Madam Diana tiba di kamar hotel tempat Alvin, Alma dan Aldi berada. Madam Diana datang bersama para asistennya. Semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk pekerjaannya nanti juga tidak lupa dibawa oleh para asistennya.
Setelah Madam Diana tiba di kamar Alvin, Alma dan Aldi berada, maminya Alvin juga memberi kabar jika sudah tiba di hotel.
Pihak wedding organizer yang masih di bawah naungan Madam Diana pun sudah standby dengan serangkaian acara yang akan digelar.
Aldi menatap ke arah Madam Diana ketika Madam masuk ke kamar bersama para asistennya. Aldi tidak berkomentar apa pun ketika wanita paruh baya itu masuk ke kamar dan menatap ke arahnya.
“Sudah siap?” Madam Diana bertanya pada Alma.
Alma tersenyum mengangguk menanggapi pertanyaan Madam Diana.
Madam Diana pun mulai memoles wajah Alma yang nyaris tak pernah tersentuh dengan riasan apa pun. Madam Diana tampak begitu terampil merias wajah Alma.
Sembari menunggu Alma dirias oleh Madam Diana, Alvin lalu pamit pada semua yang ada di kamar itu menyusul dua wanita kesayangannya yang baru saja tiba.
Posisi Alvin memang seharusnya berada di kamar yang berbeda dengan calon mempelai wanita.
Aldi sesekali menoleh menatap ke arah sang Kakak. Ia masih berusaha mengingat dan menghafal isi tulisan dari kertas yang diberikan oleh Alvin.
Waktu pun berlalu, wajah Alma juga selesai di rias oleh Madam Diana. Dua orang asisten Madam Diana lalu membantu Alma mengenakan gaun pengantin.
Setelah gaun pengantin membalut sempurna di tubuh Alma, tak lupa Madam Diana memberi aksen di bagian penutup kepala.
Kini Alma telah selesai dengan riasan indah di wajahnya. Gaun pengantin dengan aksen penutup kepala juga menghias mahkotanya.
Alma berdiri di depan sebuah cermin besar. Ia menatap kagum melihat penampilannya. Wajah Alma nyaris berubah terlihat berbeda dari biasanya. Wajah Alma bahkan nyaris tak dikenali oleh adiknya sendiri.
“Ini beneran Kak Alma kakaknya aku?” Aldi bertanya ketika melihat perubahan wajah Alma setelah dirias.
“Ya iyalah. Ini Kakakmu! Masa sama Kakak sendiri tidak kenal.” Madam Diana yang menjawab.
“Bukan begitu, Bu. Saya cuma pangling melihat Kakak saya. Kakak saya jadi cantik sekali.”
“Ibu, ibu. Sejak kapan saya jadi ibumu. Panggil aku Ma-dam!” Madam Diana protes dengan panggilan ibu yang disematkan Aldi padanya.
“Kakakmu itu sebenarnya cantik sih. Hanya itunya saja yang kurang gede. Tidak sebesar milik calon istrinya Alvin ....” Madam Diana kembali mengatakan hal yang sama ketika kali pertama melihat Alma.
“Kalau badannya sedikit lebih berisi, mungkin itunya juga ikut menyesuaikan. Tapi ya sudahlah. Untuk apa juga dipermasalahkan. Lagi pula mereka nikah juga pura-pura. Tidak seperti yang Madam bayangkan sebelumnya.”
Madam Diana kembali mengingat awal pertemuannya dengan Alma. Ia sempat mengira pernikahan antara Alma dan Alvin benar-benar sungguhan.
Itulah alasannya, mengapa Madam Diana pernah membandingkan kepunyaan Alma dengan calon istrinya Alvin.
Aldi sendiri tidak lagi menanggapi perkataan Madam Diana. Aldi masih menatap heran ke arah kakaknya.
Madam Diana juga tersenyum melihat hasil riasannya di wajah Alma. Alma benar-benar terlihat sangat cantik dan menawan dengan balutan gaun yang dikenanya.
Alma masih menatap dirinya sendiri lewat pantulan cermin di hadapannya. Ia sama sekali tidak menggubris percakapan antara Madam Diana dengan adiknya.
Alma masih merasa sangat takjub. Wajahnya yang menurut ia biasanya hanya biasa saja kini terlihat sangat berbeda setelah dipoles make up oleh Madam Diana.
Tubuh Alma juga sesekali memutar melihat tiap sisi gaun yang membalut tubuhnya. Bahkan kali ini Alma lebih antusias dibandingkan ketika Alma mencoba gaun tersebut.
“Cantik sekali aku. Aku benar-benar enggak nyangka bisa terlihat secantik ini. Gaunnya juga jadi kelihatan lebih bagus. Pasti kalau di foto juga terlihat bagus. Hmmm ... sayang, nikahnya cuma pura-pura.” Alma membatin ketika mengingat semuanya hanya sandiwara.
Di dalam hatinya ia juga tertawa.
Alma lalu beralih pada adiknya.
Madam Diana juga terlihat masih berbicara dengan Aldi.
“Aldi, tolong ambilkan foto Kakak pakai handphone ya, buat kenang-kenangan.” Alma menyerahkan ponselnya pada Aldi.
“Fotoin yang banyak, jangan hanya satu,” sambung Alma lagi. Aldi lalu meraih ponsel milik Alma untuk mengambil foto sang kakak.
Tugas Madam Diana sudah selesai merias wajah Alma. Ia lalu pamit untuk ke kamar di mana Alvin dan keluarganya berada.
Madam Diana juga berpesan pada Alma dan adiknya bahwa bawahannya akan menjemput keduanya jika Alvin sudah selesai mempersiapkan penampilannya.
Madam Diana lalu meninggalkan kamar hotel tempat Alma dan adiknya berada. Ia akan segera mempersiapkan penampilan Alvin agar tampak lebih sempurna ketika akad nanti.
Di kamar Maminya Alvin.
“Bagaimana, apakah Alma sudah selesai dirias?” Mayleen, omanya Alvin bertanya ketika Madam Diana sudah berada di kamar tempat Alvin berada.
“Sudah. Dia cantik sekali.” Madam Diana menjawab apa adanya.
Madam Diana juga sudah diberitahu oleh maminya Alvin mengenai mertuanya yang tidak tahu-menahu perihal pernikahan pura-pura diantara putranya dengan Alma.
“Benarkah?” Oma tersenyum semringah mendengar perkataan Madam Diana.
“Tapi sayang sekali ibunya tidak bisa hadir di hari pernikahan putrinya,” sambung Oma lagi.
Semula omanya Alvin merasa bahagia mendengar perkataan Madam Diana. Namun, sesaat kemudian ia merasa sedih mengingat ibunya Alma yang tidak hadir di pernikahan Alma dan sang cucu.
Madam Diana, Emi dan Alvin hanya bertukar pandang menanggapi ucapan Mayleen. Alvin dan maminya sudah sepakat tidak akan membahas perihal keluarga Alma di hadapan wanita yang usianya sudah melebihi setengah abad itu.
Alvin pun selesai mempersiapkan penampilannya. Anggota dari wedding organizer yang di bawah naungan Madam Diana juga sudah bersiap-siap di ballroom hotel. Anggota wedding organizer juga memberitahu Madam Diana jika pihak Penghulu sudah tiba.
“Kau sudah siap, Al?” tanya Madam Diana pada Alvin.
Alvin mengangguk menanggapi pertanyaan Madam Diana.
“Mempelai wanitanya bagaimana? Sudah diberitahu?” Madam Diana bertanya pada salah satu pekerjanya.
“Sudah, Madam.”
“Baiklah. Ayo, Al. Kita segera ke sana.”
Madam Diana, Emi, Alvin dan omanya pun beranjak menuju ballroom tempat diadakannya acara pernikahan.
Alvin dan keluarganya lebih dulu tiba di tempat acara. Di ruangan itu juga terlihat beberapa kerabat Alvin yang dekat dan jauh yang duduk di kursi yang sudah disediakan.
Selain kerabat Alvin, ada pula beberapa tamu undangan yang terlihat sudah hadir dan ingin menyaksikan akad yang akan diucapkan Alvin.
Alvin merasa sangat gugup. Ia seperti itu bukan karena merasa akan menjalani kehidupan baru setelah menikah. Alvin merasa gugup membayangkan seperti apa reaksi orang-orang yang melihat keberadaan Alma yang menggantikan Salsa.
Alvin juga berusaha menutupi kegugupannya. Ia pun membandingkan rasa malu yang akan dihadapi keluarganya bila pernikahannya tersiar batal dengan reaksi orang-orang ketika melihat keberadaan Alma.
Rasa malu yang akan ia tanggung bersama keluarganya sudah pasti dirasa lebih besar daripada reaksi orang-orang yang melihat keberadaan Alma sebagai mempelai pengganti.
Di sela rasa gugup Alvin, ada Alma yang tampak berjalan menuju tempat di mana Alvin akan mengucapkan ijab kabul.
Nyonya Mayleen tampak semringah melihat kehadiran Alma.
“Alvin, lihat itu ....” Omanya Alvin menepuk pelan pundak sang cucu. Ia menunjuk ke arah Alma yang sedang berjalan.
“Alma cantik sekali!” Nyonya Mayleen kembali berucap.
Alvin lalu menatap ke arah yang ditunjuk oleh omanya. Bukan hanya Nyonya Mayleen yang menatap takjub ke arah Alma, tetapi Alvin juga demikian.
Alvin bahkan tidak yakin apakah wanita yang kini berjalan mengenakan gaun pengantin ke arahnya adalah Alma pekerja yang bekerja di pabriknya?
"Apakah itu Alma? Kenapa berbeda sekali?"