdarah.
Perseteruan mereka berhasil disaksikan beberapa adik kelas yang hendak ke toilet. Mereka segera melaporkan kejadian ke guru BK, Pak Anwar, untuk menyelesaikan masalah mereka.