Trimester Kedua

1495 Kata
"Nggak lucu, deh, sikap lo ke Adrian." Ajeng diberi kesempatan main lagi bersama Sonya. Tapi kali ini dia yang ke rumah teman baiknya itu. "Lo cemburu, Nya. Ngaku aja deh." "Enggak!" Sonya menggeleng, menutup wajahnya dengan guling. "Gue tuh cuma ... apa ya namanya. Kecewa." Ajeng tidak bisa menerima jawaban dari Sonya barusan. Tidak masuk akal. Kecewa apanya coba? Pacaran, bukan. Mereka baru akrab beberapa bulan, atau beberapa minggu. Sonya berharap Adrian tipe laki-laki seperti apa? Ajeng memutuskan dia, ikut bersandar di kepala kasur milik Sonya. Dia meraih remote televisi dan membuka aplikasi Netflix di sana. "Nonton aja deh, Nya." "Mau makan nggak?" Sonya berbaik hati memberikan penawaran. Lebih tepatnya sogokan agar Ajeng melupakan perkara dia dan Adrian. Sebenarnya di dalam hati yang terdalam, dia sadar sikapnya berlebihan. Menggelikan. Sekarang justru dia yang merasa aneh dengan dirinya sendiri. Tapi biarlah, Adrian hujan poros kehidupannya. Mengapa jadi dia yang perlu repot mikirin hal begituan? "Sweatery Cake dong. Mau dessert box." "Gue cari, ya. Eh, eh, ada promo lho, Jeng. Dari 65 ribu jadi 35 ribu. Hari ini hari apa sih?" "Senin, Nya. Itu lo pakai putih abu ya masa hari Jumat." Sonya manggut-manggut. "Mau rasa apa?" "Red Velvet. Lo rasa apa? Eh ini lo judulnya traktir apa gimana, ni?" "Gue traktir." Sonya masih melihat menu-menu di aplikasi. "Gue mau cokelat cashew deh. Kayaknya baru nggak sih?" "Itu base-nya kue cokelat dikasih ganache cokelat cashew, ya? Sonya menggeleng. "Base-nya cheese cake, nah ganache-nya cokelat dikasih mete. Menarik sih, tapi nabrak nggak sih rasanya?" Ajeng sibuk memilih serial yang seru untuk ditonton. "Coba aja, Nya." Dia menatap Sonya sekilas. "Nanti gue minta." Sonya berdehem. Nanti palingan dia juga bakalan minta kue punya Ajeng. Barteran lah. Usai menyelesaikan transaksi, Sonya ikut menyenderkan kepalanya ke kepala kasur. Sekarang pukul setengah delapan malam, mereka baru saja salat isya bersamaan. Ponsel Sonya kemudian berdenting. Sonya, ada Mama atau Papa, nggak? Itu pesan dari Amam. Sonya seketika menyipitkan mata. Jarang-jarang abangnya itu menanyakan mama dan papa. Ada apa gerangan? Mama ke Surabaya, kemarin pagi berangkat sama pacarnya. Kalau papa kayaknya ada sih. Kenapa Bang? Kangen lo? Kagak. Ada urusan gue. Jam sembilan-an gue ke rumah ya, bilangin ke papa sana. Entar dia pergi. Males. Gue bawain martabak deh. Sonya terdiam sebentar. Waduh, bisa-bisa gendut dia malam ini. Tapi... ya sudah lah. Terima saja. Iya gue bilangin. Lo lagi di mana? Di rumah. Mau ke dokter kandungan. Periksa istri gue. Iya deh yang punya istri. Semoga ponakan gue sehat-sehat ya. Iya aamiin. Udah ya, mau berangkat dulu. Ok. Hati-hati di jalan. Amam tidak membalas pesan itu lagi, tetapi Sonya tidak marah. Ia merasa maklum. Beberapa saat setelah itu, ojol yang mengantar makanan menelepon. "Ih pakai acara nelepon segala lagi, males banget angkat telepon." "Angkat aja, Nya. Buruan." Sonya berdehem, lalu mengangkat telepon itu. "Assalamualaikum." Sonya refleks mengerutkan dahinya. Tumben-tumbenan ojol menelepon mengucapkan salam. Biasanya 'halo', atau 'maaf Kak ganggu." Atau apa lah itu sejenisnya. "Waalaikumussalam." "Saya di bawah," kata ojol itu. "I-iya, Mas saya turun." Sonya buru-buru meraih jilbab langsung di atas tempat tidur lalu berlarian keluar kamar dan turun melalui anak tangga. Begitu tiba di teras, Sonya bingung karena tidak berhasil menemukan ojol yang meneleponnya. Sonya melangkahkan kaki, turun melalui dua anak tangga terasnya tanpa sandal. Ia memanjangkan leher, memeriksa setiap sudut pekarangan rumah. Begitu matanya bergerak ke arah kiri, dia melihat motor merah. Sonya langsung tahu itu motor siapa. "Keluar lo! Ngapain ke sini?" Terdengar suara langkah kaki, tetapi bukan dari arah motor itu berada. Lalu tiba-tiba ... "Nganterin makanan kamu." Adrian menepuk pundak Sonya, dan itu membuat perempuan tersebut terperanjat. "Astaghfirullah, lo ngapain muncul dari belakang." "Maaf Sonya, aku nggak maksud ganggu. Aku cuma pengen ketemu." Adrian menenteng kantong makanan di tangan kirinya. "Ojolnya mana?" Alih-alih mempertanyakan maksud keberadaan Adrian lebih lanjut, Sonya justru mempertanyakan keberadaan tukang ojek online yang membelikannya makanan. "Aku suruh balik." "Terus hapenya?" "Aku balikin lah. Barusan balik ojolnya." "Kenapa disuruh balik?" "Sonya, itu nggak penting. Yang penting aku mau ngomong lagi sama kamu." Sonya memijat tukang hidungnya yang terasa pegal. "Keras kepala banget ya cowok satu ini. Lo mau apa sih, Yan? Gue nggak marah lagi, gue maafin. Cukup kan?" Adrian menggeleng. "Enggak cukup. Aku mau kita kayak dulu." "Emang dulu kita kayak gimana? Kita kan cuma temanan." Sebenarnya Adrian merasakan agak sesak saat Sonya bilang demikian. Tapi mau bagaimana lagi, itu lah kenyataannya. "Aku nggak mau canggung sama kamu." Sonya menggeleng. "Lo pulang dulu deh, besok-besok gue bakalan baik lagi kok. Tapi belom sekarang." "Nya?" "Pulang, Yan. Jangan sampai gue usir paksa. Ini udah malam, nggak enak kalau dilihatin tetangga." Sonya bahkan sudah melupakan sapaan akrab aku-kamu yang kemarin sempat ia gunakan. Adrian mengembuskan napas kecewa. Dia lalu menyerahkan kantong makanan milik Sonya. "Cek saldo e-wallet kamu. Jangan ditransfer balik kalau kamu masih menghargai aku. Assalamualaikum." Sonya melihat Adrian berbalik badan. Aroma parfumnya menguar dari tengkuknya. Bomber abu yang dia kenakan, menghilang bersama motor dan pemiliknya. Sonya tahu dia keterlaluan. *** Memasuki bulan ketiga kehamilan, Seira belum merasakan gejala khas ibu hamil seperti mual dan muntah-muntah. Dia hanya sering merasakan sakit pinggang. Dokter Keisa bilang Seira jangan terlalu banyak bergerak, harus minum air putih yang cukup setiap hari, juga makanan dengan gizi seimbang. Dokter Keisa juga bilang Seira harus mencukupkan nutrisi dengan meminum s**u dengan asam folat yang cukup. Amam langsung menceletuk, "Dia mah, Dok, sukanya s**u kotak di minimarket." Dokter Keisa tertawa. Anak muda seperti mereka memang butuh pengawalan lebih dari menghadapi kehamilan. "Tolong dijaga emosinya, ya, Mas Amam. Seira ini masih sangat muda usianya, dia belum benar-benar siap mengandung. Jangan sampai kelelahan, tapi jangan terlalu banyak berbaring juga. Sesekali dibawa jalan santai, biar ibu dan bayinya sama-sama sehat." Amam menganggukkan kepala. Beberapa detik kemudian, terlintas pertanyaan yang menggelitik di kepala Amam. "Emmm, Dokter, mau tanya." "Iya Mas Amam, silakan." Amam agak malu-malu menanyakannya. Dia kesulitan menyusun kalimat yang baik dan benar. Seira di sebelahnya menatap suaminya itu penuh kecurigaan. Amam menggaruk tengkuknya. "Itu, Dok. Berhubungan badan masih tetap bisa rutin, kan?" Seketika itu juga Seira merasa tersedak ludahnya sendiri. Dugaannya tidak meleset. Bisa-bisanya Amam menanyakan hal semacam itu. Sontak Seira menginjak kaki Amam. "Eh nanya doang, kok, Seira. Daripada salah kan? Bener kan, Dok?" Dokter Keisa terkekeh, kemudian mengangguk. "Iya, itu pertanyaan yang bagus. Memangnya ... sebelum ini kalian masih sering berhubungan badan?" Saat itu muka Amam memerah. Dari pertanyaan Dokter Keisa sepertinya ada yang salah. "Iya, Dok. Tiga kali seminggu—" Seira menginjak kaki Amam lagi. Dia merasa malu. Kalau wajah Amam memerah, saat ini Seira merasa wajahnya sudah hilang. Dokter Keisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya trimester pertama kehamilan, dianjurkan tidak berhubungan seksual lebih dahulu karena di usia segitu masih rentan. Tetapi melihat kehamilan Seira, dia sehat-sehat aja, kok. Sekarang juga udah masuk trimester kedua kehamilan, Seira baik-baik aja Mas Amam. Tapi ... lain kali kalau misalnya hamil anak kedua atau anak ketiga, jangan lupa konsultasi dulu ke dokter. Biasanya di awal kehamilan, ibu akan merasakan kontraksi sesaat pacsa berhubungan badan, ini tidak terlalu berbahaya sebenarnya. Lagi-lagi tergantung kondisi kehamilan. Memasukkan benda asing ke dalam saluran v*gina agak berisiko, Mas Amam." Amam mengangguk. "Jadi kalau udah masuk trimester kedua, tiap hari juga nggak pa-pa, ya, Dok?" Seketika itu Seira mencubit p****t Amam dan berseru tertahan. "Amam!" *** Bahkan hingga keluar klinik wajah Seira masih memerah. Dia tidak marah pada Amam, dia hanya malu. Malam ini cerah. Bulan sabit bersinar terang benderang, cahayanya menimpa pucuk-pucuk bangunan. Begitu kendaraan mereka meluncur di jalan raya, angin menerpa wajah. Seira memeluk Amam dari belakang. Wajahnya yang semula terasa panas mulai menghangat, dan perlahan beranjak normal. "Beli martabak, ya?" seru Amam dari depan. Seira mengeluarkan jempolnya dari dekapannya di depan perut Amam. Amam melepas tangan kirinya dari stang, lalu meremas tangan Seira yang memeluknya. Dia tersenyum di sepanjang perjalanan. Ramainya kota Jakarta tidak berhasil menghancurkan suasana intim mereka. Amam mencintai Seira, begitu pula sebaliknya. Tiba di kedai martabak khas Tegal yang ada di pinggir jalan, Amam pun turun dan menunggu antrean. Seira tetap duduk di atas motor sambil menatap suaminya. Berkali-kali Amam tersipu melihat wajah Seira yang menurutnya imut. Apalagi saat wanita itu tersenyum, jantung Amam seperti dikembang kempiskan. Amam butuh menunggu tiga antrean hingga gilirannya tiba. "Martabak telor biasa, satu. Martabak keju s**u satu, tapi susunya jangan terlalu banyak, ya, Mas." "Siap, Mas," sahut penjual martabak. Melihat suaminya sendirian menunggu, Seira akhirnya turun dari motor dan menyusulnya. Amam langsung merangkul pundak istrinya itu. Bapak-bapak di belakangnya tiba-tiba menceletuk, "Anak zaman sekarang, pakaiannya doang syar'i, tapi nggak malu umbar zina. Bikin aib aja." Seira mendengar dengan jelas ungkapan itu. Hatinya mencelus. Meski dia dan Amam sudah menjadi suami istri sekarang, tetapi sedikitpun itu tidak menyangkal bahwa mereka pernah berzina. Juga tidak menyangkal bahwa mereka pernah menjadi aib bagi keluarga. Itu seperti mengorek luka lama Seira yang belum sembuh sempurna. Amam yang menyadari hal itu, langsung merangkul Seira dengan erat. "Istriku cantik banget, sih. Sampai-sampai dikira belum menikah. Aku suaminya jadi minder." Bapak-bapak di belakang itu langsung membuang mukanya dan merogoh saku celananya, pura-pura tidak tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN