Alma masih terus berjalan dituntun oleh salah satu bawahan Madam Diana menuju tempat di mana akad nikah akan digelar. Aldi juga turut mengikuti langkah sang Kakak dari belakang. Sebagian orang yang hadir di acara itu menatap heran ke arah Alma.
Alma juga bisa mendengar beberapa selentingan yang menggunjingkan dirinya. Beberapa orang yang hadir dan tentunya mengetahui hubungan asmara antara Alvin dan Salsa sudah pasti memiliki tanda tanya besar setelah melihat keberadaan Alma yang berjalan ke arah Alvin.
Alma sudah berada tepat di mana Alvin akan mengucapkan akad. Alvin masih belum percaya melihat wanita yang kini berada di hadapannya adalah Alma. Alvin benar-benar merasa takjub melihat wajah Alma yang nyaris tidak ia kenali.
Polesan make up dari tangan Madam Diana sungguh membuat wajah Alma tampak memukau. Belum lagi busana pengantin yang sudah diberi tambahan aksen penutup bahu serta kepala, itu semua melengkapi kesempurnaan penampilan Alma.
“Bagaimana, Al? Si Alma benar-benar terlihat cantik ‘kan?” Madam Diana bertanya pada Alvin yang masih menatap serius ke arah Alma.
Alma sendiri tampak sangat semringah ketika sudah berada di hadapan bosnya. Ia sama sekali tidak memedulikan tatapan aneh orang-orang kepada dirinya.
Alma berpikir jika tatapan aneh orang-orang saat ini padanya sudah menjadi suatu kewajaran. Mengingat sebagian dari mereka pasti sudah mengenal dan mengetahui hubungan asmara bosnya dengan Salsa.
“Pasti tamu-tamunya si Bos yang kenal dengan Kak Salsa kaget ngelihat yang jadi pengantin ceweknya itu aku,” gumam Alma dalam hati. Ia juga merasa jika dirinya sudah memberi kejutan kepada para tamu yang hadir.
Untuk penghulunya sendiri juga sudah diberitahu jika mempelai pengantinnya digantikan oleh Alma.
Ketika Alvin sudah lebih dulu tiba di tempat akan dilaksanakannya akad, ia juga memberitahu dan menceritakan secara ringkas mengenai pembatalan pernikahan dirinya dengan Salsa.
Alvin sengaja menjelaskan kepada penghulu agar penghulu tidak kebingungan sebab nama mempelai wanita yang ia sebut nanti akan berbeda dengan nama mempelai yang sebelumnya akan dicatat di dokumen pernikahan. Pembicaraan antara Alvin dan penghulu begitu pelan, sehingga para tamu maupun beberapa kerabat yang sudah hadir sebelumnya tidak bisa mendengar pembicaraan keduanya.
Penghulu pun akhirnya mengerti jika mempelai wanitanya yang akan dinikahkan bukan lagi mempelai yang semula namanya tertera di dokumen pernikahan. Pernikahan yang akan digelar juga belum tercatat di negara dan hanya berlangsung secara siri.
Alvin tidak menjelaskan jika pernikahan yang akan segera dilaksanakan hanya pura-pura dan bertujuan untuk menutupi rasa malu yang akan diterima keluarga bila pernikahannya tersiar batal. Alvin hanya mengatakan ada sebuah insiden yang mengakibatkan batalnya pernikahan antara dirinya dengan mempelai yang sebelumnya.
Alvin juga beralasan untuk pengubahan nama mempelai membutuhkan waktu, sedangkan pernikahan sudah dijadwal sesuai seperti yang tertera di kertas undangan. Itulah sebabnya mengapa Alvin mengatakan kepada penghulu jika pernikahannya saat ini cukup dilaksanakan secara siri dulu.
“Bagaimana? Sudah bisa kita mulai?” tanya penghulu pada Alvin.
Alvin menatap ke sekelilingnya.
Entah mengapa perasaannya tiba-tiba terasa bercampur aduk. Padahal pernikahan yang akan ia langsungkan bersama Alma hanya direncanakan sebagai pernikahan pura-pura.
“Tunggu sebentar lagi, Pak. RT di tempat tinggal saya belum datang.” Alvin berucap demikian karena ia berusaha mengulur waktu.
Alvin berusaha meredam rasa gugupnya.
Tak lama kemudian, Pak RT yang dimaksudkan oleh Alvin pun tiba. Pak RT tidak datang seorang diri. Ia tiba bersama istri, Leman dan juga Yuni.
Keempatnya juga bertanya pada salah seorang anggota wedding organizer mengenai akad yang sudah dilangsungkan atau belum.
“Maaf ... saya terlambat,” ucap Pak RT ketika sudah berada di dekat Alvin berada.
Alma dan Aldi menoleh ke arah sumber suara. Begitu pula dengan Pak RT dan istrinya. Keempat orang tersebut pun saling bertemu pandang.
“Aldi ....?” Pak RT menatap heran ketika melihat keberadaan Aldi duduk di samping penghulu.
“Sedang apa kau di sini, Aldi?” tanya Pak RT lagi.
Aldi bingung harus menjawab apa.
“Bapak mengenal Aldi?”
“Ya tentu saja kenal. Dia keponakan saya!”
Alma hanya bisa memalingkan wajahnya ketika ia tahu siapa Pak RT yang ditunggu bosnya.
“Kau sedang apa di sini, Al?” Istrinya Pak RT juga turut menimpali pertanyaan suaminya.
“A-aku ....” Aldi tampak bingung menjawab pertanyaan Pak RT.
“Kak Alma, bagaimana ini?” Aldi lalu beralih pada Alma yang ada di hadapannya. Ia bingung dan tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari sang Paman.
“Kak Alma? Kakakmu juga ada di sini?” Pak RT kembali bertanya, terutama mengenai Alma.
Pak RT pun mengedarkan pandangannya diantara orang yang duduk di dekat penghulu. Ia mencari-cari keberadaan Alma. Begitu pula dengan sang istri, ia melakukan hal yang sama seperti suaminya.
Alma yang dicecar oleh sang Adik terpaksa menoleh ke arah Pak RT.
“Aku di sini, Paman!” Alma menoleh ke arah pamannya dengan senyum yang dibuat terpaksa.
Pak RT dan Bu RT pun menatap ke arah sumber suara. Keduanya sangat terkejut melihat keberadaan Alma, terutama setelah melihat penampilan Alma yang mengenakan gaun pengantin.
“Ini bagaimana? Pernikahannya mau di teruskan atau tidak?” Penghulu yang akan menikahkan Alvin dan Alma bertanya menyela ucapan antara Alma, Alvin juga Pak RT. Penghulu bertanya demikian karena penghulu merasa jika pihak pengantin tidak terlihat serius akan melakukan akad.
“Kalau sudah selesai di sini, saya masih ada jadwal menikahkan orang lain lagi.”
“Tunggu sebentar, Pak. Ada hal yang harus kami bicarakan.”
Alvin lalu beranjak dari duduknya. Ia meraih tangan Alma dan mengajaknya berbicara dengan Pak RT dan Aldi. Mereka berbicara sedikit menjauh dari tempat semula mereka duduk.
“Ini sebenarnya ada apa? Dan kau Alma, kenapa kau memakai baju pengantin?” Pak RT bertanya kepada Alvin, Alma dan Aldi.
“Pak RT, nanti biar saya yang jelaskan. Izinkan saya menikah dulu dengan Alma. Nanti setelah akad selesai semuanya akan saya jelaskan.”
Pak RT masih menatap bingung pada kedua keponakannya. Begitu pula dengan Oma dan maminya Alvin. Kedua wanita itu hanya bisa menatap keempat orang yang tampak tengah berdiskusi dari tempat mereka duduk.
“Mas Alvin beneran mau nikah dengan ponakan saya?”
“Nanti saya jelaskan, Pak.”
“Ibumu mana?” tanya Pak RT pula pada keponakannya.
“Ibu lagi di acara nikahannya Novi.”
“Lah, ini bagaimana? Anak sendiri juga mau nikah, kok ibumu malah di sana? Kau juga Alma, kenapa tidak memberi kabar kalau mau nikah? ”
“Psssst ... jangan keras-keras bicaranya, Paman?”
“Kenapa? Yang Paman bilang itu betul.”
“Sudah saya bilang, nanti saya jelaskan. Sekarang tolong Bapak jadi saksi dulu untuk akad nikah!” Alvin berkata demikian sebab tak ingin mengulur waktu penghulu yang akan menikahkan orang lain juga.
“Enggak bisa.”
“Kenapa?”
“Saya ini walinya Alma, Adik kandung dari bapaknya Alma. Ya saya yang bakalan menikahkan Alma!”
“Terus aku ... aku bagaimana, Kak?” Aldi bertanya sebab merasa bingung.
“Batal! Kamu batal jadi wali ...."