Dulu, saat awal masuk SMA.
Masa orientasi peserta didik baru atau MOPDB, kadang disebut juga masa orientasi siswa (MOS). Segala macam bentuk perpeloncoan dilarang. Semua panitia dari pihak OSIS dan MPK dituntut ramah dalam mengawasi adik kelas mereka. Namun, bagaimana pun bentuk aturan sekolah, ada saja kakak kelas yang sok senior. Mirisnya lagi kakak kelas model begini sebenarnya tidak terlibat sama sekali dalam kepanitiaan. Hanya kumpul orang-orang iseng yang haus popularitas.
Pihak OSIS membuat beberapa peraturan sederhana untuk melancarkan kegiatan MOPDB, di antaranya mereka harus membawa bekal dengan menu yang sama. Satu angkatan disuruh berdiskusi menu ala yang akan dibawa selama tiga hari. Selebihnya, dibebaskan kepada angkatan bersangkutan. Untuk hari pertama MOPDB, menu yang disepakati adalah nasi goreng dengan telur ceplok. Nah, Amam kelupaan. Di samping itu Amam juga tidak pandai memasak. Mau minta tolong siapa? Mama dan papanya tidak peduli. Sonya juga sibuk dengan peralatan MOPDB-nya, sejak pagi gadis itu merengut karena bingung dengan atribut yang mesti dilengkapi. Dibanding sekolahan Amam, sekolahan Sonya memang lebih banyak aturan.
Amam dan Seira juga berbeda gugus, sehingga Seira tidak tahu apa yang tengah Amam alami.
Pukul tujuh pagi, mereka dikumpulkan di aula. Semua kursi sudah ditumpuk dan ditepikan di pinggir ruangan. Jendela-jendela dibuka sehingga angin bisa masuk dengan lega. Kebetulan Amam sekelompok dengan Rian, fakta yang cukup menggembirakan.
"Lo nggak bawa bekal, Mam?" tanya Rian panik. Matanya melotot. Ini hari pertama MOPDB, tidak lucu kalau Amam sudah melakukan kesalahan.
Dengan entengnya Amam hanya mengangkat bahunya, bersikap acuh tak acuh. Dia lupa bawa bekal, terus harus bagaimana? "Ya palingan dihukum, kan. Lari, push up, bersihin toilet, gampang lah itu."
Anggota OSIS dan MPK sudah berkumpul di depan. Dalam hubungan kerja OSIS dan MPK di sekolah ini, MPK tugasnya mengawasi OSIS. Sedangkan OSIS, bertanggung jawab secara langsung untuk memastikan tujuan dari MOPDB ini tercapai.
Rangga, si ketua OSIS, berdiri di depan podium. Dia mengetuk mikropon. "Tes, satu, dua, tiga." Begitu suaranya berhasil keluar dari speaker, Rangga pun membuka acara hari ini.
Tidak ada MC atau sejenisnya. Acara dibuat ringkas dan sederhana. Upacara penyambutan sudah dilaksanakan sehari sebelumnya. "Setiap gugus sudah ada kakak pembimbingnya masing-masing. Untuk kakak pembimbing silakan bikin saf barisan di depan."
Kakak pembimbing pun segera mengambil posisi. Ada sepuluh gugus, dan Amam dapat gugus nomor satu.
"Semuanya sudah bawa bekal, ya?" tanya Rangga.
Rian langsung melirik Amam. Padahal yang bermasalah bukan dirinya, tapi dia yang deg-degan.
"Gue mau kabur." Amam melirik temannya yang lain. "Kalian juga diam aja, ya. Nggak usah bawel entar."
Teman-temannya lain masih cenderung malu-malu hari itu, apalagi melihat pesona Amam. Kebanyakan mereka tersihir terutama kaum perempuan.
"Udah sono, sebelum dipanggil," ujar salah seorang laki-laki di kelompoknya.
Amam melempar tasnya ke Rian.
"Ngapain?"
"Malas bawa tas," jawab Amam enteng.
"Kabing gugus satu silakan perkenalan dulu."
Rangga mulai memperkenalkan masing-masing kakak pembimbing untuk setiap gugus. Sementara itu Amam menggeser pantatnya ke samping, kebetulan pintu kanan aula berada di dekatnya. Semua anggota OSIS dan MPK ada di bagian depan aula, tidak ada yang menjaga pintu keluar. Mereka juga asyik memperkenalkan masing-masing kakak pembimbing tanpa menyadari keberadaan Amam.
Begitu keluar dari ruang aula, Amam mengembuskan napasnya. Suara yang berdengung dari speaker aula masih dapat Amam dengar. Begitu kakinya menelusuri aula, ia tidak sadar menabrak tubuh seseorang.
Iya, dia yang menabrak. Tetapi, tingkah yang justru ditunjukan oleh Amam sedikit berbeda. Alih-alih meminta maaf dia justru marah besar dengan sosok yang ditabraknya.
Orang itu adalah Jack. Anak kelas 10 yang tidak naik kelas. Secara usia, Jack lebih tua dari Amam. Tetapi jika dilihat dari jenjang kelas mereka sebaya.
"Lho, anak kelas 10, kan? Kenapa keluar?"
Jack yang dilihat oleh Amam untuk pertama kali adalah sosok yang culun. Rambutnya berbentuk mangkok, celana kebesaran, dan hoodie abu-abu.
Amam langsung berpikir bahwa sosok di depannya adalah seorang wibu.
"b*****t ya, lo? Nggak punya mata?"
Jack kebingungan. "Kok gue yang salah. Lo yang nabrak gue."
Amam menatap Jack dengan tajam. Ia melihat badge kelas di lengan kanan Jack. "Lo juga kelas sepuluh, kan?" tanya Amam dengan nada merendahkan. "Nggak naik kelas?" Seluruh siswa baru masih mengenakan seragam SMP. Jika kemudian ada anak kelas sepuluh yang mengenakan pakaian SMA artinya anak itu tidak naik kelas.
"Urusan lo apa?" Bagaimana pun bagi Jack, dia adalah senior. Dia berhak dihargai bukan direndahkan seperti yang dilakukan Amam kepadanya.
***
Hari-hari berikutnya berjalan normal bagi Amam setelah ia sempat melakukan kesalahan di hari pertama. Ia dengan cepat mendapatkan teman karena dia memang gampang akrab. Dia bahkan membuat sebuah geng bersama Ilham dan Brayen. Geng mereka tidak buruk-buruk amat. Tidak pernah usil dengan urusan orang lain meskipun omongan mereka terkadang toxic.
Di situ pergaulan Amam makin hancur. Dia nongkrong hingga pagi, mabok-mabokan meski cuma dengan minum dua gelas seloki arak. Amam juga berkencan dengan beberapa perempuan meski tidak sampai tidur bersama. Bagaimana pun dia menyayangi Seira dan dia menjaga batas itu.
Hingga pada suatu hari, Seira diutus untuk mengikuti lomba ke luar kota meski baru beberapa minggu sekolah. Di situ Amam merasa kesepian. Dia merasa jenuh dan bosan di sekolah. Lalu, Ilham dan Brayen memperkenalkan Amam dengan seorang perempuan bernama Meta.
Meta adalah seorang wanita malam berusia 20 tahun. Tubuhnya seksi dan tinggi, langsing, tetapi juga berbentuk indah. Amam seketika menelan liurnya saat bertemu dengan wanita itu di bar.
"Gue udah punya cewek, Ham, Bray. Jangan aneh-aneh."
"Ya sesekali lah. Kalau lo tahan iman ya udah."
Amam menelan liurnya lagi.
Meta duduk di kursi bundar sebelahnya, menyilangkan kaki. Minidress dengan rok pendeknya terangkat ke atas, memperlihatkan pahanya.
Amam menahan napasnya. Sementara itu Ilham dan Brayen beranjak meninggalkan Amam. "Eh ke mana?!" Amam berseru tertahan.
"Enjoy your night." Itu yang diucapkan kedua temannya.
"Aku nggak semurahan itu, kok," ujar Meta. "Aku nggak ada ngegoda laki-kaki yang udah punya pacar kecuali lelaki itu sendiri yang mau."
Amam mengangguk. "Namanya siapa?" tanya Amam basa-basi.
Meta lalu mengulurkan tangannya. "Meta."
Amam membalas uluran tangan itu. "Abrisham. Panggil Abi juga boleh."
"Ooh Abi. Abis kelas berapa?"
"Kelas sepuluh."
Meta tampak excited. "Masih 15 tahunan, ya?"
Amam menggerakkan kepalanya lagi sebagai bentuk anggukan. "Iya. Kamu?"
Meta membentuk simbol angka dua dan nol dari jarinya. Amam segera paham maksud jari itu, umur 20 tahun.
"Udah berapa lama pacaran?"
"Dua tahun," jawab Amam ringkas.
"Udah ngapain aja?"
Itu adalah pertanyaan yang sangat privat, tidak pantas diberikan kepada sosok yang baru dikenal. Tetapi demi kesopanan, Amam memutuskan untuk tetap menjawabnya hati-hati. "Ya jalan berdua, nonton bioskop, makan, ...."
"Tidur?"
Amam seketika tergeragap, seperti terpergok. Respons seperti itu tampak bodoh bagi seseorang seperti Meta. Ekspresi Amam menunjukkan bahwa dia membenarkan pertanyaan Meta.
Meta terkekeh. "Santai aja, wajar kok. Namanya juga laki-laki, nafsunya gede." Meta menuang botol hijau berteliskan Carlsberg Beer ke dalam gelas seloki. "Minum."
"Eh iya, Met."
Meta adalah teman ngobrol yang asyik. Setiap satu bahasan selesai dia akan menyuguhi Amam satu gelas seloki. Amam yang sangat gampang mabuk, jelas teler saat diberi 4 gelas seloki minuman saja. Dia segera muntah dan pingsan.
Keesokan harinya Amam terbangun di sebuah kamar yang asing baginya. Dia sudah berganti pakaian, tetapi tidak menggunakan celana dalam. Artinya ada orang yang membuka pakaiannya dan menggantinya dengan kaos oblong putih dan boxer longgar yang bukan miliknya ini.
Amam tersentak dan bingung. Dia benar-benar mabuk, dia tidak tahu apa yang terjadi. Terlebih di ruangan itu, tidak ada siapa-siapa. Satu-satunya yang Amam khawatirkan adalah kemungkinan dia tidur dengan wanita lain.
***
Kembali ke masa kini.
Beberapa waktu lalu Amam diberi rating yang rendah oleh seorang perempuan liar di Cafe Rinjani. Itu bukan masalah lagi sekarang karena sebagai seorang driver ojek online dia bisa memberi rating rendah juga ke penumpang. Dia juga banyak bertanya ke rekan ojolnya untuk mengurusi hal-hal seperti itu. Satu masalah itu memang sudah selesai, tetapi tidak dengan performanya. Amam benar-benar jadi sosok yang pemalas. Bahkan pertemuannya dengan Pidi kemarin hanya menyadarkannya sejenak. Setelahnya ia tetap sibuk dengan dunianya sendiri, bermain game.
Hari ini, tanpa diduga, dia bertemu dengan salah satu teman lamanya yaitu Brayen. Brayen kebetulan menjadi penumpang ojeknya di rumahnya sendiri. Destinasi yang dituju adalah bar Black Box. Bar yang dulu sering mereka kunjungi.
Brayen sangat ramah. Meski dulu mereka satu sekolah, Brayen kemudian pindah sekolah bersama dengan Ilham. Mereka membuat kasus yang cukup memalukan yaitu pesta seks bersama beberapa orang perempuan tersebar di sosial media. Itu adalah hal yang sangat memalukan nama sekolah.
"Lo ngegojek sekarang?" tanya Brayen.
Amam merasa canggung. Lebih tepatnya malu. Dulu status sosial dia sama saja dengan Brayen. Punya orang tua yang kaya, punya bisnis, pergaulan yang bebas. Sekarang dia tak ubahnya seorang suami yang harus menafkahi istrinya. "Iya, Bray. Gue kabur dari rumah."
Brayen menekuk alisnya. "Kok bisa?"
Amam mengangkat bahunya. "Biasalah, masalah keluarga."
Brayen hanya mengangguk, tidak banyak bertanya. Dia tidak suka menjustifikasi orang lain dari pihak. Hal itulah yang dulu berhasil mengumpulkan Amam, Brayen, dan Ilham dalam satu geng. Mereka bukan anak baik-baik, tetapi tidak suka menjudge atau merecoki hidup orang lain. Pertemanan mereka bisa dibilang tulus. "Ya udah nanti ngobrol sambil di jalan aja, Mam."
Amam lalu memberikan helm kepada Brayen, dan kendaraan pun melaju di jalan raya.
***
Brayen berbadan tinggi, agak kurus, tapi tidak kurus-kurus amat. Tetapi jika dibandingkan Amam yang badannya berbentuk, Brayen jelas kalah saing.
Selama di jalanan, Brayen bertanya beberapa hal kepada Amam. Di antaranya hubungan Amam dengan Seira.
Amam bilang bahwa hubungannya dengan Seira baik-baik saja hingga hari ini tetapi ia tidak menceritakan apa pun tentang pernikahannya.
"Sonya udah ada pacar belom?" Itu pertanyaan Brayen selanjutnya.
"Belom, tapi dia lagi dekat sama cowok. Nggak gue izinin pacaran."
"Kenapa nggak boleh? Lo sendiri aja pacaran, malah parah lagi."
"Justru itu, cukup gue aja yang rusak, adek gue jangan. Gue khatam pikiran cowok zaman sekarang."
Brayen menggeleng. "Lo bukan khatam sama pikiran cowok zaman sekarang, lo takut Sonya ketemu cowok modelan kayak lo, kan?"
Amam diam saja. Dia sebenarnya tersinggung dikatakan seperti itu, tetapi ia tidak bisa menyangkal bahwa memang hal itu lah yang ia takuti.
Pukul 9.00 malam, motor Amam tiba di bar langganan mereka. Brayen sudah membayar ongkos perjalanan dengan menggunakan e-wallet. "Join nggak?" tawar Brayen.
"Lain kali aja."
"Ayo lah, Mam. Sesekali. Minggu depan gue ke Australia, belom tentu bisa ketemu sama lo."
"Tapi ... aku ...."
"Udah lah, Mam. Masuk aja yuk. Gue traktir."
Kali ini Amam seperti berat sekali untuk menolak. Idealismenya sangat lemah hingga akhirnya ia mengiyakan ajakan Brayen.