Bar

1600 Kata
Black Box sebenarnya sebuah cafe di lantai pertama. Anak-anak remaja biasa makan atau minum sembari bersantai di sana. Lampu-lampunya juga cukup terang benderang dengan fasad berbatu hitam. Amam melangkahi dua anak tangga untuk tiba di lantai satu Black Box. Pukul sembilan, beberapa orang masih seru duduk bersantai menikmati fasilitas internet gratis. Di bagian belakang, di sisi kiri bangunan jika ditinjau dari pintu masuk, ada tangga menuju lantai dua. Tangga itu seperti portal rahasia karena tidak sembarangan orang bisa masuk. Mereka harus membawa KTP atau surat menyurat bahwa umur mereka cukup. Amam dan Brayen belum berusia 17 tahun, masih di bawah umur. Secara normatif mereka akan dicegat oleh penjaga pantai dua black box begitu tiba di atas. Realisasinya tidak demikian. Brayen punya link khusus. Ayahnya adalah salah satu penyumbang saham di Black Box, ia bisa membawa siapa pun teman yang ia inginkan. Brayen juga menyelipkan dua lembar uang seratus ribu ke penjaga agar penjaga itu tidak mengadu ke ayahnya atas apa yang ia lakukan di bar tersebut. "Ayo, Mam." Amam ikut melangkah. Ia sering ke sini dulunya. Tetapi, saat ini ia merasa apa yang telah ia lakukan adalah kesalahan. Ia ingin mundur dan pulang. Ia merasa tidak nyaman. Lima langkah dari posisi penjaga, sebuah pintu geser menyambut mereka. Pintu itu terbuka otomatis begitu ada manusia yang berada di hadapannya. Suasana black box yang terang berganti dengan ruangan remang-remang dan berisik. Ratusan orang berada di ruangan itu. Ada yang duduk di sekeliling meja bar, wajah-wajah stress yang butuh pelarian. Ada yang duduk di sofa, bercengkerama. Ada yang berjoget di dekat tiang poldance. Bahkan ada juga yang nyaris b***l di sudut bar, seorang laki-laki dan perempuan. Tidak satu pun hal yang ada di hadapan Amam sekarang dapat dibenarkan. Telinganya terasa panas mendengar musik yang berisik. Matanya juga pedas melihat minimnya pencahayaan ditambah lagi lampu kelap-kerlip yang bergantung di atas kepalanya. Di salah satu sofa, sudah menunggu Ilham bersama dua perempuan berpakaian seksi. Amam langsung tahu perempuan itu perempuan sewaan. Memorinya terlempar ke momen beberapa bulan lalu saat ia mabuk dan tidak sadarkan diri. "Tebak gue bawa siapa?" Brayen berusaha berteriak untuk mengalahkan suara musik. Ilham memicingkan mata. "Amam?" Brayen mengangkat alisnya, tersenyum, seolah berkata, "Iya, Amam." Amam hanya tersenyum simpul, melakukan tes dengan Ilham. Dua perempuan sewaan ikut bertos juga dengan Amam tetapi Amam buru-buru menarik tangannya dan menyatukannya di d**a. "Maaf udah wudu." Sebenarnya bukan masalah wudu atau tidak wudu. Amam menolak bersalaman murni karena tidak ingin bersentuhan dengan non mahram. Tetapi alasan seperti itu terasa aneh, lebih baik dia beralasan sudah wudu. "Lo mau salat atau gimana pakai acara wudu segala?" "Gue tadi mau salat isya, udah keburu wudu, tapi ada pelanggan jadi tunda sebentar dulu." "Serah lo aja deh," sahut Ilham. "Duduk sini yuk!" Ilham menyuruh salah satu wanita sewaan untuk pindah ke sisi sofa yang lain sehingga ada ruang untuk Amam bisa duduk. Setelah Amam duduk baru Brayen juga duduk. "Lama nggak keliatan, Mam? Katanya lo kabur? Gue nyariin ga nemu-nemu." Amam mengangguk. "Iya gue kabur. Keluarga gue ga sehat, sih, makanya gue kabur." Salam halnya dengan Brayen, Ilham juga tidak suka men-judge orang. "Lo minum nggak nih?" Amam buru-buru menggeleng. "Enggak. Gue harus pulang, kalau mabuk takut kenapa-kenapa." Untuk alasan ini Ilham masih bisa menerima. Di sebelahnya, Brayen sedang berciuman dengan salah satu wanita sewaan. Terasa sangat panas. Amam merasa jijik sendiri melihatnya. "Sama Seira masih langgeng?" "Masih," jawab Amam kalem. "Orang tua kita juga udah saling ngasih restu." "Wah hebat juga. Dari kita bertiga kayaknya lo doang ya yang cukup sama satu cewek. Ya seenggaknya buat dijadiin pacar, kalau buat seneng-seneng mah urusan lain ya, nggak?" Amam paham maksud Ilham. Ilham seolah menjelaskan bahwa Amam memang pacaran dengan satu perempuan saja, tetapi kalau untuk bersenang-senang Amam bisa melakukannya dengan perempuan mana pun. "Sayang, masih ada satu slot kosong? Buat temenku." Amam sontak berseru tertahan, "Jangan. Aku nggak mau." Ilham mengerutkan keningnya. "Kok nggak mau?" Sementara Brayen sudah kehilangan akal. Pakaiannya sudah terbuka. Dia juga sudah booking kamar, untuk antisipasi jika nafsunya sudah tidak tertahan lagi. "Ham, kayaknya gue harus pulang sekarang. Maaf banget." "Cepet amat Mam. Lo nyembunyiin apa sih?" Aman menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, menggeleng. "Gue harus pergi. Enjoy, ya?" Amam menepuk pundak Ilham dan beranjak. Dia sempat menoleh ke arah Brayen yang wajahnya sudah memerah. Amam buru-buru meninggalkan bar itu dengan jantung yang berdebar-debar. Ia merasa tidak nyaman sekaligus merasa bersalah. *** "Assalamualaikum." Amam berdiri dengan tubuh yang agak bergetar. Dia merasa bersalah luar biasa kepada Seira padahal ia tidak melakukan apa pun. Sekarang sudah pukul 10 malam, bulan tidak bersinar cukup terang malam ini, bintang juga terasa sepi. Sepertinya besok pagi akan hujan. Amam mengintip dari jendela. Ia melihat istrinya tertidur di lantai ruang tengah. Amam buru-buru menarik gagang pintu yang ternyata tidak dikunci. Hatinya terenyuh melihat Seira yang tersandar di dinding dengan kepala jatuh ke kanan. "Ya Allah istriku." Amam buru-buru menghampiri Seira, menepuk pipi Seira dengan lembut. "Sayang, bangun, Sayang." Perlahan mata Seira terbuka. Dia mengerjap beberapa kali hingga sosok Amam di hadapannya terlihat jelas. Seira terkesiap. "Mas, maaf. Aku ketiduran ya? Ya Allah aku nggak nyambut kamu." "Nggak pa-pa," ujar Amam lembut. "Ke kamar yuk, aku gendong." Amam berbalik badan, menyuruh Seira naik ke punggungnya. "Nggak usah, Mas. Masih bisa jalan." "Naik, Seira. Jangan ngebantah, ya." Karena Amam sudah bilang begitu, akhirnya Seira pun mengiyakan. Dia naik ke punggung Amam, dan membiarkan tubuhnya seperti dilayangkan di udara. Dulu Acel yang sering menggendongnya, sekarang Amam. Seira merasa beruntung dikelilingi oleh laki-laki yang sangat menyayanginya. Setelah dibaringkan oleh Amam, Seira berkata, "Makasih, Mas." Amam hanya tersenyum dan mengangguk. Ia menatap wajah istrinya beberapa detik. Wajah itu lah yang belakangan ini selalu ia saksikan setiap bangun tidur. Wanita di hadapannya ini lah yang telah mengorbankan banyak hal. "Makasih juga, Sei." Ia lantas buru keluar kamar untuk memasukkan sepeda motor di rumah. Tetapi begitu kakinya tiba di teras, dia terenyuh. Hal yang paling ia sesali malam ini adalah ketika ia 'tergoda' kepada wanita yang ada di bar itu. Meski ia tidak melakukan apa pun, tetapi mata, pikiran, dan hatinya telah berzina. Nafsunya bangkit kepada perempuan yang bukan mahramnya. Maha suci Allah yang telah melindunginya dari kejahatan syahwatnya sendiri, tetapi itu tidak bisa melepas kenyataan bahwa ia bersalah. *** Benar saja, besok paginya hujan lagi. Jalanan Jakarta kembali bersimbah air. Sonya merenung di teras, bingung akan berangkat dengan apa. Otaknya kembali terputar ke momen saat Adrian dan Alfred menjemputnya dengan mobil. Ia juga kembali teringat momen pertama menaiki mobil itu, kemudian diperkenalkan dengan ibunya Adrian. Sonya sempat berpikir ingin menumpang Ajeng saja, tetapi sulit. Ajeng pasti diantar oleh ayahnya dan ayahnya tipe pria disiplin yang selalu buru-buru. Pukul 6.30, Sonya bersandar di kursi. Hujan tidak kunjung deras. Sepertinya tidak bisa dibiarkan. Dia akhirnya memilih untuk memesan taksi online. 6.40, pesanannya belum dikonfirmasi oleh siapa pun. Hujan begini Jakarta mesti macet. Sebagian ruas jalan kebanjiran, susah untuk taksi online itu menuju rumahnya. Di tengah kegelisahannya, sebuah motor merah tiba di hadapannya. Seorang pria dengan mantel kelelawar hitam datang sambil nyengir. "Bareng yuk?" Sonya bingung. Harus bagaimana ia bersikap. Rasanya jika terus-terusan dingin kepada Adrian tidak baik juga. Tetapi ia gengsi untuk terlihat mudah. "Aku lagi nunggu taksi, Yan." "Cancel aja. Jalanan macet, pakai mobil lama sampainya." Adrian mengibaskan mantel kelelawarnya yang panjang. "Buruan, Sonya. Nanti kalau telat, dihukum bareng kita. Nggak lucu lho. Kayak drama-drama di web series." Tidak ada solusi lain. Sonya lalu melangkah dan naik ke atas motor Adrian. Dia juga memegangi mantel lebar itu agar tidak mengibas ke mana-mana. Adrian melajukan sepeda motornya dengan hati-hati untuk membelah jalanan Kota Jakarta. Dia sempat tersendat beberapa kali saat melewati genangan. Alamat mereka bakalan telat. "Ya Allah, Yan. Tujuh lewat lima. Auto dihukum, nih." "Ya mau gimana lagi, Nya. Liat aja sendiri jalanan banjir gitu." "Mata gue ketutup mantel ya, tolong. Gue nggak bisa lihat. Lagian lo sih jemputnya kesiangan." Adrian mencebik. "Masih syukur dijemput, Sonya." "Hih." Bunyi klakson sahut-sahutan. Ada bus ngetem di pinggir jalan, bannya terjebak cerukan jalan berlubang. Adrian dengan gesit mencari celah kosong. Sonya melihat ke bawah. Benar saja, banyak genangan di jalan. Masalah ini tahun ke tahun tidak selesai-selesai. Sumur resapan yang dibangun sebagai bentuk pengelolaan sumber daya air juga tampaknya belum berhasil maksimal meski sudah menunjukkan progres yang baik. Sepuluh menit berikutnya mereka sudah tiba di sekolah. Adrian memarkirkan motornya di tempat parkir. Sekolah belum seramai biasanya. Entahlah, terkadang bagi sebagian siswa malas hujan adalah momen yang pas untuk membolos. Ada juga yang memalsukan surat izin agar bisa beristirahat di rumah. Menilai hal tersebut, guru biasanya tidak mengambil tindakan apa pun bagi siswa yang terlambat. Apalagi kalau terlambatnya tidak lebih dari satu jam. Itu masih sangat bisa dimaklumi. Rok Sonya sedikit basah, apalagi sepatunya. Dia terpaksa membuka sepatu dan kaos kakinya, nyeker. "Bentar Nya." Adrian membuka jok sepeda motor, mengeluarkan sandal jepit. "Pakai sandal, jangan nyeker, nanti kotor." "Lo sendiri?" tanya Sonya bingung. "Gue nyeker nggak pa-pa. Udah biasa. Pakai aja nih." Adrian menunduk, meletakkan sandal itu dengan santun di dekat kaki Sonya. Dia tidak mau main asal lempar saja. "Sini sepatu lo!" Adrian mengulurkan tangannya, meminta sepatu Sonya. "Buat apa?" "Mau gue jemur di loteng sekolah. Ada atap transparan gitu, gue biasa jemur pakaian basah atau sepatu basah di sana." "Ih nggak usah, barengan aja. Sepatu gue bau." Adrian menggeleng. "Gue aja, Sonya. Mending lo masuk kelas, bilang kalau gue lagi jemur sepatu di atas ke guru." Adrian langsung meraih sepatu yang dipegang Sonya. "Dah!" "Eh, eh. Makasih, Adrian." Adrian tersenyum singkat, dan berlalu meninggalkan Sonya di parkiran. Pria itu baik sekali pada Sonya. Selalu baik. Sangat baik, hingga Sonya tidak bisa menyusun kalimat terimakasih yang pantas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN