“Kakak mau nikah ....”
“Hah ... Kakak mau nikah ...?” Aldi mengulang kata yang diucapkan Alma. Ia sedikit terkejut dengan pernyataan Alma yang tiba-tiba ingin menikah.
“Dengan siapa dan kapan, Kak?” tanya Aldi lagi.
"Dengan Bos Kakak. Rencananya Minggu ini Kakak menikah?”
Aldi tambah terkejut lagi setelah mendengar apa yang dikatakan Alma.
“Kenapa tiba-tiba Kakak mau nikah secepat itu, apa Kakak sudah seperti Novi?” Aldi bertanya pada Alma, memastikan apakah alasan sang Kakak ingin menikah secepatnya sama seperti sepupu mereka. Tangannya juga tampak mengusap perutnya.
“Hussst ... jangan sembarangan bicara kamu, Al. Kejadiannya tidak seperti itu.”
“Lalu kenapa tiba-tiba Kakak mau nikah, dadakan pula.”
Alma pun mulai menjelaskan pada adiknya jika dirinya diminta menjadi mempelai pengganti oleh bosnya. Alma juga mengatakan jika bosnya akan memberi imbalan atas kesediaan Alma menjadi pengantin pengganti.
“Kakak sudah setuju?”
Alma menggeleng menanggapi pertanyaan Aldi.
“Kakak masih bingung. Makanya Kakak tanya dulu ke kamu. Menurutmu bagaimana, Kakak terima atau tidak. Uang yang bakal dikasih Bos lumayan banyak, bisa buat melunasi hutang keluarga kita.”
Aldi menunduk, ia tampak berpikir.
“Bagaimana Aldi? Kakak bingung, Kakak terima atau tidak ....”
“Ibu tahu tidak?”
Alma dengan cepat menggeleng.
“Ibu enggak tahu. Kalau Ibu tahu, Kakak yakin pasti Ibu enggak setuju.” Alma meyakini pemikirannya.
“Apa ini enggak berbahaya, Kak? Maksudku bagaimana kalau setelah menikah ada tuntutan dari pihak calon istrinya Bos Kakak?”
“Kakak rasa enggak mungkin, Al. Yang membatalkan rencana pernikahan itu juga pihak calon istrinya Bos. Pernikahan ini juga hanya pura-pura. Semua dokumen pernikahan masih atas nama calon istrinya Bos. Tugas Kakak hanya duduk saja di samping Bos di hari pernikahan.”
Aldi berpikir, menimbang semua perkataan kakaknya.
“Bagaimana menurutmu, Aldi. Kata si Bos kalau Kakak terima tawaran untuk menggantikan calon istrinya, kamu juga akan ikut ke acara itu, kata Bos kamu bisa dijadikan saksi dari pihaknya Kakak.”
Alma menjelaskan pada sang Adik jika Aldi juga punya peran di dipernikahan yang dianggapnya hanya pura-pura sebagai saksi. Alma tidak menjelaskan jika Aldi yang menjadi walinya nanti.
“Kalau Kakak hitung, bahkan uang dari si Bos juga masih ada sisa banyak setelah dipakai untuk bayar hutang. Dan rencana Kakak sisanya itu untuk membayar biaya sekolahmu dan Alina yang menunggak,” sambung Alma lagi.
Aldi tampak berbinar mendengar ucapan kakaknya. Ia merasa senang tunggakan sekolahnya akan segera dibayar oleh sang kakak.
“Kakak serius?”
“Iya. Kakak serius. Bagaimana menurutmu, kamu mau dan setuju ‘kan untuk jadi saksi nanti?” tanya Alma kembali memastikan.
“Baiklah, Kak. Aku setuju. Aku mau jadi saksi di pernikahan Kakak dan Bos Kakak.”
Alma pun semringah mendengar ucapan adiknya. Ia semakin yakin dan mantap dengan keputusannya nanti.
“Bukan pernikahan Kakak, tapi pernikahannya Bos Kakak,” sanggah Alma.
“Iya. Maksudku begitu.”
Keduanya pun tertawa bersama.
*
Keesokan harinya.
Alma pergi bekerja seperti biasanya. Ia berangkat bekerja pukul setengah delapan dari rumah menuju tempat kerjanya.
Jarak antara rumah dengan tempat kerjanya memang tidak begitu jauh, hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit jika Alma menaiki angkot dari rumahnya.
Selain Alma juga ada beberapa pekerja yang juga baru tiba di ruko pabrik sarang burung walet tempatnya bekerja. Salah satunya adalah Desi.
Desi merupakan pekerja di bagian pencabutan bulu, ia terlihat meletakkan barang dagangannya. Alma pun menghampiri Desi, ia berniat membeli dagangan milik Desi.
“Cerah sekali wajahmu pagi ini, Al. Sejak tadi aku tiba, kuperhatikan wajahmu senyum terus. Baru menang lotre?” Desi menggoda Alma yang tampak semringah saat membeli dagangannya.
“Ada-ada saja kau, Des. Memangnya kapan aku pernah merengut? Aku mau itu, Des. Jagung gerontol.” Alma menunjuk dagangan Desi yang hendak ia beli.
Setelah membeli dagangan milik Desi. Alma pun masuk ke ruang dapur yang menjadi satu dengan ruang tamu milik Alvin. Ia meletakkan jagung gerontol yang dibelinya dari Desi di atas meja makan milik Alvin.
Alma kemudian mulai membersihkan peralatan dapur serta ruangan tempat ia berada. Sebelum memulai aktivitasnya sebagai buruh pabrik, membersihkan semua tempat pribadi Alvin merupakan pekerjaan sampingan yang Alma lakukan.
Semua itu Alma lakukan demi mendapat upah tambahan yang tentu saja ia gunakan untuk biaya hidup dan membayar cicilan hutang keluarganya.
Dari lantai dua Alvin terlihat melangkah menuruni undakan tangga. Alvin menatap punggung Alma yang sedang mencuci piring di depan wastafel. Alvin juga melirik jagung gerontol milik Alma yang ada di atas meja. Di saat bersamaan, Alma juga berbalik badan dan melihat kehadiran bosnya.
“Pagi Bos,” sapa Alma saat Alvin sudah berada di ruang yang sama dengannya.
“Bagaimana Al, apa keputusanmu?” Alvin langsung bertanya keputusan Alma mengenai tawarannya.
“Aku harap kamu menyetujuinya.” Alvin sangat berharap Alma menerima tawarannya.
“Saya setuju, Bos,” jawab Alma singkat.
Alvin semringah mendengar keputusan Alma.
“Baiklah. Aku akan memberitahu hal ini pada Mami. Uang yang aku janjikan akan kuberi setengah dulu dari perjanjian."
Alma tersenyum mendengar perkataan Alvin.
Kemudian Alvin menghubungi maminya via telepon, karena ia dan sang Mami memang tidak tinggal bersama. Maminya Alvin tinggal di salah satu Komplek Perumahan yang ada di jalan Cemara bersama omanya. Sedangkan Alvin tinggal di ruko pabriknya yang ada di kawasan Tembung.
Alvin berniat memberi kabar kepada sang Mami jika Alma sudah setuju untuk menjadi mempelai pengantin menggantikan Salsa. Saat itu, Alvin mengira jika masalah yang tengah ia hadapi sudah selesai. Alvin tidak tahu jika omanya belum mengetahui rencana pernikahannya yang batal.
“Halo Mami, ada kabar baik yang mau Alvin sampaikan,” ucap Alvin ketika sambungan telepon kepada maminya sudah terhubung.
“Baru saja Alma bilang kalau dia setuju ... dia setuju menggantikan Salsa menjadi mempelai wanita ....” Alvin masih terus berbicara, tanpa mengetahui siapa yang menjawab telepon darinya.
“Apa maksud kamu, Al?” sahut orang yang menjawab telepon Alvin dari seberang sana.
“Siapa itu Alma, kenapa Salsa harus digantikan dengan Alma. Apa maksud ucapanmu, Al? Katakan pada Oma!”
Alvin tertegun sejenak. Ia tidak mengira jika yang menjawab panggilan teleponnya adalah Oma.
“Ini ... ini Oma ...?”
“Ya. Ini Oma. Ada apa sebenarnya?”
Satu hal yang terlupakan dari Alvin mengenai pembatalan rencana pernikahannya adalah memberitahu Oma. Wanita yang selalu mengharapkan agar dirinya segera menikah. Ia sama sekali tidak memikirkan tentang wanita baya itu.
Kini Alvin mendapat masalah baru. Alvin tidak tahu bagaimana dia akan menjelaskan perihal Alma yang akan menggantikan Salsa menjadi mempelai pengantin wanita. Alvin juga mulai berpikir dan membayangkan apabila Oma tidak menyetujui rencana maminya yang tetap ingin melanjutkan pernikahannya meski tanpa Salsa.
Alvin mungkin akan baik-baik saja meski rasa kecewa menderanya. Namun, untuk maminya ia yakin akan menanggung malu apabila pernikahannya benar-benar batal.