Meja Makan

1591 Kata
Sebenarnya Amam bingung mengapa Pak Wawan pulang lebih awal hari ini. Namun, kebingungannya terjawab saat ia tiba di rumah Pak Wawan. Beberapa buah motor terparkir di halaman, beberapa pasang sandal terhampar di depan teras rumah. Amam mendadak ciut. Ada yang aneh. Sebelum Amam bertanya lebih lanjut, Pak Wawan mulai menjelaskan, "Nayla dipinang oleh seorang laki-laki. Saya sebenarnya antara siap dan tidak siap mengingat Nayla masih SMA. Baru akan naik kelas dua. Bagaimana nasib sekolahnya nanti? Tetapi laki-laki itu bilang dia hanya akan melamar Nayla dulu, membuat ikatan, dia akan menikahi Nayla setelah usianya legal. Saya masih tidak setuju. Jarak khitbah ke pernikahan terlalu jauh, kan, Mam. Itu nggak pantas. Tapi ... Nayla mau, nggak keberatan. Walau pun saya sadar ada yang salah, tapi daripada membiarkan Nayla pacaran, ini jelas lebih baik." Amam agak kaget mendengar itu. Menikah? Tidak semudah itu menikah di usia muda. Orang-orang hanya melihat gampangnya. Naluri alami Amam pun menjawab, "Menikah di usia muda memang menyenangkan, Pak. Tetapi berbahaya. Kayak kita naik arung jeram, seru, sih, tapi kalau kita nggak ada persiapan, nggak bisa berenang, punya sakit jantung dan lainnya, itu berisiko." Sementara di dalam rumah Pak Wawan, aroma rempah mulai menguar. Aroma ketumbar sangrai, kayu manis bubuk, cabe, giling, dan apa pun. Pukul setengah sepuluh pagi, otak Pak Wawan seperti disentil oleh perkataan Amam. "Tapi saya menikah di usia muda juga, Amam." "Semuda apa, Pak?" "Saat umur saya 20 tahun, istri saya 19 tahun." "Umur Nayla sekarang berapa dan calon suaminya berapa?" Percakapan itu membuat kaki mereka tertahan di teras. "Calon suaminya berumur 18 tahun, anak kiyai di pesantren Nayla dulu." Pak Wawan tentu tidak setuju anaknya akan menikah di usia muda. Tetapi istrinya bilang, anak kiyai itu ilmu agamanya cukup. Seorang hafidz Qur'an tiga puluh juz sejak umur 16 tahun, belajar banyak kitab, sekarang menempuh pendidikan di Yaman. Nayla juga tidak keberatan karena bagi perempuan seperti Nayla, keistimewaan seorang perempuan adalah dengan menjadi istri bagi suami dan ibu untuk anaknya nanti. "Saya nggak tahu, sih, Pak, bagaimana ke depannya. Jika memang harus menikah muda, bagaimana sekolahnya Nayla?" "Dia akan ikut paket C, Mam." "Bukannya hal semacam itu bakalan merenggut masa mudanya?" Pak Wawan menggeleng. Separuh karena menolak bahwa menikah merenggut masa muda, separuh lagi menolak bahwa pemikirannya sejalan dengan Amam. "Doakan saja, Amam. Ayo masuk ke dalam, makan siang dulu, Ummi udah nungguin kamu." Percakapan ditutup sementara. Meski imbasnya masih tetap dirasakan hingga makan siang selesai. *** Adrian menunggu Sonya di halaman belakang usai pulang sekolah. Setengah jam, Sonya belum datang. Sekolah mulai sepi. Sebagian besar murid sudah bergerak ke tempat parkir, mengambil kendaraannya. Ada juga yang menunggu jemputan di depan gerbang, sambil meminum es cekek dari abang-abang yang jualan ilegal—ilegal karena sekolah sebenarnya tidak mengizinkan ada yang jualan di depan gerbang. Namun, biarlah. Itu mereka sedang mencari rezeki. Guru-guru sudah malas menasihati anak-anak itu agar tidak jajan sembarangan. Mana mempan lagi, mereka bukan anak kecil yang nurut begitu diberi tahu. Siang ini cuaca justru panas. Genangan bekas hujan masih becek, saluran-saluran tersumbat itu membuat sebagian titik kebanjiran hingga mata kaki. Adrian menggoyang-goyangkan kakinya, berdebar menunggu Sonya. Lima menit lagi berlalu, barulah Adrian melihat kedatangan Sonya. Tatapan datar itu mengintimidasinya bahkan dari jarak 10 meter. Adrian mengembuskan napas. 'Jangan sok asyik.' "Buruan!" cecar Sonya. "Nggak ada waktu nih." Dicecar begitu Adrian benar-benar kikuk. Dia bingung harus berbuat apa. "Aku cuma mau minta maaf." "Minta maaf buat apa? Emang kamu salah ke siapa?" Adrian menggaruk tengkuknya. Bahaya, dia jadi gentar. "Ke kamu, Nya." "Aku nggak ngerasa kamu buat salah ke aku." Adrian semakin bingung. "Terus kenapa marah ke aku? Kalau aku nggak salah kamu nggak mungkin marah." "Aku nggak bilang kamu nggak ada salah." "Hah, maksudnya?" Adrian bingung dengan ucapan Sonya yang tarik ulur. Jadi maksud Sonya, Adrian bersalah atau tidak? Mengapa begini jadinya? "Kamu salah tapi bukan ke aku. Kamu salah ke Allah dan dirimu sendiri. Aku nggak suka sama cowok yang nggak malu pegang tangan cewek di tempat umum. Apalagi itu kamu. Jangankan kamu, Adrian. Abangku aja susah buat aku maafin saat dia berbuat salah ke seorang cewek. Aku kecewa karena laki-laki yang aku kira beda, ternyata sama aja. Kamu nggak salah ke aku, kita cuma teman. Ekspektasi aku yang terlalu menyanjung kamu sampai aku merasa berdosa ngelihat kamu kayak gitu." Adrian terdiam. "Bukan hak aku buat menghakimi kamu, apalagi marah. Aku cuma lagi ilfil sama kamu. Doain aja suasana hati aku membaik dan melupakan hal itu. Cuma ini yang perlu aku sampaikan. Kamu sendiri mau bilang apa?" Adrian menggeleng. "Aku refleks doang, Sonya. Aku bukan cowok alim sesuai ekspektasi kamu. Nggak pacaran bukan berarti aku tahu ilmu agama. Aku masih fakir ilmu. Maafkan kesempitan ilmuku yang membuat kamu kecewa. Aku bakalan perbaiki diri, bukan demi kamu, tapi karena Tuhan kita yang nyuruh. Aku terlalu terbawa euforia bertemu dengan teman lama, sampai aku nggak sadar kita udah besar." Sonya mengangguk. Dia mungkin bilang bahwa dia hanya ilfil dan kecewa dengan sikap Adrian. Tetapi di luar itu semua, sebenarnya Sonya cemburu. Dia hanya menolak dan menutupi fakta itu. *** Jam pulang sekolah, Amam juga pulang dari rumah Pak Wawan. Tidak ada percakapan yang serius-serius amat di sana. Amam tidak mau merusak suasana hati orang-orang di rumah itu. Dia memilih diam, sebagaimana apa yang dibisikkan oleh Pak Wawan. Pukul tiga sore, Amam sudah tiba di rumah. Seira menunggu di teras, duduk di kursi plastik, menekuk wajahnya. Tadi pagi Rian menanyakan kondisi Amam dan Seira akhirnya tahu Amam diskorsing. Namun, alih-alih pulang ke rumah, lelaki itu justru menghilang, pergi entah ke mana. Matahari bersinar terik, menguras peluh di kening Amam. "Assalamualaikum." Seira menyalimi tangan Amam, menyaliminya dengan takzim. "Waalaikumussalam. Dari mana aja?" Dari mana aja? Pertanyaan sederhana itu berhasil membuat Amam salah tingkah. Dia tidak terbiasa berbohong, dia lebih baik diam dan menyimpan semua rahasia daripada harus berbicara yang tidak sesuai fakta. Amam menggaruk tengkuknya. "Bingung, ya? Abis diskorsing bukannya pulang malah pergi? Oohh, kamu narik ojek?" Sialnya dia juga tidak menarik satu pelanggan pun hari ini. Amam merasa terkepung. "Nggak juga? Terus ke mana aja?" "A-aku ke rumah Pak Wawan." Seira bukannya tidak tahu Pak Wawan adalah ayah dari Nayla. Awalnya memang belum, tetapi dia tidak sebodoh itu untuk tidak tahu apa-apa hingga saat ini. "Ada apa di sana?" Amam tidak mau perkaranya jadi sulit, dia memutuskan jujur. "Nayla mau lamaran, Seira. Aku diundang untuk melihat persiapan di sana. Nggak ada yang perlu kamu khawatirkan." "Mas, aku percaya sama kamu. Kamu tahu itu. Tapi kenapa kamu nggak mau bilang, sih? Kenapa kamu selalu diem kalau ada masalah. Hari ini kamu diskorsing, kamu ngapain aja di sekolah? Aku bilang jangan telat datangnya, jangan aneh-aneh. Aku udah ngalah buat nggak sekolah dulu biar kamu bisa sekolah. Kemarin ada perempuan murahan itu yang ternyata ngegoda kamu, kamu nggak bilang juga ke aku. Aku nggak tahu apa-apa lho kalau aku nggak nyari tahu. Apa sih susahnya cerita, Mas? Nggak percaya sama aku?" Amam menggeleng patah-patah. "Aku percaya, aku cuma nggak mau kamu khawatir." "Nyatanya aku khawatir. Tolong, Mas, cerita. Aku kalau ada apa-apa selalu cerita. Kenapa sih cowok selalu sok kuat ngelewatin hidupnya sendiri? Aku istri kamu." Amam memegang pundak istrinya, menatap bola mata di hadapannya, teduh. "Maafin aku, Seira. Aku janji akan selalu cerita ke kamu apa pun yang aku lewati setiap hari. Jangan marah lagi, ya?" Amam mencolek hidung istrinya. "Ya udah, makan dulu. Udah aku masakin." Keduanya lantas masuk ke dalam rumah, menutup percakapan mereka di teras. *** Amam sudah berjanji akan menghubungi orang tuanya terkait rumah orang tua Seira yang akan dijual. Topik itulah yang kemudian siang ini mengganti topik sebelumnya. Di meja makan, Amam tidak mengambil banyak makanan. Dia takut kekenyangan. Meski begitu, masakan yang dibuat Seira tetap dimakan dengan lahap. "Kamu udah ngehubungin Papa sama Mama kamu terkait rumah yang mau dijual orang tuaku?" Amam menggeleng. "Belom, Sei. Mungkin nanti malam abis ngantar kamu ke dokter, aku mau mampir ke Papa dulu. Kamu mau ikut?" Rencananya malam ini Seira akan cek kehamilan. Sudah memasuki minggu kedua belas. Seira mengangguk setelah menenggak air putih di gelas. "Nggak pa-pa, aku ikut. Masa kamu sendirian yang bilang, kan ini buat orang tuaku juga." "Baguslah," sahut Amam. "Kamu masih utang penjelasan kenapa bisa diskorsing." Pembahasan tentang Amam yang tidak mau bercerita tentang masalah yang dihadapinya memang sudah dianggap selesai oleh Seira, tetapi perkara Amam diskorsing masih mengganggu pikirannya. "Berantem, ya?" tebak Seira. Amam mengangguk, tidak mengelak sama sekali. "Jack resek. Dia bikin aku terpeleset." Dia berdiri, menunjukkan bagian belakang pakaiannya yang kotor. Seira baru menyadari hal itu sekarang, dia agak terkejut. "Loh, kok bisa? Ada yang luka nggak? Atau sakit?" Amam menggeleng. "Nggak kok. Aku kan kuat," cengir Amam. "Jack udah gila, Sei. Nggak waras. Makin hari makin uring-uringan, aku curiga dia pemakai deh." "Maksud kamu dia sakaw?" Amam mengangguk, dia sudah duduk di kursinya sekarang. "Kayaknya, tapi nggak tahu juga sih. Udah lah, nggak usah bahas si Jack. Nggak ada gunanya. Oh iya, yang kontrak kamu sama Sweatery Cake gimana Sei? Ada progres? Kok malah anyep, sih. Padahal kemarin kan udah teken kontrak?" "Iya udah. Tapi mereka ada pembukaan cabang baru, Mam. Mereka udah ngabarin kok, lusa aku mulai kerja. Mereka udah minta maaf juga, jadinya aku yang ngerasa bersalah." "Baguslah, kalau begitu. Tapi kamu janji jangan kecapekan ya? Malam ini pas ke dokter semua keluhan kamu diceritain aja. Mau kamu susah tidur, susah BAB, susah berdiri, apa aja bilang ya nanti. Biar kamu sama anak kita sehat." "Iya Papa bawel," jawab Seira. Dia tersenyum begitu manis, membuat Amam ikutan tersenyum lebar. Kehidupan keluarga kecil mereka tampak bahagia. Setidaknya itu yang terlibat di fase awal pernikahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN