Bintang Satu

1419 Kata

Amam merengkuh tubuh Sonya dengan erat, membuat wajah perempuan itu menempel di d**a bidangnya yang tidak terbalut baju apa-apa. Di luar hujan lebat, guntur menggelegar, suara atap seng kontrakannya seperti dihajar pasukan perang. Halaman rumah mereka mulai tergenang, hawa-hawa akan banjir. Namun, itu tak mengganggu kedekatan Amam dan Seira pagi ini. Mereka justru saling menempel, saling menghangatkan. Amam seolah tidak mau melepas dekapannya pada Seira. Sialnya, Seira juga merasa nyaman dan betah saat aroma alami tubuh Amam memasuki indra penciumannya. Darahnya seperti ditanak, panas, meski kulitnya kedinginan. "Sayang banget sama perempuan ini," ujar Amam dengan suaranya yang agak-agak serak saat ini karena efek baru bangun tidur. "Sayang banget sama pria ini." Amam tersenyum hangat.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN