Seira dan Amam sama-sama polos, tidak tahu menahu tentang uang yang dipinjamkan oleh Artar. Keesokan paginya mereka segera menyampaikan bahwa rumah itu sudah laku terjual kepada Artar. Kabar itu disambut kegembiraan juga oleh Acel dan Sila.
Hari-hari selanjutnya berjalan sebagai biasanya. Namun, ada perlahan, ada perubahan sikap yang terjadi pada Amam. Dia mulai enggan untuk bekerja. Awalnya dia mengaku kepada Seira bahwa dia kurang enak badan, akhirnya Seira menyuruh Amam untuk beristirahat sementara Seira yang sudah mendapat panggilan bekerja di sweatery cake meninggalkan rumah dengan diantar oleh Amam, baru setelahnya Amam beristirahat di rumah.
Sebenarnya Amam tidak sakit apa-apa, dia hanya capek dan jenuh dengan rutinitasnya. Akhirnya, dia kembali dengan rutinitas lamanya memainkan game online mobile legends. Terhitung sudah hampir empat bulan dia tidak menyentuh game itu pasca masalahnya dengan Seira tempo hari. Awalnya dia hanya iseng, mencari hiburan dari rasa jenuh, tetapi dia merasakan sensasi yang segar saat bermain game itu. Bahkan di sekolah, dia mulai bermain game bersama Yori dan Enan. Rian hanya sesekali ikut nimbrung, dia ada urusan penting di rohis.
"Join, Yor."
"Bentar, Mam. Sinyal gue nge-lag."
Mereka mabar setiap ada jam kosong atau saat waktu istirahat. Hal itu berkali-kali membuat Amam telat masuk kelas, beruntung hal tersebut tidak jadi masalah besar.
Saat malam tiba, Amam juga jadi sering begadang. Begitu Seira tertidur, dia akan bangun dan duduk manis di ruang tengah sambil mabar dengan teman-temannya. Begitu pagi datang dia kecapekan, badannya lemas, dan dia akan kembali mangkir untuk narik pelanggan ojek onlinenya. Amam juga merahasiakan hal itu dari Seira.
Seira tidak tahu kalau ternyata Amam tidak bekerja seharian, justru tertidur seharian karena terlalu capek ketika hari minggu. Amam juga mulai sering nongkrong lagi bersama Yori, Enan, dan Rian. Mereka memang tidak membahas hal yang aneh-aneh. Bahkan terkadang Rian mengajak mereka mentoring bersama Bang Rahman. Tetapi, Amam terlalu lalai. Dia lupa bahwa dia tidak sama dengan teman sebayanya. Dia adalah seorang suami, seorang calon ayah. Dia tidak punya banyak waktu untuk bersantai sementara Seira bekerja meski sedang hamil.
"Mas, s**u hamilku abis."
Amam yang sedang mengenakan jaket hijaunya segera menoleh. "Eh, iya? Nanti sore aku beliin, ya. Aku mau berangkat kerja dulu."
Seira mencium tangan Amam. Kali ini, lelaki itu benar-benar bekerja, tetapi tidak segiat dulu.
Jika dulu dia berhasil mendapatkan uang lebih dari dua ratus ribu sehari, sekarang seratus ribu saja sudah bersyukur. Amam mulai merasa jenuh dan lelah. Tiap kali duduk di warung kopi untuk menunggu orderan, dia iri melihat remaja seusianya duduk nongkrong dengan santai. Ada yang meledak rasanya. Sesuatu yang ia inginkan tapi ia sadar tidak bisa ia jalani dengan layak.
Terkadang, Amam juga melewati kosnya dulu. Dia bernostalgia saat hidupnya baik-baik sama. Dia tidak ingin merasa menyesal. Dia merasa Seira adalah perempuan yang baik, yang memberinya kebahagiaan. Tetapi ada sesuatu yang lain Amam rasakan. Dia merasa belum siap. Dia seperti menjadi orang lain, dituntut dewasa sebelum waktunya.
"Keripik ususnya, Kak. Satu lima ribu."
Seorang anak kecil tiba-tiba mengejutkan Amam dari lamunannya. Anak itu adalah seorang laki-laki bertubuh mungkin, dengan baju usang yang warnanya sulit didefinisikan. Putih? Cokelat? Jingga? Atau berwarna krim? Amam tidak tahu. Banyak noda di pakaiannya. Anak itu menenteng keripik usus ayam yang dibungkus dengan plastik lalu dikaitkan pada sebuah kawat yang digelangkannya.
"Ini ibu kamu yang bikin, Dek?" tanya Amam, mengeluarkan dompetnya.
Anak laki-laki itu menggeleng. "Bukan, Kak. Ini punya tetangga saya, saya cuma bantu jualin."
Amam mengangguk. "Orang tuanya ke mana, Dek?"
Lama anak itu termenung, dia tampak kebingungan, membuat Amam mengerutkan keningnya.
Anak tadi menggeleng. "Saya nggak tahu, Kak. Saya dititipin ke nenek, terus nenek saya baru meninggal."
Seketika itu hati Amam tersentil. "Kamu tinggal sendirian?"
"Iya, Kak. Tetangga saya untungnya baik mau menampung saya untuk makan. Makanya saya ngebantuin buat jualan keripik ini."
"Namanya siapa, Dek?"
"Nama saya ... Pidi, Kak."
Amam mengeluarkan uang tiga puluh ribu. "Beli dua, Dek. Kembaliannya ambil aja."
Mata Pidi melebar seketika, tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan. "Seriusan, Kak?"
"Iya, serius lah," jawab Amam sambil tersenyum. "Besok ke sini lagi, ya. Atau kalau ketemu Kakak di jalan tawarin aja, ok?"
Pidi mengangguk semangat. Meski bantuan Amam tidak seberapa. Tetapi, bagi anak usia delapan tahun sepertinya, bantuan itu sangat berharga.
"Pidi duduk sini dulu, dong. Ngobrol sama Kakak."
"Iya, Kak, boleh. Tapi ... jangan lama-lama, ya. Takut kesorean."
***
Sore itu, percakapan Amam dan Pidi menjadi awal terbukanya pemikiran Amam terkait beban moril sebagai orang tua.
Pidi bercerita bahwa ibu dan ayahnya masih muda. Sekitar umur 26 tahun saat ini. Artinya Pidi lahir saat orang tuanya berusia 18 tahun.
"Bapak sering keluar, Kak. Kadang nggak pulang, pas pulang kerjanya marah mulu. Sedangkan ibu, dia juga suka mancing emosi Bapak. Sering ngecekin hp Bapak, nuduh Bapak ini-itu. Pokoknya aku ngerasa pusing kalau Bapak udah pulang ke rumah."
"Bapaknya kerja, Dek?"
Pidi mengangkat pundaknya. "Nggak tahu. Bilangnya sih capek mulu, tapi nggak ada hasil. Yang justru kerja itu nenek. Ibu sekadarnya bantu beres-beres rumah, atau bantu nenek bikin tempe. Gitu doang. Terus, pas aku kelas satu SD, bapak ngilang. Kata ibu, sih, nikah lagi. Bapak nggak pernah jengukin aku. Sejak saat itu, ibu jadi sering marahin aku, Kak. Nggak ngerti juga apa yang dimarahin."
Amam melihat ada bekas luka di leher Pidi. "Itu di leher kamu luka bekas apa?"
Sontak Pidi memegang lehernya. "Anu, Kak. Dulu aku pernah mecahin gelas. Ibu marah besar. Dia goresin pecahan kaca ke leherku. Terus dia bilang mending kepala aku aja yang dipecahin ketimbang gelas."
Meskipun Pidi terlihat baik-baik saja, Amam bisa melihat mata Pidi berkaca-kaca. Satu tetes air berhasil lolos dari pelupuk matanya. "Aku nggak pernah minta dilahirkan kalau cuma buat dimarahin doang. Orang-orang di sekolah bilang aku anak haram, nggak punya bapak. Aku nggak punya teman di sekolah, Kak."
Amam diam. Bingung. Kehabisan kata-kata. Satu hal yang kemudian membuka pikiran Amam. Kesalahan yang dilakukan oleh orang tua, sangat mungkin ditanggung oleh anaknya. Amam dan Seira baru menikah beberapa bulan. Dia tidak tahu hal seperti apa yang akan ia hadapi ke depannya. Ia juga tidak tahu apakah anaknya nanti akan bernasib baik atau tidak.
"Jadi kamu masih sekolah apa enggak, Dek?"
Pidi menggeleng. "Semenjak ibu kabur dari rumah, nenek sakit-sakitan, sampai akhirnya meninggal. Pas nenek sakit aku yang ngerawat Kak, aku nggak bisa sekolah lagi padahal aku selalu rangking satu."
Ironis. Amam benar-benar merasa takut. Dia tidak mau anaknya mengalami hal seperti yang Pidi alami.
"Kak, udah, ya. Udah sore, ni. Aku mau lanjut lagi."
"Eh iya, iya. Hati-hati." Amam menepuk pundak Pidi pelan-pelan. Membiarkan anak itu pergi meninggalkannya.
***
Besok harinya, Senin, di sekolah seperti biasa. Pagi-pagi sebelum bel masuk berbunyi, Rian menuliskan sesuatu di papan tulis, semuanya huruf besar.
STUDY TOUR KE YOGYAKARTA
AGENDA MINGGU DEPAN KITA ADA STUDY TOUR KE YOGYAKARTA, BERANGKAT JUMAT, PULANG HARI MINGGU.
CATATAN KELENGKAPAN:
1. SURAT IZIN ORANG TUA.
2. TUMBLER (BOTOL MINUM).
3. PAKAIAN SECUKUPNYA.
4. BUKU CATATAN.
5. IURAN 50.000
FASILITAS:
1. PENGINAPAN
2. MAKAN (PRASMANAN)
3. BUS
4. AIR MINERAL GALON
UNTUK LEBIH LENGKAPNYA UDAH DIKIRIM KE GRUP WA.
NB:
BAGI YANG BERHALANGAN, ATAU KEBERATAN DENGAN BIAYA IURAN, SAMPAIKAN KE AKU.
BERSIFAT WAJIB. YANG TIDAK BISA IKUT HARUS MEMBUAT SURAT KETERANGAN DAN DIGANTI DENGAN MENGERJAKAN TUGAS PENGGANTI.
Rian lalu menepuk tangannya dengan tegas, meminta perhatian. "Ini dibaca dulu, ya. Kalau mau ditanyain silakan."
Tanpa menunggu lama, Elin mengangkat tangannya.
"Silakan Elin."
"Ok Yan, itu gue mau tanya. Study tour-nya gabung semua kelas apa dipisah? Tengkyu." Dengan gaya centilnya, Elin menutup pertanyaan.
"Ada yang lain?" Mata Rian menangkap ekspresi tak biasa dari Amam. Lelaki itu tampak bingung. "Amam mau nanya?"
Amam sontak menggeleng. "Lanjut aja, Yan, dulu."
Rian mengangguk lagi, meski ia menduga ada yang sedang dipikirkan oleh Amam dan itu tidak akan jauh kaitannya dengan Seira. Berhubung belum ada pertanyaan lanjutan, Rian pun menjawab pertanyaan Elin. "Ini gabung semua kelas, ya. Untuk rincian agenda ada di grup, bisa dicek. Hari Sabtu pagi rencananya mau ke UGM, terus sorenya ke perusahaan gula madukismo di Bantul. Hari Minggu, kita jalan-jalan, nggak tahu ke mana. Ada yang mau ditanyain lagi?"
Satu kelas menggeleng, sebagian lagi diam. Artinya sudah tidak ada pertanyaan lagi.
Di lain sisi, Amam kebingungan. Ikut study tour artinya ia harus meninggalkan Seira sendirian di rumah. Jika boleh memilih, dia tidak akan ikut study tour itu.
***
Seira tahu belakangan ada yang tidak beres dengan Amam. Lelaki itu tiba-tiba meninggalkan kamar saat malam hari, sibuk dengan ponsel dan earphonenya. Seira merasa cemas, dia takut Amam melakukan yang tidak-tidak meski dia percaya pada Amam. Masalahnya, Amam seperti merahasiakan hal ini. Dan, lagipula, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Amam tengah malam bersama ponselnya?
Seira juga tahu uang harian yang diberi oleh Amam turun drastis. Suaminya itu bilang saat ini banyak tugas sekolah, dia terkadang harus tinggal dulu di kelas untuk mengerjakan tugas kelompok makanya tidak bisa produktif seperti dulu.
"Seira, udah bisa bikin base cake kejunya?"
Seira terkesiap. Saat ini dia tengah berada di tempat kerjanya. Di dapur induk Sweatery Cake. Di depannya mikser besar berputar mengocok telur.
Seira mengangguk. "Sudah, Bu."
Bu Anik, salah satu karyawan senior sekaligus supervisor di dapur, mengangguk. "Keju sama mentega udah dilelehin?"
Seira mengangguk lagi.
"Ok keren. Nanti cream cheese-nya hati-hati ya, jangan lupa kasih lemon dikit."
Lagi-lagi Seira mengangguk. Dia cukup lihai dalam membuat kue. Bu Anik tidak perlu banyak mengajarinya.
Sebenarnya membuat cheese cake cukup menggunakan keju krim, tidak perlu keju yang dilelehkan. Keju yang dilelehkan itu digunakan untuk sejenis vla di tengah kue yang sudah jadi. Begitu kue selesai dipanggang, kue akan dibagi dua. Satu bagian akan diletakkan di dasar box, kemudian di tengahnya ada vla keju yang dibuat dari keju dan mentega leleh, s**u, dan tepung maizena. Kemudian ditimpa oleh kue lagi. Selanjutnya kue akan disiram dengan s**u yang sudah dicampur dengan bahan-bahan lain, dibiarkan sejenak di kulkas hingga s**u meresap ke kue baru setelah itu diberi ganache dan toping.
Pekerjaan Seira selesai setengah jam kemudian. Giliran karyawan lain yang memanggang kue dan mengerjakan sisanya.