Di tengah perjalanan menuju hotel tempat diadakannya akad sekaligus resepsi pernikahan, Emi menghubungi putranya lewat panggilan telepon.
“Halo ....” Alvin menjawab panggilan telepon dari maminya setelah mendengar ponselnya berdering.
“Bagaimana, Al, apakah Alma sudah datang ke pabrik?” Emi merasa khawatir jika Alma tidak datang dan tidak menepati janjinya.
“Kami sudah di jalan, Mami.”
“Syukurlah. Hati-hati, jangan terburu-buru!”
Alvin mengangguk seolah-olah sang Mami ada di hadapannya.
“Mengenai adiknya Alma bagaimana?”
“Adiknya Alma juga sudah ada.”
Emi merasa semakin lega mendengar penuturan putranya. Rasa malu yang sempat ia takuti akan terjadi pada keluarganya perlahan mulai sirna.
“Oh iya, Al, Mami lupa dengan pakaian yang akan dipakai adiknya Alma. Coba kamu tanyakan pada Alma, apa mereka sudah mempersiapkan pakaian yang cocok untuk adiknya Alma?” Emi kembali bertanya pada putranya.
Emi baru saja teringat mengenai pakaian yang tepat untuk dikena adiknya Alma. Emi sama sekali tidak mempersiapkan dan mengingat pakaian seperti apa yang akan dipakai untuk keluarga calon pengantin pengganti wanita. Ini adalah hal yang sama ketika ia melupakan gaun pengantin yang akan dikena oleh Alma.
“Tutup dulu teleponnya. Aku akan tanyakan mengenai hal ini pada Alma.”
Panggilan suara berakhir. Alvin lalu menepikan kendaraannya di pinggir jalan.
“Ada apa, Bos?” tanya Alma ketika melihat Alvin menepikan kendaraannya.
“Ada yang ingin aku tanyakan.”
Alvin menoleh ke arah Alma dan Aldi secara bergantian.
“Mengenai apa, Bos?”
“Pakaian adikmu.”
Alma dan Aldi saling bertukar pandang.
“Di pernikahan nanti tidak mungkin dia memakai kaos oblong seperti ini ? Dia harus berpakaian yang lebih rapi dan lebih formal.” Alvin menjelaskan mengenai pakaian seperti apa yang akan dipakai ketika akad nanti.
“Kamu jadi bawa baju batikmu ‘kan, Aldi?” Alma menanyakan perihal baju batik yang sudah disiapkan oleh Aldi.
“Jadi. Aku sengaja selipkan ini di jok kereta. Biar enggak kelihatan sama Ibu,” ucap Aldi sembari mengeluarkan baju batiknya.
“Coba aku lihat.”
Aldi lalu menyerahkan baju batik miliknya dan hanya satu-satunya kepunyaan Aldi kepada Alvin.
Alvin membentang baju batik milik Aldi yang memiliki motif payung khas kerajaan dengan kombinasi tepak sirih.
“Unik sekali gambarnya.” Alvin bergumam pelan.
Baju batik milik Aldi adalah salah satu jenis batik kain yang memiliki motif khas dari Sumatera Utara.
Corak payung kerajaan dengan kombinasi tepak sirih yang kini dilihat Alvin di baju Aldi adalah salah satu jenis motif dari suku Melayu.
“Ini bagus. Pakailah!” Alvin setuju ketika akad nanti Aldi mengenakan baju batik yang dibawanya dari rumah.
Baju batik di tangan Alvin kemudian diserahkan kembali kepada Aldi.
“Aku hubungi Mami dulu.” Alvin berniat menghubungi maminya. Ia ingin memberitahu perihal pakaian yang akan dikena oleh Aldi ketika Alvin akad nanti sudah beres.
“Halo, bagaimana, Al? Apa adiknya Alma sudah mempersiapkan pakaiannya?” Emi menjawab panggilan telepon dari Alvin dengan pertanyaan.
“Sudah.”
“Bagus, tidak?”
“Bagus. Dia bawa baju batik dari rumah. Aku juga sudah melihatnya ....” Alvin menjelaskan pada maminya.
“Ya sudah. Kalau menurutmu bagus, Mami percaya.”
Panggilan telepon berakhir. Alvin melajukan kembali kendaraannya. Alvin juga memastikan kembali pada Alma mengenai rangkaian acara yang sudah dijelaskannya tadi malam.
Aldi yang duduk di bagian belakang jok juga kembali menghafal isi tulisan di kertas yang diberikan Bos kakaknya.
Ketika mobil Alvin mulai memasuki area basement hotel, Alma menatap takjub pada bangunan hotel yang tampak menjulang tinggi.
Pemandangan seperti ini juga sudah terjadi ketika Alma melewati beberapa bangunan yang serupa di sepanjang jalan kota Medan.
Alma selalu mengamati tiap bangunan yang ia lihat. Ini kali pertama Alma melewati jalanan kota Medan. Beberapa bangunan apartement dan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi berhasil mencuri perhatian Alma.
“Kita sudah sampai. Ayo turun!” Alvin berkata sembari melepas sabuk pengaman yang sebelumnya ia pakai.
Alvin, Alma dan adiknya lalu turun dari mobil. Tak lupa Alvin mengambil koper di bagasi mobil yang sebelumnya ia bawa dari ruko.
Alma mengikuti langkah bosnya. Begitu pula dengan Aldi. Kertas yang diberikan Alvin kepada Aldi juga turut ditentengnya. Alvin, Alma dan Aldi lalu menuju kamar hotel yang memang sudah dipesan lebih dulu oleh Alvin.
Kamar hotel itu harusnya akan digunakan Alvin dan Salsa untuk berganti pakaian maupun untuk keduanya beristirahat sejenak di sela-sela acara pernikahan. Namun, karena pernikahan keduanya batal kamar hotel itupun akhirnya digunakan oleh Alvin dan Alma yang menjadi mempelai pengantin penggantinya.
“Masuklah.” Alvin mempersilakan Alma dan Aldi ke dalam kamar hotel.
Alvin membuka pintu kamar hotel setelah mengambil kunci kamar hotel dari seorang recepsionis.
“Aku hubungi Madam Diana dulu,” sambung Alvin lagi.
Alvin lalu menghubungi Madam Diana. Ia memberitahu pada Madam Diana jika mereka bertiga sudah tiba di hotel.
Madam Diana juga ternyata sudah tiba di hotel. Madam Diana berada di kamar lain hotel yang juga sudah dipesan Alvin bersama para asistennya.
“Sebentar lagi Madam Diana ke sini.” Alvin mengatakan perihal Madam Diana kepada Alma.
Alvin lalu membuka koper yang semula ia bawa. Koper tersebut lalu ia buka di atas ranjang kamar hotel.
“Madam Diana siapa, Kak? ibunya Bos Kakak ya?” Aldi bertanya mengenai Madam Diana. Aldi bertanya sebab mendengar pembicaraan Alvin dengan kakaknya.
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
“Madam Diana itu yang menyewakan baju pengantin buat si Bos. Nanti Madam Diana juga yang bakal ngedandanin Kakak.”
“Ooh, aku pikir Madam Diana itu ibunya Bos Kakak.”
Dari atas ranjang ternyata Alvin turut mendengar pembicaraan kedua Kakak beradik itu. Alvin lalu menjelaskan beberapa hal yang belum diketahui Alma.
“Semua baju yang dipakai dari Madam Diana itu tidak disewakan.” Alvin berkata sembari berjalan ke arah Alma dan Aldi yang duduk di sofa kamar hotel.
“Semua rancangan Madam untuk hari pernikahanku aku minta di desain khusus olehnya. Termasuk gaun milik Salsa,” sambung Alvin lagi.
“Kalau yang bakalan saya pakai, itu dibeli juga Bos?”
Alvin mengangguki pertanyaan Alma. Alvin kini ikut duduk di sofa bersama Alma dan adiknya.
“Kalau di desain khusus, pasti mahal. Iya, ‘kan Bos?” Alma bertanya hal demikian sebab Alma sudah mulai memperkirakan banyaknya pundi rupiah yang dirogoh oleh bosnya.
“Itu relatif.”
“Lalu bagaimana dengan gaunnya Kak Salsa? ‘kan enggak jadi dipakai, apa tetap dibayar juga?”
Alvin mengangguki pertanyaan yang kembali dilontarkan Alma.
“Wah, sayang sekali uangnya jadi mubazir.” Alma berucap dengan enteng. Saat ini Alma sama sekali tidak terpikir dengan perasaan Alvin yang dirundung kecewa, padahal sebelumnya ia sempat iba dengan peristiwa yang dialami oleh bosnya.
Alvin tidak menanggapi perkataan Alma lagi. Ia sudah tidak peduli dengan gaun pengantin milik Salsa.
Rasa kecewa yang ia alami karena pembatalan pernikahan oleh pihak keluarga Salsa, bagi Alvin tidak sebanding dengan hal apa pun.