Oma Belum Tau

1210 Kata
Alvin segera menutup panggilan telepon yang masih berlangsung. Memberitahu Oma mengenai pembatalan rencana pernikahannya dengan Salsa sama sekali tidak terpikirkan olehnya. "Bagaimana ini, apa Oma akan setuju kalau Alma yang menggantikan Salsa. Bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada Oma. Bagaimana jika Oma tidak setuju dengan rencana Mami?" batin Alvin dalam hati. Alma masih berada di depan wastafel. Ia melihat bosnya yang duduk terdiam dan tampak merenung dengan posisi kedua tangannya menopang dagu. “Maaf Bos, bukan saya lancang. Bos bilang mau kasih kabar ke ibunya Bos. Tapi tadi saya dengar Bos manggil omanya si Bos. Apa ada masalah? Ibunya Bos sudah jadi diberitahu kalau saya setuju atau belum?” tanya Alma penasaran melihat sikap bosnya. Alvin masih diam. Belum menjawab pertanyaan Alma. “Bos ... bagaimana, apa saya jadi menggantikan Kak Salsa?” tanya Alma lagi. Alvin menoleh menatap Alma. Begitu pun Alma, ia juga tengah menatap bosnya. Menunggu Alvin memberi jawaban atas pertanyaannya. Alma Khawatir jika tawaran bosnya tiba-tiba dibatalkan. Alma kini sangat berharap tawaran itu tidak dibatalkan, sebab Alma sangat mengharapkan imbalan uang dari bosnya. Alvin kemudian menggeleng, membuat Alma semakin merasa cemas. “Enggak jadi ya, Bos?” “Oma belum tahu perihal ini ....” Alvin menjawab singkat. “Maksudnya Bos bagaimana?” “Oma belum tau, kalau pihak keluarga Salsa membatalkan pernikahan kami. Oma juga belum tau mengenai rencana Mami, dan posisi Salsa yang digantikan olehmu. Aku sama sekali tidak terpikir untuk memberitahu Oma mengenai pembatalan pernikahanku.” Alma mendengar perkataan Alvin. Dia lalu melangkah menuju kursi makan yang ada di dekat Alvin. Ia pun ikut duduk bersisian dengan Alvin. “Padahal Oma yang paling berharap aku segera menikah. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya jika dia tahu aku batal menikah. Usianya juga sudah tua, aku takut dia berpikir berlebihan lalu berdampak pada kesehatannya,” sambung Alvin lagi. Alma merasa tersentuh dengan ucapan bosnya. Ia tidak menyangka dibalik sikap diam Alvin yang sering ditunjukkan ketika berkeliling mengecek pekerjaan para pekerja, ternyata memiliki sikap peduli. Menurut Alma sikap seperti itu menunjukkan jika Alvin adalah seorang penyayang. Alma sudah pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya. Apabila dirinya batal menjadi mempelai pengganti, maka hutang keluarganya belum bisa ia lunasi. Ia memang membutuhkan dan berharap pada imbalan uang yang akan diberikan Alvin. Namun, ia juga tidak ingin egois dan memaksa keadaan. Alma kini juga mulai memikirkan kesehatan omanya Alvin. Ia tak ingin omanya Alvin sampai jatuh sakit memikirkan pernikahan Alvin yang terancam batal, lalu melakukan pernikahan pura-pura yang mempelai wanitanya digantikan oleh dirinya. “Saya cuma bisa mendoakan omanya si Bos sehat-sehat saja.” Alma berkata dengan tulus. “Kalau saya batal menggantikan Kak Salsa, saya enggak apa-apa Bos. Mungkin belum rezeki saya dapat uang lebih dari si Bos. Lagi pula omanya Bos juga belum tentu setuju kalau saya yang jadi penggantinya. Saya enggak mau omanya Bos terkejut, terus kenapa-kenapa, kalau omanya Bos tahu saya yang jadi penggantinya Kak Salsa.” “Tapi bagaimana dengan Mami? Aku juga tidak mungkin mengabaikan perasaan Mami. Mami pasti akan malu jika pernikahanku benar-benar batal.” Alvin berucap lirih. Kepala Alvin juga tampak menunduk dengan posisi jemari yang meraup wajahnya. Alma ikut merasakan dilema yang dialami bosnya. Alma berpikir ini adalah pilihan yang sulit bagi Alvin. Harus melanjutkan atau benar-benar membatalkan pernikahannya. Di satu sisi Alma memaklumi jika Alvin tidak ingin omanya terpukul mendengar pembatalan pernikahannya, lalu berdampak buruk pada kesehatan sang Oma. Di lain sisi ada perasaan Ibu bosnya yang tidak bisa diabaikan. Alvin juga tidak ingin ibunya menanggung malu karena pernikahannya yang sudah tersiar kabar beritanya tiba-tiba batal. Ponsel Alvin pun tiba-tiba berdering. Ponsel yang tadinya sudah Alvin letakkan di atas meja makan, kini ia raih kembali. Alvin melihat nama maminya yang tertera di layar ponsel. Alvin ragu untuk menjawab panggilan di ponselnya. Alvin khawatir jika yang melakukan panggilan telepon di ponselnya adalah omanya, bukan maminya. Alma melirik ponsel milik bosnya yang terus berdering, tetapi tidak dijawab oleh bosnya. “Maaf Bos ... kenapa tidak dijawab? Memangnya siapa yang nelpon?” tanya Alma sembari mengamati ponsel Alvin yang terus berdering. “Itu nomor Mami. Tapi aku khawatir jika bukan Mami yang menghubungi. Bisa saja seperti tadi, ponsel Mami diangkat oleh Oma.” Ponsel Alvin masih terus berdering menampilkan nama sang mami. “Sebaiknya angkat saja, Bos. Siapa tau ada hal penting yang mau diomongin.” Alma memberi saran pada Alvin. Setelah berpikir sejenak perkataan Alma, kemudian Alvin meraih ponselnya. Alvin sependapat dengan Alma. Ia harus menjawab panggilan di ponselnya. “Halo ....” “Bawa Alma datang ke sini, Al. Kamu harus mengenalkan Alma pada Oma,” ucap maminya Alvin. “Tadi omamu bertanya sama Mami mengenai Alma yang menggantikan Salsa. Oma bilang ke Mami, kalau tadi kamu menghubungi ponsel Mami dan Oma yang jawab. Mami sudah jelaskan semuanya pada Oma,” sambung Emi lagi. “Jadi, Oma sudah tahu kalau pernikahanku dengan Salsa batal?” “Iya. Oma sudah tahu. Omamu ....” “Oma kenapa, Mami?” “Datang saja ke sini, Al. Kita harus jelaskan rencana kita pada Oma.” “Apa Oma baik-baik saja?” tanya Alvin yang khawatir dengan keadaan omanya. Dari panggilan telepon yang masih berlangsung, Alvin dapat merasakan jika sesuatu terjadi pada omanya. “Jawab pertanyaanku, Mami. Bagaimana keadaan Oma. apa Oma baik-baik saja?” tanya Alvin. “Kamu lihat saja nanti kalau kamu sudah di sini. Kamu dan Alma Mami tunggu.” Panggilan telepon pun selesai. Alvin semakin cemas memikirkan keadaan omanya. “Ayo ikut aku!” titah Alvin pada Alma. Alvin beranjak lalu tanpa sadar meraih tangan Alma. “Tunggu dulu, Bos. Kita mau ke mana? Kerjaan saya belum selesai.” “Ikut aku ke rumah Mami. Kita akan menemui omaku. Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Oma.” Alma belum sempat menjawab akan setuju atau tidak dengan ajakan Alvin. Di waktu yang sama dari arah pintu penghubung antara ruang dapur Alvin dengan ruko ada yang mengetuk. Bahan pintu penghubung antara dapur dengan ruko pabrik terbuat dari kaca yang terlihat tembus dari dalam dapur. Sehingga Alvin dan Alma bisa melihat siapa orang yang mengetuk pintu. “Masuk.” Alvin mempersilakan orang yang mengetuk pintu. Yuniati adalah orang yang mengetuk pintu. Setelah mendengar izin dari Alvin, ia lalu membuka pintu. Yuniati tampak tercengang dengan pemandangan yang tengah dilihatnya. Alvin yang mengajak Alma untuk menemui omanya, tangannya masih seperti semula, masih memegang tangan Alma. “Maaf ... apa saya mengganggu?” tanya Yuni pada keduanya. Seketika Yuni juga merasa sungkan. Alvin dan Alma saling menoleh bertatapan. Keduanya baru menyadari jika tangan Alvin kini tengah memegang tangan Alma. “Eh, ini ....” Alma dengan cepat melepas genggaman tangan bosnya. “Ada apa?” “Maaf, Bos. Saya mau panggil Alma. Bahan yang mau dicuci sudah ada.” “Suruh Rahmi saja. Alma akan ikut bersamaku menemui Oma. Aku dan Alma akan menjelaskan perihal rencana Mami yang kemarin.” “Ikut Bos ketemu omanya Bos kapan, sekarang?” “Iya.” “Kalau sekarang Alma ikut Bos, saya harus alasan apa sama si Rahmi? Dia ‘kan enggak tahu kalau Bos dan Alma mau nikah pura-pura ....” Alvin dan Alma kembali saling tatap. Keduanya sama-sama tengah memikirkan alasan apa yang tepat untuk dikatakan pada Rahmi, yang tugasnya sama seperti Alma, yakni bertugas di bagian pencucian sarang burung walet. “Katakan saja kalau Alma ....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN