Protes

1228 Kata
“Bukannya kamu bilang kalau dia sakit?” Alvin menjawab kebingungan yang ditunjukkan Yuni. “Sebelum aku pergi, kamu bilang dia izin pulang dan kamu yang membukakan gerbang untuk dia,” sambung Alvin lagi. Yuni kembali ingat dengan alasan yang dikemukakan Alvin sempat menjadi perdebatan di antara Alma dan bosnya. “Eh iya, si Alma tadi izin pulang. Katanya dia sakit.” “Sakit?” “Iya. Dia sakit!” “Tadi pagi aku lihat dia masih baik-baik aja. Kenapa tiba-tiba bisa sakit?” “Mana aku tahu. Namanya juga sakit, datangnya ya tiba-tiba. Kalau sakit datangnya enggak tiba-tiba itu namanya bukan sakit!” Yuni merasa kesal. Menurut Yuni pertanyaan Leman terlalu berlebihan. “Terus namanya apa, Kak?” “Mana aku tahu. Pikir aja sendiri!” Yuni kembali menjawab ketus pertanyaan Leman yang menurutnya juga terlalu kepo. "Aku tanya baik-baik, malah dijawab begitu." Leman menggerutu mendengar jawaban Yuni yang ketus. Ia lalu masuk kembali ke dalam ruko tempat produksi. Sementara Yuni, ia juga melangkah ke arah gerbang, lalu menutup kembali pintu gerbang. “Kunci juga pintu itu!” Alvin mengatakan pada Yuni agar menutup pintu yang ia tunjuk, yakni pintu yang menghubungkan antara ruko tempat produksi dengan ruko tempat para pekerja beristirahat. Pintu itu juga menjadi akses keluar masuknya para pekerja ke tempat produksi. Bangunan ruko yang dijadikan tempat beristirahat ketika makan siang para pekerja juga jadi satu dengan dapur Alvin. Namun, kedua ruang tersebut di sekat dengan kaca tebal berwarna hitam, yang hanya bisa terlihat tembus pandang dari sisi dalam dapur. “Baik, Bos.” Setelah Yuni selesai mengunci pintu gerbang bagian depan, ia kemudian mengunci pintu yang ditunjuk bosnya. “Sudah?” Alvin bertanya pada Yuni yang berada di depan pintu yang ditunjuk olehnya. Alvin memastikan apakah pintu sudah terkunci atau belum, agar ketika keluar dari mobil keberadaannya tidak diketahui oleh siapa pun. Yuni mengangguk menanggapi dan paham dengan pertanyaan bosnya. Alvin lalu melangkah mendekati pintu mobil yang semula hendak dibuka oleh Alma. “Keluarlah ... Leman sudah tidak ada.” Alvin berkata sambil membuka pintu mobil. Tubuh Alma tampak meringkuk menyembunyikan dirinya. Setelah mendengar bosnya mengatakan jika Leman sudah tidak ada, Alma lalu melongok memastikan ucapan bosnya. Alma bernapas lega setelah tidak melihat keberadaan Leman. Ia bisa melihat Yuni berdiri tepat di depan pintu yang menghubungkan antara ruko tempat bekerja dengan ruko yang digunakan untuk beristirahat ketika makan siang. Alma lalu keluar dari mobil. Dengan cepat Alma melangkah masuk ke dalam ruko. Begitu pula dengan Alvin. Ia juga ikut masuk ke dalam ruko lalu membuka pintu kaca yang menyekat dapur dengan ruang tempat beristirahat pekerja. “Bagaimana?” Yuni bertanya ketika Alma berjalan melewatinya. “Beres, ‘kak. Sebentar lagi cair.” Alma menjawab dengan semringah pertanyaan dari mandornya. Alma merasa bahagia membayangkan sebentar lagi ia akan melunasi semua hutang keluarganya dan sertifikat tanah peninggalan almarhumah ayahnya akan segera ia dapatkan kembali. Drama menghadap Oma bosnya dan dilema pemilihan gaun pengantin yang terjadi beberapa waktu lalu dianggap Alma sudah berhasil dilewati. Menurut Alma esok adalah drama paling puncak yang akan Alma lakoni. “Alhamdulillah, aku ikut senang.” Yuni ikut bahagia mendengar kata-kata Alma. “Cepat masuk, Al. Sebelum ada yang ke sini.” Alvin memanggil Alma agar segera masuk ke ruang dapur miliknya. “Iya, Bos.” Alma menoleh ke arah Alvin yang memanggilnya. “Aku ke dalam dulu ya, Kak. Aku mau bantu si Bos menghitung gaji.” “Iya. Cepat masuk sana.” Alma lalu masuk ke dalam dapur milik Alvin, sedangkan Yuni kembali membuka kunci pintu yang tadi ia kunci. Lalu Yuni kembali ke ruko tempat produksi. Di ruang dapur. Alvin mulai menghitung gaji karyawan setelah Yuni memberikan buku yang berisi catatan hasil kerja semua karyawan. Buku catatan setiap hari ditulis oleh Yuni berdasarkan berapa banyak jumlah sarang burung walet yang di cabut atau dibersihkan dari bulunya oleh pekerja di bagian pencabutan. Cara penghitungan gaji seperti ini biasa disebut dengan gaji borongan. Untuk penghitungan gaji di bagian kerok tidak sama seperti di tahap pencabutan. Di bagian kerok, semua pekerja di gaji sesuai kehadiran di hari kerja. Begitu pula di bagian cetak. Penghitungan gajinya sama seperti di bagian kerok. Alma baru kali ini ikut membantu bosnya menghitung gaji pekerja. Dengan teliti Alma menghitung uang, menyesuaikan jumlah uang yang di staples dengan catatan milik pekerja yang ditulis oleh Yuni. “Punya saya kok segini, Bos?” Alma bertanya ketika melihat catatan gajinya yang menurutnya tidak sesuai. “Kok uang kerajinan saya enggak ada?” Alma melihat gaji yang akan ia terima hanya lima hari kerja dan untuk uang kerajinannya yang bekerja selama satu bulan penuh juga tidak tertera. Ia memprotes hal tersebut karena menurut Alma kehadirannya penuh selama satu minggu bekerja dan selama satu bulan belakangan Alma tidak pernah tidak bekerja. Alvin memang memberi bonus tambahan atau istilahnya adalah uang kerajinan untuk pekerja yang bekerja penuh selama satu minggu. Untuk pekerja yang bekerja penuh selama sebulan tanpa ada libur di luar hari libur kalender, Alvin juga memberi bonus tambahan untuk itu. Jumlah uang kerajinan yang diberikan untuk pekerja yang penuh bekerja selama satu minggu dan penuh selama satu bulan juga berbeda. “Nanti saja kalau mau protes. Waktunya sudah semakin sore. Jangan sampai pekerja yang lain menunggu gaji terlalu lama.” Alma hanya bisa tersenyum kecut ketika Alvin berkata seperti itu. Ia lalu melanjutkan menghitung gaji pekerja yang lain. “Nanti kamu juga jangan langsung pulang!” Alvin kembali melanjutkan perkataannya. Tangannya juga masih sibuk menghitung gaji pekerja. “Kenapa? Kok saya enggak boleh pulang?” “Kita harus ke lokasi acara. Kamu harus tahu apa saja rangkaian acara yang akan diadakan besok.” Alvin berkata sembari menatap sekilas ke arah Alma. “Kok urusannya jadi ribet begini? Katanya tugas saya cuma duduk aja di samping si Bos?” Alma kembali menggerutu. “Sudah aku bilang nanti saja kalau mau protes. Jangan sekarang!” “Yang diundang di acara besok banyak tidak?” Alma bertanya kembali mengenai perihal tamu yang diundang Alvin. Pertanyaan Alma dijawab anggukan oleh Alvin. Bibir Alvin terlihat komat-kamit menghitung gaji pekerja. “Si Leman tahu tidak kalau si Bos nikahnya besok?” Entah mengapa Alma tiba-tiba mengingat Leman lagi. Bagi Alma rasanya tidak mungkin Leman tidak tahu mengenai pernikahan bos mereka yang akan menikah besok. “Tahu, memangnya kenapa?” Alvin menjawab dengan enteng. “Astaga Bos, ngapain tadi saya sembunyi dari si Leman. Toh besok juga dia bakal tahu tentang saya yang nikah pura-pura sama si Bos.” Alma kembali protes tanpa menghiraukan perkataan Alvin yang baru saja diserukan. Alma tampak menghela napas pelan. Menurut Alma persembunyiannya yang ia lakukan dari Leman sia-sia. “Aku sudah memikirkan tentang itu. Tenang saja. Kamu tidak usah khawatir. Kalau sekarang dia tahu mengenai hal itu, aku bisa menjamin dia akan bercerita dengan yang lain. Tapi kalau besok ....” “Kalau besok kenapa Bos? Dia pasti bakal cerita juga sama yang lain. Saya yakin Bos dan teman-teman bakal mikir yang macam-macam sama saya. Terutama Rahmi. Bos tahu sendiri ‘kan, kalau Rahmi ....” Alma tidak melanjutkan ucapannya. Alma yakin jika bosnya juga paham dengan maksud perkataannya. “Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Perihal Leman biar aku yang urus. Yang penting besok kau datang ke sini lebih awal dari biasanya. Jangan lupa adikmu juga diajak!” Sembari menghitung gaji pekerja yang lain, Alma juga mulai memikirkan alasan apa yang akan dia katakan pada ibunya jika nanti ia telat pulang ke rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN