Perhitungan

1088 Kata
Kini resepsi pernikahan sudah selesai. Para tamu yang datang ke acara itu juga sudah meninggalkan ballroom hotel tempat diadakannya pernikahan Alvin dan Alma. Selain Alvin, Emi, Alma dan adiknya yang kini berada di dalam ballroom hotel, juga ada pekerja dari pihak wedding organizer yang masih di bawah naungan Madam Diana yang merapikan sisa-sisa dari acara tersebut. Sedangkan omanya Alvin sejak acara dansa selesai sudah beranjak ke kamar hotel. Usia senjanya tidak mampu menopang tubuhnya untuk duduk terlalu lama dan mengharuskannya beristirahat lebih dulu. “Mami dan Oma akan pulang duluan. Kamu dan Alma bagaimana, Al? Mau pulang sekarang juga?” Emi bertanya pada Alvin. Keduanya berbicara di antara beberapa pekerja wedding organizer yang sedang melakukan tugasnya. “Iya, Mami. Alvin akan pulang sebentar lagi. Tapi Alma, mungkin tidak langsung pulang ke rumahnya ....” Alvin berkata sembari melihat ke arah Alma yang tampak mengitari meja tempat menata makanan yang di hidangkan. “Kenapa?” Alvin menoleh ke arah maminya yang tampak heran. “Alma akan ke pabrik dulu. Uang miliknya belum Alvin berikan seluruhnya,” sambung Alvin lagi. “Ooh ... Mami kira kenapa, rupanya karena itu Alma tidak langsung pulang?” Alvin hanya menanggapi perkataan maminya dengan anggukan. Tatapan Alvin kembali fokus melihat ke arah Alma. “Mami duluan ya, Al. Mami susul omamu dulu. Kasihan omamu, sepertinya dia sudah sangat lelah.” Emi pun pamit pada putranya. Alvin kembali menanggapi perkataan sang mami dengan anggukan kepala, bahkan tanpa melihat lawan bicaranya. Tatapan Alvin benar-benar tertuju pada Alma. Setelah kepergian maminya dari ballroom hotel, Alvin pun menghampiri Alma yang masih sibuk mengitari meja tempat dihidangkannya makanan. Aldi sang adik juga berada di sana. “Ada apa?” Alvin bertanya pada Alma yang tampak mengamati makanan yang ada di atas meja. “Eh, si Bos. Anu Bos, ini ....” Alma tampak ragu mengatakan hal yang ada di dalam benaknya. “Katakan saja, apa ada masalah?” tanya Alvin lagi. “Makanannya Bos.” “Makanan?” “Iya.” “Makanannya kenapa?” Alma tampak bertukar pandang dengan adiknya sebelum ia menjawab pertanyaan dari Bosnya. “Jangan bikin malu, Kak!” Aldi berseru mengingatkan kakaknya. “Bikin malu? Sebenarnya ada apa? Katakan saja!” Alvin tampak bingung dengan percakapan kedua Kakak beradik itu. “Anu, Bos. Ini makanannya 'kan masih sisa banyak. Kalau boleh saya mau bawa pulang sedikit buat Ibu saya. Boleh tidak Bos?” Alvin tertawa mendengar penuturan Alma. Alvin mengira Alma mengalami sebuah masalah. “Yah, si Bos malah ketawa. Boleh enggak?” Alma kembali memastikan. Ia sama sekali tidak merasa malu, tidak seperti Aldi yang menganggap keinginan kakaknya sebagai hal yang memalukan. “Tentu saja boleh.” Alvin akhirnya menjawab pertanyaan Alma. “Nah, Kakak bilang juga apa, pasti si Bos ngizinin kita bawa pulang ini makanan. Lagi pula makanan ini ‘kan uda dibayar sama si Bos. Benar ‘kan Bos?” Alvin mengangguki penuturan Alma. “Iya, Kak. Tapi ‘kan enggak perlu juga di bawa pulang. Kalau Ibu nanti curiga bagaimana? Lagi pula Ibu juga pasti sudah makan di pestanya si Novi ....” “Tenang saja, kalau soal Ibu curiga bilang saja ini Bonus dari si Bos. Memang sih, Ibu pasti udah makan di pestanya si Novi, tapi ini makanannya ‘kan beda. Kalau di tempat si Novi palingan yang di makan cuma semur ayam, tauco sama sambal opak. Tau sendiri ‘kan, kalau Bibi kita itu pelit! Mana mungkin menu makanan di pestanya elit!” Alma menjelaskan alasannya mengapa ia berniat membawa sebagian makanan dari acara resepsi pernikahan. “Terserah Kakak saja. Aku enggak ikut-ikutan membohongi Ibu.” “Iya. Terserah kamu juga. Awas aja nanti kalau di rumah kamu ikut makan paling banyak!” Alvin kembali tersenyum tipis melihat perdebatan ringan antara Alma dan adiknya. Alvin juga tidak menyangka jika Alma yang selama ini ia kenal memiliki sifat yang begitu polosnya. Sifat Alma sama sekali tidak menunjukkan hal yang mengarah ke pura-puraan. * Alvin, Alma dan Aldi sudah kembali ke ruko pabrik. Sesuai dengan janjinya, Alvin pun memberikan sisa uang yang ia janjikan kepada Alma. Alma terlihat sangat semringah menerima uang imbalan dari Bosnya. “Alhamdulillah, kalau rezeki memang enggak ke mana ....” Alma mengucap bersyukur setelah menerima uang yang diberikan Alvin. Alma kembali mengingat rentetan peristiwa sebelum resepsi pernikahan berlangsung. Ia juga sempat mengira jika tawaran bosnya batal sebab merasa Oma bosnya tidak memberi restu. “Terima kasih sudah membantuku.” Saat ini Alvin dan Alma berada di ruang dapur, sedangkan Aldi berada di depan teras ruko. “Sama-sama, Bos. Oh iya, Bos, saya langsung pamit. Saya mau ke nikahan saudara saya juga.” “Acaranya masih berlangsung?” Alvin bertanya sembari melihat jam tangan yang melilit pergelangan tangannya. Alvin bertanya demikian sebab ia mengira jika acara di tempat saudara Alma sudah berakhir seperti halnya acara pernikahan mereka yang pura-pura. “Masih, Bos. Kalau orang-orang di perkampungan bikin acara biasanya sampai malam. Waktunya jauh lebih panjang dan enggak kayak acara di gedung-gedung.” “Ya sudah, hati-hati.” “Iya, Bos. Saya permisi.” Alma lalu melangkah menghampiri Aldi yang berada di teras ruko. “Ayo, Aldi, kita pulang!” ucap Alma ketika sudah sampai di tempat Aldi berada. “Oh iya, jangan lupa pamit dulu sama si Bos!” Aldi pun melakukan hal yang diucapkan kakaknya. Ia lalu berjalan ke arah Alvin yang berada di ambang pintu ruko. “Saya pamit dulu, Bos.” “Iya. Hati-hati!” Setelah menjawab pamit dari Aldi, kemudian Alvin merogoh saku celana dan mengambil dompetnya. “Ini, ambil untuk isi bensin!” Alvin menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah kepada Aldi. Aldi tidak serta merta menerima uang yang diberikan Bos kakaknya. Ia pun menatap Alma, seolah meminta persetujuan untuk menerima atau tidak uang tersebut. “Ambil saja, tidak usah bertanya pada kakakmu!” “Kak, bagaimana?” Aldi beralih pada Alma meminta persetujuannya. “Tidak usah Bos. Duit dari si Bos yang ini juga masih cukup buat beli bensin!” Alma berkata sembari menunjuk uang yang ada di dalam tasnya. “Itu uangmu. Beda dengan yang ini ... yang ini untuk beli bensin,” sanggah Alvin lagi. Alma dan Aldi tampak berpikir. Kemudian Alma pun melangkah menghampiri bosnya yang ada di ambang pintu ruko. “Kalau Bos maksa, mau tidak mau kita terima. Iya, ‘kan, Aldi?” Alma pun meraih uang yang tengah diulurkan oleh bosnya sembari tersenyum, lalu ia menyerahkan uang itu kepada adiknya “Astaga ... kenapa kakakku jadi perhitungan sekali? Tadi makanan, sekarang uang!” Alvin pun tertawa melihat sikap kedua Kakak beradik itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN