Alma dan adiknya pulang ke rumah mereka dulu sebelum menuju ke rumah saudara mereka yang tengah mengadakan pesta.
Setibanya mereka berdua di rumah, Alma bergegas memasukkan semua makanan yang ia bawa dari hotel ke dalam lemari es. Rencana Alma makanan yang ia bawa akan dihangatkan kembali untuk sarapan besok pagi.
Setelah itu Alma dan Aldi pun menuju ke rumah Bibi mereka yang tengah mengadakan acara pesta pernikahan.
“Besok Kakak kerja?” tanya Aldi pada sang kakak. Keduanya kini tengah berada di atas motor dan sedang menuju ke rumah Bibi mereka yang mengadakan pesta.
“Kerja. Kenapa?”
“Apa tidak capek?”
“Capek sih, tapi mau bagaimana lagi? Si Bos juga enggak ada nyuruh buat libur!”
Perbincangan singkat antara dua Kakak beradik itu pun berakhir, sebab keduanya telah tiba di lokasi rumah Bibi mereka.
Jarak antara rumah orang tua Alma dan Bibinya memang tidak terlalu jauh, hanya berbeda gang saja.
Alma dan Aldi lalu melangkah ke acara pesta pernikahan sepupu mereka setelah memarkirkan sepeda motor milik almarhum ayahnya.
“Jangan lupa dikunci setang!” Alma mengingatkan Aldi agar mengunci setang sepeda motor yang dipakirkan.
“Iya.”
Setelah Alma dan Aldi mulai memasuki tenda-tenda yang terpasang di lokasi pesta, keduanya juga mulai mencari keberadaan Ibu dan Adik perempuan mereka. Paman dan Bibi yang mengadakan pesta pernikahan juga terlihat menyambut kedatangan Alma dan Aldi.
“Ibu di sana, Kak!” Aldi menunjuk Ibu mereka yang berada di depan meja hidangan berupa penganan.
Keduanya lalu melangkah menghampiri Ibu dan juga Adik perempuan mereka.
Alma dan Aldi juga meraih punggung tangan sang ibu untuk mereka cium setelah berada tepat di hadapannya.
“Kenapa lama sekali datangnya?” Ibunya Alma bertanya sebab merasa kedua anaknya terlalu lama datang ke acara saudara mereka.
Alma dan Aldi pun saling pandang, tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ibu mereka.
“Kenapa? Kok ditanya malah diam?”
“Kita baru pulang, Bu.” Alma pun menjawab pertanyaan ibunya, sedangkan Aldi hanya diam. Ia tidak berani menatap wajah ibunya karena Aldi merasa bersalah telah membohongi ibunya.
“Baru pulang?”
“Iya.”
“Apa banyak sekali bahan yang mau disiapkan?”
“Iya, Bu, banyak!” Alma kembali menimpali kebohongannya. Ia terpaksa melakukan hal itu demi menutupi rahasianya yang menikah pura-pura dengan bosnya.
“Ya sudah, makan dulu sana! Ibu enggak masak di rumah.”
“Iya, Bu. Nanti kalau lapar Alma makan.”
Setelah Alma menghampiri ibunya, ia pun mencari bangku kosong untuk ia duduki. Begitu pula dengan Aldi. Ia juga melakukan hal yang sama seperti kakaknya.
Alma tidak mengikuti anjuran ibunya yang menyuruhnya makan di acara pernikahan sepupunya. Perut Alma masih terasa kenyang sebab ia makan banyak di acara pernikahan pura-puranya dengan Alvin.
Alma dan Aldi terlihat begitu lelah, persis seperti orang yang lelah karena bekerja seharian. Padahal keduanya sama sekali tidak bekerja di ruko seperti alasan Alma oada ibunya.
Alasan Alma yang mengatakan jika di hari itu lembur pun sudah jelas semakin terdukung dengan kondisi tubuh mereka yang terlihat lelah.
Semua sanak saudara mereka juga mengetahui perihal lemburnya Alma, sebab Ibu mereka sudah menjelaskan jika ketiadaan hadirnya Alma di siang hari ketika berlangsungnya acara pesta, itu karena Alma yang lembur bekerja.
“Kakak pintar sekali bohong sama Ibu. Apa sudah sering?” Aldi tiba-tiba bertanya setelah ia duduk di bangku dekat kakaknya.
Alma yang mendapat pertanyaan dari adiknya, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Ia memastikan ucapan adiknya tidak terdengar oleh yang lain.
“Husst ... sembarangan kamu! Kakak baru kali ini kok bohong maraton ke Ibu!” Alma berkata setelah memastikan tidak ada kerabat mereka yang duduk di sekitar tempat duduk mereka.
“Kalau bicara lihat situasi dulu! Jangan sampai kedengaran sama saudara kita!” sambung Alma lagi. Alma takut ucapan Aldi didengar oleh kerabat mereka.
“Aku lihat enggak ada saudara kita yang duduk di sini, Kak. Makanya aku berani bicara begitu!”
*
Di ruko Alvin.
Selepas kepergian Alma dari ruko pabrik, Alvin lalu mengeluarkan koper yang ada di bagasi mobil. Ia lalu mengeluarkan dan memilah pakaian yang sempat ia gunakan sebagai lapis dalaman ketika acara pernikahan digelar.
Pada saat ia melakukan hal tersebut gerakan tangan Alvin juga tiba-tiba berhenti ketika matanya tertuju pada benda yang kini melingkar di jari manisnya.
Alvin tertegun, seolah mengingat sesuatu ketika melihat benda tersebut kini sudah melingkar di jari manisnya. Benda itu adalah cincin pernikahan. Cincin yang semula ia rencanakan akan di pakaikan oleh kekasih hatinya. Namun, ketika acara pernikahannya digelar, yang memakaikan cincin tersebut bukan wanita yang selama ini ia idamkan untuk mendampingi hari-harinya kelak. Cincin tersebut justru dipakaikan oleh wanita yang hanya berpura-pura menjadi pengantinnya.
Harapan Alvin mengarungi bahtera rumah tangga bersama Salsa tak pernah terwujud. Alvin memang sudah mengikhlaskan peristiwa itu. Namun, sebagai manusia biasa ia juga tidak bisa menampik bila masih mengingat dan merasakan kecewa akibat kabar yang membuat batal rencana pernikahannya dengan Salsa.
Alvin juga tersenyum setelah sekilas mengingat mengenai batalnya pernikahan antara ia dan Salsa. Pasalnya ia merasa lucu sendiri kala mengingat tingkah Alma.
Alvin juga merasa heran ketika mengingat ukuran cincin yang semula memang dibuat untuk Salsa ternyata muat dipakai di tangan Alma.
“Aneh juga, kenapa cincinnya bisa pas di jarinya? Sedangkan ukuran baju mereka saja tidak sama ....”
Ketika Alvin selesai memilah dan mengeluarkan isi koper, Alvin kembali meletakkan koper ke tempat biasa ia menyimpan koper tersebut. Di saat yang sama, Alvin juga mendengar suara bel yang di tekan dari luar ruko.
Suara bel juga terdengar berulang kali di tekan. Alvin menduga-duga siapa yang datang di saat malam begini. Jika itu Leman, tidak mungkin Leman menekan Bel. Sebab Leman juga diberi wewenang memegang kunci gerbang dan kunci ruko semenjak ia tidur di ruko pabrik.
Apabila Leman lupa membawa kunci, biasanya Leman akan menghubunginya lewat ponsel dan meminta dibukakan pintu gerbang, bukan menekan bel seperti sekarang ini.
Alvin lalu membuka layar ponselnya. Ia ingin melihat dari rekaman CCTV yang terhubung langsung dengan ponselnya dan melihat siapa orang yang kini menekan bel di depan ruko pabriknya.
Mata Alvin membelalak ketika melihat sebuah mobil yang cukup ia kenali dan tentu saja orang yang kini tengah menekan bel adalah pengemudi dari mobil yang tengah terparkir di depan rukonya.
“Oma ....”