Alvin menatap sekilas ke arah Alma, begitu pula sebaliknya.
Alma dan Yuni masih menunggu Bos mereka menyebutkan alasan Alma tidak melanjutkan pekerjaannya di bagian pencucian.
“Katakan saja kalau Alma izin pulang karena sakit.”
“Hah ... kenapa harus dibilang sakit? Saya enggak setuju Bos. Kak Yun, jangan bilang aku sakit ke Rahmi. Aku ini sehat, bagaimana kalau sesudah ini saya jadi beneran sakit, Bos?” Alma tidak setuju dengan alasan yang dikemukakan oleh bosnya. Menurut Alma ucapan itu adalah doa.
“Lalu harus beralasan apa?”
“Bos benar Al, sudah bagus itu alasan yang dibilang si Bos. Sudah ikut saja dengan alasannya si Bos!” Seru Yuni pula.
Semula Alma memang tidak setuju dan merasa kesal dengan alasan yang diajukan bosnya, tetapi ia juga tidak punya pilihan lain untuk menolak alasan yang diberikan oleh bosnya. Alma pun akhirnya pasrah dan ikut saja dengan saran bosnya.
“Ya sudah, aku setuju, Kak. Tapi kalau saya beneran sakit, Bos harus tanggung jawab. Gaji saya harus tetap jalan, meski saya enggak masuk kerja.”
“Kenapa kamu jadi memerasku?”
“Bukan memeras Bos. Tapi—“
“Sudah-sudah, Bos dan Alma jadi pergi tidak?” Yuni menyela perdebatan di antara keduanya.
Alma pun diam, ia tidak protes lagi.
“Jadi,” jawab Alvin singkat, lalu ia mengajak Alma untuk mengikutinya.
“Ayo.”
Alma kemudian melangkah keluar ruko mengikuti langkah bosnya menuju mobil. Alvin kemudian mematikan alarm mobil, lalu membuka pintu mobil yang dikunci.
Setelah kunci pintu mobil dibuka, Alvin kembali ke dalam ruko. Ia hendak memanggil Leman, pekerja pabrik yang ada di bagian kerok sekaligus bertugas menjaga ruko.
“Tunggu sebentar, aku panggil si Leman dulu.”
Alma mengangguk, ia lalu masuk ke dalam mobil. Alma duduk di jok bagian belakang mobil.
Tak lama berselang, Alvin kembali terlihat keluar dari pintu ruko. Alvin berjalan lebih dulu dari Leman.
Alvin kemudian masuk ke dalam mobil. Ia sempat celingukan mencari keberadaan Alma yang tidak terlihat.
Alvin juga melihat ke arah luar mobil. Posisi kepala Alvin yang terlihat celingukan di jendela mobil dan seperti mencari sesuatu bisa dilihat jelas oleh Alma.
“Bos cari siapa?” tanya Alma tiba-tiba dari arah belakang.
Alvin terkejut, sejak ia masuk ke mobil dirinya sama sekali tidak menyadari jika Alma berada di jok belakang. Alvin melihat Alma dari spion depan.
Posisi Alma sedang menunduk karena takut keberadaannya di dalam mobil dilihat oleh Leman.
“Kenapa duduk di belakang?” tanya Alvin dengan nada suara yang sedikit keras.
“Kamu membuatku kaget saja,” sambung Alvin lagi.
“Pssst ... Bos bicaranya jangan keras-keras, nanti Bang Leman bisa ngelihat saya.”
Alvin lalu melirik ke arah Leman yang sudah siap membuka pintu gerbang. Ia akhirnya paham mengapa Alma duduk di jok belakang.
Alvin lalu menyalakan mobil, bersiap-bersiap untuk melajukan mobil. Tak lupa Alvin memasang sabuk pengaman untuk dirinya. Setelah itu mobil Alvin melaju pelan melewati gerbang ruko.
“Aku pergi dulu.” Alvin berpamitan menyapa Leman yang berada di pintu gerbang.
Leman mengangguk menyahuti ucapan bosnya. Sebelum mobil Alvin benar-benar menjauh, Leman sempat melirik ke dalam mobil bosnya di bagian jok belakang. Leman seperti melihat sesuatu ada di bagian jok belakang, tetapi Leman tidak tahu apa itu yang berada di bagian jok belakang.
Setelah mobil Alvin keluar dari gerbang ruko, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Leman kembali menutup pintu gerbang ruko.
Membuka dan menutup pintu gerbang ruko adalah pekerjaan Leman ketika Alvin dan pekerja pabrik hendak keluar.
“Tidak usah menunduk terus,” ucap Alvin memecah keheningan.
“Duduk seperti biasa saja,” sambung Alvin lagi.
Alma mendengar perkataan bosnya. Ia lalu mendongak melihat ke jendela. Alma bisa melihat posisi mobil sudah melaju di jalan yang jauh dari ruko.
“Syukurlah kita sudah jauh dari pabrik.” Alma berucap sembari menormalkan posisi duduknya.
Sepanjang perjalanan menuju Komplek Perumahan di jalan Cemara Asri, Alma tidak banyak bersuara. Alma hanya menanggapi sekedar saja ketika Alvin sesekali memberi penjelasan mengenai apa yang harus ia katakan jika berhadapan dengan omanya.
Mobil Alvin mulai melewati pos satpam ketika hendak masuk ke dalam Komplek Perumahan Cemara Asri. Setelah mobil Alvin sudah memasuki kawasan perumahan elite tersebut, Alma pun melihat setiap ruko yang menjajakan dagangan dari balik kaca jendela mobil.
Ini adalah kali pertama Alma datang ke daerah tersebut. Alma sempat heran dengan apa yang kini dilihatnya.
Selama ini Alma hanya tahu dari orang-orang jika di Komplek Cemara Asri ada banyak burung dan kolam yang berisi banyak ikan mas dengan ukuran yang besar-besar.
“Kata orang di sini banyak ikan mas. Di mana ikannya, yang banyak cuma orang jualan,” celetuk Alma tiba-tiba.
Alvin mendengar celetukan Alma, ia melirik ke arah spion depan sejenak, lalu fokus kembali menatap ke depan.
“Kamu belum pernah ke sini?” tanya Alvin pada Alma, matanya menatap lurus ke arah depan.
“Belum Bos.”
“Belum pernah lihat kolam ikan mas yang ada di sini?”
Kepala Alma yang semula masih melihat ke luar jendela lalu menoleh ke arah depan. Ia menggeleng sembari menjawab kembali pertanyaan bosnya.
“Belum.”
Kemudian Alvin tidak melanjutkan pembicaraan lagi. Mobilnya sudah berhenti di depan pagar salah satu rumah yang ada di Komplek Perumahan tersebut.
Alvin lalu melepas sabuk pengaman yang ia kena. Kemudian membuka pintu, lalu keluar mobil menghampiri pagar besi yang menjulang tinggi.
Seorang penjaga yang ada di balik pagar terlihat menyapa Alvin, kemudian penjaga tersebut membuka pagar.
Alvin lalu kembali masuk ke mobil. Ia lalu melajukan pelan mobilnya untuk diparkir di halaman rumah kediaman Mami dan omanya.
Alvin dan Alma kemudian turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah secara bersamaan.
“Kalian sudah sampai.” Sapa Emmi saat melihat Alvin dan Alma berada di ruang tamu.
“Di mana Oma?”
“Omamu ada di kamarnya, Al. Omamu sedih ketika tahu kalau kamu batal menikah dengan Salsa ...,” ucap Emi lirih.
“Kamu tahu sendiri ‘kan, omamu orang yang paling berharap kamu segera menikah setelah Mami.”
Alvin dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh omanya. Namun, bila ia boleh berkata jujur, dirinyalah orang yang paling terpukul dan paling merasa sakit hati dalam hal ini. Rencana pernikahan yang sudah tersusun rapi, seketika hancur karena pembatalan sepihak dari pihak keluarga Salsa.
“Sebaiknya kamu temui saja langsung Omamu, Al,” sambung Emmi lagi.
“Kamu di sini saja. Biar aku menemui Oma lebih dulu.”
Alma menuruti ucapan bosnya. Alvin lalu menaiki undakan tangga menuju kamar omanya yang ada di lantai dua. Tak lama kemudian Emmi juga menyusul langkah putranya, setelah lebih dulu berpamitan dengan Alma.
Kini Alma duduk sendiri di ruang tamu yang ukurannya cukup besar. Alma sempat takjub melihat interior ruang tamu yang menurutnya sangat indah, bahkan bila dibandingkan dengan rumahnya sangat-sangat kalah jauh.
“Bagus sekali penataan ruangnya. Kalau ruang tamunya aja sebagus ini, aku yakin toiletnya juga bagus. Kalah jauhlah dengan kamar mandi di rumahku. Hi ... hi ... toilet sultan versus toilet jongkok,” decak Alma merasa kagum. Ia juga tertawa membandingkan toilet di rumah kediaman Ibu bosnya dengan yang ada di rumahnya.
Tak lama berselang, Alvin turun dari lantai atas. Dengan cepat Alvin melangkah menghampiri Alma setelah ia sampai di undakan terakhir.
“Ayo ikut aku. Oma ingin menemuimu.”
“Oma si Bos mau ketemu saya?”
Alvin mengangguk.
“Omanya si Bos setuju atau tidak saya nikah pura-pura sama si Bos?” tanya Alma lagi.
“Jangan keras-keras bicaranya. Nanti ada yang mendengar.” Alvin berkata pelan. Keduanya juga celingukan melihat sekitar.
“Oma tidak tahu kalau kita akan menikah pura-pura. Yang penting sekarang ini Oma tidak kecewa dan tidak ikut menanggung malu kalau aku batal menikah. Kalau kita bercerai setelah menikah, aku rasa itu hal biasa yang terjadi di beberapa pasangan. Aku yakin Oma juga akan maklum.”
Alma tersenyum mendengar perkataan bosnya. Itu artinya ia bisa melunasi hutang keluarganya setelah menerima imbalan uang dari bosnya.
“Ayo ....”