Dilema Gaun Pengantin

1184 Kata
Alma, Alvin dan maminya kemudian bergegas menuju butik tempat di mana Alvin dan Salsa memesan busana pengantin sebelumnya. Alma dan Alvin menaiki mobil yang sama, sedang maminya Alvin berada di mobil yang terpisah dari sang putra. Beberapa puluh menit mereka tempuh dari Komplek Perumahan Cemara Asri menuju butik tempat Alvin dan Salsa memesan busana pengantin. Setelah tiba di butik yang mereka tuju, Alma sempat menatap takjub ketika melihat tampilan toko butik dari luar. “Dari luar aja tempatnya kelihatan mewah, aku yakin pasti harga baju-bajunya juga mahal,” celetuk Alma dalam hati. Alma dan Alvin lalu turun dari mobil yang mereka naiki. Begitu pula dengan Emi. Ketiganya segera melangkah masuk ke dalam butik setelah disambut ramah oleh salah seorang pegawai butik. Alvin lalu menemui resepsionis butik dan mengatakan perihal pakaian yang sebelumnya sudah ia pesan bersama Salsa. Setelah itu salah seorang pegawai lain pun menuntun ketiganya menemui perancang busana yang bertanggung jawab mempersiapkan busana pengantin milik Alvin dan Salsa. Perancang busana tersebut tak lain adalah salah seorang sahabat maminya Alvin. “Jangan ngadi-ngadi deh masa eike disuruh bikin yang baru lagi, mana mungkin keburu!” Perancang busana bernama Madam Diana menggerutu kesal ketika Emi meminta untuk dibuatkan busana pengantin yang sama persis dengan milik Salsa dan sesuai dengan ukuran tubuh Alma. “Lagian ya Ses, ini siapa sih yang kalian bawa? Cuma jadi pengiring pengantin, ya. Ngapain juga harus sama persis seperti pengantin ceweknya. Hih, yang ada tamu-tamu pada ngeliatin baju pengiringnya bukan pengantinnya ....” Madam Diana masih terus menggerutu dan mengira jika Alma adalah pengiring pengantin. “Mana ukurannya juga kecil, masa mau di bikin sama persis kayak punya si mempelai cewek, gak asyik tau!” Madam Diana bersikeras tidak ingin membuat busana untuk Alma yang sama persis dengan milik Salsa, bahkan Madam Diana sempat melirik ke arah benda kembar milik Alma. Alma merasa sangat kecil mendengar perkataan madam Diana, tangannya pun reflek menutup benda kembar miliknya. “Siapa yang bilang dia ini pengiring pengantin? Aku tidak pernah berkata begitu. Ayolah Di, kau harus membantuku. Kau tidak tahu masalah yang tengah kuhadapi. Pokoknya kau harus buatkan baju yang sama persis seperti baju milik Salsa yang batal menjadi menantuku ....” Madam Diana tertegun mendengar ucapan Emi. Ia memastikan kembali apa yang baru saja ia dengar. “Batal jadi menantu? Maksudmu bagaimana, Em?” “Ya, Diana. Putraku batal menikah dengan Salsa ....” “Kau serius?” Madam Diana kembali bertanya memastikan. “Iya. Aku serius.” “Lalu, dia ini ....” Madam Diana menunjuk Alma. “Dialah yang akan menggantikan posisi Salsa nanti.” Madam Diana menelisik penampilan Alma dari atas hingga ke bawah. Kala itu Alma hanya mengenakan celana jeans dengan warna biru memudar yang dipadu dengan kaos oblong berlengan siku. Perasaan Alma menjadi tidak karuan ditatap seperti itu oleh madam Diana. Terlebih setelah Madam Diana sempat menyebut benda kembarnya berukuran kecil. “Kau yakin, si Salsa akan digantikan olehnya?” Madam Diana kembali memastikan, matanya juga menatap aneh ke arah Alma. “Hei, buka matamu anak muda! Jangan sampai kau menyesal. Sebagai wanita, aku yakin kau juga bisa melihatnya dari luar. Lihatlah ini ....” Madam Diana menunjuk dadanya yang busung. “Ini ... ukurannya begitu kecil bila dibandingkan dengan ukuran Salsa,” sambungnya lagi. Alma hanya bisa menunduk tubuhnya diberi penilaian seperti itu. Apa yang dikatakan oleh Madam Diana adalah fakta. Tubuh Alma memang terbilang mungil dan bila dibandingkan dengan milik Salsa sangat terlihat kontras perbedaannya. Namun, jika merujuk pada penyesalan yang dikatakan Madam Diana, ia telah salah besar. Pernikahan yang akan dilakukan Alma dan Alvin hanya pernikahan pura-pura dan sama sekali tak akan merujuk ke arah sana. “Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Di. Pernikahan ini tidak sungguhan.” “Apa lagi ini? Kenapa sejak tadi bicaramu selalu yang tidak-tidak?” Madam Diana kembali bingung dengan ucapan Emi. “Aku berkata yang sebenarnya, Di. Pernikahan Alvin dan Alma memang hanya pura-pura. Aku tidak mau orang-orang mencemoohku bila mereka tahu yang sebenarnya.” Alvin dan Alma yang berada diantara percakapan Mami dan sahabatnya hanya bisa menyimak pembicaraan keduanya. “Keluarga Salsa memberitahu kami, jika anak mereka melakukan kesalahan. Mereka lalu membatalkan begitu saja pernikahan yang di Minggu ini akan digelar. Orang tua Salsa mengatakan jika mereka tidak mau mengecewakan pihak keluarga kami jika mengetahui hal yang sebenarnya di kemudian hari. Aku juga sempat tidak menyangka jika Salsa benar melakukan hal yang memalukan seperti itu.” “Maksudmu Salsa selingkuh?” Emi mengangguk menanggapi pertanyaan sahabatnya. Raut kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Madam Diana lalu beralih pada Alvin dan juga Alma. “Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, Alvin.” Madam Diana mengusap bahu Alvin. “Dan kau, maaf aku pikir kau memang sungguhan menggantikan posisi Salsa. Ucapanku tadi tidak bermaksud untuk menyinggungmu. Kau tahu sendirilah, laki-laki sukanya yang seperti apa, hmmm ...?" Madam Diana kini justru menggoda Alma. Alma hanya bisa tersenyum pahit menanggapi perkataan madam Diana selanjutnya. Meski semula sempat merasa dikucilkan, Alma tetap tak bisa menampik sebab yang dikatakan Madam Diana adalah sebuah kebenaran. Alma juga baru mengetahui apa alasan dan penyebab pasti batalnya pernikahan sang Bos. Selama ini Alma hanya tahu jika pihak keluarga Salsa membatalkan rencana pernikahan secara sepihak, tanpa tahu apa penyebab dan alasan yang pasti. “Kalau bikin yang baru, aku rasa waktunya tidak akan terkejar. Tapi kalau busana milik Salsa diubah ukurannya, aku kira itu cukup membantu. Bagaimana kalian setuju?” “Kami ikut saja dengan saranmu, Di.” Madam Diana lalu meraih busana pengantin yang semula akan dikenakan oleh Salsa. Busana itu lalu ia tunjukkan pada Alma untuk di coba di tubuhnya. Alma lalu menerima busana pengantin dari Madam Diana. Sebuah gaun pengantin berwarna putih dengan bahan kain yang begitu lembut dan tentunya dengan harga yang tidak murah juga. Alma bisa membayangkan bagaimana sempurnanya penampilan seorang Salsa bila mengenakan gaun yang berbahan sebagus itu. Alma lalu membentang gaun tersebut, sebuah belahan terpampang jelas di bagian atasnya. Mata Alma pun membelalak membayangkan jika nanti gaun tersebut disesuaikan dengan ukuran tubuhnya, lalu mengenakan gaun itu. Alma merasa ngeri sendiri ketika membayangkan ia mengenakan gaun tersebut. “Sa-saya enggak mau pake ini, Bos!” Alma segera menghempaskan gaun yang semula ia kagumi keindahan bahannya. “Kenapa? Bahan gaun ini sangat bagus dan ini rancangan terbaik dari semua koleksiku. Kalau soal ukuran bagian atasnya, nanti akan kita sesuaikan dengan ukuranmu.” “Bukan soal itu ....” “Lalu soal apa, Al?” “Ini Bos.” Alma menunjuk bagian belahan di bagian atas gaun.” “Oh, itu soal gampang. Tadi sudah Madam bilang, ukurannya akan kita sesuaikan. Hmmm ....” Alma masih merasa ngeri membayangkan bila ia harus memakai gaun seperti itu. Selama ini Alma tidak pernah mengenakan pakaian minim. Tentu ia akan merasa tidak nyaman bila di hari pernikahan nanti harus mengenakan gaun yang sangat terbuka seperti itu. Belum lagi akan ada banyak pasang mata yang melihat, Alma semakin ngeri membayangkan hal itu. “Enggak. Saya enggak mau pakai gaun yang kurang bahan begitu. Saya malu Bos. Saya enggak biasa berpakaian seperti itu. Lagi pula nanti bakal ada banyak orang yang ngeliatin saya. Saya enggak bisa, saya malu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN