Jack

1424 Kata
Jack berbadan kurus, setidaknya sebulan belakangan. Pergaulannya jauh dari kata sehat. Kecanduan alkohol sudah menyerangnya sejak kelas dua SMP. Sekarang, dia sedang teradiksi dengan g***a yang dilinting seperti rokok. Bahkan sudah mulai berani menggunakan sabu di gudang sekolah untuk membuatnya tampak bersemangat. Namun, di lain waktu dia mengonsumsi obat depresan seperti h****n dan m****n hingga overdosis agar bisa istirahat dengan nyaman, juga seks bebas. Kacau? Sudah pasti. Masa, sih, ada remaja sekacau ini di Indonesia? Nyatanya memang ada. Hidup Jack jauh dari kata terkontrol. Dia yatim piatu sejak kecil, masuk ke panti asuhan, mendapat perlakuan tidak adil hingga dia berontak. Tamat SMP dia memutuskan keluar, masa bodoh dilarang oleh pengurus panti. Dia tidak mau disuruh makan tahu dan tempe sedangkan pengurus panti makan ayam goreng. Dia iri melihat temannya diapresiasi karena pintar sedangkan dia hanya dijadikan contoh sebagai anak bodoh dan nakal. Jack membenci hidupnya. Bahkan ketika masih menjadi anak asuh di panti, Jack lebih sering berkeliaran di jalan. Dia pernah menjadi tukang parkir, jadi kuli angkut di pasar, jadi tukang harian, dan apa pun. Hidupnya semakin gelap saat temannya menawarkan dia untuk menjadi 'gigolo'. Hidupnya yang suram semakin suram. Tetapi, dia sudah hilang akal. Begitu ia keluar dari panti, ia melakukan apa pun yang bisa membuat dia bebas dari kemelaratan. Awalnya dia hanya dijadikan partner kencan tante-tante umur tiga puluhan, lalu mulai berani jadi teman tidur. Parahnya lagi, Jack sudah tidak peduli dengan siapa dia tidur. Mau laki-laki atau perempuan, selama hasratnya terlepaskan dan dia dapat uang, dia akan melakukannya. Suatu malam, saat baru pulang nongkrong bersama temannya, Jack melewati kamar Amam. Pukul satu dini hari. Dia bisa mendengar suara sayup-sayup dari kamar Amam. Suara itu tidak berisik, tetapi Jack dengan mudah bisa mengidentifikasi bahwa Amam tidak sendirian. Sejak saat itu Jack mulai penasaran, apa yang dilakukan Amam dan bersama siapa Amam melakukannya. Untuk melampiaskan rasa penasarannya, Jack pura-pura bertamu ke kamar Amam. Amam yang tak tahu niat buruk Jack ternyata lalai. Saat ada celah, Jack menggunakan spy cam yang ia tempel di bawah palang gorden. Dari mana Jack mendapatkan spy cam? Kerjaannya sebagai 'teman tidur' membawanya pada realitas lebih rumit. Dia bekerja sama dengan orang-orang yang sering melakukan prank kepada anak remaja, lalu menyebarkan video di sosial media. Hal itu yang hendak Jack lakukan. Setelah spy cam terpasang, beberapa hari setelahnya Jack mengambil benda itu dan memindahkannya ke laptop. Di sanalah ia bisa melihat dengan jelas perbuatan Amam dan Seira. Jack merasa tertantang untuk ikut menaklukkan gadis seperti Seira. Dia menginginkan gadis itu. Jack seperti dibangunkan dari tidur panjang setelah terbiasa tidur dengan wanita berumur. Maka dari itu, ia membenci Amam. Sebencinya Jack dengan Amam, dia tidak ingin menyebarkan video Amam dan Seira karena dia tidak ingin Seira hancur. Seira tidak pernah berbuat jahat, dan dia tidak bisa jahat pada orang yang tidak jahat padanya. Itu Jack. Seorang remaja yang hancur karena kalah berjuang dengan takdirnya sendiri. *** Pak Anwar benar-benar marah kepada Amam kali ini. Anak itu sudah memancing emosinya. Sudah terlambat ke sekolah, berkelahi lagi. "Percuma ya, pintar, tapi begajulan kayak begini." "Kalau Bapak nggak tahu masalahnya nggak usah sok tahu, Pak," balas Amam emosi. "Saya nggak mungkin mukul kalau cowok setan ini nggak ngerusuhin saya!" "Jaga mulut kamu!" gertak Pak Anwar, menunjuk wajah Amam dengan telunjuknya. "Merasa hebat kamu sekarang, ya? Saya tahu kamu pinter, otak kamu encer, sering dapat rangking, tapi kalau nggak ada moral ya buat apa? Banyak orang pinter hidupnya hancur karena mereka nggak punya attitude." Kali ini Amam terdiam. "Kamu juga, Jack. Makin hari hidup makin kacau saja. Jarang-jarang masuk sekalinya masuk bikin rusuh. Ada masalah apa kalian? Jangan dikit-dikit berantem." Jack diam. Mode cari mukanya aktif. "Dia nuangin cairan pembersih toilet di depan pintu tempat saya lagi nyikat toilet, Pak. S-saya terpeleset dan emosi makanya saya hajar, dia," tutur Amam, kali ini menahan emosinya. Jack lagi-lagi diam. Masih mode cari muka. "Kalian berdua saya skorsing satu hari, ya. Pikirkan benar-benar tindakan yang kalian lakukan. Saya bukannya suka marah-marah, bukannya benci. Justru saya peduli sama siswa-siswa saya. Nggak mau saya tuh ngelihat kalian gagal. Ya sudah, silakan keluar. Pulang ke rumah hati-hati, sekarang lagi rawan kecelakaan. Jangan ngebut, ya?" "Iya, Pak," sahut dan Jack bersamaan. Amam lalu menyalami tangan Pak Anwar, kemudian disusul Jack. Di ambang pintu ruang BK, Jack berbisik ke Amam, "Gue punya video p***o lo sama Seira." Jack terkekeh di ujung kalimatnya, lantas mempercepat langkah meninggalkan Amam. Sedangkan Amam, dia mendadak kaku, cukup khawatir dengan apa yang barusan ia dengar. *** Masalah Amam seperti tidak mau berhenti. Bintang satu yang ia peroleh kemarin membuat kinerjanya dianggap buruk dan Amam terancam kemitraannya akan dicabut. Dia stress, dia malas pulang, dia bingung. Kemudian Pak Wawan muncul, dia menghampiri Amam. Tatapannya terlihat teduh, seteduh pagi ini yang baru reda dari hujan. "Assalamualaikum, Amam." Amam yang tengah melamun menegakkan kepalanya, terkesiap saat menyadari Pak Wawan menghampirinya di pos satpam. "Waalaikumussalam, Pak Wawan." "Kamu diskorsing? Kenapa belum pulang?" Amam sedikit tergagap. Dia tidak tahu bagaimana menguraikan bebannya saat ini. Pertama, dia tidak mungkin bilang kalau dia punya istri. Kedua, dia tidak mungkin bilang terkait perempuan murahan yang menggodanya dan menganggu kinerjanya. Ketiga, dia juga tidak mungkin bercerita tentang kalimat terakhir yang disampaikan Jack. Maka dari itu, Amam hanya bilang, "Masih lemes, Pak." Pak Wawan terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Mau ikut saya ke rumah? Makan di rumah saya, kebetulan Ummi masak lumayan banyak. Ambil dulu sama motornya." Jika boleh memilih, Amam akan pulang ke rumah saja untuk menemui Seira. Namun, dia memiliki beberapa pertimbangan. Jika ia pulang ke rumah sekarang, Seira mesti khawatir. Selain itu, dia tidak sanggup menerima penawaran dari orang sebaik Pak Wawan. "Iya, Pak. Sebentar, ambil motor dulu." Amam berlari kecil mengambil motornya di parkiran dan menyusul Pak Wawan. Sesaat kemudian Pak Wawan sudah berada di depan, menuntun arah rumahnya meski Amam sudah tahu. Beberapa ruas jalanan di Jakarta banjir. Kedai-kedai pinggir jalan tutup, ada gerobak yang terguling. Kendaraan bermotor harus merangkak pelan-pelan. Jika mengebut air akan menciprat, atau masuk ke dalam motor penggerak. Bahaya jika rusak. Apalagi mobil, itu sangat rentan. Amam melihat sebuah mobil menabrak gerobak penjual sayur hingga terguling. Mobil itu melesat begitu saja meninggalkan tukang sayur yang gerobaknya jatuh. Amam yang bersebelahan dengan Pak Wawan langsung menyeletuk, "Kurang ajar banget mobilnya. Pak, kita berhenti dulu ya tolongin gerobak di depan. Mobilnya nggak bertanggung jawab." "Nggak usah," jawab Pak Wawan santai. "Kok gitu, sih, Pak? Kasihan tuh." Pak Wawan tersenyum saja. Mereka sudah melewati tukang sayur yang jatuh, sedangkan Amam masih menoleh ke belakang. Begitu berhasil melewati genangan, Pak Wawan berhenti. "Kok berhenti, Pak?" "Lihat mobil itu!" Amam melihat mobil tadi yang menabrak gerobak sayur. Pengendaranya turun dari mobil dengan celana menyingsing. Dia menghampiri tukang sayur tadi dan meminta maaf. Dia juga memberikan sejumlah uang ganti rugi. "Bisa menyimpulkan sesuatu?" tanya Pak Wawan. Amam terdiam. "A-apa ya Pak." Pak Wawan tersenyum lagi. "Jangan menilai orang hanya dari depan, dari sampul, atau dari sisi yang jelek-jeleknya aja. Hari ini kamu berbuat salah, dianggap buruk sama orang. Besok, mungkin kamu udah menebus kesalahan kamu. Kayak pengendara mobil itu. Dia bukannya nggak bertanggung jawab. Dia hanya ingin menyelamatkan mobilnya baru menolong tukang sayur tadi. Saya rasa kamu memahaminya." Amam bungkam. "Sekarang kita lanjut, ya?" Pak Wawan kembali melajukan motornya, melewati beberapa kali genangan lagi hingga tiba di rumah. *** Sonya diam sepanjang perjalanan di mobil tadi. Adrian menyebalkan. Hujan sama sekali tak mempan meluluhkan Sonya. Hingga tiba di sekolah, Sonya masih dingin. Kali ini, Adrian mulai ketar-ketir. Dia sadar bahwa marahnya Sonya bukan hal yang biasa lagi. Marahnya Sonya adalah kecewa dan ketidakpercayaan. Saat berada di kelas, Adrian menghampiri Sonya lagi. "Nya, maafin aku. Tolong jangan gini." Sonya mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas dan meletakkannya ke atas meja. Tak sesenti pun wajahnya melirik Adrian. Ajeng yang duduk di sebelah Sonya ikut merasa deg-degan. Beberapa kali ia menyenggol tangan Sonya. "Nya, kasihan tuh." Sonya tetap diam. Merasa buntu, Adrian menghampiri Ajeng. "Jeng, tukeran duduk sebentar boleh?" Ajeng ragu-ragu untuk mengiyakan, takut Sonya marah. Tetapi, ia kasihan melihat Adrian, akhirnya ia mengangguk dan berdiri. Adrian pun duduk di sebelah Sonya. Baru saja pantatnya jejak di bangku, Sonya sudah langsung hendak berdiri. Adrian refleks menahan tangan Sonya. Seketika itu juga Sonya menepisnya. Matanya menyalang. "Gak usah pegang-pegang, ya?! Aku nggak semudah itu!" "Sonya, plis." "Lo mau ngomong apa sih? Kalau emang penting banget, gue tunggu pulang sekolah di halaman tengah. Sekarang nggak usah ganggu gue dulu. Lo paham kan bahasa manusia? Nggak usah sok asyik." Teman-teman sekelas Sonya yang sudah datang ikut merasa cemas melihat Sonya marah. Sonya memang perempuan yang agak keras makanya ia disegani di sekolah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN