Restu Oma

1128 Kata
Alvin lebih dulu melangkah menaiki undakan tangga yang menuju lantai dua. Di belakang Alvin tampak Alma mengikutinya. Semula Alma merasa yakin dan terlalu percaya diri jika rencana pernikahan pura-pura antara ia dan bosnya yang hanya bertujuan saling membantu dan menyelesaikan masalah diantara mereka akan berjalan dengan lancar. Namun, entah mengapa ketika langkah kaki Alma sudah berada di lantai dua perasaannya tiba-tiba merasa resah. “Tunggu sebentar, Bos!” seru Alma menghentikan langkah kakinya. Alvin menoleh dan mengikuti Alma yang menghentikan langkahnya. “Perasaan saya kok tiba-tiba jadi enggak enak, ya? Kira-kira omanya si Bos mau bilang apa ke saya?” “Mungkin kamu mau BAB,” jawab Alvin datar. “Saya serius Bos. Perasaan saya tiba-tiba enggak enak, bukan karena saya kebelet mau BAB!” gerutu Alma merasa kesal. “Oma sudah menunggu kita. Ayo masuk!” seru Alvin, ia sama sekali tidak menghiraukan perkataan Alma. Alvin lebih dulu melangkah untuk masuk ke dalam kamar omanya, sedangkan Alma masih ragu untuk ikut masuk atau tidak ke dalam kamar Oma bosnya. “Tunggu apa lagi? Ayo masuk!” titah Alvin lagi. Alma pun akhirnya menuruti ucapan bosnya. Dengan perasaan campur aduk Alma melangkah masuk ke kamar Oma bosnya, bahkan jantung Alma juga ikut berdetak lebih cepat. “Huh ... kenapa tiba-tiba jadi begini? Perasaan sudah sering liat omanya si Bos di pabrik. Kok aku jadi grogi? Niat nikah pura-pura aja groginya kayakgini, bagaimana kalo nikahnya beneran?” batin Alma dalam hati. “Assalamualaikum,” ucap Alma ketika melewati pintu kamar Oma bosnya. “Waalaikumsalam." Omanya Alvin menjawab salam yang diucapkan Alma. Omanya Alvin menatap lekat sosok Alma, sedangkan Alma jangan ditanya bagaimana perasaannya. Ia gugup bahkan sangat gugup. Padahal ia sudah sering melihat kehadiran Oma bosnya di pabrik. Meski tidak pernah bicara secara langsung, tetapi Alma cukup sering menyapa Oma bosnya terutama ketika ia membersihkan dapur milik Alvin. “Kamu ...?” “Kamu yang sering bersih-bersih di pabriknya Alvin?” Semua orang yang berada di dalam kamar omanya Alvin terdiam mendengar perkataan Oma. Alvin, maminya dan terutama Alma merasa khawatir jika omanya Alvin tidak setuju dengan rencana yang sudah mereka susun. “I-i-iya.” Alma menjawab dengan gugup. Sementara Alvin dan maminya kini saling bertukar pandang. Mereka masih sangat khawatir jika Oma akan menolak rencana yang sudah mereka susun, terlebih Oma sangat mengetahui siapa Alma di pabrik. Ketegangan yang melanda Alma, Alvin dan juga maminya mulai mencair, ketika wanita yang mengenali Alma menyunggingkan sebuah senyum. “Oma pikir siapa orang yang menggantikan Salsa, ternyata kamu.” Jantung Alma yang semula berdetak kencang mulai berdetak pelan. Bukan karena Alma mau pingsan atau karena merasa lemas, tetapi karena sikap tegang Alma yang semula ia alami mulai mereda. “Jadi, nama kamu itu Alma?” Alma mengangguk menanggapi pertanyaan Oma. “I-iya. Saya Alma Oma Bos.” Kening Oma mengerut mendengar kata terakhir yang diucapkan Alma. “Bos? Kenapa memanggilku seperti itu? Sebentar lagi kamu akan menikah dengan cucuku, itu artinya aku akan jadi omamu juga.” Ketegangan diantara tiga orang yang sempat merasa khawatir akhirnya benar-benar mereda. Alma, Alvin dan maminya kini bisa bernapas lega. Ketiganya mengucap penuh syukur dalam hati masing-masing, sebab Oma sama sekali tidak menampakkan sikap penolakan sedikit pun pada Alma. “Kemarilah!” seru omanya Alvin, tangannya juga menunjuk ke arah tepi ranjang tempatnya bersandar. Alma pun menuruti seruan Oma. Ia duduk tepat di tepi ranjang yang ditunjuk Oma. “Terima kasih sudah bersedia menerima cucuku. Aku harap kamu bisa menerima semua kekurangannya. Aku yakin kamu adalah pilihan terbaik yang dikirim Tuhan,” ujar omanya Alvin sembari meraih jemari Alma. Alma merasa tersentuh dengan ucapan omanya Alvin. Dari apa yang Alma dengar saat ini, Alma yakin jika Oma bosnya sama sekali tidak mengetahui perihal rencana pernikahan yang hanya akan dilakukan secara pura-pura. “Aku tidak peduli dengan statusmu sebagai pekerja di pabrik cucuku. Aku yakin di balik batalnya pernikahan cucuku dengan Salsa, pasti Tuhan sudah punya rencana lain yang lebih baik untuk cucuku,” sambung Oma lagi. Tiba-tiba Alma merasa bersalah. Alma merasa bersalah karena menurutnya ia telah membohongi wanita tua yang sangat ingin melihat cucunya menikah. Alma bisa merasakan bila ucapan dari Oma bosnya begitu tulus. Alma tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Oma bosnya bila di kemudian hari mengetahui pernikahan diantara dirinya dan Alvin hanya pura-pura. Alma hanya meneguk salivanya sendiri. Tak ada yang bisa ia ucapkan untuk menanggapi ucapan dari Oma. “Apa kamu sudah mencoba gaun pengantinnya?” tanya Oma lagi. Alma, Alvin dan maminya kembali bertukar pandang. Ketiganya bahkan tidak memikirkan perihal gaun pengantin yang akan dikenakan oleh Alma di hari pernikahan. Alma, Alvin dan maminya terlalu fokus memikirkan restu Oma sehingga melupakan perihal gaun yang akan dikena oleh Alma. “Aku yakin kalian tidak memikirkan hal itu. Sebaiknya cepat kalian persiapkan gaun yang akan dipakai oleh Alma. Karena tidak mungkin Alma memakai gaun milik Salsa, ukuran tubuh mereka sudah pasti berbeda.” Restu Oma sudah mereka dapatkan. Perihal gaun pengantin serta semua hal yang dipersiapkan untuk Salsa di hari pernikahan pun harus mereka ubah. Seperti nama kedua mempelai yang akan di pajang di dekorasi pelaminan juga harus diubah menjadi nama Alma. “Pergilah ... persiapkan semuanya. Pilih gaun yang terbaik, yang menurut kalian bagus untuk dipakai Alma.” Oma berseru kepada Alma dan Alvin. “Iya, Oma. Alvin dan Alma akan berangkat sekarang. Aku ingin Mami juga ikut dengan kami. Oma tidak apa-apa ‘kan, aku tinggal?” tanya Alvin memastikan. “Tidak apa-apa. Oh ya, Alma. Bagaimana dengan keluargamu, apa mereka setuju dengan pernikahan kalian?” Alma menatap ke arah Alvin. Ia bingung harus menjawab apa. “Ayahnya Alma sudah tidak ada,” jawab Alvin singkat. Alvin mengetahui perihal ayahnya Alma dari Yuni. Kala itu Yuni pernah menyampaikan informasi tentang Alma yang tidak bisa masuk kerja karena ayahnya meninggal. “Lalu siapa yang akan menjadi walimu nanti, Alma. Dan ibumu bagaimana?” tanya Oma lagi. “Adik saya, Oma. Kalau mengenai Ibu ... mungkin Ibu saya enggak akan datang di acara nanti.” “Kenapa? Kenapa ibumu tidak datang?” Alvin dan maminya juga tidak pernah memikirkan dan bertanya mengenai ibunya Alma. Menurut sepengetahuan mereka hanya adiknya Alma saja yang akan datang dan menjadi wali di acara pernikahan. “Ibu saya ... Ibu sedang sakit. Makanya Ibu tidak bisa datang.” Alma kembali berbohong. Alma terpaksa mengatakan hal itu pada Oma bosnya, sebab hanya itu alasan yang tepat untuk menutupi sandiwara mereka jika kelak di acara pernikahan ibunya tidak datang. “Aku doakan ibumu bisa segera sembuh dan bisa menghadiri pernikahan kalian.” Alma tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum menanggapi perkataan Oma, tetapi dalam hatinya ia juga semakin merasa bersalah karena sudah kembali berbohong. “Kita harus pergi ke butik sekarang juga. Ayo kita berangkat.” Emi berseru pada Alvin dan Alma. Ketiganya lalu pergi meninggalkan kamar Oma setelah berpamitan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN