Di mana Alma?

1095 Kata
Perihal restu Oma dan gaun pengantin sudah terselesaikan. Alvin juga sudah menghubungi dan memberitahu pihak wedding organizer perihal dekor nama mempelai wanita yang semula dipersiapkan untuk Salsa harus diganti dengan nama Alma. Ia juga berencana akan mengajak Alma ke lokasi tempat diadakannya acara pernikahan sepulang dari rumah Oma nanti. Alvin mengira jika segala urusan mengenai pernikahan pura-puranya dengan Alma sudah selesai. Alvin hanya tinggal mempersiapkan dirinya untuk belajar kembali mengucapkan ijab kabul atas nama Alma. Alvin harus kembali belajar mengulang dan mengingat jika nama yang akan ia sebut ketika akad adalah nama Alma, bukan Salsa. Alma dan Alvin semula ingin ikut kembali menemui Oma bersama Emi. Alvin berniat memberitahu omanya jika segala urusan pernikahannya sudah terselesaikan. Alvin tidak ingin omanya terbebani oleh urusan-urusan yang menurutnya bisa mempengaruhi kesehatan wanita itu. Namun, di tengah jalan Alvin harus mengurungkan niatnya untuk kembali menemui Oma. Alvin mendapat panggilan telepon dari mandor Yuni. “Halo ....” “Halo Bos. Maaf saya mengganggu.” “Ada apa?” “Saya mau bilang, kalau saya sudah selesai menghitung gaji teman-teman.” Alvin menurunkan laju kendaraannya. Mobil yang sedang ia kendarai lalu ia tepikan di pinggir jalan. Alvin lalu menoleh ke arah Alma. “Ada apa, Bos?” Alma bertanya ketika Alvin menatap ke arahnya dengan raut wajah yang tidak dapat ia artikan. Ponsel Alvin juga masih didekatkan di telinganya. “Aku lupa, kalau hari ini kalian gajian.” Alvin berbicara pada Alma dan juga orang yang masih menelpon dirinya. “Kita tidak bisa ikut Mami menemui Oma lagi,” sambung Alvin lagi. Yuni yang masih terhubung lewat panggilan telepon dengan Alvin juga bisa mendengar perkataan bosnya. “Lalu bagaimana?” “Kita harus putar balik. Kita kembali ke pabrik. Bantu aku menghitung gaji kalian!” Alma mengangguk menuruti perkataan bosnya. Alvin lalu menatap sekilas ke layar ponselnya. Ia ingin memastikan jika panggilannya masih terhubung dengan Yuni. “Bagaimana keadaan di pabrik?” Alvin bertanya pada mandor Yuni setelah memastikan panggilan di ponselnya masih terhubung. “Anak cabut sekitar sepuluh persen saja, Bos. Anak kerok belum selesai. Kalau di bagian cetak sepertinya juga belum selesai.” Yuni melaporkan pekerjaan di tiap tahapan pekerjaan pabrik. Sebenarnya Yuni hanya bertugas sebagai mandor di bagian pencabutan saja, sedangkan di bagian kerok sudah ada orang yang di tunjuk sebagai penanggung jawab. Namun, karena Alvin sudah sangat percaya dengan kinerja Yuni, jadilah Alvin sering mempertanyakan tingkat kesiapan pekerjaan di bagian lain. Terutama ketika Alvin sedang tidak berada di pabrik. Begitu pula di bagian cetak. Di bagian ini juga ada orang yang ditunjuk khusus untuk bertanggung jawab. Di tahapan ini biasanya Alvin juga ikut turun langsung dalam pengerjaannya dan Alma terkadang juga turut membantunya. “Sebentar lagi aku sampai di pabrik. Saat aku sampai nanti, jangan Leman yang membuka gerbang. Dia tidak tahu kalau Alma ikut pergi denganku.” “Baik, Bos. Kalau Bos sudah sampai kabari saya. Biar saya yang buka pintu gerbangnya.” Panggilan telepon pun berakhir. Alvin lalu menghubungi maminya. Ia memberitahu jika dirinya dan Alma tidak bisa ikut kembali menemui Oma. Alvin pun mengatakan jika ia dan Alma harus kembali ke pabrik, sebab harus menghitung gaji yang akan di bayarkan pada semua pekerja. Setelah memberi kabar pada maminya jika ia dan Alma harus kembali ke pabrik, Alvin juga mengatakan jika uang yang ia dijanjikan pada Alma akan diberikan hari ini juga. “Kau sudah dengar pembicaraanku dengan Mami ‘kan?” Alvin kini beralih berbicara pada Alma. Ia juga mulai melajukan kembali kendaraannya. “Dengar Bos.” Alma mengangguk menanggapi perkataan bosnya. “Uangmu akan segera kuberikan. Tapi sesuai dengan perjanjian, uangnya aku beri setengah dulu. Sisanya aku beri setelah semua acaranya selesai.” “Iya, Bos.” Alma tersenyum setelah menjawab penuturan bosnya. Alma sangat semringah mendengar hari ini ia akan menerima imbalan dari bosnya. Dalam hati Alma, ia sudah sangat ingin melunasi semua hutang keluarganya dan menebus sertifikat tanah yang menjadi agunan hutangnya. Beberapa puluh menit kemudian Alvin dan Alma tiba di depan gerbang ruko pabrik. Alvin kemudian menghubungi Yuni lewat ponselnya, memberitahu pada Yuni jika ia dan Alma sudah berada di depan gerbang ruko. Tak lama berselang, Yuni terlihat membuka pintu gerbang. Lalu Alvin memarkirkan kendaraannya ke teras ruko. Alvin hendak keluar dari kendaraannya, begitu pun dengan Alma. Ia juga hendak keluar dari mobil Alvin. Posisi duduk Alma kali ini tidak sama seperti berangkat tadi. Kali ini Alma duduk di jok depan mobil. Gerakan Alma yang hendak membuka handle pintu tiba-tiba terhenti. Alma kembali membungkukkan tubuhnya saat melihat Leman yang tiba-tiba muncul dari dalam ruko. Alvin dan Yuni juga melihat gelagat Alma yang seperti itu. Keduanya tampak heran dan Alvin sempat ingin menegur Alma. “Bos ...,” panggil Leman saat melihat bosnya. Alvin juga menghentikan langkahnya yang hendak menegur Alma. Alvin lalu menoleh melihat ke arah orang yang memanggilnya. Alvin melihat Leman ada di belakangnya. Setelah Alvin menoleh ke arah orang yang memanggilnya, Alvin pun mengerti mengapa Alma urung keluar dari mobil. Alvin mengerti jika Alma takut keberadaannya dilihat oleh Leman. “Sepertinya kami harus lembur Bos.” Leman berkata setelah tubuhnya tepat berada di hadapan bosnya. “Kenapa harus lembur?” “Belum selesai Bos. Barangnya agak berbeda. Anggota juga tidak masuk semua.” Leman mengatakan alasan mengapa ia meminta lembur pada bosnya. “Berapa banyak lagi?” “Dua Bos.” “Yang kemarin, sudah selesai?” “Hampir selesai, Bos. Tinggal setengah lagi.” “Tidak usah lembur. Yang penting bahan untuk hari Senin ada.” Alvin melarang pekerja untuk lembur. Alvin berkata demikian agar pekerja pabrik bisa segera meninggalkan area pabrik. Alvin harus mempersiapkan dirinya untuk pernikahan besok. Terlebih lagi ia juga harus membawa Alma ke lokasi tempat diadakannya acara pernikahan. Alma harus diberitahu tiap rangkaian acara dan apa saja yang harus ia lakukan ketika rangkaian acara berlangsung. “Sejak Bos pergi, aku juga enggak liat si Alma. Kak Yuni tau si Alma ada di mana? Bukannya tadi pagi dia masuk ya?” Leman tiba-tiba bertanya mengenai Alma. Leman merasa heran sebab sejak kepergian bosnya, ia juga tidak melihat keberadaan Alma, sedangkan tadi pagi ia melihat kedatangan Alma. “Alma ... dia ....” Yuni tidak langsung menjawab pertanyaan Leman. Yuni merasa ragu untuk menjawab sebab ia tidak menyangka perihal keberadaan Alma juga akan ditanyakan oleh Leman. Hari ini Yuni terlalu sibuk. Selain mengecek bahan walet yang sudah dibersihkan, ia juga harus menghitung dan membuat rekapan gaji pekerja. Karena pekerjaannya yang begitu banyak, Yuni sampai lupa jika alasan Alma yang tidak berada di bagian pencucian sudah sempat ia utarakan pada Rahmi. Kemudian Yuni menatap ke arah bosnya. Tatapan Yuni seolah sedang meminta bantuan pada Alvin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN