“Kenapa harus malu? Kau menghina rancangan Madam!”
“Bukan, bukan begitu maksud saya Madam. Saya enggak terbiasa memakai pakaian yang seperti itu. Gaunnya terlalu seksi.”
Alvin sepakat dengan apa yang dikatakan Alma mengenai gaun tersebut. Gaun tersebut memang tergolong sangat seksi untuk dikena Alma. Salsa dan Alma adalah dua orang yang berbeda.
Selama ini Alvin mengenal Salsa sebagai pribadi yang selalu tampil percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang sangat ideal. Salsa juga tak sungkan mengekspose bagian tubuhnya yang menonjol dengan busana seksi. Hal itu juga menjadi daya tarik untuk Alvin jatuh cinta pada seorang Salsa.
“Alma benar, gaun ini terlalu seksi untuknya.”
“Nah, saya bilang juga apa.”
“Tapi kalau mau buat yang baru waktunya juga tidak akan terkejar, Al.”
“Tidak perlu buat yang baru. Apakah ada koleksi rancangan Madam yang lain yang lebih tertutup?”
Madam Diana tampak berpikir dan mengingat semua koleksi rancangannya. Seingat Madam Diana semua koleksi busana pengantin yang ia rancang lebih dominan dengan bagian atas yang terbuka.
Madam Diana lalu beranjak dari tempat semula. Ia lalu menunjukkan salah satu rancangannya yang cukup dengan ukuran tubuh Alma, tetapi juga terbuka di bagian atas.
“Aku rasa yang ini cocok di tubuhmu.”
Madam Diana membentang gaun pengantin di hadapan ketiganya.
Alma, Alvin dan maminya pun melihat gaun yang ditunjukkan Madam Diana.
“Ayo, ikut aku.” Madam Diana lalu mengajak Alma ke ruang ganti.
“Ta-tapi Madam, ini—“
“Sudah ikut saja dulu. Ayo cepat!” Madam Diana segera menarik tangan Alma yang sempat ingin menolak ajakannya.
Alma terlihat sedikit keberatan dengan gaun yang ditunjukkan oleh Madam Diana. Meski pada akhirnya Alma mengikuti juga keinginan Madam Diana.
Di dalam ruang ganti, Madam Diana membantu Alma untuk mencoba busana pengantin. Setelah gaun tersebut terbalut sempurna di tubuh Alma, Madam Diana lalu mengajak Alma untuk keluar dari ruang ganti.
Sempat ada drama yang dilakukan oleh Alma. Ia tidak mau keluar dari ruang ganti. Alma tidak ingin menunjukkan gaun pengantin yang sudah dikenanya pada Alvin dan maminya.
“Jangan seperti anak kecil, sedikit-sedikit malu, besar sekali rasa malumu!” Madam Diana menggerutu kesal.
Madam Diana tidak peduli dengan penolakan Alma. Ia terus memaksa Alma untuk keluar dari ruang tersebut dan memperlihatkannya pada sahabat dan putra sahabatnya.
“Ayo cepat, jangan seperti kura-kura dong. Kalau mereka setuju Madam akan segera memperbaiki mana yang terlihat kurang.”
Alma pun pasrah setelah didesak oleh Madam Diana. Ia keluar dari ruang ganti dengan posisi tangan memeluk kedua bahunya.
Alvin dan maminya mengamati gaun yang membalut tubuh Alma. Di mata Alvin dan maminya, gaun yang kini melekat di tubuh Alma sangat cocok dengan bentuk tubuh Alma. Meski Alma berusaha keras menutupi bahunya.
“Turunkan tanganmu!” titah Madam Diana.
Alma menggeleng, menolak permintaan Madam Diana.
“Turunkan, Alma. Biar Madam tahu mana yang kurang.”
Alma kembali menggeleng, ia malu memperlihatkan bahunya yang terlilit tali bra.
“Saya tadi ‘kan sudah bilang, kalau saya enggak terbiasa pake baju beginian. Saya malu Madam. Tali bra saya kelihatan!”
“Turunkan tanganmu sebentar saja, Alma. Setelah Madam melihatnya, kamu boleh menutupnya kembali.”
Sebelum Alma menuruti perkataan bosnya, ia melirik ke semua orang yang kini tengah menatapnya.
Perlahan Alma menurunkan kedua tangannya yang semula menyilang di bahunya. Kepala Alma menunduk merasa malu, sebab bahu dan tali bra yang melekat di tubuhnya terlihat.
“Kalau sejak tadi kau menurunkan tanganmu, bahumu yang bagus itu sudah kelihatan sejak tadi.” Madam Diana menggerutu dengan sikap Alma.
“Lihatlah ... meskipun atasnya berukuran kecil, tapi bahunya bagus.” Madam Diana tersenyum memuji Alma.
“Bagaimana, bagus ‘kan? Aku rasa ini benar-benar cocok untuknya.”
Alma masih menunduk merasa malu, sedangkan Alvin masih mengamati gerakan tubuh Alma yang terlihat sangat canggung.
“Menurut Mami ini cukup bagus untuk dipakai Alma. Ukurannya juga tidak kebesaran atau kekecilan.”
“Gaun ini ukurannya memang pas di tubuhnya. Tapi, aku ingin bagian bahunya ditutup dan tidak terbuka seperti itu.”
“What ... ditutup? Aku tidak setuju! Bahu sebagus ini harus di ekspose. Lihat ini, bahunya bagus!"
Kedua tangan Alma kini kembali menutupi bahunya. Alma benar-benar merasa malu dan tidak percaya diri dengan busana yang dikenanya.
“Lihatlah ... dia tidak nyaman memakainya. Tidak mungkin di acara nanti dia bersikap seperti ini.”
Emi dan Madam Diana kembali melirik ke arah Alma. Madam Diana lalu memikirkan aksen apa yang harus ia tambahkan untuk menutupi bahu Alma.
Semula Madam Diana memang tidak setuju bila bahu Alma ditutup, apalagi sampai mengubah konsep gaun tersebut, tetapi bila melihat sikap tidak nyaman yang ditampilkan Alma di acara pernikahan nanti juga dirasa tidak baik.
“Tunggu sebentar.”
Madam Diana beranjak mengambil sesuatu dari dalam etalase koleksi rancangannya. Kemudian Madam Diana kembali dengan memegang sebuah manset putih di tangannya.
“Ayo ikut Madam ke dalam.”
Madam Diana kembali mengajak Alma ke ruang ganti. Alma pun mengikuti perkataan Madam Diana. Dengan posisi tangan yang masih menyilang Alma melangkah pelan.
Tak lama berselang, Alma dan Madam Diana kembali keluar dari ruang ganti.
Kali ini raut wajah Alma tidak seperti sebelumnya yang tampak malu-malu menunjukkan busana yang membalutnya. Ia tampak semringah sebab bahunya tak lagi terbuka seperti sedia kala.
“Bagaimana menurutmu? Apa kamu sudah merasa nyaman mengenakannya?” tanya Alvin pada Alma.
Alma tersenyum menanggapi pertanyaan bosnya. Alma lalu melangkah ke arah cermin yang berukuran cukup besar. Tubuh Alma juga terlihat memutar melihat tiap sisi dari tubuhnya.
“Kalau dari tadi begini ‘kan bagus Bos, enggak kayak tadi. Enggak ada pakai drama yang judulnya dilema gaun pengantin. ‘Kan enggak buang-buang waktu buat debat.”
Madam Diana tertawa melihat sikap Alma. Terlepas dari penilaian fisik Madam Diana terhadap Alma, Madam Diana bisa melihat dan menilai jika Alma adalah sosok sederhana dan polos, serta jauh dari kata suka berpura-pura.
“Oh ya Madam, kalau busananya sudah tertutup begini lebih baik sekalian aja kepala saya di pakaikan hijab. Bagaimana setuju tidak Bos?”
“Hijab?”
“Iya. Hijab, Bos.”
Alvin dan maminya saling pandang begitu pula Madam Diana.
“Kenapa harus pakai hijab?”
“Biar lebih sopan!”
“Permintaanmu banyak sekali. Tadi minta bahu ditutup, sekarang minta kepalamu yang ditutup. Sekalian saja kau pakai sarung."
Madam Diana yang sudah sempat menilai baik terhadap Alma kembali menggerutu.
“Ini ‘kan hanya saran saya, Madam. Lagian mending dipakaikan hijab dong, ketimbang rambut saya nanti di sasak pakai sanggul tinggi. Pasti kepala saya jadi kelihatan aneh.”
“Kamu yakin mau memakai hijab?" Alvin bertanya memastikan pada Alma.
Menurut Alvin tidak ada salahnya juga Alma mengenakan hijab untuk menutup bagian kepalanya
“Iya Bos. Saya yakin.”
“Baiklah. Madam ....” Alvin tersenyum setuju lalu menatap Madam Diana yang mengisyaratkan jika kepala Alma juga harus mengenakan hijab.
Alvin berpikir jika tidak ada salahnya menuruti permintaan Alma yang tak seberapa jika dibandingkan dengan bantuannya yang bersedia menjadi mempelai pengantin pengganti. Bagi Alvin itu bukanlah hal yang besar.
“Oke. Madam akan pakaikan hijab.” Madam Diana akhirnya terpaksa menuruti perkataan Alma.
Walau bagaimana pun Madam Diana harus menuruti keinginan Alvin sebagai klien yang memakai jasa rancangannya.