Emi dan Nyonya Mayleen tidak tahu perihal apa yang sedang dibicarakan oleh Alvin, Alma, Aldi dan tentunya Pak RT.
Emi penasaran, lalu ia bangkit dari tempat duduknya. Emi lalu berjalan menuju ke empat orang tadi.
“Ini ada apa, Al? Kenapa akadnya belum dimulai?” Emi bertanya langsung pada sang putra ketika dirinya sudah berada di dekat Alvin.
“Pak RT, Mam ....”
“Pak RT? Pak RT memangnya kenapa?”
Emi menatap heran ke arah Pak RT. Emi benar-benar penasaran mengapa ijab kabul tidak segera dilangsungkan.
“Pak RT ternyata pamanya Alma!”
Tidak ada respon mencolok yang ditampilkan oleh Emi setelah tahu kebenaran mengenai Pak RT. Emi sama sekali tidak memikirkan dampak apa yang akan dialami oleh Alma, terutama setelah pamannya Alma mengetahui perihal pernikahan antara Alma dengan Alvin.
Yang Emi pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya agar Alvin tetap menikah dan ia beserta keluarga tidak menanggung malu atas pembatalan sepihak yang dilakukan keluarga Salsa.
“Iya. Saya ini pamannya Alma.” Pak RT menimpali ucapan Alvin.
“Nanti kamu harus jelaskan ke Paman. Paman sendiri yang akan menikahkan kamu. Ayo, itu penghulunya sudah menunggu!”
Alvin, Alma dan Aldi kembali duduk ke tempat di mana penghulu berada.
Posisi duduk Aldi berpindah tempat. Tempat duduk yang semula ia duduki kini ditempati oleh Pak RT dan sebaliknya, kursi yang disediakan untuk Pak RT kini diduduki oleh Adli.
Maminya Alvin juga kembali duduk ke tempat semula. Pertanyaan pun dilontarkan oleh omanya Alvin ketika melihat menantunya kembali duduk di dekatnya.
“Ada apa, Emi? Kenapa akadnya belum dimulai?”
“Pak RT, Ma ... Pak RT ternyata pamannya Alma!” Emi berkata dengan begitu santai mengenai Pak RT yang ternyata adalah pamannya Alma.
Berbeda dengan Emi yang seolah tak acuh mengenai hal tersebut, omanya Alvin justru tampak sebaliknya.
Wanita tua itu merasa bahagia bisa mengenal lebih keluarga calon cucu menantunya.
“Benarkah?”
“Iya, Ma. Pak RT ternyata pamannya Alma. Ya begini kalau nikahnya dadakan. Segala hal yang kita tahu juga akan tiba-tiba.” Emi menjelaskan seolah pernikahan antara putranya dengan Alma seperti menikah dadakan yang sungguhan.
“Tidak apa-apa semuanya dadakan. Yang penting keluarga Alma tetap ada yang menghadiri, bukan hanya adiknya saja.”
Pembicaraan antara Emi dan mertuanya pun berakhir setelah melihat Alvin mulai menjabat tangan pamannya Alma.
Meski menurut Alvin hanya pura-pura dalam mengucap ijab, tetap saja ada rasa gugup yang melanda diri Alvin. Ia takut dirinya salah dalam menyebut kata atau pun nama mempelai wanita.
Setelah penghulu mengucapkan kata ‘sah’ yang diikuti oleh saksi, semua orang terutama Alvin bisa merasa lega.
Akad berlangsung lancar tanpa ada kendala sedikit pun. Meski masih terdengar beberapa selentingan mengenai mengapa Alma dan bukan Salsa yang berada di sisi Alvin, tetap saja ijab kabul berjalan mulus tanpa hambatan.
Baik Alvin, Emi maupun mertuanya sama sekali tidak memedulikan tanggapan maupun pertanyaan mengenai siapa mempelai wanita yang kini mendampingi Alvin.
“Oh ... jadi Mas Alvin batal nikah sama calon istrinya?” Pak RT beserta istrinya kini berada di dalam kamar hotel yang rencananya dijadikan sebagai tempat Alvin dan Salsa akan berganti baju. Alvin tengah menjelaskan kepada Pak RT dan istrinya mengapa Alma yang menjadi mempelai wanita.
“Iya, Pak. Seperti itu ceritanya.”
“Tapi, apa ini ke depannya tidak akan menjadi masalah?”
“Masalah? Masalah apa, Paman? Kan nikahnya cuman pura-pura.”
“Iya, Paman tahu, tadi Mas Alvin sudah menjelaskan. Maksud Paman, barusan itu akadnya 'kan beneran pake namamu, itu artinya akadnya enggak pura-pura.”
“Iya, Al. Yang dibilang pamanmu itu betul.” Istri Pak RT juga turut menimpali ucapan suaminya.
Alma dan Alvin saling bertukar pandang, sedangkan Oma dan maminya Alvin tidak ikut dalam pembicaraan mereka. Dua wanita itu masih sibuk menyambut para tamu dan kerabat mereka.
“Semua dokumen pernikahan masih atas nama mempelai yang semula. Jadi bisa saya pastikan, Pak, kalau pernikahan tadi tidak terdaftar dan setelah resepsi selesai Alma juga akan kembali menjalani kehidupannya seperti semula.”
“Iya, Paman. Yang penting Paman dan Bibi enggak cerita sama ibuku. Kalau Ibu tahu, pasti Ibu enggak bakal setuju. Aku melakukan ini juga buat Ibu. Aku mau melunasi semua hutang sama Warni. Paman tahu sendiri ‘kan, kalau sertifikat rumah kami sedang digadaikan.” Alma menjelaskan alasan mengapa ia bersedia menikah pura-pura dengan Alvin.
“Pak RT juga jangan cerita ke Oma saya. Oma saya juga sama seperti ibunya Alma. Dia tidak tahu tentang pernikahan kami yang pura-pura.”
Pak RT kembali saling bertukar pandang dengan Alma, Alvin dan juga istrinya. Pak RT bisa memahami tiap masalah yang sedang dihadapi oleh Alvin dan keponakannya.
“Baiklah. Paman enggak akan cerita tentang ini ke ibumu. Tapi ....”
“Tapi apa, Paman?”
“Lain kali jangan seperti ini lagi. Tidak baik mengambil keputusan apa pun sendiri. Kau masih punya Ibu, dia orang tuamu satu-satunya. Jadi lebih baik, segala hal dibicarakan dengannya,” sambung Pak RT lagi.
Alma pun mengangguki perkataan pamannya. Ia merasa lega setelah sebelumnya merasa khawatir jika sang Paman akan menceritakan perihal pernikahan pura-pura antara ia dan Alvin kepada ibunya.
“Oh ya, Paman juga enggak bisa lama-lama di sini. Paman juga harus ke pernikahannya si Novi.”
“Iya, Paman. Sekali lagi terima kasih, karna Paman enggak cerita tentang ini ke ibuku.”
Pak RT mengangguk. Begitu pula dengan istrinya.
“Ya sudah. Kalau begitu, Paman pamit sekarang. Kalau acara di sini selesai, usahakan kau juga datang ke rumah bibimu! Jangan sampai kau tidak datang dan menjadi tanda tanya pada kerabat kita yang lain.”
“Iya, Paman. Aku usahakan nanti aku juga datang ke acara nikahannya si Novi.”
Iya, Paman. Sekali lagi terima kasih, karna Paman enggak cerita tentang ini ke ibuku.”
Pak RT mengangguk. Begitu pula dengan istrinya.
“Ya sudah. Kalau begitu, Paman pamit sekarang. Kalau acara di sini selesai, usahakan kau juga datang ke rumah bibimu! Jangan sampai kau tidak datang dan menjadi tanda tanya pada kerabat kita yang lain.”
“Iya, Paman. Aku usahakan nanti aku juga datang ke acara nikahannya si Novi.”
“Mas Alvin, saya pamit dulu.”
Pak RT pun mengulurkan tangannya ke arah Alvin.
“Pak RT mau berangkat sekarang? Tidak makan dulu?”
“Enggak Mas, Alvin. Saya juga lagi buru-buru. Seperti yang barusan saya bilang tadi, di rumah bibinya Alma juga lagi ada acara nikahan ponakan saya. Kebetulan, nanti saya juga jadi wakil untuk menyambut kedatangan mempelai laki-laki dari pihak keluarga saya.” Pak RT kembali menjelaskan alasan dirinya yang akan meninggalkan di acara pernikahan Alvin.
“Baik, Pak. Saya juga mau berterima kasih atas kesediaan Bapak.”
Sebelum kepergian Pak RT, Alma juga mencium punggung tangan Paman dan bibinya. Begitu pula dengan Aldi. Ia juga melakukan hal yang sama seperti kakaknya.