Suami Macam Apa?

1210 Kata
Alvin bingung dan bertanya-tanya ada kepentingan apa omanya datang di saat jam malam begini ke ruko pabriknya? Apalagi siang tadi Alvin juga tahu jika sang oma pasti merasa lelah karena acara resepsi pernikahan. Seharusnya omanya kini beristirahat dan tidak datang ke ruko pabrik. Alvin juga bingung dan khawatir harus menjawab apa jika nanti omanya tidak melihat keberadaan Alma di ruko pabrik. Kebingungan dan rasa khawatir Alvin seketika buyar ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Alvin pun menutup lebih dulu layar tampilan ponsel yang memperlihatkan rekaman CCTV. Kemudian Alvin melihat siapa orang yang menghubunginya. “Halo ....” Alvin menjawab panggilan setelah mengetahui maminya yang menghubungi. “Halo, Al. Mami mau kasih tau kalau omamu sedang menuju ke sana!” “Iya, Mam. Oma sudah sampai.” “Oh ya, Oma sudah sampai?” “Iya. Oma sudah sampai, tapi masih di depan gerbang.” Alvin berbicara sembari menuruni undakan tangga. “Mami kenapa tidak melarang Oma untuk datang ke sini? Alma sudah pulang, bagaimana jika Oma menanyakan Alma? Alvin harus menjawab apa, Mam?” Alvin mengatakan kebingungan yang ia alami. “Mami tidak tahu kalau omamu pergi ke sana. Mami bahkan tau omamu pergi dari satpam.” Alvin masih mendengar ucapan maminya. Kini ia sudah berada lantai bawah, yakni di dapurnya. “Kalau Oma menanyakan Alma, katakan saja kalau Alma pulang ke rumah ibunya. Katakan kalau ibunya sakit dan minta ditemani Alma.” Alvin mengangguk, seolah sang mami ada di hadapannya. Ia pun mengikuti perkataan maminya. “Ya sudah, Alvin tutup dulu teleponnya. Alvin akan buka pintu buat Oma.” Panggilan telepon berakhir. Alvin lalu membuka gerbang untuk omanya. Setelah beberapa detik, pintu gerbang terbang terbuka. Nyonya Mayleen juga turun dari mobil mewahnya. “Oma ....” Alvin menghampiri omanya. Lalu membantu wanita tua itu berjalan. “Lama sekali buka pintunya! Sedang sibuk malam pertama, ya?” Alvin terkekeh mendengar ucapan omanya. Kekhawatiran yang sempat melandanya mencair sejenak karena guyonan dari sang oma. “Tidak Oma.” “Lalu, kenapa lama sekali?” “Masuk dulu. Nanti Alvin jelaskan.” Alvin dan omanya pun kemudian masuk ke dalam ruko. Keduanya duduk di ruang dapur Alvin. “Di mana Alma?” Nyonya Mayleen bertanya setelah ia dan Alvin sudah berada di dapur. Pandangan matanya juga berkeliling mencari keberadaan Alma. “Alma tidak di sini. Alma pulang ke rumah ibunya.” Alvin menjawab sesuai anjuran maminya. “Apa? Pulang ke rumah ibunya?” “Iya Oma. Ibunya Alma ‘kan sedang sakit, tadi menghubungi dan minta di temani Alma.” “Lalu?” “Lalu apa? Ya Alma pulang menemani ibunya.” Alvin menanggapi pertanyaan omanya dengan santai. “Bukan itu maksud Oma!” Alvin bingung mendengar perkataan omanya. Dahinya juga ikut mengerut. “Kenapa kamu tidak ikut ke rumah mertuamu? Harusnya kamu ikut dengan istrimu. Bukan membiarkan istrimu pergi sendiri ke rumah orang tuanya. Kamu ini suami macam apa, Al? Masa hal seperti itu kamu tidak memahami?” Alvin terdiam mendengar ucapan omanya. Alvin sama sekali tidak mengira respon omanya akan seperti itu. Alvin mengira jika mengikuti saran dari sang mami makan omanya akan memaklumi mengenai keberadaan Alma yang tidak ada di rukonya. “Bagaimana kalau kita susul ke sana? Sekalian Oma ingin tau di mana rumah mertuamu. Lagi pula sudah sepantasnya kalau kita menjenguk ibunya Alma, kita ‘kan sudah jadi keluarga.” Mendengar perkataan omanya, Alvin hanya bisa meneguk salivanya. Dalam hati Alvin mana mungkin ia akan datang menjenguk ibunya Alma, sedangkan ibunya Alma saat ini dalam keadaan baik-baik saja. “Sebaiknya jangan Oma.” “Kenapa? Kok tidak boleh? Oma ingin menyerahkan ini pada Alma ....” Nyonya Mayleen merasa heran dan bertanya mengapa cucunya melarangnya melihat keluarga dari besan cucunya. Ia juga menyodorkan sebuah paper bag ke arah Alvin. “Ini sudah malam. Alma dan ibunya juga pasti mau istirahat.” Alvin menjelaskan alasannya melarang omanya dengan penuh kesabaran. “Dan Oma sendiri, apa tidak ingin istirahat? Alvin juga lelah Oma. Kalau mau kasih ini ke Alma, biar Alvin saja yang menyerahkan ke Alma ...,” imbuh Alvin lagi. "Oma ingin menyerahkan ini langsung ke Alma. Dulu mamimu juga menerimanya dari Oma. Dan sepertinya mamimu tidak menjalankan apa yang Oma lakukan padanya dulu pada Alma. Jadi, Omalah yang akan melakukan tradisi ini kepada Alma ...." Alvin pun merogoh paper bag dari omanya. Isinya adalah sebuah gaun indah dengan warna yang begitu elegant. "Besok saja ya, Oma. Alma dan ibunya pasti sekarang sedang istirahat sama seperti Alvin yang juga ingin istirahat ...." Nyonya Mayleen pun membuang napas pelan mendapat penolakan dari cucunya. Ia pun menuruti ucapan cucunya. Ia akhirnya yakin jika Alma juga pasti merasa lelah sama seperti cucunya setelah seharian menjalani acara pernikahan, di tambah lagi ia harus menemani ibunya yang tengah sakit. “Kamu benar juga, Al. Istri dan mertuamu pasti sedang istirahat. Ya sudah, kita tidak usah menyusul istrimu ke sana. Tapi ....” “Tapi apa, Oma?” Alvin penasaran dengan ucapan Oma yang belum selesai diucapkan. “Kamu harus cepat kasih Oma cicit! Beri Oma kesempatan melihat cicit Oma ....” Alvin diam, tidak menanggapi ucapan omanya. Dalam hati Alvin ia kembali memikirkan hal yang tidak mungkin lagi ia lakukan. Sama seperti ajakan omanya yang ingin menjenguk ibunya Alma yang dikatakan Alvin sedang sakit. Begitu pula dengan permintaan omanya kali ini. Akan sangat tidak mungkin Alvin memberi omanya seorang cicit, terlebih dari pernikahan pura-puranya dengan Alma. “Kamu tahu sendiri ‘kan, Al, kalau Oma sudah tua. Oma tidak tahu umur Oma sampai kapan? Bisa saja besok Oma tiba-tiba meninggal dan menyusul papimu di surga ....” Nyonya Mayleen berkata penuh haru dan Alvin tentu saja ia bisa merasakan kesedihan dari perkataan omanya. “Oma jangan berkata begitu. Alvin hanya punya Oma dan Mami di dunia ini. Alvin yakin Oma akan selalu sehat dan panjang umur. Oma akan melihat cicitnya Oma lahir ....” Alvin berkata pelan, tangannya juga merangkul sang oma. “Ini bukan perihal sehat atau tidak, Al. Yang namanya ajal, tidak pandang umur atau kata sehat. Kalau dia sudah menjemput, tidak peduli mau sehat, sakit, tua atau muda ... tetap saja yang dijemput tidak akan bisa mengelak.” Nyonya Mayleen kembali berucap. Matanya juga mulai basah mengingat sesuatu hal. “Kamu lihat sendiri bagaimana papimu ‘kan, Al? Dia sehat, bahkan sangat sehat. Dia juga lebih muda dari Oma. Tapi ... dia malah lebih dulu pergi ke sana ....” Tangis Nyonya Mayleen tumpah di d**a bidang milik Alvin. Wanita tua itu kembali teringat bagaimana peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa putranya. Tak jauh berbeda dengan sang oma, Alvin juga kembali terbayang dan merasa sedih ketika dirinya kehilangan sosok papinya. “Jadilah seperti papimu, Al. Jadikan papimu sebagai teladan yang selalu menyayangi keluarga ....” Alvin mengangguk menanggapi ucapan omanya. “Oma tidak tahu apa alasanmu memilih Alma untuk menggantikan Salsa. Dan Oma tidak akan mempertanyakan itu. Entah kenapa, Oma merasa yakin kalau Alma adalah perempuan yang baik, bahkan lebih baik dari Salsa. Nasihat Oma, meski kalian menikah tanpa dasar cinta, jangan sia-siakan Alma. Perlakukan dia sebaik mungkin. Seperti papimu yang memperlakukan mamimu dengan sangat baik ....” Nyonya Mayleen kini sudah melepas dekapan cucunya. Alvin sendiri tidak tahu harus seperti apa menanggapi perkataan omanya. Dari penuturan omanya, ia tahu persis jika omanya benar-benar memiliki harapan yang baik untuk pernikahan dirinya dengan Alma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN