Princess Syahrini

1063 Kata
Alma dan Alvin telah kembali ke ruang di mana resepsi pernikahan diadakan. Sebelum meninggalkan tempat diadakannya pernikahan Alvin dan Alma, Pak RT beserta istrinya juga sudah berpamitan pada Oma dan maminya Alvin. Alvin dan Alma kini duduk di atas pelaminan. Dekorasi acara pernikahan yang sangat indah dan mewah terlihat jelas oleh mata Alma dari atas pelaminan. Tatapan aneh serta tanda tanya juga masih Alma dapatkan dari para tamu undangan yang tentu saja mengenal Salsa. Alma pun tetap tak mau ambil pusing dengan tatapan aneh yang ditujukan padanya. Kecuali tatapan aneh yang ia dapati dari orang yang kini duduk tepat di sampingnya. Ia tidak bisa mengabaikan tatapan dari orang tersebut. “Bos kenapa sih, dari tadi saya perhatiin kok kayak ngeliatin saya terus? Muka saya aneh ya?” Alma bertanya pada Alvin ketika tamu yang baru saja bersalaman dengan mereka sudah turun dari pelaminan. Alvin yang mendapat pertanyaan seperti itu segera memalingkan tatapannya ke arah para tamu yang ada di hadapannya. Sesekali keduanya juga duduk dan kembali berdiri di atas pelaminan ketika ada tamu yang menghampiri untuk bersalaman. Di saat itu pula Alvin juga sesekali kembali mencuri pandang menatap Alma. Alma menyadari jika dirinya ditatap oleh bosnya dengan tatapan yang tidak dapat ia artikan. “Bos ...,” panggil Alma pada Alvin. “Hmmm ....” Alvin hanya berdehem menanggapi panggilan Alma. Alvin memalingkan wajahnya dengan cepat ketika ia kembali kepergok mencuri pandang ke wajah Alma. “Bos, jangan seperti itu dong! Jangan ngeliatin saya kayakgitu, saya jadi enggak pede!” Alma kesal pertanyaannya tidak dijawab Alvin, tetapi bosnya itu justru kembali melakukan hal yang sama. “Capek juga ya, Bos, nyalamin orang segini banyak. Huh ... nikah pura-pura aja capek, gimana nikah beneran ...?” Alma berceloteh mengeluh sebab begitu banyak tamu undangan yang menyalaminya di atas pelaminan, sedangkan Alvin kembali mencuri pandang dan tersenyum mendengar celotehnya. “Apa muka saya beneran aneh ya, Bos? Perasaan pas ngaca tadi, saya kelihatan cantik kok. Adik saya aja sampe enggak kenal sama saya. Hi ... hi ... hi ....” Alma kembali bertanya sebab bosnya masih melakukan hal yang sama. Ia juga merasa geli mengingat kejadian Aldi yang tidak mengenalinya. “Kamu bilang capek, tapi sikapmu sama sekali tidak menunjukkan kalau kau capek.” “Memangnya saya kenapa?” “Itu ... sejak tadi kau bicara terus!” “Ikh ... apaan sih Bos? Saya bicara terus karena si Bos enggak nanggapin pertanyaan saya! Lagian salah sendiri ngeliatin saya kayakgitu, saya ‘kan jadi enggak pede!” “Diamlah, itu ... ada tamu lagi yang mau bersalaman.” Mendengar perkataan bosnya, Alma yang semula duduk kembali berdiri menyambut uluran tangan dari tamu. Sedangkan Alvin kembali menatap wanita yang kini tepat di sampingnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Alma. “Tuh 'kan ... si Bos ngelirik lagi. Jangan gitu dong Bos. Beneran aneh ya muka saya?” Alma kembali bertanya hal yang sama. “Kamu tidak aneh ....” “Terus, kenapa ngilatin saya kayak gitu?” Alvin tidak langsung menjawab pertanyaan Alma yang terlihat mulai kesal. Ia justru tertawa ringan melihat sikap Alma yang demikian. “Bos ... bukannya menjawab, malah ketawa!” Alma semakin kesal melihat kelakuan bosnya. “Kamu cantik!” Ucapan Alvin sontak membuat Alma sebagai seorang wanita menunduk dan tersipu malu. Alma semula mengira jika tatapan yang ditujukan Alvin padanya karena merasa aneh dengan riasan di wajahnya. “Bukannya aneh?” Alma perlahan mengangkat wajahnya yang semula menunduk karena pujian Alvin. “Tidak. Aku serius! kau benar-benar cantik!” kepala Alvin juga ikut menggeleng. “Tapi sayang Bos ....” “Kenapa?” Alvin merasa heran, dahinya juga tampak mengerut. “Yang muji saya cantik bukan suami saya. ‘Kan kita nikahnya hanya pura-pura!” Alvin tertawa begitu lepas mendengar celoteh Alma. Begitu pun dengan Alma. Ia juga turut merasa geli dengan ucapannya sendiri. Sejak kejadian batalnya rencana pernikahan Alvin dengan sang kekasih, tak sekali pun Alvin terlihat tertawa lepas seperti sekarang ini. Candaan ringan dari Alma ternyata mampu mengukir senyum di bibir tipis milik Alvin. Hal serupa ternyata juga diamati dari tempat omanya Alvin berada. Wanita tua itu merasa bahagia melihat cucunya tertawa lepas dari atas pelaminan bersama istri yang baru saja dipersunting. “Aku yakin jika Alma kelak bisa membuat cucuku jauh lebih bahagia ketimbang Salsa.” Omanya Alvin berkata dalam hati. Wanita tua itu merasa yakin dengan apa yang dilihatnya adalah sebuah kebenaran, ia sama sekali tidak tahu-menahu perihal perjanjian diantara Alma dan cucunya. Beberapa rangkaian acara setelah akad nikah juga turut dijalani oleh Alma dan Alvin. Seperti lempar bunga serta sambutan tarian dari beberapa penari untuk mempelai pengantin. Acara dansa untuk kedua mempelai juga turut diadakan. Tatapan aneh serta tanda tanya beberapa pasang mata dari tamu yang datang di acara pernikahan itu juga masih Alma dapati. “Lihat, Bos, tamu-tamunya si Bos masih pada ngeliatin saya.” Alma berucap pelan kepada bosnya. “Abaikan saja! Tidak usah dipikirkan.” Alvin pun hanya melirik sekilas tamu yang disebutkan oleh Alma. Alvin juga berkata sama pelannya seperti Alma. Keduanya kini tengah berdansa demi melengkapi susunan acara yang sudah terencana saat sebelum mendapat kabar pembatalan pernikahan Alvin dan Salsa. “Lagi pula, kamu juga tidak kenal mereka. Jadi abaikan saja!” sambung Alvin lagi. “Hi ... hi ... benar juga si Bos. Ketemunya juga cuma hari ini.” Alma kembali merasa geli dengan perkataan yang dia ucapkan sendiri. “Gerakannya begini saja ya, Bos. Kalau hanya maju-mundur cantik kayak Princess Syahrini ... saya masih bisa ngikutinnya. Tapi kalau sampai gerakannya yang ngadi-ngadi saya enggak bisa ....” Alma berkata dengan jujur pada bosnya. Sikap Alma yang terlihat begitu polos dengan segala ucapannya justru membuat Alvin kembali membentuk sebuah ukiran senyum di bibirnya. “Yaelah Bos, malah senyum-senyum. Saya serius nih! Jangan sampai si Bos ngikut malu kalau saya salah gerakan! Kalau saya sih aman, besok ‘kan enggak ketemu lagi sama tamunya si Bos!” Alvin semakin merasa lucu melihat ekspresi serta celoteh dari bibir Alma. Bibirnya tak henti-henti menyunggingkan senyuman. Di sisi lain, Alvin tersenyum karena menilai lucu dengan sikap dan ucapan Alma. Namun, beda halnya dengan penilaian dari orang-orang yang tengah menatap mereka. Seperti Nyonya Mayleen, ia mengira senyum yang ditampilkan sang cucu adalah senyum kebahagiaan karena pernikahan yang telah dilangsungkan. Pemandangan Alvin dan Alma yang tengah berdansa itu juga sudah pasti dinilai sebagai bentuk kebahagiaan oleh para tamu yang sedang hadir di acara itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN