Esok harinya.
Alma berhasil meyakinkan pada ibunya jika hari Minggu ini ia akan bekerja lembur. Kebohongannya semakin mendapat dukungan sebab sejak Sabtu malam ia juga sudah pulang terlambat dan tentu saja dengan alasan yang sama.
Pagi itu Alma tampak begitu bersemangat. Bagaimana tidak, sebagian uang yang dijanjikan Alvin sudah ia terima tadi malam. Dalam benak Alma, hari ini adalah benar-benar puncak dari drama yang akan ia lakoni sebagai mempelai pengganti.
Minggu pagi Alma berangkat ke pabrik. Ia tidak sendiri, melainkan bersama Aldi. Alma mengatakan pada ibunya jika ia harus mengajak Aldi untuk membantunya bekerja.
Alma beralasan jika bosnya membutuhkan pekerja pria untuk membantu di tahap pengerukan.
Ibunya Alma tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ibunya Alma justru merasa ikut senang, sebab di hari Minggu seperti ini anak lelakinya bisa ikut membantu Alma mencari uang tambahan. Bu Samini, ibunya Alma bukan bermaksud serakah atau pun memaksa Aldi yang masih berstatus pelajar mencari uang tambahan.
Bu Samini terkadang merasa kasihan melihat putri sulungnya selalu berjerih payah mencari uang. Ia bisa melihat kegigihan putrinya dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah dan mengabaikan masa remajanya demi untuk bisa melunasi hutang pengobatan almarhum suaminya.
Bu Samini sendiri bukannya tidak bekerja dan membebankan segalanya pada Alma. Ketika ayahnya Alma masih hidup dan bahkan Bu Samini menjadi orang tua tunggal, ia bekerja sebagai penjahit permak di kampungnya.
“Hati-hati di jalan! Kalau sudah pulang, langsung datang ke rumah bibimu. Ibu dan Alina mungkin akan seharian di sana.” Ibunya Alma berpesan ketika dua anaknya pamit menuju pabrik sarang burung walet.
“Iya, Bu. Alma usahakan bisa secepatnya pulang.”
Alma dan Aldi lalu mencium punggung Ibu mereka.
Aldi membawa sepeda motor milik almarhum ayahnya, sedangkan Alma duduk di boncengan tepat di belakang adiknya.
“Jangan ngebut-ngebut bawa keretanya, Al!” Samini kembali berpesan kepada Aldi agar tidak mengendarai sepeda motor dengan laju yang kencang.
“Iya, Bu.” Aldi kemudian menyalakan sepeda motor.
Di daerah mereka tinggal, kendaraan sepeda motor lebih sering disebut dengan nama kereta.
Bu Samini bersama adiknya Alma yang perempuan juga segera bersiap-siap untuk pergi ke acara pernikahan anak dari saudara mereka.
Setelah beberapa menit mengendarai sepeda motor milik almarhum sang Ayah, kedua kakak beradik itu pun tiba di depan pintu gerbang pabrik.
Alma menekan bel yang tersedia di bagian tengah dinding diantara dua gerbang ruko.
Setelah beberapa menit kemudian, terlihat Leman yang membuka pintu gerbang.
Leman menatap ke arah Alma. Begitu pula sebaliknya.
“Bos mana, Bang?” tanya Alma pada Leman.
“Bos ada di dalam. Masuklah, kau sudah ditunggu.”
Tanpa mengulur waktu Alma dan Aldi lalu masuk melewati gerbang yang sudah dibuka oleh Leman.
Aldi memarkirkan sepeda motor yang dikendarainya di depan teras ruko.
“Rupanya kau dapat job tambahan dari si Bos, ya?” Leman membuka percakapan ketika Alma hendak masuk ke dalam ruko.
Dari perkataan Leman yang Alma dengar, sudah dapat dipastikan jika Bos mereka telah memberitahukan mengenai pernikahan pura-pura antara ia dan Alvin.
“Pakai acara sembunyi juga dari aku. Kalau dari awal aku tahu tentang Bos yang batal nikah dan kau yang ditunjuk si Bos untuk menggantikan Kak Salsa, kau tidak perlu repot sembunyi dariku, Al. Cukup kasih aku seratus saja.” Leman berkata sembari tersenyum.
Alma tidak memedulikan ucapan Leman ia terus berjalan ke dalam ruko.
“Kalau sudah jadi istri Bos, jangan pernah berubah ya, Al. Jangan sombong!” sambung Leman lagi.
Ucapan Leman terdengar meledek.
“Bang Leman ini bicara apa. Pernikahan ini cuma pura-pura. Tidak seperti yang Abang pikirkan.” Alma mengerti jika ucapan Leman tidak serius dan hanya menggodanya.
“Iya, aku tau. Aku juga cuma bercanda.”
Di saat yang sama pintu dapur Alvin terbuka dan terlihat Alvin menenteng sebuah koper.
“Sudah sampai?” tanya Alvin ketika melihat Alma.
“Baru sampai, Bos.”
“Adikmu di mana?”
“Itu Bos.” Alma menunjuk Aldi yang baru masuk ke dalam ruko.
“Aldi, ke sini! Kenalkan, ini Bos Kakak.” Alma memperkenalkan Alvin kepada adiknya.
Aldi kemudian mengulurkan tangannya ke arah Alvin. Keduanya saling berjabat tangan.
“Kita berangkat sekarang!”
Alma mengangguki perkataan bosnya. Lalu mengikuti langkah Alvin yang keluar ruko menuju ke arah mobil. Begitu pula dengan Aldi. Ia juga mengikuti langkah Bos kakaknya. Leman menyusul pula melangkah menuju gerbang dan bersiap membuka gerbang kembali.
“Ini ... tolong kamu ingat. Jangan sampai salah mengucapkannya.” Alvin menyerahkan secarik kertas kepada Aldi.
Aldi melihat tulisan yang tertera di kertas pemberian Alvin. Kertas tersebut berisi catatan mengenai kata-kata yang harus Aldi ucapkan ketika menikahkan kakaknya nanti.
“Ini kertas apa?” Aldi bertanya pada Alvin setelah melihat tulisan yang tertera di kertas.
“Itu kata-kata yang harus kamu ucapkan ketika menjadi wali nanti.”
Aldi bingung dengan perkataan Bos kakaknya. Ia tidak mengetahui jika dirinya berperan sebagai wali di pernikahan pura-pura antara Alvin dengan kakaknya.
“Kenapa aku yang jadi wali? Bukannya kemarin Kakak bilang aku cuma jadi saksi?”
Alvin, Alma dan Aldi saling bertukar pandang. sedangkan Leman hanya mendengarkan tiga orang yang kini tengah berbicara.
“Kamu tidak menjelaskan pada adikmu, Al?” Alvin bertanya pada Alma. Ia ingin memastikan rencana yang sudah tersusun sejak awal, jika adiknya Alma yang akan menjadi wali ketika akad nanti.
“Sudah saya jelaskan, Bos,” jawab Alma singkat.
“Maksud Kakak kemarin mau bilang begitu, kalau kamu yang akan jadi wali. Lagi pula jadi saksi atau jadi wali, tetap kamu juga orangnya. Sudahlah jangan dipermasalahkan. Hafalkan saja itu, tulisan yang dikasih si Bos. Hafal dari sekarang biar tidak lupa.”
Aldi kemudian tidak mempermasalahkan lagi perihal dirinya yang akan dijadikan wali untuk akad nikah nanti. Ia pun mulai membaca kembali dan mengingat-ingat tulisan yang tertera di kertas pemberian Alvin.
“Buka gerbangnya, Man.” Alvin meminta pada Leman agar segera membuka pintu gerbang.
“Baik, Bos.”
Leman yang sudah bersiap sejak tadi, segera membuka pintu gerbang.
Alvin, Alma dan adiknya segera masuk ke mobil milik Alvin. Alma duduk di samping kursi pengemudi, sedangkan Aldi duduk di jok bagian belakang.
“Jangan lupa nanti datang ke rumah Pak RT dan ingatkan beliau, Man.” Alvin kembali berkata pada Leman agar menemui RT setempat dan mengingatkan RT setempat untuk hadir di acara pernikahan nanti.
Alvin memang sengaja mengundang RT setempat dan menjadikan RT setempat sebagai saksi di pernikahannya. Alvin memang sudah berencana seperti demikian ketika ia hendak memutuskan menikah dengan Salsa.
Hal itu bertujuan agar saat Salsa ikut tinggal di ruko pabrik bersamanya tidak timbul fitnah dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, semua itu hanya menjadi rencana awal yang disusun oleh Alvin sendiri.
Rencana tersebut tidak akan pernah terjadi dan gagal sejak keluarga Salsa memberi kabar pembatalan rencana pernikahan mereka.