Sonya kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Bahkan dia terduduk lemas di kasur begitu sampai.
Ajeng yang sudah menemukan film di Netflix jadinya kebingungan. "Lo kenapa, Nya? Kesambet?"
Sonya tetap diam. Dia meletakkan makanan ke atas nakas, lalu naik ke atas kasur, membalikkan badannya untuk membelakangi Ajeng, kemudian menarik selimutnya. Ajeng kebingungan dengan apa yang tengah terjadi.
"Sonya, kenapa? Tadi lo baik-baik aja."
"Gue bingung," jawab Sonya. "Kayaknya apa yang lo bilang bener, gue bukan cuma kecewa sama Adrian karena pegangan tangan. Gue cemburu. Gue cemburu karena gue nggak bisa ada di posisi cewek itu untuk bikin Adrian ketawa lepas. Gue nggak bisa jadi pacar Adrian, berduaan sama Adrian, pegangan tangan. Gue lupa kalau Adrian sama kayak cowok lain, butuh sesuatu yang jelas terkait hubungan. Butuh pacar, bukan temen ngobrol doang kayak gue. Tapi gue nggak bisa ngasih itu, Amam udah ngasih peringatan dan gue juga komitmen sama Allah untuk ngajaga diri. Gue kayaknya harus ngebiarin Adrian dapat cewek lain, biar dia bisa bebas mau ngapain aja. Bukan kayak sama gue yang serba nggak boleh."
Ajeng menggelengkan kepalanya meski Sonya tidak melihat. Ajeng juga tidak tahu apa alasan Sonya tiba-tiba bersikap seperti ini. "Kalau Adrian cowok baik dia akan menghargai keputusan lo, dan dia akan menjadi cowok yang baik juga buat lo. Tapi, kalau Adrian emang maunya cari cewek untuk jadi pacar doang, ya artinya dia belum cukup baik buat lo. Nggak usah dipikirkan, Sonya. Kita masih SMA. Astaga, bukan waktunya mikirin masalah percintaan."
Sonya membenarkan perkataan Ajeng. Sikapnya berlebihan. Tetapi itu karena Sonya belum terbiasa. Dia tidak pernah menemukan laki-laki yang membuatnya nyaman seperti Adrian. Perkara ini menjadi sulit karena melibatkan perasaan, dan komitmennya kepada Tuhan. Pokok penting yang dipikirkan Sonya adalah Adrian ingin pacaran tetapi Sonya tidak. Mau sampai kapan Adrian bertahan dalam hubungan tanpa status seperti ini?
"Udah, ah. Ayo makan. Terlanjur masih dingin."
Sonya kemudian mengeluarkan kakinya dari selimut dan bangkit duduk. Dia termenung sebentar, lantas mengusap wajahnya. "Ya udah, mau nonton apa jadinya?"
"Ini gue udah nemu film bagus." Ajeng menyerahkan box yang dipesan oleh Ajeng berupa cheesecake dan cokelat ganache bertabur kacang mete. "365 Dine." Ajeng menyengir di ujung kalimatnya.
***
Sonya menolak mentah-mentah film yang dipilih oleh Ajeng. Astaga, itu bukan tontonan legal bagi anak umur 16 tahun, melihat posternya saja Sonya merinding. Ia langsung menimpuk muka Ajeng dengan bantal. "Jorok ih!"
"Ya mana gue tahu filmnya begituan. Gue search di google doang, Sonya!!!" Ajeng melempar balik bantal itu.
Perang bantal nyaris meletus andaikan suara ketukan pintu kamar Sonya tidak mengganggu.
"Sonya!"
Telinga Sonya berdiri. Dia melupakan sesuatu. Tadi Amam berpesan untuk menyampaikan ke Artar bahwa dia akan rumah. Amam ingin bertemu dengan Artar. Namun, Sonya lupa. Dia refleks menepuk keningnya.
"Iya, Bang." Sonya bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu kamar.
Figur laki-laki dengan kemeja flanel biru dan kaos dalam putih, celana cino longgar, serta gelang hitam di tangan langsung tampak di depan wajahnya. Lelaki itu bersama perempuan cantik dengan baju kaos abu-abu dan rok cokelat kotak-kotak, dengan jilbab panjang warna senada bajunya. Itu Amam dan Seira yang baru datang.
Sonya meneguk ludahnya dan mengusap matanya yang masih agak memerah.
Melihat kondisi adiknya, Amam tidak langsung bertanya hal inti terkait keberadaan Artar. Dia malah bertanya, "Siapa yang bikin lo nangis?"
Sonya menggeleng. "Nggak ada, kok."
"Lo bohong awas aja, ya. Gue nggak terima saudara gue nangis kayak begini."
"Gue abis nonton film sama Ajeng. Ya kan, Jeng?" teriak Sonya, meminta kesepakatan mendadak kepada Ajeng.
"Iya!" sahut Ajeng.
Beruntung Amam langsung percaya kepada adiknya. Dia tidak memperpanjang masalah lagi. "Papa ada, kan, Nya?"
Sonya terdiam sejenak. Matanya mengedar untuk memeriksa kilat tanda-tanda keberadaan Artar di lantai bawah. Kebetulan kamar Sonya ada di lantai dua, tepat di depan kamarnya ada pagar pembatas yang terhubung dengan anak tangga menuju lantai bawah. Dari posisinya berdiri sekarang, dia bisa melihat keadaan lantai bawah khususnya area ruang tamu. Dia berhasil melihat kunci mobil di atas meja, tandanya Artar belum ke mana-mana.
"Ada, kok."
"Gue tahu, lo lupa bilang ke Papa." Amam menyodorkan kantong plastik berisi satu kotak martabak telur, satu kantong yang lain ada di tangan Seira, berisi martabak manis. "Gue udah ketemu Papa di lantai bawah. Parah lo, nggak amanah."
"Eh, nggak gitu, Bang. Gue baru aja mau nyamperin Papa. Ternyata duluan lo yang datang." Sonya menerima bungkusan itu. "Maaf, ya, Bang, Kak Seira?"
"Halah gaya lo gitu mulu. Ya udah sana masuk, kasih tu si Ajeng, pasti nggak lo beliin makan dari tadi. Anak orang masuk angin, berabe urusannya."
Sonya hanya mengangguk meski dalam hati rada-rada tidak terima juga. Enak saja Amam bilang begitu, Ajeng sekarang justru lagi asyik menyantap dessert box yang sudah ia belikan. Namun, karena tidak mau memperpanjang keadaan dia hanya pura-pura mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
Di lantai satu Artar baru saja berganti pakaian. Tadi, saat Amam datang, Artar tengah menuju teras rumah untuk duduk santai dan mengusap rokok. Melihat Amam dan Seira datang dia berusaha menyambut anak dan menantunya itu. Saat itu lah Amam menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan papanya.
***
Sembari menunggu Seira menyiapkan piring untuk tempat martabak, dan membuatkan kopi hangat untuk suami dan mertuanya, Amam menyiapkan mental untuk menyampaikan pokok bahasannya.
"Jadi maksud aku dan istri aku datang ke sini, aku ingin minta bantuan Papa." Itu prolog terbaik yang bisa Amam keluarkan dari mulutnya.
"Bantuan apa?" respon Artar lugas, tanpa banyak basa-basi.
Ruangan tamu yang besar itu menyumbangkan rasa dingin kulit Amam. Dinding kaca yang mendominasi bagian luar rumah mengirimkan suhu rendah dari luar ke dalam rumah. Kain gorden dibiarkan terbuka, diikat oleh tali penahan. Saat ini posisi Amam dan Artar berhadapan. Mereka duduk di sofa merah dengan dibatasi meja kaca setinggi 60 cm.
Sementara itu, di dapur, Seira agak kebingungan mencari gelas, gula, dan kopi. Dia tidak pernah ke sini sebelumnya. Ini terasa sangat asing. "Ya Allah, ini rumah gede banget. Gue bingung sendiri." Butuh waktu setidaknya lima menit untuk Seira bisa mempelajari dapur ini.
Kembali ke ruang tamu. Amam melanjutkan bahasannya. Dia menceritakan secara singkat apa yang menimpa keluarga Seira. Mulai dari kantor konsultan yang terbakar, tuntutan ganti rugi, uang asuransi yang terkendala pencairannya, belum lagi masalah Seira yang hamil di luar nikah, menjadi beban tambahan bagi Acel dan Sila, orang tua Seira.
"Rumah itu rencananya mau dijual. Tapi kalau dijual ke orang lain, udah jelas kita nggak punya kesempatan untuk sekadar berkunjung ke rumah itu lagi."
Artar menimbang-nimbang, tatapannya agak dingin. "Jadi maksud kamu apa? Papa yang beli rumahnya?"
Amam mengangguk patah-patah. "Kalau Papa nggak keberatan."
"Apa bedanya kalau Papa yang beli rumahnya? Papa pebisnis. Kalau rumah itu sudah jadi milik Papa ya sama aja, kalian nggak punya hak lagi. Terserah Papa dong mau ngapain rumah itu."
Seira datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring martabak. "Kopinya, Pa."
"Iya terimakasih," sahut Artar sekilas. "Kamu berharap kalau Papa yang beli rumah itu, rumahnya bisa balik jadi milik kalian lagi?" Artar menggeleng. "Nggak bisa. Bahkan kalau Papa mau robohkan rumah itu, membangun rumah makan baru, atau minimarket, kalian juga tetap tidak punya hak apa-apa terhadap rumah itu."
"Pa tolonglah. Papa, kan bisa mengontrakkan rumah itu. Kalau beberapa tahun ke depan kondisi orang tua Seira membaik, rumah itu bisa kami beli lagi, Pa. Kalau orang lain yang beli bakalan repot."
Artar terkekeh dengan kesan merendahkan. "Ini, sih, namanya mau pinjem uang. Kedoknya aja jual rumah."
Harga diri Seira terasa sedikit terbanting mendengar perkataan Acel. "Beda lah, Pa," sahut Seira. "Kalau pinjam uang, Papa nggak akan dapat keuntungan sama sekali. Kalau jual rumah, kan, Papa bisa berinvestasi untuk memperoleh keuntungan. Baru nanti kami beli lagi rumahnya."
"Keuntungan apa? Memangnya kalian mau kalau rumah itu saya ubah jadi ladang bisnis baru? Kalian cuma berani kalau rumah itu disewakan. Mau berapa tahun, hah? Keburu saya meninggal."
"Tapi, Pa—"
Artar memotong perkataan Seira. "Udah lah, saya kasih cek aja satu miliar, balikinnya kapan-kapan. Itu rumah terserah kalian mau diapakan. Nggak usah sok-sok berbisnis sama saya. Kalian ini masih bau kencur, nggak paham apa-apa. Kalau emang butuh uang ya to the point saya bilang lagi butuh uang. Pakai acara jual rumah segala."
Amam menatap wajah Seira. Lelaki itu tahu, Seira dan keluarganya sangat keberatan dengan peminjaman uang. Mereka maunya menjual rumah, bukan meminjam apalagi meminta. Keluarga Seira tidak suka diberi belas kasihan. Amam lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Seira. "Terima aja, ya? Nanti bilang ke orang tua kamu kalau rumahnya udah kejual."
"Kamu yakin, Mam? Ini sama aja dengan utang."
"Nggak pa-pa. Amam, kok."
Seira tidak punya solusi lain. Akhirnya ia mengangguk dan menyetujui solusi itu.
Artar tersenyum sumringah, seolah mendapat hadiah penting. Namun, tidak ada yang menyadari kesepakatan mereka malam ini adalah suatu kesalahan.
Artar tidak pernah sebaik yang mereka kira. Artar sangat manipulatif. Dia bukan pengusaha kemarin sore yang dengan mudah mengeluarkan cek senilai satu miliar rupiah meski kepada anak dan menantunya sendiri.
Percakapan selanjutnya dihabiskan dengan topik ringan, sembari menyesap kopi hitam hangat dan sepiring martabak.
Sonya bergabung bersama mereka setelah mengantar Ajeng ke teras rumah untuk pulang ke rumah. Mereka tidak jadi menonton film apa pun, hanya fokus menghabiskan dessert box dan martabak telur yang dibeli Amam.
Sonya menyisakan dessert box miliknya itu separuh, agar bisa dinikmati juga oleh Amam atau Seira. Sonya juga menyampaikan bahwa dia tidak pernah membiarkan tamunya kelaparan.
***